kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Umanis, 18 Mei 2008 tarukan valas
 

BERITA


Pro-Kontra Prakerin ke Luar Negeri --
Seleksi Siswa Diperketat, Pengawasan Ditingkatkan

 Harus diakui, kasus yang menimpa siswa SMKN 5 Denpasar, Putu Ayu Astrini, saat mengikuti Praktik Kerja Industri (Prakerin) di salah satu resor di Malaysia merupakan sebuah catatan buram bagi dunia kependidikan Bali. Tak pelak, pelaksanaan Prakerin ke luar negeri yang sejatinya memiliki tujuan mulia untuk meningkatkan life skill siswa-siswa SMK itu pun menuai reaksi pro dan kontra dari berbagai kalangan.

------------------


ADA
yang menilai program Prakerin ke luar negeri (khususnya Malaysia-red) itu tak perlu dilanjutkan lagi.
Alasannya, "koleksi" hotel-hotel berbintang di Bali tak kalah dibandingkan "koleksi" yang dimiliki negeri jiran itu baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Kalau sekadar untuk tempat siswa-siswa SMK melaksanakan Prakerin, hotel-hotel berbintang di Bali jelas berada di atas standar kelayakan. Di pihak lain, para pengelola SMK di Bali bersikukuh Prakerin ke luar negeri itu tetap penting dilaksanakan sebagai ajang studi banding maupun memperkaya wawasan siswa-siswa SMK.

Menurut mereka, apa yang dialami Putu Ayu Astrini itu bersifat kasusistik dan sangat personal sehingga tidak bisa digeneralisasi untuk seluruh siswa peserta Prakerin di Malaysia. Istilahnya, jangan karena nila setitik membuat rusak susu sebelanga.

 

Dikaji Matang

Dihubungi Sabtu (17/5) kemarin, Kepala SMK PGRI 3 Denpasar Drs. I Nengah Madiadnyana, M.M., Kepala SMKN 4 Denpasar Drs. I Nyoman Selem Darmana, M.M. dan Wakasek Kesiswaan SMKN 4 Denpasar Drs. I Made Rejadi, M.M. menegaskan tidak ada yang salah pada program Pakerin ke luar negeri yang digulirkan Depdiknas untuk siswa-siswa SMK tersebut. Bahkan, ketiga praktisi pendidikan kejuruan ini meminta pemerintah tetap melanjutkan program itu. Pasalnya, manfaat yang bisa dipetik oleh siswa-siswa SMK peserta Prakerin sangat besar. Di samping memperkaya pengalaman kerja dan meningkatkan wawasan serta ilmu pengetahuan di bidang kepariwisataan, siswa peserta Prakerin secara tidak langsung juga bisa meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris.

Selama mengikuti Prakerin, mereka mau tidak mau harus menggunakan bahasa pergaulan internasional itu dalam berkomunikasi dengan tamu yang dilayani maupun dengan sesama karyawan di tempat mereka mengikuti Prakerin. "Menurut saya, tidak ada yang salah dengan program itu. Sebelum menggulirkan program ini, Direktorat terkait di Depdiknas jelas sudah melakukan kajian-kajian yang sangat matang. Sebelum berangkat, para peserta Prakerin juga sudah diberikan pembekalan intensif guna mengukur kesiapan siswa untuk mengikuti program itu. Baik dari segi kesiapan melaksanakan tahapan kerja yang digariskan dalam Prakerin maupun kesiapan mental, kesehatan dan kepribadian," kata Madiadnyana yang dibenarkan oleh Selem Darmana dan Rejadi.

Kendati begitu, ketiga sumber Bali Post itu sepakat jika kasus yang menimpa salah seorang siswa SMKN 5 Denpasar itu wajib dijadikan pelajaran berharga bagi pihak sekolah yang mengikutsertakan anak didiknya dalam program tersebut. Paling tidak, penetapan siswa-siswa yang bisa mengikuti program itu harus diseleksi secara ketat. Baik dari segi kualitas teknik maupun nonteknik. Di samping matang secara penguasaan teori dan keterampilan (life skill), track record kedisiplinan dan kepribadian calon peserta Prakerin juga harus diketahui secara jelas oleh pihak sekolah. "Jangan sampai mengikutsertakan anak didik yang indisipliner dan sering bikin masalah. Pihak sekolah pasti punya catatan atau track record masing-masing siswa. Jadi, filternya ada pada proses seleksi yang superketat itu," tegas Selem Darmana.

Dihubungi terpisah, Ketua Komisi IV DPRD Bali Ketut Karyasa Adnyana, S.P. mendesak Dinas Pendidikan (Disdik) Propinsi Bali meninjau ulang pelaksanaan program Prakerin ke luar negeri tersebut. Termasuk, tidak perlu mengikuti program itu jika life skill yang dimiliki siswa-siswa mantan peserta Prakerin terbukti tidak jauh lebih istimewa dibandingkan rekan-rekannya yang mengikuti kegiatan serupa di Tanah Air. "Disdik perlu mengkaji secara cermat apakah siswa-siswa yang mengikuti Prakerin di luar negeri itu memang benar-benar memiliki keterampilan lebih dibandingkan rekan-rekannya yang mengikuti Prakerin di dalam negeri. Jika keterampilannya tidak lebih istimewa, lebih baik tidak ikut program tersebut," ujarnya.

Menurut Karyasa Adnyana, Bali dengan reputasi kepariwisataannya yang sudah mendunia sejatinya merupakan tempat yang sangat strategis bagi siswa-siswa SMK berbasis kepariwisataan untuk tempat Prakerin. "Koleksi" maupun kualitas hotel berbintang di Bali juga tidak kalah dengan Malaysia sehingga putra-putri Bali tidak perlu jauh-jauh ke negeri orang untuk sekadar melaksanakan Prakerin. "Kenapa harus ke Malaysia? Menurut saya, kepariwisataan Malaysia tidak jauh lebih istimewa dibandingkan Bali. Bahkan, Bali memiliki banyak nilai plus sehingga pertemuan-pertemuan penting tingkat dunia silih berganti digelar di Bali," ujarnya.

 

Prioritaskan SDM Bali

Kasus Ayu juga mengundang perhatian Ketua PHRI Badung, Perry Markus. Ia mengatakan hampir semua hotel di Bali menerima mahasiswa/siswa praktik kerja lapangan (PKL) atau on the job training. Bahkan chain hotel di Bali juga menerima siswa praktik SMK. PHRI Badung telah membuat MoU dengan sejumlah sekolah agar bisa menyalurkan siswa SMK (SDM Bali) ke hotel-hotel yang mendapat rekomendasi dari PHRI. Karena itu, dia mempertanyakan mengapa untuk PKL perlu jauh-jauh ke Malaysia. Apalagi dari segi kematangan psikologis siswa SMA/SMK dinilai masih labil. "Jangan sampai ada image, siswa Bali tak diterima PKL di hotel-hotel di Bali. Justru kami di kalangan pengusaha perhotelan memprioritaskannya," ujar Perry.

Menurut catatan Bali Post, sejumlah hotel memang menerima siswa/mahasiswa berstatus on the job training. Misalnya, Hotel Melia Bali, Hotel Grand Hyatt Bali di Nusa Dua, dan Hotel Santika Beach Bali di Tuban. Selain itu masih banyak hotel lain yang menerima para siswa SMK khususnya program pariwisata.

"Kalau ada permintaan dari sekolah-sekolah, kami akan terima siswa praktik di hotel kami. Tentu saja setelah lolos seleksi," ujar Public Relations Executive of Grand Hyatt Bali Marianne F. Budihardja. Manajer MICE & Marcom Hotel Santika Beach Bali di Tuban Luh Suciari mengaku hotelnya justru pernah menerima siswa on the job training dari Labuan Bajo, Flores.

Dengan mempertimbangkan kematangan psikologi siswa, PKL ke luar negeri sebaiknya ditinjau kembali. Kalau memang ada keinginan untuk menciptakan atmosfer pergaulan internasional, sekolah-sekolah lanjutan khususnya SMK sebaiknya menjalin kerja sama dengan hotel-hotel bintang lima di Bali, khususnya chain hotel. Toh, suasananya tak jauh berbeda dengan hotel-hotel di luar negeri. (ian/gre)

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com