Angka
Kemiskinan
Rentan
Dimanipulasi
Kepentingan
Kekuasaan
Jakarta (Bali Post) -
Angka
kemiskinan
di
Tanah Air rentan
dimanipulasi
oleh
kepentingan kekuasaan.
Diyakini,
angka
kemiskinan yang real tidak
terwakili
dalam
angka-angka statistik
pemerintah.
''Seiring
perubahan
aturan
statistik, kita
khawatir
terdapat
beberapa
variabel
pengukuran
kemiskinan
dimanipulasi
pemerintah
bagi
kepentingannya,'' ujar
Direktur
Eksekutif
Indef Ahmad
Erani
Yustika dalam
sebuah
diskusi di
Jakarta, Kamis (15/5)
kemarin.
Pernyataan
Yustika
ini terkait
rencana
pemerintah menerapkan
bantuan
langsung tunai (BLT)
plus seperti
raskin,
minyak goreng
serta
Askeskin yang dianggarkan
Rp 14,1
trilyun sebagai
kompensasi
kenaikan
harga BBM
bersubsidi.
Namun,
pemerintah masih
menggunakan data
jumlah
orang miskin 19,1
juta KK (2005) yang
dibayarkan
setiap
bulannya Rp 100
ribu/KK
selama tujuh
bulan.
Bappenas sendiri
justru
menilai angka
kemiskinan
akan
turun di
kisaran 14,2-16
persen
tahun ini.
Menurut
Erani,
pemerintah cenderung
menggunakan
beberapa
variabel
statistik
tertentu
seperti
pertumbuhan ekonomi,
inflasi
dan realisasi
investasi
dijadikan
tolok
ukur keberhasilan
kinerja
ekonomi pemerintah.
''Sementara
variabel lain
seperti
ukuran daya
beli
orang miskin
di kota
Rp 175
ribu dan
desa Rp
150 ribu
diabaikan,
padahal
dengan nilai
sebesar
itu, apa yang
bisa
mereka dapatkan
untuk
memenuhi kebutuhannya,''
ujar
Erani.
Erani
menuturkan,
pihaknya
menyangsikan
apabila
angka kemiskinan
hitungan
pemerintah
pada 2008
bakal
lebih berkurang
dibanding
tahun
sebelumnya.
Sebab,
indikator
pengurangan
dalam
bentuk penyerapan
jumlah
pengangguran masih
belum
menunjukkan peningkatan
berarti.
''Di
sisi lain, program-program
pengentasan
kemiskinan
pemerintah
juga
masih sebatas yang
sifatnya
instan.
Di
mana
begitu ada
survai,
kemiskinan berkurang
karena program
itu,
namun satu-dua
minggu
mereka miskin
lagi,''
lanjutnya.
Peneliti
ReforMiner Institute
Pri
Agung Rakhmanto
menilai,
pemerintah
cenderung
menyederhanakan
dalam
mendefinisikan angka
kemiskinan.
Pemerintah/Biro
Pusat
Statistik (BPS) tidak
memisahkan
antara
dampak kenaikan
langsung
masyarakat
miskin
atas kenaikan
harga BBM
dengan
ekspetasi pasar yang
memberi
kontribusi kenaikan
harga
barang BBM. Padahal,
kedua
hal tersebut
tidak
hanya
akan menimpa
kelompok
miskin,
tetapi juga
hampir
miskin.
Angka
kemiskinan
tidak
menggambarkan bagaimana
ekspektasi
para
pedagang atau
pelaku
bisnis yang sudah
lebih
dulu menaikkan
harga
barang setelah
mengetahui
rencana
pemerintah menaikkan
harga
barang.
''Padahal
keputusannya
baru
dinaikkan dua
pekan
mendatang,'' kata
Pri.
Padahal,
realitasnya
masyarakat
akan
menerima
pukulan
akibat kenaikan
harga BBM
lebih
dari satu kali.
Sementara
bagi
masyarakat miskin
di
perkotaan, biaya
transportasi
memegang
porsi 30-40
persen total
biaya
pengeluaran, praktis
semakin
besar beban yang
diterima
apabila
harga BBM naik.
Begitu
pula halnya,
biaya
pendidikan dan
sosial
lainnya.
Ini
artinya,
kelompok yang
tadinya
berada di
atas
dan hampir
berada
di garis
kemiskinan,
masuk
kategori di
bawah
kemiskinan.
''Karenanya,
kita
justru memperkirakan
ada
peningkatan angka
kemiskinan 8,55
persen.
Bukannya
malah
turun,'' pungkasnya.
(kmb1)