Wayang
Dikolaborasi,
Peran Dalang
Berkurang
UJIAN
Sarjana Institut
Seni Indonesia (ISI)
Denpasar, 5-9 Mei
lalu kembali
mengukir sejarah
dunia pedalangan.
Betapa
tidak, enam
mahasiswa
pedalangan ikut
serta menampilkan
karya seninya
dengan semangat
berkobar-kobar.
Ini bisa
dipahami karena
mereka mendapat
tugas berat
yakni
melestarikan kesenian yang
diakui
Unesco
sebagai "Masterpiese of the
Oral and Intangible Heritage of Humanity"
atau "Karya
Agung Budaya
dan Benda
Warisan Manusia".
------------
Demi
meraih nilai
memuaskan, mereka
tampak "mati-matian"
berusaha
menunjukkan garapan
seninya.
Mereka
menggunakan layar
lebar, dengan
tata-lampu modern
seperti lampu
strobo dan
spot-lights.
Mereka
juga memanfaatkan
teknologi canggih
overhead-projector untuk
menciptakan
citra-citra realistis
sebagai latar
belakang.
Supaya
lebih afdol,
mereka juga
memakai penari
manusia, ada
yang bertopeng
dan ada pula yang
dirias.
Sejumlah
pasinden pria
maupun wanita
juga
menyemarakkan karya
seni itu.
Iringan
musiknya pun
beragam. Untuk
semua itu,
dana yang
dihabiskan dari
sejak latihan
pertama sampai
tampil ujian,
konon sedikitnya
Rp 15 juta.
Apa
yang dilakukan
para seniman
akademis itu,
rupanya bisa
dipahami.
Sebagaimana
tersirat dalam
"Ensiklopedi
Wayang
Indonesia" (vol.1, 1999),
untuk
mempertahankan dan
mengembangkan
kesenian wayang,
ada tiga
landasan utama
yang perlu
diperhatikan yaitu,
hamot, hamong,
dan hamemangkat.
Hamot
adalah
keterbukaan untuk
menerima pengaruh
dan masukan
dari dalam
maupun dari
luar.
Hamong
adalah kemampuan
untuk menyaring
unsur-unsur baru
yang sesuai
dengan nilai-nilai
wayang yang ada,
untuk selanjutnya
diangkat menjadi
nilai-nilai yang
cocok dengan
wayang sebagai
bekal untuk
bergerak maju
sesuai
perkembangan masyarakat.
Hamemangkat
atau memangkat
adalah suatu
nilai menjadi
nilai baru.
Upaya ini
dilakukan melalui
proses panjang
yang dicerna
dengan cermat.
Dengan
mengacu pada
hamot, maka
wayang kulit
Bali rupanya
sangat terbuka
pada
pengaruh-pengaruh dari
luar.
Kemajuan
tekonologi telah
memberi dan
memperkaya warna
baru pada
kesenian ini.
Alat
pengeras suara,
komputer dan
alat canggih
lainnya sangat
membantu dalam
pagelaran wayang
kulit.
Difinisi
Wayang
Apakah
penampilan dalang
ISI tadi bisa
disebut
kolaborasi, mungkin "ya".
Apakah
kolaborasi itu
menunjukkan
mereka kreatif
dan inovatif,
mungkin juga
"ya".
Terlepas dari
semua itu,
difinisi wayang
dari dulu
sampai kini
tetap
sama, yakni
sebagai seni
pertunjukan yang
memadukan pelbagai
macam unsur,
seperti seni
sastra, seni
ukir, kriya,
seni suara,
seni drama, dan
seni musik
gamelan.
Dengan
adanya kolaborasi
itu, peran
dalang menjadi
berkurang.
Untuk
menggerakkan
sejumlah wayang,
dalang bisa
menggunakan
sejumlah orang.
Demikian
pula untuk
membunyikan gedog,
menciptakan
suasana tertentu
dengan tembang,
juga sudah
ada yang
mengambil peran
itu. Jika
garapan seperti
itu "diwarisi"
terus menerus,
maka untuk
menampilkan
garapan yang lebih
maksimal, bisa
mengandalkan
dana.
Paling
tidak, uang
sangat
berpengaruh dan
menjadi kunci
utama, meskipun
tidak bisa
disebut mutlak.
Peserta
ujian bisa
menyewa seniman
kondang.
Jika
ingin menampilkan
adegan lucu,
sewa saja
pelawak terkenal.
Singkatnya,
para seniman
atau artis
kondang baik
artis lokal
maupun ibukota
bisa dipasang
untuk mengambil
peran sesuai
dengan lakon
pertunjukan.
Jangan lupa
pula, publikasikan
secara
besar-besaran di media
massa,
maka penonton
pun akan berjubel.
Maaf,
ungkapan yang
rada emosional
tadi anggap
saja sebuah
gurauan yang
tidak usah
ditanggapi serius.
Tulisan ini
sama
sekali tidak
dimaksudkan
melakukan penilaian,
tapi hanya
ingin memancing
diskusi seputar
seni pewayangan.
Bagaimana
sebaiknya seni
pewayangan itu
tampil untuk
kepentingan ujian,
yang notabene
tim penguji
adalah
orang-orang yang paham
pada seni
dan memiliki
kualitas akademis.
Tingkat
apresiasi
terhadap wayang
tentu tidak
sama,
baik dari
segi kualitatif
maupun
kuantitatif.
Perbedaan
ini terjadi
karena berbagai
faktor yakni
pendidikan dan
pengetahuan, status
sosial dan
latar belakang
budaya yang
berbeda.
Lebih
Banyak
Bagi
masyarakat Hindu
di Bali, wayang
ditanggap lebih
banyak untuk
kepentingan
upacara, kemudian
dinikmati sebagai
tontonan dan
hiburan pelepas
penat.
Untuk
upacara, yang
penting "puput",
untuk menghibur,
yang penting lucu.
Mereka
tidak terlalu
mempedulikan sisi
artistik atau
segi lainnya.
Oleh karena
itu, bagi
penonton tertentu,
akan
merasa terhibur
jika ada
adegan penampilan
yang glamor, vulgar,
nyata.
Teknologi
canggih tentu
sangat penting
dilibatkan di
sini.
Namun bagaimana
bagi kalangan
budayawan atau
tim
penguji sekaliber
dosen ISI?
Jika
yang diuji atau
dinilai adalah
kemampuan individual
peserta ujian
(dalang), maka
peran dalang
sebaiknya
diberikan lebih
banyak.
Semasa proses
perkuliahan
mereka mendapat
pelajaran
tetikasan (gerak
wayang), anta
wacana (dialog), olah
vokal dan
sebagainya, maka
kepiawaian itu
mesti ditunjukkan
pada saat
ujian.
Jika
dalang memiliki
modal vokal yang
baik, menguasai
tembang, maka
kemampuan itu
perlu ditampilkan.
Peran pasinden
bisa saja
dikurangi atau
ditiadakan
sama sekali.
Jika
lampu listrik
bisa menurunkan
kualitas bayangan
wayang, maka
alat itu
tak usah
digunakan.
Jika wayang
adalah simbol,
maka untuk
apa pula
menampilkan
gambar realistis.
Masyarakat
awam pun bisa
menerima kalau
kayon bisa
berperan sebagai
air, angin,
gunung, bahkan
rumah.
Sekali
lagi, tulisan
ini tidak
dimaksudnya untuk
melakukan
penilaian terhadap
peserta ujian,
melainkan hanya
sekadar urun
pendapat
bagaimana sebaiknya
menampilkan seni
pewayangan (pedalangan)
untuk ujian,
untuk umum,
maupun untuk
eksperimen.
Tempat,
ruang dan
waktu atau
desa kala
patra mungkin
bisa menentukan
penilaian sebuah
penampilan.
Ketika
layar lebar
dan teknologi
canggih digunakan
pertama kali,
mungkin saja
itu disebut
pembaruan.
Namun
untuk ujian
di kampus
ISI, bisa jadi
dianggap "biasa-biasa
saja" bahkan
usang.
Terlepas
dari semua
itu, usaha
dan kerja
keras ISI dalam
melakukan
gebrakan dalam
dunia pewayangan
patutlah diacungi
jempol.
ISI
tentu tidak
bermaksud hanya
mencetak seniman
(praktisi), tapi
juga melahirkan
intelektual,
cendekiawan yang bisa
berbicara pada
masalah
kebudayaan.
*
wayan
supartha