Kenaikan Harga BBM ...
Tak Ganggu Pencapaian Produksi Gabah
Jakarta (Bali Post) -
Pemerintah c.q Departemen Pertanian (Deptan) beranggapan
langkah pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM)
tidak akan menganggu pertumbuhan pencapaian produksi
gabah sebesar lima persen pada tahun ini.
Pemerintah sudah punya pengalaman pada kenaikan harga
BBM tahun 2005, saat itu tidak begitu menganggu target
produksi pertanian, ujar Menteri Pertanian Anton
Apriyantono kepada wartawan di Jakarta, Minggu (11/5)
kemarin.
Mentan mengatakan, target peningkatan produksi gabah
sebesar lima persen atau 61 juta ton gabah kering giling
(GKG) tidak akan akan diturunkan kendati terjadi
kenaikan harga BBM, karena pemerintah sudah mempunyai
program terencana dengan baik. Berbagai kemungkinan,
telah diantisipasi sebelum kenaikan harga BBM, seperti
kenaikan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah dan
beras serta subsidi pupuk.
Meski terjadi kenaikan harga pupuk di pasaran, namun
harga pupuk bersubsidi petani tidak naik dari harga
eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. ''Kenaikan
ini menyebabkan beban pemerintah menjadi lebih berat,
tapi untuk petani meski beban meningkat tetapi kita
berusaha meringankan,'' ujar Mentan.
Dia membenarkan, kenaikan harga BBM akan meningkatkan
biaya produksi petani. Namun dipastikan tidak begitu
besar dan linier sebesar peningkatan kenaikan harga BBM.
''Dengan kenikan HPP, sebenarnya peningkatan beban biaya
produksi petani sudah terkompensasi,'' tambahnya.
Dengan peningkatan biaya produksi, nantinya terjadi
kenaikan produksi hingga ada keseimbangan baru. Sektor
pertanian khususnya padi, dalam perkembangan beberapa
tahun terakhir selalu meningkat. Pemerintah tahun ini
sudah tidak impor. ''Dari tahun lalu sebenarnya juga
sudah cukup, impor hanya meningkatkan stok yang ada di
Bulog,'' kata peneliti senior IPB ini.
Ketua Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Winarno
Tohir membantah anggapan yang dilontarkan pemerintah
tersebut. Menurutnya, dengan kenaikan harga rata-rata 30
persen, langsung menyebabkan biaya produksi pertanian
melonjak.
Dikatakan, komoditas pupuk dan benih sangat rentan
dimanfaatkan oleh para spekulan. Pada setiap awal musim
tanam, petani kerap mengalami kelangkaan pupuk. Kalaupun
ada, harganya sudah selangit, alhasil sangat sulit
dijangkau para petani. ''Kondisi ini taruhannya pada
produktivitas hasil tanam,'' ujarnya.
Ditambahkan, biaya produksi petani pun semakin terbebani
seiring kenaikan biaya usaha jasa inpu produksi seperti
penggunaan traktor, pompa air dan usaha penggilingan
padi. Kenaikan biaya itu sepenuhnya dibebankan ke
petani dengan cara menaikkan sewa jasa alat dan mesin
pertanian (alsintan). ''Bahkan, usaha alsintan ikut pula
mengambil bagian dari pendapatan petani dengan menaikan
sewa yang terlalu tinggi dari sekadar untuk
mempertahankan keuntungan yang sama,'' kata Winarno.
(kmb1)