Masih
Misterius ---
Keberadaan
Siswi SMKN 5
di Malaysia
Denpasar
(Bali Post) -
Keberadaan
siswi SMKN 5
Denpasar
Putu
Ayu Astrini yang
mengikuti
Praktik
Kerja Industri (Prakerin)
di
sebuah Resort World BHD di
kawasan
Genting
Island, Malaysia masih
misterius.
Kepala SMKN 5
Denpasar Drs. I
Wayan
Darya Kusuma,
M.Pd.
ketika dihubungi Bali
Post, Kamis (1/5)
kemarin,
mengaku
belum mengetahui
keberadaan
anak
didiknya yang dilaporkan
melarikan
diri
menjelang kepulangannya
ke
Tanah Air setelah
menuntaskan
Prakerin.
Diduga,
siswi
kelas II Tata
Boga
spesifikasi restoran
itu
nekat tak
mau
pulang ke
Tanah Air
lantaran
terjebak
cinta
lokasi dengan
pemuda Malaysia yang
sempat
bekerja di resort
tempat
siswa bersangkutan
melaksanakan
Prakerin
selama
enam bulan
penuh.
"Saya
belum
mendapatkan informasi
terkait
keberadaan anak
itu
dari KBRI," kata
Darya
Kusuma yang mengaku
dibuat
pusing tujuh
keliling
dengan
ulah nekat yang
dilakukan
anak
didiknya itu.
Dia
mengaku
tetap proaktif
mencari
informasi dari
pihak KBRI
guna
mengetahui perkembangan
terkini
keberadaan siswi
tersebut.
Yang membuat
pihaknya
sangat
prihatin, izin
tinggal
siswi itu
di
Malaysia
sudah
habis per 24 April 2008.
Dengan
kata lain, status
siswi
itu kini over stay
sehingga
bisa
dikategorikan sebagai
imigran
gelap.
"Siswa
kami
sudah mengikuti
Prakerin
ke Malaysia
sejak 2005.
Pada 2005
dan 2006,
jumlah
siswa yang berangkat
masing-masing
lima
orang.
Sedangkan
2007 lalu
tercatat 30
orang
siswa mengikuti
program ini yang
berangkat
dalam
dua tahap.
Siswa
bermasalah ini
masuk
rombongan tahap
kedua yang
semestinya
sudah
pulang ke
Tanah Air, 21 April
lalu,"
katanya dan
menambahkan,
untuk 2008
tercatat
tiga
orang siswa SMKN 5
Denpasar
mengikuti program
ini
bergabung dengan
siswa-siswa SMKN 3
Denpasar,
di mana
sampai
saat ini
masih
mengikuti Prakerin
di Malaysia.
Rabu
(30/4) lalu,
Darya
Kusuma atas
inisiatif
sendiri
melaporkan permasalahan
ini
kepada Kasubdin
Pendidikan
Menengah
Umum
dan Pendidikan
Menengah
Kejuruan
Dinas
Pendidikan Propinsi
Bali Drs. IGK Ngurah
Widiartha,
M.Sc.
Pada kesempatan
itu,
Darya Kusuma
berjanji
akan
tetap memantau
perkembangan
kasus
itu dengan
mengintensifkan
komunikasi
dan
koordinasi dengan
pihak KBRI
di Malaysia.
Sayangkan
Pengawasan
Agen PKL
Di
sisi
lain, pihak
keluarga
sangat
menyayangkan pengawasan
yang dilakukan
pihak
agen PKL. "Kini,
keluarga
hanya
pasrah dan
menunggu
adanya
berita soal
Ayu,"
ujar Wayan
Munjuk,
lelaki tua yang
merupakan
kakek
Ayu di
rumahnya
Banjar
Batan Ancak,
Desa
Mas, Ubud,
Gianyar.
Bagaimanan
pun, menurutnya
tanggung
jawab
siswa di Malaysia
menjadi
tanggung jawab
pihak
sekolah yang menyerahkannya
kepada
agen PKL.
Di mata
sang kakek,
cucunya
ini mempunyai
kemauan yang
besar
dalam menimba
pendidikan,
khususnya
pengalaman
kerja
ke luar
negeri.
Hal inilah yang
membuat
adik ayahnya (Ketut
Sujendra)
berusaha
mencarikan modal
Rp 6
juta untuk
keberangkatannya.
"Sampai
sekarang
kami
masih berutang
untuk
keberangkatan Ayu,"
katanya.
(ian/dar)