kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Umanis, 13 Mei 2008

 Ekuin

 

BBM Naik, Daya Saing Ekspor Terhimpit 

Jakarta (Bali Post)-
Rencana
pemerintah menaikkan rata-rata harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dikhawatirkan mengakibatkan menurunkan  daya saing produk ekspor non migas nasional. Pasalnya, kebijakan pemerintah tersebut akan memacu naikknya biaya angkutan.

''Kalau biaya kenakkan sudah sebesar itu tentunya ekspor kita jadi tidak kompetitif, market kita akan drop karena itu kita akan mempertajamnya,'' ujar Ketua Umum Kadin MS Hidayat kepada wartawan usai Rakor Kadin Bidang Perhubungan di Jakarta, Senin (12/5) kemarin.

Menurutnya, ongkos angkut barang dari dan ke pelabuhan yang diperkirakan naik sebesar 30 persen akan sangat mempengaruhi biaya produksi dan harga produk, sehingga ekspor menjadi tidak kompetitif.Karena itu, ia berharap pelaku jasa transportasi barang tidak menaikkan tarif tanpa mempertimbangkan pengaruhnya terhadap industri agar produktivitas tidak menurun.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Benny Soetrisno menyatakan, sebenarnya tanpa ada kenaikan harga BBM dalam negeri pun, biaya angkutan sudah mengalami kenaikan sejak lima- enam bulan terakhir seiring lonjakan harga minyak mentah dunia. Para perusahaan pengapalan telah menyesuaikan harga berdasarkan nilai tukar rupiah dan harga pengisian air tawar.

Hanya saja, dengan kenaikan harga BBM dalam negeri praktis juga menaikkan biaya tranportasi darat atau pra pengapalan. Gilirannya, membuat produk ekspor berkurang daya kompetitifnya. Kenaikan biaya pada masing-masing shipping line berbeda, tetapi kira-kira sudah naik tujuh persen dari biaya pengapalan sebelumnya,'' tukasnya.

Kesempatan sama, Menko Perekonomian Boediono meminta kalangan pengusaha ikut berkontribusi mengamankan dampak kenaikan harga BBM. ''Secara apa pun membantu pasokan yang lebih baik, harga yang cukup wajar, itu yang kita inginkan. Itu adalah kontribusi pelaku bisnis kepada masyarakat,'' ujarnya.

Terkait pengaruh kenaikan harga BBM terhadap daya saing ekspor, Boediono mengaku belum menghitung perkiraan pertumbuhannya. Namun, menurutnya, penurunan daya saing eskpor juga dialami negara lain mengingat harga minyak dunia yang terus mengalami kenaikan. ''Saya sendiri angka-angka tidak tahu. Kalau harga pangan dan energi juga mempengaruhi negara lain itu artinya biaya di negara lain juga naik. Jadi, kita harus bandingkan dengan negara lain juga,'' tambahnya

Sebagai informasi, Departemen Perdagangan sendiri telah menurunkan target pertumbuhan ekspor non migas dari 14,5 persen menjadi 13,1 persen terkait penurunan pertumbuhan ekonomi nasional tahun ini dari 6,4 persen menjadi 6,2 persen. Kala itu, Mendag mengakui, beberapa sektor akan mengalami pelambatan kinerja ekspornya, kecuali sektor otomotif dan TPT.

Badan Pusat Statistik (BPS) sendiri mencatat nilai total ekspor 2007 mencapai 113,99 milyar dolar AS atau mengalami pertumbuhan 13,09 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Nilai ekspor non-migas 2007 tercatat 91,94 milyar dolar AS atau tumbuh 15,51 persen yang artinya sedikit melampaui target pemerintah 14,5 persen.(kmb1)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)