kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Kliwon, 12 Mei 2008

 Ekuin


Kenaikan Harga BBM ...

Tak Ganggu Pencapaian Produksi Gabah
 

Jakarta (Bali Post) -     
Pemerintah c.q Departemen Pertanian (Deptan) beranggapan langkah pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) tidak akan menganggu pertumbuhan pencapaian produksi gabah sebesar lima persen pada tahun ini.

Pemerintah sudah punya pengalaman pada kenaikan harga BBM tahun 2005, saat itu tidak begitu menganggu target produksi pertanian, ujar Menteri Pertanian Anton Apriyantono kepada wartawan di Jakarta, Minggu (11/5) kemarin.

Mentan mengatakan, target peningkatan produksi gabah sebesar lima persen atau 61 juta ton gabah kering giling (GKG) tidak akan akan diturunkan kendati terjadi kenaikan harga BBM, karena pemerintah sudah mempunyai program terencana dengan baik. Berbagai kemungkinan, telah diantisipasi sebelum kenaikan harga BBM, seperti kenaikan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah dan beras serta subsidi pupuk.

Meski terjadi kenaikan harga pupuk di pasaran, namun harga pupuk bersubsidi petani tidak naik dari harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. ''Kenaikan ini menyebabkan beban pemerintah menjadi lebih berat, tapi untuk petani meski beban meningkat tetapi kita berusaha meringankan,'' ujar Mentan.

Dia membenarkan, kenaikan harga BBM akan meningkatkan biaya produksi petani. Namun dipastikan tidak begitu besar dan linier sebesar peningkatan kenaikan harga BBM. ''Dengan kenikan HPP, sebenarnya peningkatan beban biaya produksi petani sudah terkompensasi,'' tambahnya.

Dengan peningkatan biaya produksi, nantinya terjadi kenaikan produksi hingga ada keseimbangan baru. Sektor pertanian khususnya padi, dalam perkembangan beberapa tahun terakhir selalu meningkat. Pemerintah tahun ini sudah tidak impor. ''Dari tahun lalu sebenarnya juga sudah cukup, impor hanya meningkatkan stok yang ada di Bulog,'' kata peneliti senior IPB ini.

Ketua Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir membantah anggapan yang dilontarkan pemerintah tersebut. Menurutnya, dengan kenaikan harga rata-rata 30 persen, langsung menyebabkan biaya produksi pertanian melonjak.

Dikatakan, komoditas pupuk dan benih sangat rentan dimanfaatkan oleh para spekulan. Pada setiap awal musim tanam, petani kerap mengalami kelangkaan pupuk. Kalaupun ada, harganya sudah selangit, alhasil sangat sulit dijangkau para petani. ''Kondisi ini taruhannya pada produktivitas hasil tanam,'' ujarnya.

Ditambahkan, biaya produksi petani pun semakin terbebani seiring kenaikan biaya usaha jasa inpu produksi seperti penggunaan traktor, pompa air dan usaha penggilingan padi.  Kenaikan biaya itu sepenuhnya dibebankan ke petani dengan cara menaikkan sewa jasa alat dan mesin pertanian (alsintan). ''Bahkan, usaha alsintan ikut pula mengambil bagian dari pendapatan petani dengan menaikan sewa yang terlalu tinggi dari sekadar untuk mempertahankan keuntungan yang sama,'' kata Winarno. (kmb1)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)