Desa Bantas
Selemadeg Timur
Dambakan Sarana Jalan, Warga Berswadaya
Desa Bantas merupakan salah satu desa berkembang baik di
Kecamatan Selemadeg Timur. Berpenduduk 3.225 jiwa atau
886 KK, sebagian besar berprofesi sebagai petani. Namun
untuk menopang kehidupannya, mereka lebih banyak
berburuh atau berprofesi sebagai tukang bangunan. Walau
demikian, swadaya masyarakat dalam membangun desanya
sangat besar. Terutama dalam membangun infrastruktur
jalan yang sangat penting menunjang perekonomian
masyarakat maupun pura sebagai tempat ibadah.
HAMPARAN
sawah menghijau dan nyiur melambai yang membentang
sepanjang jalan Selemadeg Timur mengokohkan daerah ini
sebagai daerah pertanian andalan di Tabanan. Secara
administratif Bantas memiliki luas 308,150 ha.
Wilayahnya terdiri atas enam banjar yakni Bunut Puhun,
Gelogor, Bantas Tengah Kaja, Bantas Tengah Kelod, Bantas
Baleagung dan Pucuk. Daerah yang termasuk dataran rendah
ini memiliki hamparan sawah dan ladang seluas 284,73
hektar dan tegalan 176,73 hektar. Sebagian besar
penduduknya berburuh untuk menambah penghasilannya
sebagai petani yang sangat minim. Selain itu generasi
muda lebih banyak bekerja di luar desa di berbagai
sektor.
Seperti halnya desa lain di Bali, nama suatu desa
berkaitan erat dengan sejarah raja-raja zaman dahulu
maupun peristiwa yang terjadi di tempat itu. Bantas
diperkirakan berasal dari bahasa Bali Kuna yakni
''wantas'', ''bantas' dan ''wates'' yang berarti batas.
Dengan demikian ''watas'' atau ''bantas'' berarti batas
antara dua kekuasaan atau dua wilayah. Sesuai dengan
sejarahnya, daerah Tabanan barat terdapat dua wilayah
kekuasaan yaitu wilayah Kaba-Kaba yang meliputi
Kerambitan, Blungbang, Tangguntiti dan Bajera. Sementara
daerah sebelah utara sampai Desa Sanda adalah wilayah
Puri Agung Tabanan. Dari berbagai bukti zaman dahulu,
Desa Mambang dan Banjar Pucuk dulu termasuk wilayah
Kerambitan, sedangkan daerah di sebelah utara Mambang
yang berada di sebelah barat Pucuk adalah wilayah Puri
Agung Tabanan. Karena daerah ini menjadi batas antara
Kerambitan yang menjadi wilayah Kaba-Kaba yang merupakan
milik Puri Agung Tabanan, maka daerah yang berada di
tapal batas disebut Bantas. Kemudian berkembang menjadi
sebuah desa. Desa pada zaman itu memiliki Kahyangan
Tiga. Dibangun Pura Baleagung yang menjadi satu lokasi
dengan Pura Puseh. Daerah Pura Baleagung tersebut hingga
kini disebut Bantas Baleagung. Satu daerah yang dulunya
merupakan kandang kerbau milik raja kemudian berkembang
menjadi pemukiman disebut Banjar Gelogor.
Pesraman
Sementara itu, Banjar Pucuk pada mulanya adalah sebuah
pasraman. Buktinya masih terdapat pancuran yang hingga
kini masih disucikan yakni Pancuran Puja dan Pancoran Si
Made. Masing-masing banjar di desa ini berkaitan dengan
sejarah tertentu yang unik.
Perbekel Desa Bantas I Ketut Gunasa Ardana, S.H.
menyatakan masyarakat setempat memiliki kesadaran dan
partisipasi yang baik dalam membangun desa. Seperti
halnya akses jalan yang sangat dibutuhkan masyarakat
sekitar untuk menopang perekonomian masyarakat sekitar.
Kini sekitar 700 meter jalan sedang dikerjakan
pengaspalannya. Pengerjaan tersebut dilakukan
secara gotong royong di Bantas Baleagung dan Bantas
Tengah Kaja. Demikian juga di wilayah Bunut Puhun dan
Gelogor segera dilakukan pembetonan jalan sepanjang 1,5
km yang juga mendapat bantuan dari beberapa program
pengembangan desa. Selain berupa pembangunan fisik, yang
tidak kalah pentingnya, kata Gunasa, membangun kondisi
yang kondusif agar masyarakat dapat berupaya
meningkatkan perekonomiannya. Kerja sama yang baik
antara para pengurus desa, baik desa dinas maupun desa
adat, tokoh-tokoh masyarakat maupun pemuda menjadi kunci
keberhasilan pembangunan dan menciptakan stabilitas.
(upi)
Topang
Perekonomian, Warga Kejar Sektor Alternatif
MASYARAKAT
Desa Bantas memang sebagian besar tercatat sebagai
petani. Namun akibat minimnya kepemilikan lahan
rata-rata dan sektor pertanian yang kurang menjanjikan,
masyarakat setempat lebih banyak mengisi waktunya dengan
bekerja harian seperti mengupas kelapa. Sebagian besar
pemuda bekerja ke luar desa seperti di sektor pariwisata
maupun industri. Perbekel Bantas I Ketut Gunasa Ardana
menyatakan rata-rata masyarakat memiliki tanah sawah
hanya 15-20 are. Penghasilan yang diperoleh pun tidak
seberapa dibandingkan kebutuhan hidup. Oleh karena itu
sebagian besar masyarakat bekerja harian. Ada empat
pengepul kelapa yang beroperasi di daerah ini yang mampu
menampung puluhan masyarakat sekitar. Satu butir kelapa
biasanya dibayar Rp 50. Dalam sehari warga bisa mengupas
hingga seribu kelapa hingga memperoleh penghasilan
sekitar Rp 50 ribu per hari.
Selain itu, adanya lembaga ekonomi cukup membantu
masyarakat. Ada dua koperasi yang hingga kini berkembang
baik yakni Koperasi Artha Graha milik banjar Bantas
Tengah Kaja dan Sedana Ibu yang berlokasi di Bunut
Puhun. Koperasi Artha Graha selama ini telah mampu
memberikan kontribusi positif bagi warga setempat yang
menjadi anggotanya. Dalam waktu sekitar lima tahun,
koperasi ini mampu menggerakkan ekonomi desa sekaligus
mampu dalam pembiayaan bagi pembangunan fasilitas umum
seperti balai banjar walau tidak secara keseluruhan.
Selain itu kini telah terbentuk gabungan Kelompok Tani
Ananta Winangun. Kelompok itu diharapkan mampu
memberikan kontribusi bagi masyarakat setempat yang
sebagian besar masih memiliki lahan pertanian walau
dalam jumlah terbatas.
Sulitnya mata pencaharian masyarakat juga diakui salah
satu tokoh masyarakat I Ketut Loka Antara. Anggota DPRD
Tabanan ini menyatakan sebagian besar warga Bantas
mencari sektor alternatif sebagai mata pencaharian.
Selain bekerja sebagai pengupas kelapa, banyak warga
terutama dari Banjar Bantas Baleagung sebagai tukang
bangunan. Kerja pertukangan dinilai lebih memberikan
keuntungan daripada hanya menggeluti pertanian semata.
Namun sayang, pekerjaan ini tidak tersedia setiap saat
sehingga masyarakat kesulitan ketika tidak ada
pekerjaan. Ke depan, kata dia, diperlukan upaya
peningkatan keterampilan dan life skill khususnya para
pemuda agar lebih mampu mengambil pekerjaan pada
sektor-sektor lain mengingat terbatasnya sumber daya
alam. Investasi dipandang sebagai salah satu alternatif,
namun harus tetap mengindahkan aturan tata ruang, norma
agama maupun kearifan lokal. (upi)
Ciptakan
Stabilitas, Rancang ''Pararem'' Nyepi
Di Desa Bantas pernah terjadi keributan pemuda. Mereka
sempat ditangani polisi dalam pelaksanaan Nyepi lalu.
Namun belakangan, terjadi kesepakatan dan mereka kembali
hidup berdampingan secara damai. Untuk melakukan
antisipasi agar kejadian serupa tak terulang lagi, warga
adat merancang pararem yang berhubungan dengan
pelaksanaan Nyepi. Bendesa Pakraman Bantas I Made Surata
menyatakan parerem tersebut mengatur pelaksanaan Catur
Brata Penyepian sesuai dengan ajaran Hindu. Sekaligus
imbauan PHDI agar brata penyepian hendaknya dapat
dijalankan dengan baik. Keluar atau berjalan-jalan
ketika pelaksanaan brata penyepian akan dikenakan sanksi
berupa membuat upacara yang diaturkan di Catus Pata
Desa.
Hal itu telah dibicarakan dalam rapat-rapat yang digelar
maupun sabha kerta desa. Semua berharap agar keributan
saat Nyepi tidak terjadi kembali. Selain itu, upaya
pendekatan juga terus dilakukan, baik melibatkan
tokoh-tokoh masyarakat maupun pemuda. Kehidupan
masyarakat yang baik tanpa adanya friksi dan benturan
hendaknya diupayakan bersama menuju kehidupan yang ideal
dan jagadhita sesuai dengan tatanan religus masyarakat
Bali yang cinta damai. Kedamaian itu hendaknya
senantiasa diwujudkan ke dalam, selain ke luar sebagai
bentuk toleransi dengan umat lain. Nyepi semestinya
merupakan ajang yang sangat baik untuk mewujudkan rasa
damai di dalam diri setiap umat maupun masyarakat luas.
Sebuah Pura Puseh telah berdiri megah di desa ini yang
rencananya akan dilakukan upacara Ngenteg Linggih tahun
2010 nanti. Rencananya, kata Surata yang merupakan guru
di SD No. 3 Bantas ini, enam bulan sebelum
dilaksanakannya upacara Ngenteg Linggih dan Ngusaba Desa
pihaknya akan mengundang para ahli agama untuk meminta
tuntunan agar yadnya yang digelar berjalan sesuai dengan
sastra Hindu. Pihaknya berharap pura menjadi pemersatu
warga pada sembilan banjar adat yakni banjar dinas
ditambah dengan Banjar Adat Mambang Kaja dan Mambang
Tengah, sekaligus sebagai pusat pencerahan spiritual
bagi masyarakat. (upi)