Wakil Menlu jangan Diparpolkan
Jakarta
(Bali Post) -
Pengangkatan Wakil Menteri Luar Negeri (Menlu) yang terkesan
mendadak dan mendekati Pemilu 2009 dicurigai banyak pihak. Jabatan
ini jangan diparpolkan alias diisi oleh orang parpol karena
ditengarai partai politik (parpol) ikut bermain di belakangnya.
Untuk mencegahnya, pengamat politik Arbi Sanit di
Jakarta, Sabtu (22/3) kemarin, mengungkapkan sebaiknya posisi itu
cukup diisi satu orang dan ditunjuk orang profesional atau dari
kalangan internal alias diplomat. Wakil Menlu itu sendiri harus
memiliki fungsi untuk mewakili posisi menlu pada saat berhalangan,
menjalankan tugas ke luar negeri untuk misi kepentingan negara dan
melakukan pekerjaan yang tidak bisa digantikan sekjen. Posisi itu
memang sangat diperlukan, karena banyak agenda yang segera
diselesaikan.
Menurut dia, selain diisi pejabat dari kalangan
profesional, juga harus tokoh senior yang telah lama malang
melintang di percaturan diplomasi internasional. Jika diisi orang
luar, dikhawatirkan ada politisasi di kementerian itu. ''Pasalnya,
sekarang apa saja bisa dipolitisasi. Nanti tujuan untuk
mengefektifkan peran menteri luar negeri tidak tercapai,''
ujarnya.
Akses Kuat
Sementara itu, anggota Komisi I DPR, Mutammimul
Ula, mengatakan Presiden SBY diminta jangan salah pilih orang
untuk mendudukkan posisi penting itu. Orang yang ditunjuk harus
memiliki kapabilitas, integritas, dan akseptabilitas politik
seluas-luasnya di dunia internasional. Selain itu, harus memiliki
akses kuat dengan negara-negara dunia ketiga, mengingat Indonesia
memiliki posisi strategis di lingkungan negara-negara tersebut.
Perpres tersebut sangat tepat, karena Menlu
memiliki beban yang cukup berat dalam meningkatkan kerja sama
dengan berbagai negara. ''Baik secara bilateral maupun
multilateral dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya,
pendidikan serta teknologi,'' kata politisi PKS ini.
Dalam kesempatan terpisah, juru bicara Kepresidenan
Andi Mallarangeng menjelaskan jabatan baru setingkat menteri ini
diperlukan Presiden, karena banyaknya aktivitas yang harus
diikuti. Di sisi lain, Menlu Hassan Wirajuda juga tengah sibuk
mengikuti berbagai pertemuan internasional.
''Ini agenda yang sudah lama dan baru bisa
direalisasikan saat ini. Calon yang menempati posisi itu belum
ada, tetapi Presiden segera menujuknya,'' tambah Mallarangeng.
Lebih lanjut diungkapkan pengangkatan ini didasari
pemikiran persoalan internasional makin kompleks dan masalah yang
dihadapi Indonesia juga cukup banyak. Dalam pertemuan-pertemuan
tertentu, diperlukan kehadiran orang setingkat menteri. Sementara
pemerintah hanya memiliki seorang menlu.
Dalam satu tahun, Menlu Hassan Wirajuda bisa
seratus kali memenuhi undangan ke luar negeri. Sementara di sisi
lain, Presiden SBY juga perlu mendapatkan
pertimbangan-pertimbangan Menlu. Meski bisa berkomunikasi dengan
menggunakan kecanggihan teknologi, Presiden pada saat tertentu
harus berbicara langsung dengan menlu. (kmb3/kmb5)