Jelang
Kenaikan
Harga..
BBM Berpotensi
Jadi
Sasaran Spekulasi
Jakarta (Bali Post)-
Konsumsi
bahan
bakar minyak (BBM)
dalam
sepekan terakhir
di awal
Mei
sudah melonjak
antara 5-18
persen.
Tak ayal, PT
Pertamina (Persero)
berniat
membatasi konsumsi
BBM di
seluruh daerah
di Indonesia.
Pasalnya,
momen
menjelang kenaikan
harga, BBM
berpotensi
menjadi
sasaran para
spekulan
untuk
menggeruk keuntungan
berlipat.
Direktur
Pemasaran
dan
Niaga Pertamina
Achmad Faisal
ditemui
wartawan usai
sholat
Jumat di Jakarta,
Jumat (9/5)
kemarin,
konsumsi BBM
mengalami
peningkatan
cukup
signifikan. Berdasarkan
laporan
jajarannya di
unit-unit regional pemasaran,
peningkatan
konsumsi BBM
bisa
mencapai 12 persen.
Karenanya,
dia
telah meminta
seluruh
manajer unit membatasi
penjualan
konsumsi BBM
''Kuotanya
tidak
kita kurangi,
tetap
seperti biasa.
Tapi,
kita minta
mereka
tidak melayani
tambahan
permintaan,
kendati
secara riil
konsumsinya
meningkat,''
ujarnya.
Anggota
Komite
Badan Pengatur
Kegiatan
Usaha (BPH)
Hilir
Migas Adi
Subagyo
menyatakan, peningkatan
konsumsi BBM
dalam
tiga hari
tidak
terlepas dari
kebijakan
pemerintah yang
berencana
menaikkan
harga BBM.
Adi
menduga kuat,
momen
seperti ini
telah
dimanfaatkan para
spekulan
untuk
menggeruk keuntungan
berlipat.
Adi
menyatakan,
tindak
spekulasi memborong
BBM, misalnya
dengan
membawa motor lengkap
dengan
derigen-derigen. Padahal,
tindakan
menimbun
tersebut
sudah
dikategorikan melanggar
hukum
yakni UU Migas No
22/2001, Pasal 53,
dengan
ancanman pidana
maksimal
enam
tahun dan
denda
Rp 60 milyar.
Ditambahkan,
pihaknya
telah
melakukan koordinasi
dengan
Mabes Polri
melakukan
kerja
sama, baik
bersifat
pencegahan
maupun
represif untuk
menanggulangi
tindak
penyimpangan BBM bersubsidi
lebih
luas. ''Kami
berharap
pemda pun
bersikap
proaktif
untuk
mencegah agar hal-hal
seperti
ini tidak
berdampak
lebih
luas,'' ujar
Adi
seraya menambahkan
adalah
inisiatif Polda
setempat
untuk
menjaga sekaligus
memonitor
langsung SPBU.
VP Komunikasi
Pertamina
Wisnuntoro
menyatakan,
kenaikan
permintaan BBM
di SBPU
bervariasi antara
5-18 persen
dalam
sepekan terakhir.
Kenaikan
tersebut
terjadi
di Surabaya, Jatim
baik premium (P)
dan solar (S)
sebesar 18
persen.
Daerah lain
Medan
(P/S 7 persen),
Palembang
(P/S 6 persen), Jakarta
(premium 15persen dan solar
5 persen),
Semarang
(P/S=10 persen)
dan
Balikpapan
(P/S 10persen).
Menurut
Wisnuntoro, rata-rata
nasional
penjualan normal per
hari premium 50.000 KL
dan solar 37.000 KL.
Dia
berharap, masyarakat
tidak
perlu panik,
karena
stok BBM cukup,
yakni premium 17
hari
dan solar 20 hari. ''Kalau
panik, SPBU
malah
diserbu dan
habis,''
ujarnya.
Wisnuntoro
menyatakan,
permintaan
konsumsi
di SPBU yang
dinilai
tidak wajar
akan
diawasi. Misalkan,
apabila
suatu SPBU, konsumsinya
20 kl,
tapi meningkat
menjadi 40
kl. ''Ini
tidak
wajar, kita
akan
cek, kenapa
naik,''
terangnya.
Sementara
data Pertamina
menunjukkan
realisasi
konsumsi
bulan April 2008
untuk premium 1.606.302
kl,
minyak tanah 739.683
kl, solar 1.011.163
kl.
Sementara konsumsi
Maret
untuk premium 1.579.620 kl,
minyak
tanah 719.390 kl,
solar 944.152 kl.(kmb1)