BBM
Naik,
Daya Saing
Ekspor
Terhimpit
Jakarta (Bali Post)-
Rencana
pemerintah
menaikkan rata-rata
harga
bahan bakar
minyak (BBM)
bersubsidi
dikhawatirkan
mengakibatkan
menurunkan
daya
saing
produk ekspor non
migas
nasional. Pasalnya,
kebijakan
pemerintah
tersebut
akan
memacu
naikknya biaya
angkutan.
''Kalau
biaya kenakkan
sudah
sebesar itu
tentunya
ekspor
kita jadi
tidak
kompetitif, market kita
akan drop
karena
itu kita
akan
mempertajamnya,'' ujar
Ketua
Umum Kadin MS
Hidayat
kepada wartawan
usai
Rakor Kadin
Bidang
Perhubungan di
Jakarta, Senin (12/5)
kemarin.
Menurutnya,
ongkos
angkut barang
dari
dan ke
pelabuhan yang
diperkirakan
naik
sebesar 30 persen
akan
sangat mempengaruhi
biaya
produksi dan
harga
produk, sehingga
ekspor
menjadi tidak
kompetitif.Karena
itu, ia
berharap
pelaku
jasa transportasi
barang
tidak menaikkan
tarif
tanpa mempertimbangkan
pengaruhnya
terhadap
industri agar
produktivitas
tidak
menurun.
Ketua
Asosiasi
Pertekstilan Indonesia (API)
Benny Soetrisno
menyatakan,
sebenarnya
tanpa
ada kenaikan
harga BBM
dalam
negeri pun, biaya
angkutan
sudah
mengalami kenaikan
sejak lima-
enam
bulan terakhir
seiring
lonjakan harga
minyak
mentah dunia.
Para
perusahaan
pengapalan
telah
menyesuaikan harga
berdasarkan
nilai
tukar rupiah
dan
harga pengisian air
tawar.
Hanya
saja,
dengan kenaikan
harga BBM
dalam
negeri praktis
juga
menaikkan biaya
tranportasi
darat
atau pra
pengapalan.
Gilirannya,
membuat
produk ekspor
berkurang
daya
kompetitifnya.
Kenaikan
biaya
pada masing-masing
shipping line berbeda,
tetapi
kira-kira sudah
naik
tujuh persen
dari
biaya pengapalan
sebelumnya,''
tukasnya.
Kesempatan
sama,
Menko
Perekonomian Boediono
meminta
kalangan pengusaha
ikut
berkontribusi mengamankan
dampak
kenaikan harga BBM.
''Secara
apa
pun membantu
pasokan yang
lebih
baik, harga yang
cukup
wajar, itu yang
kita
inginkan.
Itu
adalah
kontribusi pelaku
bisnis
kepada masyarakat,''
ujarnya.
Terkait
pengaruh
kenaikan
harga BBM
terhadap
daya
saing ekspor,
Boediono
mengaku
belum menghitung
perkiraan
pertumbuhannya.
Namun,
menurutnya, penurunan
daya
saing eskpor
juga
dialami negara lain
mengingat
harga
minyak dunia yang
terus
mengalami kenaikan.
''Saya
sendiri
angka-angka tidak
tahu.
Kalau
harga pangan
dan
energi juga
mempengaruhi
negara lain
itu
artinya biaya
di
negara lain juga
naik.
Jadi, kita
harus
bandingkan dengan
negara lain
juga,''
tambahnya
Sebagai
informasi,
Departemen
Perdagangan
sendiri
telah menurunkan
target pertumbuhan
ekspor non
migas
dari 14,5 persen
menjadi 13,1
persen
terkait penurunan
pertumbuhan
ekonomi
nasional tahun
ini
dari 6,4 persen
menjadi 6,2
persen.
Kala itu,
Mendag
mengakui, beberapa
sektor
akan
mengalami
pelambatan
kinerja
ekspornya, kecuali
sektor
otomotif dan TPT.
Badan
Pusat
Statistik (BPS) sendiri
mencatat
nilai total
ekspor 2007
mencapai 113,99
milyar
dolar AS atau
mengalami
pertumbuhan 13,09
persen
dibandingkan dengan
tahun
sebelumnya. Nilai
ekspor non-migas
2007 tercatat 91,94
milyar
dolar AS atau
tumbuh 15,51
persen yang
artinya
sedikit melampaui
target pemerintah 14,5
persen.(kmb1)