Agama Seyogianya Memberi Kesejukan Hidup
SWAMI
Siwananda menyatakan bahwa agama Hindu menyiapkan hidangan
spiritual pada setiap orang sesuai dengan pertumbuhan hidupnya.
Karenanya, tidak ada pertentangan dalam perbedaan Hindu yang indah
itu. Pernyataan ini disampaikan dalam bukunya "All About
Hinduisme". Buku tersebut sudah diterjemahkan kedalam bahasa
Indonesia oleh Mas Winara dengan judul "Intisari Agama Hindu".
-------------
Pandangan Swami Siwananda itu sangat sesuai dengan
ketentuan konstitusi Indonesia yang menjamin kemerdekaan tiap-tiap
penduduk untuk menganut agama dan beribadah sesuai dengan agama
dan kepercayaannya. Soal kepercayaan dalam kehidupan beragama
menyangkut persoalan hati nurani setiap orang yang amat dalam.
Yang paling utama adalah bagaimana kehidupan beragama itu
memberikan nilai kesejukan yang dapat meningkatkan kualitas hidup
pada penganut agama bersangkutan.
Pernyataan Swami Siwananda itu baik sekali
dijadikan bahan renungan dalam menyikapi berbagai dinamika
kehidupan beragama dewasa ini. Meriah dan semaraknya kegiatan
beragama dewasa ini tidak serta merta membuat masyarakat menjadi
makin religius. Masih banyak kita jumpai berbagai sikap arogan
bahkan melakukan tindakan kekerasan yang anarkhis dengan mengatas
namakan agama.
Hal ini tentunya sangat bertentangan dengan
intisari agama sabda Tuhan itu yang bertujuan untuk membangun
sikap hidup yang sejuk dan damai. Keyakinan beragama tanpa nalar
yang baik memang dapat menimbulkan "mabuk rohani". Apa yang
dirasakan baik dalam melakukan suatu sistem beragama oleh
seseorang belum tentu cocok bagi penganut yang lain. Karena, untuk
menempuh jalan spiritual itu, agama menyiapkan banyak jalan.
Dalam ajaran Hindu, ada disebutkan bahwa agama itu
ada yang dilakukan dalam kesendirian (ekanta). Ada cara beragama
dalam kebersamaan (samikirtanam) atau memuja Tuhan dalam
kebersamaan. Beragama dalam kesendirian artinya jangan sampai
mengganggu beragama dalam kebersamaan. Demikian juga dalam
beragama dalam kebersamaan harus juga menyediakan ruang-ruang
tertentu beragama dalam kesendirian. Beragama dalam kebersamaan
jangan sampai terlalu jauh mengintervensi cara beragama secara
individu.
Hakikat manusia adalah sebagai makhluk individu
sekaligus sebagai makhluk sosial. Beragama dalam kebersamaan
itupun banyak jenis kebersamaannya. Ada dalam kesatuan keluarga,
ada dalam kesatuan teritorial permukiman, dan ada dalam kesamaan
profesi. Kebersamaan itu memiliki banyak sistem juga. Apalagi
menyangkut kepercayaan, agama banyak sekali jenisnya.
Karena itu, tepat sekali pernyataan Swami
Siwananda, agama Hindu itu menyiapkan hidangan spiritual pada
setiap orang. Yang penting bagaimana hidangan spiritual itu dapat
memberikan nilai tambah pada kehidupan setiap orang. Nilai tambah
itu dalam artian spiritualitas. Para pemuka agama hendaknya
menyiapkan sistem religi yang lebih aplikatif agar umat penganut
lebih mudah dapat menyerap nilai-nilai agama sabda Tuhan itu.
Swami Siwananda juga menyatakan bahwa Weda Sruti
adalah Prabhu Samhita, artinya kumpulan sabda Tuhan yang penuh
wibawa sehingga umat penganut tidak begitu mudah menyerapnya. Hal
itu menyebabkan para Resi menyusun pustaka Sastra Weda seperti
Itihasa dan Purana yang suhrita samhita -- artinya kumpulan karya
yang lebih ramah sehingga lebih mudah memahaminya.
Demikian juga dalam kurun waktu tertentu bahkan
setiap generasi ada berbagai pustaka tercipta sebagai penjabaran
dari ajaran suci sabda Tuhan. Namun, setiap hasil ciptaan sebagai
kreasi baru, tetap wajib mengaju pada kitab suci sabda Tuhan.
Tujuan kreasi itu adalah agar sabda suci Tuhan itu dapat lebih
mudah diserap oleh umat pada zamannya. Yang paling utama
penyerapan sabda suci Tuhan itu dapat membangun kesejukan hati
dalam menyelenggarakan hidup di bumi ini. Kesejukan hati itu dapat
digunakan untuk membangun diri hidup bahagia secara individu
maupun hidup harmonis dalam kehidupan bersama dalam berbagai
sistem sosial.
Kebersamaan itu akan langgeng sebagai wadah
membangun hidup sejahtera dan bahagia lahir batin jika dalam
kebersamaan itu ada kesetaraan, persaudaraan dan kemerdekaan untuk
mengembangkan fungsi dan profesi masing-masing. Tidak ada suatu
kesejukan jika dalam kebersamaan itu tidak ada kesetaraan. Kalau
ada suatu kelompok penekan dan ada kelompok yang ditekan,
kebersamaan yang demikian itu pasti akan membawa kegersangan.
Dalam kebersamaan itu memang ada struktur sosial,
tetapi struktur itu adalah dalam artian adanya perbedaan fungsi
dan profesi untuk mensukseskan tujuan dalam kebersamaan itu.
Perbedaan fungsi dan profesi itu tetap dalam kondisi sinergi dalam
kesetaraan. Karena, fungsi dan profesi yang satu akan melengkapi
fungsi dan profesi yang lainnya. Justru perbedaan itulah yang
wajib ditata agar menjadi perbedaan yang saling lengkap
melengkapi. Tujuan Tuhan menciptakan perbedaan itu agar manusia
dapat saling melengkapi. Jangan perbedaan itu dijadikan media
untuk bertentangan.
Pun dalam kebersamaan itu harus diciptakan iklim
sosial yang mendorong berbagai fungsi dan profesi termotivasi
untuk meningkatkan eksistensi fungsi dan profesinya masing-masing.
Setiap fungsi dan profesi akan makin termotivasi untuk
bereksistensi jika ada kemerdekaan dalam kebersamaan itu. Kalau
setiap fungsi dan profesi itu benar-benar tegak sesuai dengan
normanya dalam suatu kebersamaan, maka berbagai kebutuhan material
dan nonmaterial seperti jasa masyarakat akan terpenuhi dengan
sebaik-baiknya.
Pada kenyataannya dewasa ini masih ada perilaku
kekerasan dengan alasan agama. Hal ini dapat merusak citra
kegiatan beragama. Karena itu, setiap kegiatan beragama wajib
dicermati dengan seksama agar benar-benar sesuai dengan maknanya
seperti apa yang disabdakan oleh Tuhan dalam kitab suci yaitu
memberi kesejukan.