Skabies, Gatal pada Malam Hari
Oleh dr. Yulia Siskawati
PERNAHKAH
Anda mengalami bintik-bintik pada kulit disertai dengan rasa gatal
yang khususnya muncul hanya pada malam hari? Ini mungkin merupakan
salah satu pertanda bahwa Anda telah menderita skabies, penyakit
yang disebabkan oleh sejenis parasit.
-----
Bintik-bintik pada kulit yang disertai gatal yang
khususnya terjadi pada malam hari merupakan salah satu gejala
penting yang paling sering dikeluhkan oleh penderita skabies.
Penyakit yang juga dikenal dengan istilah lain seperti gudik,
budukan, atau "gatal agogo" ini disebabkan oleh serangan dan
sensitisasi oleh parasit Sarcoptes scabei var. hominis dan
produknya (cairan dan lain-lain).
Ukuran parasit yang mikroskopik ini menyebabkannya
sulit dilihat dengan kasat mata. Dilihat melalui mikroskop, ia
merupakan tungau kecil, berbentuk oval, punggungnya cembung dan
bagian perutnya rata. Tungau ini berwarna putih kotor dan tidak
bermata. Waktu yang diperlukan tungau ini untuk berkembang dari
telur menjadi dewasa 8-12 hari.
Terdapat pula jenis parasit Sarcoptes scabei yang
hidup pada kambing, babi, dan dapat pula hidup pada binatang
peliharaan.
Gejala &
Penularan
Penyakit ini terjadi pada siapa saja -- anak-anak
sampai orang dewasa. Gejala yang ditimbulkan pada anak-anak maupun
orang dewasa tidak berbeda. Jika telah terserang parasit ini, maka
akan muncul bercak-bercak seperti tergigit serangga yang umumnya
terjadi di daerah sela-sela jari tangan, pergelangan tangan bagian
telapak, siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan, pusar,
bokong, dan perut bagian bawah. Alat kelamin pria juga sering
terkena.
Keluhan gatal disebabkan oleh sensitisasi cairan
parasit atau tungau ini memerlukan waktu sekitar sebulan setelah
serangan. Lalu, gatal hanya terjadi pada malam hari? Tungau
memiliki aktivitas yang lebih tinggi pada malam hari, yaitu pada
suhu yang lembab. Penyakit ini biasanya tidak menyerang satu orang
saja. Orang-orang di sekeliling penderita juga dapat terserang.
Untuk lebih memastikan adanya penyakit ini, maka dapat dilakukan
pemeriksaan ke laboratorium.
Namun, tak semua orang yang telah terserang tungau
ini memiliki gejala-gejala seperti yang teruraikan tadi. Ada juga
yang belum menimbulkan gejala, namun telah terserang parasit ini.
Hal ini disebut mengalami keadaan hiposensitisasi dan orang
tersebut dikatakan sebagai "pembawa" (carrier) penyakit skabies.
Ada yang mengatakan bahwa penyakit ini merupakan
akibat hubungan seksual. Keadaan sosial ekonomi yang rendah,
hiegenitas yang buruk, hubungan seksual yang sifatnya promiskuitas
(tidak memilih-milih), dan perkembangan demografik serta ekologi
yang buruk merupakan hal-hal yang erat kaitannya dengan
perkembangan penyakit ini.
Penularan penyakit pun sangat berhubungan dengan
hal-hal tersebut, ditularkan secara langsung maupun tidak
langsung. Secara langsung, penyakit ini ditularkan dari kontak
melalui kulit penderita dengan orang normal, misalnya saat
berjabat tangan, tidur bersama, dan melalui hubungan seksual.
Penularan secara tidak langsung melalui benda-benda yang digunakan
secara bersama-sama, misalnya dari penggunaan handuk, pakaian,
bantal, sprei, dan sebagainya secara bersama-sama.
Selain cara penularan antarmanusia, pernah juga
dilaporkan bahwa tungau dapat menular ke manusia terutama dari
binatang peliharaan seperti anjing.
Pencegahan
& Pengobatan
Pencegahan sering kali terlewatkan dalam menangani
suatu penyakit. Dalam pencegahan penyakit skabies, selayaknya
orang menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitarnya.
Mandi, penggunaan pakaian, bantal, tempat tidur,
dan sprei secara bersamaan dengan seorang penderita hendaknya
dihindari. Melakukan penjemuran kasur dan bantal secara rutin amat
membantu mencegah tertular orang dari penyakit ini. Walaupun harus
dengan berat hati, kontak secara langsung melalui kulit untuk
sementara harus dilakukan sampai penderita sembuh.
Di samping itu perlu juga diperhatikan agar orang
tidak melakukan hubungan seksual secara sembarangan dengan banyak
pasangan. Jika terdapat hewan peliharaan, seperti anjing,
sebaiknya anjing diobati juga ke dokter hewan sehingga
menghilangkan salah satu faktor penularan di dalam rumah.
Sementara untuk pengobatannya, dengan obat-obatan
anti-skabies memberikan hasil yang baik jika digunakan dengan
benar. Dengan adanya berbagai jenis obat, maka diperlukan obat
yang efektif pada berbagai stadium hidup tungau, tidak menimbulkan
iritasi yang baru pada kulit serta tidak bersifat meracuni, tidak
berbau, tidak kotor, tidak merusak dan mewarnai pakaian, mudah
diperoleh, dan harganya murah.
Masing-masing obat anti-skabies punya kelebihan dan
kekurangan karena dalam pemilihan obat harus dilihat siapa yang
menggunakannya, apakah anak-anak, ibu hamil, orang dewasa, ataupun
orang tua. Karenanya, konsultasikan hal ini dengan ahlinya.
Penderita penyakit ini sebaiknya memperhatikan cara
pengobatan dengan baik. Oleh karena pengobatannya perlu waktu
sekitar seharian, penderita harus bersabar. Di samping itu,
penderita harus menghindari kontak langsung dengan orang lain
seperti keluarga dan orang terdekat, sehingga penyakit dapat
disembuhkan. Pada penderita anak sekolah, sebaiknya tunda belajar
di sekolah sehingga tidak akan menyebarkan penyakit ke teman-teman
lainnya.
Semua pakaian, handuk, dan seprei yang digunakan
dalam seminggu terakhir dicuci dengan air panas sebanyak dua kali,
yaitu pada saat pengobatan pertama dan seminggu kemudian. Jemur
kasur dan bantal di bawah sinar matahari secara berkala. Karpet
dan furnitur yang tidak dapat dicuci sebaiknya di-vacuum atau
dimasukkan ke dalam plastik yang terbungkus rapat selama sekitar
satu minggu.
Penyakit ini, jika tidak diobati, akan mengenai
seluruh tubuh. Biasanya dapat terjadi pada orang-orang dengan
retardasi mental, kelemahan fisik, gangguan imun, dan gangguan
jiwa, seperti psikosis. Skabies yang mengenai seluruh tubuh ini
dikenal dengan nama Norwegian Scabies. Pada skabies jenis ini akan
tampak pula luka-luka yang tertutup oleh krusta (seperti cairan
yang mengering di atas luka), kelainan pada kuku, dan adanya sisik
di seluruh kulit.
Skabies merupakan penyakit yang dapat disembuhkan
secara total jika diobati dengan baik. Namun dalam pelaksanaan
pengobatan, kadang-kadang penderita tidak melakukan dengan benar
dan juga tidak memperhatikan lingkungannya. Hal ini karena
beberapa orang menganggap hanya dirinya saja yang sakit, tanpa
melihat bahwa tanpa memperhatikan keadaan lingkungan sekitarnya,
penyakit ini dapat menyerangnya kembali.