kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Pon, 6 Januari 2008 tarukan valas
 

CERMIN


Kisah tentang Surat untuk Raja

Judul                 :  Surat untuk Raja
                           (De brief voor de koning)
Penulis              :  Tonke Dragt
Alih bahasa       :  Laurens Sipahelut
Tebal                :  526 halaman
Penerbit            :  Pena Wormer, Jakarta

------

TIURI, 16 tahun, bertirakat di dalam kapel. Malam itu adalah malam menjelang pelantikannya menjadi kesatria. Apa pun yang terjadi, ia pantang berbicara, pantang berinteraksi dengan lingkungan di luar. Ia terkesiap ketika ada yang mengetuk pintu dengan mendesak, dan mendengar suara yang memohon pertolongan. Meskipun tahu itu dilarang, ia berjalan keluar kapel.

Tiuri mendapat sebuah perintah rahasia, sebuah perintah yang penting. Ia lantas memulai suatu perjalanan yang panjang yang melintasi hutan-hutan liar, kota-kota besar, dan pegunungan tinggi. Ia bertemu dengan lawan, tetapi ia juga memperoleh kawan. Selama perjalanannya, Tiuri menjadi mengenal dirinya, dan dalam waktu singkat tumbuh kembang menjadi dewasa.

Saat membaca, tidak terdapat kesan bahwa buku ini sudah cukup tua -- terbit pada 1962. Tidak mengherankan kalau di Belanda buku ini sering diperbandingkan dengan "The Lord of the Rings" karya JRR Tolkien, tetapi tanpa tokoh-tokoh fantasi. Putih bertempur melawan merah, kebaikan melawan kejahatan. "Surat untuk Raja" merupakan sebuah epos kesatria yang bukan saja mengisahkan tentang tokoh baik dan jahat, juga tentang orang dengan sisi baik dan jahat. "Surat untuk Raja" makin dibuat menawan oleh gaya bercerita yang imajinatif dan ilustrasi hitam-putih yang dibuat oleh penulisnya, dan di Belanda sudah dianggap sebagai salah satu buku anak-anak klasik.

Di Belanda, pada 5 Oktober 2004, buku berjudul asli "De brief voor de koning" ini didaulat sebagai buku anak-anak terbaik sepanjang 50 tahun terakhir (1955-2004). Sebelumnya, pada 1963, buku ini dinobatkan sebagai buku anak-anak terbaik 1962. Saat ini, buku ini sedang diadaptasi menjadi sebuah film layar lebar dan diprakirakan akan siap pada putar pertengahan 2008 ini.

Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman, Dansk, Esti, Cek, Spanyol, Jepang, Prancis, dan Italia. Penulisnya, Antonia Johanna (Tonke) Dragt, lahir pada 12 November 1930 di Batavia (sekarang Jakarta), tempat ia menjalani masa remaja yang bahagia. Masa yang indah ini berakhir saat Jepang pada 1942 menduduki Indonesia, yang waktu itu masih bernama Hindia Belanda. Bersama warga Belanda lainnya, Tonke beserta keluarganya ditawan di kamp pengasingan.

Namun, pengalaman di kamp pengasingan tidak melulu buruk. Di kamp pengasingan semuanya serba kurang. Termasuk buku. Tonke, bersama seorang kawan sebaya, lantas memutuskan untuk menulis buku seniri. Kendala kertas tak jadi masalah. Mereka menulis di atas apa saja yang bisa mereka temukan: kertas bekas, dan bahkan kertas toilet. Boleh dibilang Tonke memupuk bakatnya bercerita dan berilustrasi saat berada di kamp pengasingan.

Seusai Perang Dunia II, Tonke bersama ibu dan saudari-saudarinya pindah ke Belanda tempat ia -- seperti keluarga Hindia Belanda lainnya-- disambut dengan dingin. Di sana Tonke menyelesaikan sekolah menengah (HBS) dan kuliah di Academie voor de Beeldende Kunsten (Akademi Seni rupa) di kota Den Haag. Setelah lulus, Tonke menjadi guru menggambar di sebuah sekolah menengah di Rijswijk, suatu kotamadya dekat Den Haag. Karena terkadang kesulitan menjaga ketertiban kelas, ia mengisahkan cerita kepada murid-muridnya, yang lantas menjadi tenang sehingga ia mendapat kesempatan untuk menjelaskan tugas-tugasnya kepada murid.

Tidak lama kemudian cerita-ceritanya itu diterbitkan dalam majalah anak-anak Kris Kras. Pada 1961 terbit bukunya yang pertama, "Verhalen van de tweelingbroers". Tahun berikutnya terbit buku "Surat untuk Raja" ini. Setelah 40 tahun, di Belanda, buku ini dan lanjutannya yang berjudul "Geheimen van het wilde woud" (Rahasia Hutan Anggara), masih menjadi buku karangan Tonke yang paling laris terjual.

 

Menulis Spontan

Cerita-cerita Tonke seringkali mengambil tempat di masa lalu atau di masa depan, tetapi di periode yang tidak bisa ditetapkan secara jelas. Maka itu, karya Tonke juga bukan murni roman sejarah atau fiksi ilmiah. Saat muda, Tonke banyak membaca kisah legenda, mitos, dan sebangsanya, dan di dalam buku-bukunya unsur-unsur ini sering bisa ditemukan kembali.

Saat Tonke mulai menulis buku, ia biasanya sudah mempunyai bagian awal dan akhir, dan bagian tengah dari ceritanya akan datang dengan sendirinya saat menulis. Tonke menulis dengan spontan dan mengutak-atiknya di sana-sini setelah selesai menulis. Ada kalanya cerita yang ia tulis berakhir lain sama sekali dari yang ia semula rencanakan.

Tonke sering mengangkat tema pencarian si tokoh utama akan jati dirinya, untuk menemukan takdir dia di dunia ini. Tonke juga membuat tokoh utamanya melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan oleh lingkungannya, namun yang mesti ia perbuat agar bisa maju dalam hidupnya atau agar bisa belajar sesuatu tentang diri sendiri.

Pada 1976, Tonke oleh Pemerintah Belanda dianugerahkan Staatsprijs voor kinder-en jeugdliteratuur (Hadiah Negara untuk Literatur Anak-anak dan Remaja, sekarang bernama Hadiah Theo Thijssen yang diberikan sekali tiga tahun) sebagai penghargaan atas kumpulan karyanya sejauh itu.

Pena Wormer merupakan penerbit yang mengkhususkan diri pada literatur Belanda untuk memperkenalkan karya-karya dari Negeri Belanda kepada pembaca di Indonesia, khususnya generasi yang lebih muda. Sejak dibentuk pada 2006, Pen Wormer telah menerbitkan dua buku yaitu "Surat untuk Raja" karangan Tonke Dragt dan "Marco van Basten, Era AC Milan dan Orange" karangan Zeger van Herwaarden. (tin)

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com