Strategi Menggalang Dana Sponsor
Judul
: Cara Pinter Mencari Dana Sponsor
Penulis
: Ign. Gatut Saksono
Tebal
: 225 halaman
Penerbit
: Indonesia Cerdas
-----------
TIDAK
bisa dihindari bahwa dana adalah bahan bakar bagi sebuah lembaga.
Apapun namanya, tanpa bahan bakar (baca: dana) akan sulit kita
melangkah. Keberhasilan dalam penggalangan dana ini, menurut
Direktur USC Satu Nama, Meth Kusumahadi, akan mengarah pada daya
hidup organisasi meningkat, dalam arti organisasi mempunyai energi
untuk perubahan. Akan terjadi pertumbuhan dan perluasan
organisasi.
Kalau hal tersebut tidak terjadi, maka merupakan
lampu kining bagi organisasi, isyarat akan matinya lembaga.
Padahal, keberhasilan dalam fundrising atau penggalangan dana
dapat berpengaruh pada makin kuatnya atau banyaknya kontituen
(orang yang dilayani), sehingga secara politis berwibawa.
Lantas ke mana mencari dana itu? Semua orang tentu
sudah paham, cari sponsor. Sponsor yang dimaksud dapat berupa
organisasi atau perorangan. Langkah inilah yang dibahas dalam buku
"Cara Pinter Mencari Dana Sponsor" yang ditulis oleh mantan editor
dan penterjemah Pustaka Sinar Harapan, Ign Gatut Saksono.
Namanya juga buku pinter, maka buku ini membahas
proses perencanaan mencari dana hingga lembaga donor yang hendak
dituju. Lengkap, termasuk alamat dan kontak person-nya. Misalnya,
The Asian Foundation (TAF), AusAID, Ford Foundation dan JICA.
Sayangnya, artikel yang diambil dari berbagai penerbitan luar
negeri yang membahas tentang sponsor ini terjemahannya kurang enak
dibaca.
Contoh-contoh LSM yang berhasil pun lebih dominan
dari luar negeri dimana kesadaran untuk membantu Lembaga Swadaya
Masyarakat (LSM) telah lama berakar bahkan menjadi kebutuhan dalam
hidup. Lepas dari persoalan teknis itu, buku ini cukup membuat
semangat para pemburu dana, terutama LSM. Yang pasti, teori
penggalangan dana ini telah dibuktikan sukses oleh USC Satu Nama
yang merupakan LSM ternama di Yogyakarta.
Penulis buku ini menyarankan agar proposal
dikirimkan via pos walaupun zaman telah dipercanggih dengan
e-mail. Walaupun terkesan kuno, tetapi pengiriman proposal via
surat dapat ditarget, diukur, bisa diujicobakan dan bisa
diadvokasi. Adapun kerugiannya, adalah biayanya mahal dan hasil
akhirnya hanya di tingkat menengah. Sedangkan pengiriman proposal
lewat e-mail keuntungannya adalah rendahnya biaya. Jawabannya
lebih direspons yaitu 10%-12% melebihi surat langsung. Meski
begitu, kelemahannya antara lain pemirsa sangat terbatas. Selain
itu, tidak mudah menarik generasi tua atau donor generasi tua.
Penulis juga memberi catatan, berdasarkan
pengalaman para fundriser, pertama, pengiriman surat kepada donor
sebaiknya dilakukan pada bulan-bulan yang berakhir dengan "ber"
seperti September, Oktober, November dan Desember. Kedua, sekitar
ada festival dan hari bersejarah, misalnya dalam rangka
memperingati Hari Ibu. Ketiga, jauh dari bulan hajat seperti masa
masuk sekolah, musim hujan dan musim bayar pajak.
Buku ini juga membahas bagaimana cara menggalang
donatur potensial. Contohnya lewat undangan menonton pertunjukan
jazz. Dari kegiatan informal seperti ini akan semakin jelas, siapa
saja yang potensial sebagai donatur. Langkah selanjutnya, tentu
saja mengiriman permohonan untuk membantu program kita. Walaupun
tidak mendapatkan dana, menurut penulis, tetaplah mengirimkan
kabar proyek terdini secara ringkas. Kirimkan pula materi lain
yang bermanfaat dan informatif dan kenali orang-orangnya. Perlu
dicatat bahwa orang cenderung memberi hanya pada orang yang
dikenal. Jadi, kalaupun kita belum dapat dana, coba, coba dan coba
lagi.
* asti
musman