kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Pon, 6 Januari 2008 tarukan valas
 

CERMIN


Strategi Menggalang Dana Sponsor

Judul                 :  Cara Pinter Mencari Dana Sponsor
Penulis              :  Ign. Gatut Saksono
Tebal                :  225 halaman
Penerbit            :  Indonesia Cerdas

-----------

TIDAK bisa dihindari bahwa dana adalah bahan bakar bagi sebuah lembaga. Apapun namanya, tanpa bahan bakar (baca: dana) akan sulit kita melangkah. Keberhasilan dalam penggalangan dana ini, menurut Direktur USC Satu Nama, Meth Kusumahadi, akan mengarah pada daya hidup organisasi meningkat, dalam arti organisasi mempunyai energi untuk perubahan. Akan terjadi pertumbuhan dan perluasan organisasi.

Kalau hal tersebut tidak terjadi, maka merupakan lampu kining bagi organisasi, isyarat akan matinya lembaga. Padahal, keberhasilan dalam fundrising atau penggalangan dana dapat berpengaruh pada makin kuatnya atau banyaknya kontituen (orang yang dilayani), sehingga secara politis berwibawa.

Lantas ke mana mencari dana itu? Semua orang tentu sudah paham, cari sponsor. Sponsor yang dimaksud dapat berupa organisasi atau perorangan. Langkah inilah yang dibahas dalam buku "Cara Pinter Mencari Dana Sponsor" yang ditulis oleh mantan editor dan penterjemah Pustaka Sinar Harapan, Ign Gatut Saksono.

Namanya juga buku pinter, maka buku ini membahas proses perencanaan mencari dana hingga lembaga donor yang hendak dituju. Lengkap, termasuk alamat dan kontak person-nya. Misalnya, The Asian Foundation (TAF), AusAID, Ford Foundation dan JICA. Sayangnya, artikel yang diambil dari berbagai penerbitan luar negeri yang membahas tentang sponsor ini terjemahannya kurang enak dibaca.

Contoh-contoh LSM yang berhasil pun lebih dominan dari luar negeri dimana kesadaran untuk membantu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) telah lama berakar bahkan menjadi kebutuhan dalam hidup. Lepas dari persoalan teknis itu, buku ini cukup membuat semangat para pemburu dana, terutama LSM. Yang pasti, teori penggalangan dana ini telah dibuktikan sukses oleh USC Satu Nama yang merupakan LSM ternama di Yogyakarta.

Penulis buku ini menyarankan agar proposal dikirimkan via pos walaupun zaman telah dipercanggih dengan e-mail. Walaupun terkesan kuno, tetapi pengiriman proposal via surat dapat ditarget, diukur, bisa diujicobakan dan bisa diadvokasi. Adapun kerugiannya, adalah biayanya mahal dan hasil akhirnya hanya di tingkat menengah. Sedangkan pengiriman proposal lewat e-mail keuntungannya adalah rendahnya biaya. Jawabannya lebih direspons yaitu 10%-12% melebihi surat langsung. Meski begitu, kelemahannya antara lain pemirsa sangat terbatas. Selain itu, tidak mudah menarik generasi tua atau donor generasi tua.

Penulis juga memberi catatan, berdasarkan pengalaman para fundriser, pertama, pengiriman surat kepada donor sebaiknya dilakukan pada bulan-bulan yang berakhir dengan "ber" seperti September, Oktober, November dan Desember. Kedua, sekitar ada festival dan hari bersejarah, misalnya dalam rangka memperingati Hari Ibu. Ketiga, jauh dari bulan hajat seperti masa masuk sekolah, musim hujan dan musim bayar pajak.

Buku ini juga membahas bagaimana cara menggalang donatur potensial. Contohnya lewat undangan menonton pertunjukan jazz. Dari kegiatan informal seperti ini akan semakin jelas, siapa saja yang potensial sebagai donatur. Langkah selanjutnya, tentu saja mengiriman permohonan untuk membantu program kita. Walaupun tidak mendapatkan dana, menurut penulis, tetaplah mengirimkan kabar proyek terdini secara ringkas. Kirimkan pula materi lain yang bermanfaat dan informatif dan kenali orang-orangnya. Perlu dicatat bahwa orang cenderung memberi hanya pada orang yang dikenal. Jadi, kalaupun kita belum dapat dana, coba, coba dan coba lagi.

 

* asti musman

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com