Orang
Bali Kurang
Lirik
Sektor Informal
Denpasar
(Bali Post) -
Orang
Bali sejatinya
punya
potensi dalam
mengembangkan
usaha
sendiri.
Mereka
memiliki
beberapa
keunggulan
dan
ciri khas
tersendiri.
Beberapa
di
antaranya terampil,
ulet,
penurut dan
punya
seni khusus
dalam
mengelola usaha.
Mencermati
hal
tersebut, semestinya
usaha informal
khususnya
lagi di
sektor
boga di
Pulau
Dewata ini
bisa
dikuasai oleh
orang
Bali.
Sayangnya
kondisi
riil di
lapangan
tidak
berkata demikian.
Orang
Bali
sampai
saat ini
kurang
memiliki sensitivitas
dalam
melirik peluang
usaha
tersebut.
Akibatnya,
serbuan
orang luar yang
menyasar
sektor informal
di Bali
tak terbendung.
Hal tersebut
dikatakan
Direktur
Sekolah
Perhotelan Bali Drs. I
Nyoman Gede
Astina,
M.Pd. usai
membuka
pelatihan Pengembangan
Mutu
Produk dan
Pelayanan
Bakso
Krama Bali yang digelar
di
Warung Bakso
Krama Bali
Jl. Veteran
Denpasar,
Jumat (16/5)
kemarin.
Menurut
Astina, masyarakat
Bali selama
ini
masih tersandung
beberapa
kendala
dalam mengembangkan
usaha
sektor informal.
Faktor
internal yang menyangkut
diri
masyarakat
Bali
sendiri
di antaranya
kurang
fokus dan
seriusnya
masyarakat
dalam
mengelola usaha
dan
keberlanjutan usaha
yang masih
labil.
Sementara
faktor
dari luar
meliputi
kurangnya
dukungan
dari
pemerintah dan
pihak
swasta dalam
memajukan UMKM (usaha
mikro,
kecil, menengah).
Untuk
itu,
ia
menekankan
pentingnya
manajemen yang
lebih
terarah untuk
sektor informal.
Meliputi
perhatian
terhadap
mutu
produk, peningkatan
kualitas
pelayanan
dan
pengelolaan keuangan
yang baik.
''Ini
penting
untuk dilakukan.
Pelayanan
misalnya,
masyarakat
Bali
identik
kurang ramah
saat
melayani pelanggan.
Ini
harus
kita ubah,''
ujarnya.
Pelatihan
yang digelar
hasil
kerja
sama SPB dan
Koperasi
Krama Bali (KKB)
kemarin
meliputi pelatihan
sektor
pelayanan dan
produk.
Peserta
pelatihan
diberikan
bekal
materi tentang
pelayanan
serta
praktik mengolah
bahan
makanan untuk
menjadi
bakso yang memiliki
cita
rasa tinggi.
Pelatihan
dirangkaikan
dengan
bazar selama
dua
hari mulai
Sabtu (17/5)
ini
hingga Minggu (18/5)
besok.
(ded)