Rusuh,
Demo Tolak
Pilkada di NTB
Mataram
(Bali Post) -
Aksi
demo
massa
KPI (Komisi
Pemilihan Independen) NTB
dan FS-NTB (Federasi
Serikat Nelayan
Tani Buruh
Indonesia) menolak
Pilkada NTB yang
berlangsung Sabtu (17/5)
kemarin, berakhir
rusuh. Bentrok
dengan polisi
tak bisa
dihindari, karena
massa
memaksa masuk
ke kantor
KPUD setempat.
Tiga
warga luka-luka
dalam insiden
tersebut.
Aksi
massa
KPI yang mendatangi KPUD NTB
Sabtu kemarin,
merupakan yang
kesekian kalinya.
Pukul 11.20 wita,
sedikitnya seribu
warga yang
diangkut menggunakan
truk dan
sejumlah
kendaraan umum,
masuk ke
Jalan Langko
dan berhenti
di depan
kantor KPUD
NTB.
Massa
yang diangkut
truk dan
sejumlah kendaraan
umum di
bawah komando
L. Ranggalawe
langsung menggelar
orasi.
Tuntutan
massa
yakni menunda
Pilgub NTB dan
ikutkan calon
independen.
Sambil berorasi,
massa
yang memadati
pintu gerbang KPUD
terus memaksa
masuk. L.
Ranggalawe (calon
independen) dan
Sri Seodarjo (Sekjen
KPI NTB) serta M.
Taufiq Budiman S.H., (Ketua
Presidium FS-NTB Indonesia) pun mengambil
alih komando
massa.
Dalam
orasinya, mereka
menuding KPUD NTB
telah melanggar
konstitusi dan
UUD 1945.
Jika
Pilgub NTB tetap
berlangsung, maka
hasilnya cacat
hukum. ''Puluhan
milyar
dana untuk
Pilgub ini
telah
disia-siakan KPUD NTB, karena
proses pemilihan
ini melanggar
Undang-undang,''
teriaknya.
Selanjutnya,
L. Ranggalawe
mengajak seluruh
massa
masuk dan
menduduki gedung
KPUD. Satu
komando, mari
kita masuk
kawan-kawan,
teriak Ranggalawe.
Setelah berorasi,
Mendengar
perintah tersebut,
massa
yang terdiri dari
pemuda dan
orang tua
mencoba merangsek
masuk. Sekitar
satu SSK Samapta
Polres Mataram
dan Polda
NTB dan pasukan
Brimob yang
bersiaga di
depan gerbang
tersebut.
Kendati
dihalau,
massa
terus memaksa
masuk.
Sampai
akhirnya
bentrokan pun tak
bisa dihindari.
Polisi yang
dilengkapi senjata
pentungan terus
menghalau
massa
sembari memukul
massa
yang terus
memaksa dengan
pentungan. Aksi
pun rusuh, hingga
massa
kocar-kacir tak
terkendali.
Insiden
itu mengakibatkan
tiga peserta
aksi luka-luka.
Mustafa
(30) salah
seorang demonstran
asal Desa
Bilalande, Lombok
Tengah mengalami
bocor di
bagian keningnya
terkena pentungan.
Sri
Soedardjo pingsan
dan para
korban kemudian
dilarikan ke
RSU Mataram.
''Pesta
demokrasi sudah
tercoreng, ketika
aspirasi harus
dihadapi dengan
tameng dan
pentungan,''
cetus
Taufiq Budiman.
Emosi
massa
pun terpancing,
hingga akhirnya
massa
ikut menghujat
aparat.
Taufiq
Budiman,
selanjutnya memprotes
tindakan polisi
kepada Kapolres
Mataram, AKBP Drs.
Triyono BP yang
memimpin pengamanan.
Kapolres
menanggapi bahwa
apa yang
dilakukan
anggotanya akibat
massa
sudah tak
terkendali.
Taufiq
yang sudah
terlihat emosi
tak puas
atas jawaban
Triyono, langsung
melapor ke
Mapolda NTB.
Diantar sebagian
massa
Taufik mendatangi
pos siaga Polda
NTB guna membuat
laporan tindak
pidana. Sementara
secara berangsur
massa
yang terkosentrasi
di depan
Kantor KPUD NTB
akhirnya membubarkan
diri. (use/kmb)