Puluhan Warga Selat dan Bebandem Muntaber
Seorang Pemangku Tewas ---
Amlapura (Bali
Post) -
Puluhan warga Kecamatan Selat dan Bebandem,
Karangasem, terserang muntaber. Seorang di antaranya Jero Mangku
Wayan Keman (58), pemangku di Pura Puseh Desa Pakraman Bukit Galah,
Sebudi, Selat tewas tanpa sempat mendapat pertolongan. Petugas
sampai Sabtu (22/3) sore kemarin, melakukan survaillance aktif (mengecek
dan mencari) ke banjar-banjar kemungkinan ada penderita yang
mengalami gejala atau terserang muntaber.
Sedikitnya, sampai Sabtu
kemarin, baru dilaporkan 39 warga terserang muntaber. Namun tak
tertutup kemungkinan jumlah itu bertambah, karena penderita terus
berdatangan ke Puskesmas Selat. Di samping ada yang dipulangkan
untuk rawat jalan. Sejumlah warga penunggu pasien di Puskesmas
Selat mengatakan keluarganya mengalami gejala muntaber sejak lima
hari lalu. Namun karena dikira muntah biasa disertai badan panas,
mereka dirawat di rumahnya. Namun karena tak kunjung sembuh, malah
kian parah, mereka baru dibawa ke Puskesmas Selat dan dinyatakan
muntaber.
Kepala Puskesmas Selat dr.
Gusti Gede Widia menyampaikan pihaknya baru menerima pasien
muntaber Kamis (20/3) lalu. Saat itu baru masuk dua orang, satu
rawat inap dan satu rawat jalan. Namun hari berikutnya, Jumat
(21/3) pasien membludak menjadi 20 orang, masing-masing sepuluh
orang rawat jalan dan rawat inap. Dari sepuluh yang menjalani
rawat inap, empat di antaranya dirujuk ke RSUD Karangasem dan
Klungkung. Sabtu kemarin, pasien dari berbagai desa di Kecamatan
Selat, terus berdatangan. Sampai sore kemarin, datang sebelas
orang, rawat jalan tujuh dan rawat inap empat orang.
Puskesmas
Penuh
Total penderita paling banyak dari Kecamatan Selat,
Desa Sebudi dilaporkan 19 orang, Duda Utara (7), Duda, Selat dan
Peringsari masing-masing empat, dua, dan tiga orang. Kabid
Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman
(P2M dan PLP) dr. Wayan Suardana, M. Repro menyampaikan warga dari
Sebudi dan Desa Jungutan paling banyak terserang muntaber. Dari
Sebudi dominan dari Banjar Sebun, di samping ada dari Batu Gede,
serta Jangu Desa Duda. Sementara dari Bebandem berasal dari Desa
Jungutan, dari Banjar Yeh Kori, Tanah Ampo, dan Yeh Bunga.
Dikatakan, belum diketahui
penyebab kasus itu. Namun, sampel air dari Yeh Kori, Bukit
Galah dan Sebun yang biasa dikonsumsi warga yang terserang sudah
dikirim ke Diskes Propinsi Bali untuk diteliti. Di samping itu,
sampel muntahan dan kotoran pasien juga diambil. Dari hasil
pemeriksaan sampel itu diharapkan diketahui penyebab wabah itu.
Suardana mengatakan Sabtu
kemarin, sudah dibentuk dua posko penanggulangan yakni di
Puskesmas Selat dan Bebandem. Di Posko itu, petugas ada 24 jam
dengan obat-obatan dan sarana lain termasuk ambulans siaga.
Suardana mengatakan sudah menghubungi pihak Kepala Puskesmas
terdekat yakni Rendang, Sidemen guna menangani jika ada pasien
yang datang. Kemarin, dokter di Puskesmas Selat terus
berkoordinasi memanggil perawat atau petugas medis, untuk
mengganti rekannya yang sudah lelah bekerja. Libur empat hari ini
membuat para Kepala Puskesmas cukup kewalahan mencari petugas
medis. (013)