Mengapa Seni Teater Belum Populer?
Oleh Jauhar Mubarok
DITIADAKANNYA
Lomba Drama Modern (LDM) pada Pekan Seni Remaja (PSR) 2008
tentunya mengagetkan beberapa pihak. Terutama para pegiatnya yang
sebagian besar anak-anak sekolah menengah yang bergabung dalam
ekstrakurikuler teater di sekolah masing-masing.
---------
Kekagetan tersebut bersumbu pada anggapan tentang
rutinitas LDM yang telah menjadi tradisi tahunan. Sebagaimana
tradisi, LDM harus tetap diadakan, bagaimana pun caranya. Dan juga
LDM merupakan ruang kontestasi antar-pegiat teater remaja, di mana
pada kesempatan itu mereka hendak unjuk gigi kreativitasnya dalam
pentas teater kepada publik -- ke teman-temannya, pegiat teater
remaja lainnya, guru, serta orang-orang terdekat mereka. Mereka
ingin merengkuh eksistensi, ingin dihargai.
Dilatari hal demikian, sebagian dari mereka telah
mempersiapkannya latihan yang lebih intensif sejak jauh-jauh hari.
Ketika Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Denpasar meniadakan
LDM di PSR tahun ini, hal tersebut tidak dapat diterima.
Setidaknya, belum masuk dalam logika mereka. Semua latihan yang
telah dipersiapkan terasa sia-sia. Terlebih alasan ditiadakannya
LDM karena tidak diikut-sertakannya drama modern di Pekan Kesenian
Bali (PKB) tahun ini, sebagaimana diberitakan Bali Post, Rabu
(12/3). Dikbud terkesan mengada-ada.
Tidak masuknya LDM dalam agenda PKB bukan kali
pertama. Sudah berulangkali. Bukankah beberapa tahun ke belakang
penyelenggaraan LDM juga tidak dikaitkan dengan agenda PKB?
Buktinya para pemenang LDM setelah mendapatkan sedikit hadiah
tidak pernah lagi mendapatkan perhatian dari pemerintah. Seolah
selesai sudah tugas pemerintah ketika juri menentukan pemenangnya.
Justru karena sudah berulangkali tidak pernah masuk
dalam agenda PKB lagi, seyogyanya Dikbud Kota dapat mengambil
kebijakan yang bijaksana. Caranya, dengan mengagendakan kembali
pemenang LDM dapat pentas di "perayaan agung" PKB seperti beberapa
tahun yang lampau. Bukan sebaliknya, malah meniadakan sama sekali.
LDM memang bukan satu-satunya ajang kontestasi
teater remaja di Denpasar. Di luar LDM, ada hajatan Gatel (Gelar
Teater La Jose) yang diselenggarakan setiap tahun oleh Teater La
Jose SMAK Santo Yosep dan pergelaran dua tahunan Festival Monolog
oleh Teater Tiga SMAN 3 Denpasar. Namun, di antara kedua
perhelatan tersebut, LDM punya nilai tersendiri.
Peran
Dikbud
Sebenarnya apa yang menyebabkan LDM dihilangkan
dari PSR? Jika yang menjadi alasan adalah masalah kreativitas atau
penampilan kontestan yang dinilai stagnan, hal ini bukan semata
tanggung jawab anak-anak SMA yang menjadi "aktor utama" teater
remaja, tetapi banyak pihak. Di sini Dikbud dapat mengomunikasikan
masalah tersebut kepada guru kesenian atau pelatih teater untuk
dapat disampaikan kepada para pegiatnya.
Selain mengomunikasikan tentang
kekurangan-kekurangan LDM yang telah lewat, Dikbud diharapkan
lebih punya peran. Misalnya Dikbud bekerja sama dengan para pegiat
teater profesional menyelenggarakan rangkaian workshop teater yang
ditujukan untuk para guru kesenian, pelatih teater remaja, dan
para pegiat teater remaja itu sendiri. Sehingga, dari workshop ini
diharapkan mereka mendapatkan banyak referensi tentang teater --
mulai dari bentuk-bentuk ataupun konsep pementasan, pemilihan
naskah, dan sebagainya.
Hal ini didasarkan pengalaman penulis yang
mendapatkan beberapa buku pelajaran kesenian untuk siswa-siswa
sekolah menengah yang telah memasukkan teater sebagai salah satu
tema bahasan. Di dalam buku pelajaran itu, para siswa sekolah
menengah dituntut dapat mempertunjukkan atau berpentas teater dan
belajar penulisan naskah-naskah teater. Sungguh sudah sangat maju
buku-buku pelajaran sekolah hari ini. Maka, akan sangat sia-sia
bila buku-buku itu hanya menjadi penghias rak-rak buku
perpustakaan tanpa dipraktikkan.
Cukup menarik konsep yang ditawarkan Gatel 2007,
yaitu dengan hadirnya Kelompok Seni Teku (Yogyakarta), Creamer Box
(Bandung), dan Teater Hitam Putih (Padang Panjang). Setidaknya
kehadiran mereka telah memberikan preferensi estetika tampilan
pada ranah teater di Denpasar, khususnya, dan Bali pada umumnya.
Jika benar-benar Dikbud meniadakan LDM dari rangkaian PSR 2008,
maka sama halnya Dikbud telah menyedot semangat yang telah
dipersiapkan dalam jangka waktu beberapa lama. Sekaligus
menghilangkan kesempatan mereka untuk berekspresi.
Alasan Dana
Mengapa Dikbud harus terlibat dalam menjaga
atmosfer kesenian ini? Teater bukanlah ranah film atau sinetron,
meskipun berangkat dari akar yang sama. Film atau sinetron juga
seni peran telah mendapatkan sentuhan teknologi audio-visual yang
direkam sehingga dapat melintasi waktu dan juga dapat digandakan
menjadi tontonan massal. Teater juga berbeda dengan musik,
sebagaimana film ataupun sinetron.
Film, sinetron, atau musik telah menjadi bagian
dari budaya populer yang begitu masif dalam celah-celah kehidupan.
Keberadaannya telah dirayakan secara ingar-bingar oleh semua
pihak. Termasuk pihak-pihak swasta (perusahaan) yang mau terlibat
menjadi sponsor dengan mendonasikan sebagian keuntungannya untuk
mendukungnya. Meskipun keterlibatan pihak swasta tidak semata
didasari ketulusan untuk membantu, lebih kerap dilumuri oleh
hasrat komersialisasi lewat iklan-iklan yang diselipkan selama
kegiatan. Sebuah strategi pemasaran yang begitu jitu. Karena
teater belum bisa berada dalam lingkup budaya populer, maka
pihak-pihak swasta sangat enggan menggelontorkan dananya.
Berkaca juga pada kenyataan, hanya sedikit (untuk
tidak mengatakan tidak ada sama sekali) kelompok teater yang
benar-benar dapat bertahan. Tidak di daerah, tidak juga di
Jakarta. Bahkan kelompok-kelompok teater profesional yang telah
jadi ikon atau tonggak keberadaan teater modern sendiri mengalami
nasib yang sama -- selalu kesusahan untuk menyelenggarakan
pementasan.
Lihatlah nasib Teater Koma, Teater Mandiri, Bengkel
Teater Rendra, atau pun Teater Populer, eksistensi mereka juga
kembang kempis. Tidak setiap tahun mereka dapat mementaskan
karyanya. Masalah dana memang bukan alasan utamanya, namun karena
tiadanya dana pula memunculkan banyak alasan untuk meninggalkan
teater. Kalau tidak bersandar pada pemerintah, kepada siapa?
Sampai kapan kesenian ditujukan hanya bagi orang-orang yang mau
ngayah semata?
* Penulis adalah
mahasiswa Antropologi Faksas Unud, bergiat di Sanggar Malam Jumat
(SMJ) Denpasar