Memaknai
Seabad
Hardiknas --
Perangi
Kebodohan,
Lahirkan SDM
Mandiri
dan
Berbudi
Ada
tiga
momen penting
di
medio April-Mei 2008
ini,
yakni seabad
Puputan
Klungkung, 28 April lalu,
seabad
Hari Pendidikan
Nasional (Hardiknas),
Jumat 2
Mei ini,
dan
seabad Hari
Kebangkitan
Nasional (Harkitnas),
20 Mei
mendatang. Ketiga
momen
ini sejatinya
penting
dimaknai sebagai
sebuah
tonggak untuk
bangkit
dari keterbelakangan
atau
kebodohan, keterpurukan
ekonomi (kemiskinan)
dan
sebangsanya.
---------------
PUPUTAN
Klungkung
sebagai
sebuah peristiwa
heroik Raja
Klungkung
melawan
kolonialisme Belanda,
di
dalamnya terdapat
semangat
puputan --
lascarya
mengorbankan
jiwa
dan raga demi
meraih
mahardika. Dalam
konteks
pembangunan bidang
pendidikan,
semangat
puputan
tersebut penting
terus
direvitalisasi guna
memerangi ''musuh-musuh''
kekinian
seperti
kebodohan. Sebab,
masih
banyak masyarakat
belum
mendapat kesempatan
untuk
mengenyam pendidikan,
termasuk
di Bali.
Selain
putus sekolah
karena
keterbatasan biaya,
juga
masih ada yang
buta
aksara.
Di
Bali, diprediksi
masih
ada sekitar 40.587
orang
penyandang buta
aksara
di atas
usia
produktif. Tahun 2007
lalu, Bali
telah
mampu menuntaskan
seluruh
buta aksara
usia
produktif 15-44 tahun
yang jumlahnya
mencapai 29.419
orang.
Berdasarkan MoU, Bali
beberapa
tahun
lalu tercatat
menyandang
buta
aksara sekitar 70.006
orang.
Tahun 2007 sudah
dituntaskan 40.587
orang.
Dalam
konteks
seabad Hardiknas,
peningkatan
mutu
pendidikan menjadi
sebuah
keniscayaan. Memang,
jajaran
Depdiknas sudah
banyak
merancang program dalam
upaya
meningkatkan kualitas
pendidikan.
Mulai
dari kurikulum
sampai
proses pembelajaran
dan
peningkatan profesionalisme
para guru.
Kurikulum
dirancang
sedemikian
rupa agar
lebih ''membumi''
sehingga
mampu
menjawab tantangan
zaman --
kurikulum
berbasis
kompetensi (KBK),
kemudian
kurikulum
tingkat
satuan pendidikan
(KTSP).
Semua
itu
perlu terus
ditingkatkan agar
indeks
pembangunan manusia
(IPM) Indonesia bisa
meningkat.
Sebab,
salah satu
indikator IPM
adalah
pendidikan. Berdasarkan
data UNDP 2007/2008, IPM Indonesia
tercatat 0,728 dan
urutan 107
dari 177
negara
di dunia.
Dalam
rangka
menyukseskan program
penuntasan wajib
belajar (wajar)
sembilan
tahun,
pemerintah menyisihkan
APBN untuk
dana BOS.
Tetapi
sayang, belakangan
ada
wacana anggaran BOS
dipangkas.
Jika
ini benar,
akan
sangat kontradiktif
dengan program
Wajar
sembilan tahun
tersebut.
Melalui
pemberian dana BOS,
paling tidak
anak-anak
bangsa yang
kurang
beruntung secara
ekonomi,
bisa
mengenyam pendidikan
yang memadai.
Dalam
proses
pembelajaran, peran
guru pun sudah
dirasa
sangat penting,
sehingga
kesejahteraannya
mulai (akan)
diperhatikan.
Melalui
uji sertifikasi,
guru-guru diharapkan
lebih
profesional. Sebagai
''imbalannya''
para guru
mendapat
tunjangan
profesi.
Proses
itu sudah
dan
sedang berlangsung,
dan
bahkan banyak yang
sudah
mengantongi sertifikat
tetapi
ada yang belum
mendapatkan
tunjangan.
Prestasi
Bali
Prestasi
Bali di
bidang pendidikan
cukup
lumayan. Berdasarkan
data Dinas
Pendidikan
Propinsi Bali,
tahun 2007
lalu Bali
mampu
menduduki peringkat I
rata-rata nilai
tertinggi
pada UN SMA
jurusan IPA
dan IPS,
sedangkan
jurusan
Bahasa peringkat V.
Demikian
juga
untuk jenjang SMP,
Bali berhasil
peringkat I,
sedangkan
pada
jenjang SMK, Bali peringkat
II. Dalam
ajang
kompetensi tingkat
internasional,
siswa SMAN 4
Denpasar
tahun
ini dipercaya
mewakili Indonesia
dalam World Schools Debating
Championship (WSDC) di
Washington DC.
Tak
hanya
anak didik,
para guru Bali
juga
unjuk prestasi
di
tingkat nasional.
Tahun 2007,
Bali
mampu
mendudukkan salah
satu
gurunya pada
posisi I
nasional
dalam
kategori kepala
sekolah
berprestasi untuk
jenjang SMA
dan
posisi II nasional
kepala
sekolah berprestasi
jenjang SMP.
Mutu
pendidikan
meningkat
akan
mampu membawa
perubahan
besar
bagi kehidupan
manusia.
Tetapi,
cerdas intelektual
tidaklah
cukup.
Mesti diimbangi
dengan
kecerdasan yang lain,
seperti kecerdasan
emosional, spiritual
dan
kecerdasan sosial.
Dengan
demikian, SDM Bali lahir
menjadi
insan-insan yang cerdas,
unggul
memenangkan persaingan
global, mandiri
dan
berbudi luhur.
Selebihnya
tidak
tercerabut dari
jati
dirinya, dan
mampu
melawan ''musuh''
kekinian
seperti
narkoba, seks
bebas
dan tindakan
melawan
hukum lainnya.
(subrata)