Pro-Kontra
Prakerin ke
Luar Negeri
--
Seleksi
Siswa Diperketat,
Pengawasan
Ditingkatkan
Harus
diakui, kasus
yang menimpa
siswa SMKN 5 Denpasar,
Putu Ayu
Astrini, saat
mengikuti Praktik
Kerja Industri
(Prakerin) di
salah satu
resor di
Malaysia merupakan
sebuah catatan
buram bagi
dunia
kependidikan Bali.
Tak
pelak,
pelaksanaan Prakerin
ke luar
negeri yang
sejatinya memiliki
tujuan mulia
untuk
meningkatkan life skill siswa-siswa
SMK itu pun
menuai reaksi pro
dan kontra
dari berbagai
kalangan.
------------------
ADA
yang menilai program
Prakerin ke
luar negeri
(khususnya Malaysia-red)
itu tak
perlu dilanjutkan
lagi.
Alasannya,
"koleksi" hotel-hotel
berbintang di
Bali
tak kalah
dibandingkan "koleksi" yang
dimiliki negeri
jiran itu
baik dari
segi kuantitas
maupun
kualitasnya.
Kalau
sekadar untuk
tempat
siswa-siswa SMK melaksanakan
Prakerin, hotel-hotel
berbintang di
Bali
jelas berada
di atas
standar kelayakan.
Di pihak
lain, para
pengelola SMK di
Bali bersikukuh
Prakerin ke
luar negeri
itu tetap
penting
dilaksanakan sebagai
ajang studi
banding maupun
memperkaya wawasan
siswa-siswa SMK.
Menurut
mereka,
apa yang
dialami Putu
Ayu Astrini
itu bersifat
kasusistik dan
sangat personal
sehingga tidak
bisa
digeneralisasi untuk
seluruh siswa
peserta Prakerin
di Malaysia.
Istilahnya, jangan
karena nila
setitik membuat
rusak
susu
sebelanga.
Dikaji
Matang
Dihubungi
Sabtu (17/5)
kemarin, Kepala SMK PGRI 3
Denpasar Drs. I
Nengah Madiadnyana, M.M.,
Kepala SMKN 4
Denpasar Drs. I Nyoman
Selem Darmana,
M.M. dan Wakasek
Kesiswaan SMKN 4
Denpasar Drs. I Made Rejadi,
M.M. menegaskan
tidak ada yang
salah pada
program Pakerin
ke luar
negeri yang digulirkan
Depdiknas untuk
siswa-siswa SMK
tersebut. Bahkan,
ketiga praktisi
pendidikan
kejuruan ini
meminta
pemerintah tetap
melanjutkan program
itu.
Pasalnya,
manfaat yang bisa
dipetik oleh
siswa-siswa SMK
peserta Prakerin
sangat besar.
Di
samping
memperkaya pengalaman
kerja dan
meningkatkan
wawasan serta
ilmu pengetahuan
di bidang
kepariwisataan,
siswa peserta
Prakerin secara
tidak langsung
juga bisa
meningkatkan
kemampuan berbahasa
Inggris.
Selama
mengikuti
Prakerin, mereka
mau tidak
mau harus
menggunakan
bahasa pergaulan
internasional itu
dalam
berkomunikasi dengan
tamu yang
dilayani maupun
dengan sesama
karyawan di
tempat mereka
mengikuti
Prakerin.
"Menurut
saya, tidak
ada yang salah
dengan program
itu.
Sebelum
menggulirkan program ini,
Direktorat
terkait di
Depdiknas jelas
sudah melakukan
kajian-kajian yang
sangat matang.
Sebelum
berangkat, para
peserta Prakerin
juga sudah
diberikan
pembekalan intensif
guna mengukur
kesiapan siswa
untuk mengikuti
program itu.
Baik
dari segi
kesiapan
melaksanakan tahapan
kerja yang
digariskan dalam
Prakerin maupun
kesiapan mental,
kesehatan dan
kepribadian,"
kata Madiadnyana yang
dibenarkan oleh
Selem Darmana
dan Rejadi.
Kendati
begitu, ketiga
sumber Bali Post
itu sepakat
jika kasus
yang menimpa
salah seorang
siswa SMKN 5
Denpasar itu
wajib dijadikan
pelajaran
berharga bagi
pihak sekolah
yang mengikutsertakan
anak didiknya
dalam program
tersebut.
Paling tidak,
penetapan
siswa-siswa yang bisa
mengikuti program
itu harus
diseleksi secara
ketat.
Baik
dari segi
kualitas teknik
maupun nonteknik.
Di
samping matang
secara penguasaan
teori dan
keterampilan (life skill), track
record kedisiplinan
dan kepribadian
calon peserta
Prakerin juga
harus diketahui
secara jelas
oleh pihak
sekolah. "Jangan
sampai
mengikutsertakan anak
didik yang
indisipliner dan
sering bikin
masalah.
Pihak
sekolah pasti
punya catatan
atau track record
masing-masing siswa.
Jadi, filternya
ada pada
proses seleksi
yang superketat
itu," tegas
Selem Darmana.
Dihubungi
terpisah, Ketua
Komisi IV DPRD Bali
Ketut Karyasa
Adnyana, S.P.
mendesak Dinas
Pendidikan (Disdik)
Propinsi Bali
meninjau ulang
pelaksanaan program
Prakerin ke
luar negeri
tersebut.
Termasuk,
tidak perlu
mengikuti program
itu jika life skill yang
dimiliki
siswa-siswa mantan
peserta Prakerin
terbukti tidak
jauh lebih
istimewa
dibandingkan rekan-rekannya
yang mengikuti
kegiatan serupa
di Tanah
Air. "Disdik
perlu mengkaji
secara cermat
apakah
siswa-siswa yang mengikuti
Prakerin di
luar negeri
itu memang
benar-benar
memiliki keterampilan
lebih
dibandingkan rekan-rekannya
yang mengikuti
Prakerin di
dalam negeri.
Jika
keterampilannya
tidak lebih
istimewa, lebih
baik tidak
ikut program
tersebut," ujarnya.
Menurut
Karyasa Adnyana,
Bali dengan
reputasi kepariwisataannya yang
sudah mendunia
sejatinya
merupakan tempat yang
sangat strategis
bagi siswa-siswa
SMK berbasis
kepariwisataan untuk
tempat Prakerin.
"Koleksi"
maupun kualitas
hotel berbintang
di
Bali
juga tidak
kalah dengan Malaysia
sehingga
putra-putri Bali tidak
perlu jauh-jauh
ke negeri
orang untuk
sekadar
melaksanakan Prakerin.
"Kenapa
harus ke
Malaysia?
Menurut
saya,
kepariwisataan
Malaysia
tidak jauh
lebih istimewa
dibandingkan Bali.
Bahkan,
Bali
memiliki banyak
nilai plus
sehingga pertemuan-pertemuan
penting tingkat
dunia silih
berganti digelar
di Bali," ujarnya.
Prioritaskan
SDM Bali
Kasus
Ayu juga
mengundang
perhatian Ketua PHRI
Badung, Perry Markus.
Ia
mengatakan hampir
semua hotel di
Bali
menerima
mahasiswa/siswa praktik
kerja lapangan
(PKL) atau on the job training.
Bahkan
chain hotel di
Bali
juga menerima
siswa praktik
SMK.
PHRI Badung
telah membuat
MoU dengan
sejumlah sekolah
agar bisa
menyalurkan siswa SMK (SDM
Bali) ke hotel-hotel yang
mendapat
rekomendasi dari PHRI.
Karena
itu, dia
mempertanyakan
mengapa untuk PKL
perlu jauh-jauh
ke
Malaysia.
Apalagi
dari segi
kematangan
psikologis siswa SMA/SMK
dinilai masih
labil. "Jangan
sampai ada
image, siswa
Bali
tak diterima
PKL di hotel-hotel
di Bali.
Justru
kami di
kalangan
pengusaha perhotelan
memprioritaskannya,"
ujar Perry.
Menurut
catatan Bali Post,
sejumlah hotel
memang menerima
siswa/mahasiswa
berstatus on the job training.
Misalnya,
Hotel Melia Bali, Hotel Grand Hyatt
Bali di Nusa
Dua, dan
Hotel Santika Beach Bali
di Tuban.
Selain itu
masih banyak
hotel lain yang
menerima para
siswa SMK
khususnya program pariwisata.
"Kalau
ada permintaan
dari
sekolah-sekolah, kami
akan terima
siswa praktik
di hotel kami.
Tentu
saja setelah
lolos seleksi,"
ujar Public Relations Executive of
Grand Hyatt Bali Marianne F. Budihardja.
Manajer MICE &
Marcom Hotel Santika Beach Bali
di Tuban
Luh Suciari
mengaku hotelnya
justru pernah
menerima siswa
on the job training dari
Labuan Bajo,
Flores.
Dengan
mempertimbangkan
kematangan psikologi
siswa, PKL ke
luar negeri
sebaiknya
ditinjau kembali.
Kalau memang
ada keinginan
untuk menciptakan
atmosfer
pergaulan internasional,
sekolah-sekolah
lanjutan khususnya SMK
sebaiknya
menjalin kerja
sama
dengan hotel-hotel
bintang lima di
Bali, khususnya chain hotel.
Toh,
suasananya tak
jauh berbeda
dengan hotel-hotel
di luar
negeri.
(ian/gre)