kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Umanis, 18 Mei 2008 tarukan valas
 

BUDAYA


Wayang
Dikolaborasi, Peran Dalang Berkurang

UJIAN Sarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, 5-9 Mei lalu kembali mengukir sejarah dunia pedalangan. Betapa tidak, enam mahasiswa pedalangan ikut serta menampilkan karya seninya dengan semangat berkobar-kobar. Ini bisa dipahami karena mereka mendapat tugas berat yakni melestarikan kesenian yang diakui Unesco sebagai "Masterpiese of the Oral and Intangible Heritage of Humanity" atau "Karya Agung Budaya dan Benda Warisan Manusia".

------------
 

Demi meraih nilai memuaskan, mereka tampak "mati-matian" berusaha menunjukkan garapan seninya. Mereka menggunakan layar lebar, dengan tata-lampu modern seperti lampu strobo dan spot-lights. Mereka juga memanfaatkan teknologi canggih overhead-projector untuk menciptakan citra-citra realistis sebagai latar belakang.

Supaya lebih afdol, mereka juga memakai penari manusia, ada yang bertopeng dan ada pula yang dirias. Sejumlah pasinden pria maupun wanita juga menyemarakkan karya seni itu. Iringan musiknya pun beragam. Untuk semua itu, dana yang dihabiskan dari sejak latihan pertama sampai tampil ujian, konon sedikitnya Rp 15 juta.

Apa yang dilakukan para seniman akademis itu, rupanya bisa dipahami. Sebagaimana tersirat dalam "Ensiklopedi Wayang Indonesia" (vol.1, 1999), untuk mempertahankan dan mengembangkan kesenian wayang, ada tiga landasan utama yang perlu diperhatikan yaitu, hamot, hamong, dan hamemangkat. Hamot adalah keterbukaan untuk menerima pengaruh dan masukan dari dalam maupun dari luar.

Hamong adalah kemampuan untuk menyaring unsur-unsur baru yang sesuai dengan nilai-nilai wayang yang ada, untuk selanjutnya diangkat menjadi nilai-nilai yang cocok dengan wayang sebagai bekal untuk bergerak maju sesuai perkembangan masyarakat. Hamemangkat atau memangkat adalah suatu nilai menjadi nilai baru. Upaya ini dilakukan melalui proses panjang yang dicerna dengan cermat.

Dengan mengacu pada hamot, maka wayang kulit Bali rupanya sangat terbuka pada pengaruh-pengaruh dari luar. Kemajuan tekonologi telah memberi dan memperkaya warna baru pada kesenian ini. Alat pengeras suara, komputer dan alat canggih lainnya sangat membantu dalam pagelaran wayang kulit.

 

Difinisi Wayang

Apakah penampilan dalang ISI tadi bisa disebut kolaborasi, mungkin "ya". Apakah kolaborasi itu menunjukkan mereka kreatif dan inovatif, mungkin juga "ya". Terlepas dari semua itu, difinisi wayang dari dulu sampai kini tetap sama, yakni sebagai seni pertunjukan yang memadukan pelbagai macam unsur, seperti seni sastra, seni ukir, kriya, seni suara, seni drama, dan seni musik gamelan.

Dengan adanya kolaborasi itu, peran dalang menjadi berkurang. Untuk menggerakkan sejumlah wayang, dalang bisa menggunakan sejumlah orang. Demikian pula untuk membunyikan gedog, menciptakan suasana tertentu dengan tembang, juga sudah ada yang mengambil peran itu. Jika garapan seperti itu "diwarisi" terus menerus, maka untuk menampilkan garapan yang lebih maksimal, bisa mengandalkan dana. Paling tidak, uang sangat berpengaruh dan menjadi kunci utama, meskipun tidak bisa disebut mutlak.

Peserta ujian bisa menyewa seniman kondang. Jika ingin menampilkan adegan lucu, sewa saja pelawak terkenal. Singkatnya, para seniman atau artis kondang baik artis lokal maupun ibukota bisa dipasang untuk mengambil peran sesuai dengan lakon pertunjukan. Jangan lupa pula, publikasikan secara besar-besaran di media massa, maka penonton pun akan berjubel.

Maaf, ungkapan yang rada emosional tadi anggap saja sebuah gurauan yang tidak usah ditanggapi serius. Tulisan ini sama sekali tidak dimaksudkan melakukan penilaian, tapi hanya ingin memancing diskusi seputar seni pewayangan. Bagaimana sebaiknya seni pewayangan itu tampil untuk kepentingan ujian, yang notabene tim penguji adalah orang-orang yang paham pada seni dan memiliki kualitas akademis.

Tingkat apresiasi terhadap wayang tentu tidak sama, baik dari segi kualitatif maupun kuantitatif. Perbedaan ini terjadi karena berbagai faktor yakni pendidikan dan pengetahuan, status sosial dan latar belakang budaya yang berbeda.

Lebih Banyak

Bagi masyarakat Hindu di Bali, wayang ditanggap lebih banyak untuk kepentingan upacara, kemudian dinikmati sebagai tontonan dan hiburan pelepas penat. Untuk upacara, yang penting "puput", untuk menghibur, yang penting lucu. Mereka tidak terlalu mempedulikan sisi artistik atau segi lainnya. Oleh karena itu, bagi penonton tertentu, akan merasa terhibur jika ada adegan penampilan yang glamor, vulgar, nyata. Teknologi canggih tentu sangat penting dilibatkan di sini. Namun bagaimana bagi kalangan budayawan atau tim penguji sekaliber dosen ISI?

Jika yang diuji atau dinilai adalah kemampuan individual peserta ujian (dalang), maka peran dalang sebaiknya diberikan lebih banyak. Semasa proses perkuliahan mereka mendapat pelajaran tetikasan (gerak wayang), anta wacana (dialog), olah vokal dan sebagainya, maka kepiawaian itu mesti ditunjukkan pada saat ujian.

Jika dalang memiliki modal vokal yang baik, menguasai tembang, maka kemampuan itu perlu ditampilkan. Peran pasinden bisa saja dikurangi atau ditiadakan sama sekali. Jika lampu listrik bisa menurunkan kualitas bayangan wayang, maka alat itu tak usah digunakan. Jika wayang adalah simbol, maka untuk apa pula menampilkan gambar realistis. Masyarakat awam pun bisa menerima kalau kayon bisa berperan sebagai air, angin, gunung, bahkan rumah.

Sekali lagi, tulisan ini tidak dimaksudnya untuk melakukan penilaian terhadap peserta ujian, melainkan hanya sekadar urun pendapat bagaimana sebaiknya menampilkan seni pewayangan (pedalangan) untuk ujian, untuk umum, maupun untuk eksperimen. Tempat, ruang dan waktu atau desa kala patra mungkin bisa menentukan penilaian sebuah penampilan. Ketika layar lebar dan teknologi canggih digunakan pertama kali, mungkin saja itu disebut pembaruan. Namun untuk ujian di kampus ISI, bisa jadi dianggap "biasa-biasa saja" bahkan usang.

Terlepas dari semua itu, usaha dan kerja keras ISI dalam melakukan gebrakan dalam dunia pewayangan patutlah diacungi jempol. ISI tentu tidak bermaksud hanya mencetak seniman (praktisi), tapi juga melahirkan intelektual, cendekiawan yang bisa berbicara pada masalah kebudayaan.

* wayan supartha

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com