kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Paing, 19 Mei 2008

 Desa Pakraman

  • Desa Bantas Selemadeg Timur 
    Dambakan Sarana Jalan, Warga Berswadaya

    Desa Bantas merupakan salah satu desa berkembang baik di Kecamatan Selemadeg Timur. Berpenduduk 3.225 jiwa atau 886 KK, sebagian besar berprofesi sebagai petani. Namun untuk menopang kehidupannya, mereka lebih banyak berburuh atau berprofesi sebagai tukang bangunan. Walau demikian, swadaya masyarakat dalam membangun desanya sangat besar. Terutama dalam membangun infrastruktur jalan yang sangat penting menunjang perekonomian masyarakat maupun pura sebagai tempat ibadah.  

    HAMPARAN sawah menghijau dan nyiur melambai yang membentang sepanjang jalan Selemadeg Timur mengokohkan daerah ini sebagai daerah pertanian andalan di Tabanan. Secara administratif Bantas memiliki luas 308,150 ha. Wilayahnya terdiri atas enam banjar yakni Bunut Puhun, Gelogor, Bantas Tengah Kaja, Bantas Tengah Kelod, Bantas Baleagung dan Pucuk. Daerah yang termasuk dataran rendah ini memiliki hamparan sawah dan ladang seluas 284,73 hektar dan tegalan 176,73 hektar. Sebagian besar penduduknya berburuh untuk menambah penghasilannya sebagai petani yang sangat minim. Selain itu generasi muda lebih banyak bekerja di luar desa di berbagai sektor.

    Seperti halnya desa lain di Bali, nama suatu desa berkaitan erat dengan sejarah raja-raja zaman dahulu maupun peristiwa yang terjadi di tempat itu. Bantas diperkirakan berasal dari bahasa Bali Kuna yakni ''wantas'', ''bantas' dan ''wates'' yang berarti batas. Dengan demikian ''watas'' atau ''bantas'' berarti batas antara dua kekuasaan atau dua wilayah. Sesuai dengan sejarahnya, daerah Tabanan barat terdapat dua wilayah kekuasaan yaitu wilayah Kaba-Kaba yang meliputi Kerambitan, Blungbang, Tangguntiti dan Bajera. Sementara daerah sebelah utara sampai Desa Sanda adalah wilayah Puri Agung Tabanan. Dari berbagai bukti zaman dahulu, Desa Mambang dan Banjar Pucuk dulu termasuk wilayah Kerambitan, sedangkan daerah di sebelah utara Mambang yang berada di sebelah barat Pucuk adalah wilayah Puri Agung Tabanan. Karena daerah ini menjadi batas antara Kerambitan yang menjadi wilayah Kaba-Kaba yang merupakan milik Puri Agung Tabanan, maka daerah yang berada di tapal batas disebut Bantas. Kemudian berkembang menjadi sebuah desa. Desa pada zaman itu memiliki Kahyangan Tiga. Dibangun Pura Baleagung yang menjadi satu lokasi dengan Pura Puseh. Daerah Pura Baleagung tersebut hingga kini disebut Bantas Baleagung. Satu daerah yang dulunya merupakan kandang kerbau milik raja kemudian berkembang menjadi pemukiman disebut Banjar Gelogor.  

    Pesraman

    Sementara itu, Banjar Pucuk pada mulanya adalah sebuah pasraman. Buktinya masih terdapat pancuran yang hingga kini masih disucikan yakni Pancuran Puja dan Pancoran Si Made. Masing-masing banjar di desa ini berkaitan dengan sejarah tertentu yang unik.

    Perbekel Desa Bantas I Ketut Gunasa Ardana, S.H. menyatakan masyarakat setempat memiliki kesadaran dan partisipasi yang baik dalam membangun desa. Seperti halnya akses jalan yang sangat dibutuhkan masyarakat sekitar untuk menopang perekonomian masyarakat sekitar. Kini sekitar 700 meter jalan sedang dikerjakan pengaspalannya. Pengerjaan tersebut  dilakukan secara gotong royong di Bantas Baleagung dan Bantas Tengah Kaja. Demikian juga di wilayah Bunut Puhun dan Gelogor segera dilakukan pembetonan jalan sepanjang 1,5 km yang juga mendapat bantuan dari beberapa program pengembangan desa. Selain berupa pembangunan fisik, yang tidak kalah pentingnya, kata Gunasa, membangun kondisi yang kondusif agar masyarakat dapat berupaya meningkatkan perekonomiannya. Kerja sama yang baik antara para pengurus desa, baik desa dinas maupun desa adat, tokoh-tokoh masyarakat maupun pemuda menjadi kunci keberhasilan pembangunan dan menciptakan stabilitas. (upi) 

     

    Topang Perekonomian, Warga Kejar Sektor Alternatif 

    MASYARAKAT Desa Bantas memang sebagian besar tercatat sebagai petani. Namun akibat minimnya kepemilikan lahan rata-rata dan sektor pertanian yang kurang menjanjikan, masyarakat setempat lebih banyak mengisi waktunya dengan bekerja harian seperti mengupas kelapa. Sebagian besar pemuda bekerja ke luar desa seperti di sektor pariwisata maupun industri. Perbekel Bantas I Ketut Gunasa Ardana menyatakan rata-rata masyarakat memiliki tanah sawah hanya 15-20 are. Penghasilan yang diperoleh pun tidak seberapa dibandingkan kebutuhan hidup. Oleh karena itu sebagian besar masyarakat bekerja harian. Ada empat pengepul kelapa yang beroperasi di daerah ini yang mampu menampung puluhan masyarakat sekitar. Satu butir kelapa biasanya dibayar Rp 50. Dalam sehari warga bisa mengupas hingga seribu kelapa hingga memperoleh penghasilan sekitar Rp 50 ribu per hari.

    Selain itu, adanya lembaga ekonomi cukup membantu masyarakat. Ada dua koperasi yang hingga kini berkembang baik yakni Koperasi Artha Graha milik banjar Bantas Tengah Kaja dan Sedana Ibu yang berlokasi di Bunut Puhun. Koperasi Artha Graha selama ini telah mampu memberikan kontribusi positif bagi warga setempat yang menjadi anggotanya. Dalam waktu sekitar lima tahun, koperasi ini mampu menggerakkan ekonomi desa sekaligus mampu dalam pembiayaan bagi pembangunan fasilitas umum seperti balai banjar walau tidak secara keseluruhan. Selain itu kini telah terbentuk gabungan Kelompok Tani Ananta Winangun. Kelompok itu diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat setempat yang sebagian besar masih memiliki lahan pertanian walau dalam jumlah terbatas.

    Sulitnya mata pencaharian masyarakat juga diakui salah satu tokoh masyarakat I Ketut Loka Antara. Anggota DPRD Tabanan ini menyatakan sebagian besar warga Bantas mencari sektor alternatif sebagai mata pencaharian. Selain bekerja sebagai pengupas kelapa, banyak warga terutama dari Banjar Bantas Baleagung sebagai tukang bangunan. Kerja pertukangan dinilai lebih memberikan keuntungan daripada hanya menggeluti pertanian semata. Namun sayang, pekerjaan ini tidak tersedia setiap saat sehingga masyarakat kesulitan ketika tidak ada pekerjaan. Ke depan, kata dia, diperlukan upaya peningkatan keterampilan dan life skill khususnya para pemuda agar lebih mampu mengambil pekerjaan pada sektor-sektor lain mengingat terbatasnya sumber daya alam. Investasi dipandang sebagai salah satu alternatif, namun harus tetap mengindahkan aturan tata ruang, norma agama maupun kearifan lokal. (upi)

     

    Ciptakan Stabilitas, Rancang ''Pararem'' Nyepi 

    Di Desa Bantas pernah terjadi keributan pemuda. Mereka sempat ditangani polisi dalam pelaksanaan Nyepi lalu. Namun belakangan, terjadi kesepakatan dan mereka kembali hidup berdampingan secara damai. Untuk melakukan antisipasi agar kejadian serupa tak terulang lagi, warga adat merancang pararem yang berhubungan dengan pelaksanaan Nyepi. Bendesa Pakraman Bantas I Made Surata menyatakan parerem tersebut mengatur pelaksanaan Catur Brata Penyepian sesuai dengan ajaran Hindu. Sekaligus imbauan PHDI agar brata penyepian hendaknya dapat dijalankan dengan baik. Keluar atau berjalan-jalan ketika pelaksanaan brata penyepian akan dikenakan sanksi berupa membuat upacara yang diaturkan di Catus Pata Desa.

    Hal itu telah dibicarakan dalam rapat-rapat yang digelar maupun sabha kerta desa. Semua berharap agar keributan saat Nyepi tidak terjadi kembali. Selain itu, upaya pendekatan juga terus dilakukan, baik melibatkan tokoh-tokoh masyarakat maupun pemuda. Kehidupan masyarakat yang baik tanpa adanya friksi dan benturan hendaknya diupayakan bersama menuju kehidupan yang ideal dan jagadhita sesuai dengan tatanan religus masyarakat Bali yang cinta damai. Kedamaian itu hendaknya senantiasa diwujudkan ke dalam, selain ke luar sebagai bentuk toleransi dengan umat lain. Nyepi semestinya merupakan ajang yang sangat baik untuk mewujudkan rasa damai di dalam diri setiap umat maupun masyarakat luas.

    Sebuah Pura Puseh telah berdiri megah di desa ini yang rencananya akan dilakukan upacara Ngenteg Linggih tahun 2010 nanti. Rencananya, kata Surata yang merupakan guru di SD No. 3 Bantas ini, enam bulan sebelum dilaksanakannya upacara Ngenteg Linggih dan Ngusaba Desa pihaknya akan mengundang para ahli agama untuk meminta tuntunan agar yadnya yang digelar berjalan sesuai dengan sastra Hindu. Pihaknya berharap pura menjadi pemersatu warga pada sembilan banjar adat yakni banjar dinas ditambah dengan Banjar Adat Mambang Kaja dan Mambang Tengah, sekaligus sebagai pusat pencerahan spiritual bagi masyarakat. (upi)

     

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)