kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Kliwon, 23 Maret 2008 tarukan valas
 

GEBYAR


Mengapa Seni Teater Belum Populer?
Oleh Jauhar Mubarok

DITIADAKANNYA Lomba Drama Modern (LDM) pada Pekan Seni Remaja (PSR) 2008 tentunya mengagetkan beberapa pihak. Terutama para pegiatnya yang sebagian besar anak-anak sekolah menengah yang bergabung dalam ekstrakurikuler teater di sekolah masing-masing.

---------

 

Kekagetan tersebut bersumbu pada anggapan tentang rutinitas LDM yang telah menjadi tradisi tahunan. Sebagaimana tradisi, LDM harus tetap diadakan, bagaimana pun caranya. Dan juga LDM merupakan ruang kontestasi antar-pegiat teater remaja, di mana pada kesempatan itu mereka hendak unjuk gigi kreativitasnya dalam pentas teater kepada publik -- ke teman-temannya, pegiat teater remaja lainnya, guru, serta orang-orang terdekat mereka. Mereka ingin merengkuh eksistensi, ingin dihargai.

Dilatari hal demikian, sebagian dari mereka telah mempersiapkannya latihan yang lebih intensif sejak jauh-jauh hari. Ketika Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Denpasar meniadakan LDM di PSR tahun ini, hal tersebut tidak dapat diterima. Setidaknya, belum masuk dalam logika mereka. Semua latihan yang telah dipersiapkan terasa sia-sia. Terlebih alasan ditiadakannya LDM karena tidak diikut-sertakannya drama modern di Pekan Kesenian Bali (PKB) tahun ini, sebagaimana diberitakan Bali Post, Rabu (12/3). Dikbud terkesan mengada-ada.

Tidak masuknya LDM dalam agenda PKB bukan kali pertama. Sudah berulangkali. Bukankah beberapa tahun ke belakang penyelenggaraan LDM juga tidak dikaitkan dengan agenda PKB? Buktinya para pemenang LDM setelah mendapatkan sedikit hadiah tidak pernah lagi mendapatkan perhatian dari pemerintah. Seolah selesai sudah tugas pemerintah ketika juri menentukan pemenangnya.

Justru karena sudah berulangkali tidak pernah masuk dalam agenda PKB lagi, seyogyanya Dikbud Kota dapat mengambil kebijakan yang bijaksana. Caranya, dengan mengagendakan kembali pemenang LDM dapat pentas di "perayaan agung" PKB seperti beberapa tahun yang lampau. Bukan sebaliknya, malah meniadakan sama sekali.

LDM memang bukan satu-satunya ajang kontestasi teater remaja di Denpasar. Di luar LDM, ada hajatan Gatel (Gelar Teater La Jose) yang diselenggarakan setiap tahun oleh Teater La Jose SMAK Santo Yosep dan pergelaran dua tahunan Festival Monolog oleh Teater Tiga SMAN 3 Denpasar. Namun, di antara kedua perhelatan tersebut, LDM punya nilai tersendiri.

 

Peran Dikbud

Sebenarnya apa yang menyebabkan LDM dihilangkan dari PSR? Jika yang menjadi alasan adalah masalah kreativitas atau penampilan kontestan yang dinilai stagnan, hal ini bukan semata tanggung jawab anak-anak SMA yang menjadi "aktor utama" teater remaja, tetapi banyak pihak. Di sini Dikbud dapat mengomunikasikan masalah tersebut kepada guru kesenian atau pelatih teater untuk dapat disampaikan kepada para pegiatnya.

Selain mengomunikasikan tentang kekurangan-kekurangan LDM yang telah lewat, Dikbud diharapkan lebih punya peran. Misalnya Dikbud bekerja sama dengan para pegiat teater profesional menyelenggarakan rangkaian workshop teater yang ditujukan untuk para guru kesenian, pelatih teater remaja, dan para pegiat teater remaja itu sendiri. Sehingga, dari workshop ini diharapkan mereka mendapatkan banyak referensi tentang teater -- mulai dari bentuk-bentuk ataupun konsep pementasan, pemilihan naskah, dan sebagainya.

Hal ini didasarkan pengalaman penulis yang mendapatkan beberapa buku pelajaran kesenian untuk siswa-siswa sekolah menengah yang telah memasukkan teater sebagai salah satu tema bahasan. Di dalam buku pelajaran itu, para siswa sekolah menengah dituntut dapat mempertunjukkan atau berpentas teater dan belajar penulisan naskah-naskah teater. Sungguh sudah sangat maju buku-buku pelajaran sekolah hari ini. Maka, akan sangat sia-sia bila buku-buku itu hanya menjadi penghias rak-rak buku perpustakaan tanpa dipraktikkan.

Cukup menarik konsep yang ditawarkan Gatel 2007, yaitu dengan hadirnya Kelompok Seni Teku (Yogyakarta), Creamer Box (Bandung), dan Teater Hitam Putih (Padang Panjang). Setidaknya kehadiran mereka telah memberikan preferensi estetika tampilan pada ranah teater di Denpasar, khususnya, dan Bali pada umumnya. Jika benar-benar Dikbud meniadakan LDM dari rangkaian PSR 2008, maka sama halnya Dikbud telah menyedot semangat yang telah dipersiapkan dalam jangka waktu beberapa lama. Sekaligus menghilangkan kesempatan mereka untuk berekspresi.

 

Alasan Dana

Mengapa Dikbud harus terlibat dalam menjaga atmosfer kesenian ini? Teater bukanlah ranah film atau sinetron, meskipun berangkat dari akar yang sama. Film atau sinetron juga seni peran telah mendapatkan sentuhan teknologi audio-visual yang direkam sehingga dapat melintasi waktu dan juga dapat digandakan menjadi tontonan massal. Teater juga berbeda dengan musik, sebagaimana film ataupun sinetron.

Film, sinetron, atau musik telah menjadi bagian dari budaya populer yang begitu masif dalam celah-celah kehidupan. Keberadaannya telah dirayakan secara ingar-bingar oleh semua pihak. Termasuk pihak-pihak swasta (perusahaan) yang mau terlibat menjadi sponsor dengan mendonasikan sebagian keuntungannya untuk mendukungnya. Meskipun keterlibatan pihak swasta tidak semata didasari ketulusan untuk membantu, lebih kerap dilumuri oleh hasrat komersialisasi lewat iklan-iklan yang diselipkan selama kegiatan. Sebuah strategi pemasaran yang begitu jitu. Karena teater belum bisa berada dalam lingkup budaya populer, maka pihak-pihak swasta sangat enggan menggelontorkan dananya.

Berkaca juga pada kenyataan, hanya sedikit (untuk tidak mengatakan tidak ada sama sekali) kelompok teater yang benar-benar dapat bertahan. Tidak di daerah, tidak juga di Jakarta. Bahkan kelompok-kelompok teater profesional yang telah jadi ikon atau tonggak keberadaan teater modern sendiri mengalami nasib yang sama -- selalu kesusahan untuk menyelenggarakan pementasan.

Lihatlah nasib Teater Koma, Teater Mandiri, Bengkel Teater Rendra, atau pun Teater Populer, eksistensi mereka juga kembang kempis. Tidak setiap tahun mereka dapat mementaskan karyanya. Masalah dana memang bukan alasan utamanya, namun karena tiadanya dana pula memunculkan banyak alasan untuk meninggalkan teater. Kalau tidak bersandar pada pemerintah, kepada siapa? Sampai kapan kesenian ditujukan hanya bagi orang-orang yang mau ngayah semata?

* Penulis adalah mahasiswa Antropologi Faksas Unud, bergiat di Sanggar Malam Jumat (SMJ) Denpasar

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com