Kisah tentang Surat untuk Raja
Judul
: Surat untuk Raja
(De brief voor de koning)
Penulis
: Tonke Dragt
Alih bahasa : Laurens
Sipahelut
Tebal
: 526 halaman
Penerbit
: Pena Wormer, Jakarta
------
TIURI,
16 tahun, bertirakat di dalam kapel. Malam itu adalah malam
menjelang pelantikannya menjadi kesatria. Apa pun yang terjadi, ia
pantang berbicara, pantang berinteraksi dengan lingkungan di luar.
Ia terkesiap ketika ada yang mengetuk pintu dengan mendesak, dan
mendengar suara yang memohon pertolongan. Meskipun tahu itu
dilarang, ia berjalan keluar kapel.
Tiuri mendapat sebuah perintah rahasia, sebuah
perintah yang penting. Ia lantas memulai suatu perjalanan yang
panjang yang melintasi hutan-hutan liar, kota-kota besar, dan
pegunungan tinggi. Ia bertemu dengan lawan, tetapi ia juga
memperoleh kawan. Selama perjalanannya, Tiuri menjadi mengenal
dirinya, dan dalam waktu singkat tumbuh kembang menjadi dewasa.
Saat membaca, tidak terdapat kesan bahwa buku ini
sudah cukup tua -- terbit pada 1962. Tidak mengherankan kalau di
Belanda buku ini sering diperbandingkan dengan "The Lord of the
Rings" karya JRR Tolkien, tetapi tanpa tokoh-tokoh fantasi. Putih
bertempur melawan merah, kebaikan melawan kejahatan. "Surat untuk
Raja" merupakan sebuah epos kesatria yang bukan saja mengisahkan
tentang tokoh baik dan jahat, juga tentang orang dengan sisi baik
dan jahat. "Surat untuk Raja" makin dibuat menawan oleh gaya
bercerita yang imajinatif dan ilustrasi hitam-putih yang dibuat
oleh penulisnya, dan di Belanda sudah dianggap sebagai salah satu
buku anak-anak klasik.
Di Belanda, pada 5 Oktober 2004, buku berjudul asli
"De brief voor de koning" ini didaulat sebagai buku anak-anak
terbaik sepanjang 50 tahun terakhir (1955-2004). Sebelumnya, pada
1963, buku ini dinobatkan sebagai buku anak-anak terbaik 1962.
Saat ini, buku ini sedang diadaptasi menjadi sebuah film layar
lebar dan diprakirakan akan siap pada putar pertengahan 2008 ini.
Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa
Jerman, Dansk, Esti, Cek, Spanyol, Jepang, Prancis, dan Italia.
Penulisnya, Antonia Johanna (Tonke) Dragt, lahir pada 12 November
1930 di Batavia (sekarang Jakarta), tempat ia menjalani masa
remaja yang bahagia. Masa yang indah ini berakhir saat Jepang pada
1942 menduduki Indonesia, yang waktu itu masih bernama Hindia
Belanda. Bersama warga Belanda lainnya, Tonke beserta keluarganya
ditawan di kamp pengasingan.
Namun, pengalaman di kamp pengasingan tidak melulu
buruk. Di kamp pengasingan semuanya serba kurang. Termasuk buku.
Tonke, bersama seorang kawan sebaya, lantas memutuskan untuk
menulis buku seniri. Kendala kertas tak jadi masalah. Mereka
menulis di atas apa saja yang bisa mereka temukan: kertas bekas,
dan bahkan kertas toilet. Boleh dibilang Tonke memupuk bakatnya
bercerita dan berilustrasi saat berada di kamp pengasingan.
Seusai Perang Dunia II, Tonke bersama ibu dan
saudari-saudarinya pindah ke Belanda tempat ia -- seperti keluarga
Hindia Belanda lainnya-- disambut dengan dingin. Di sana Tonke
menyelesaikan sekolah menengah (HBS) dan kuliah di Academie voor
de Beeldende Kunsten (Akademi Seni rupa) di kota Den Haag. Setelah
lulus, Tonke menjadi guru menggambar di sebuah sekolah menengah di
Rijswijk, suatu kotamadya dekat Den Haag. Karena terkadang
kesulitan menjaga ketertiban kelas, ia mengisahkan cerita kepada
murid-muridnya, yang lantas menjadi tenang sehingga ia mendapat
kesempatan untuk menjelaskan tugas-tugasnya kepada murid.
Tidak lama kemudian cerita-ceritanya itu
diterbitkan dalam majalah anak-anak Kris Kras. Pada 1961 terbit
bukunya yang pertama, "Verhalen van de tweelingbroers". Tahun
berikutnya terbit buku "Surat untuk Raja" ini. Setelah 40 tahun,
di Belanda, buku ini dan lanjutannya yang berjudul "Geheimen van
het wilde woud" (Rahasia Hutan Anggara), masih menjadi buku
karangan Tonke yang paling laris terjual.
Menulis Spontan
Cerita-cerita Tonke seringkali mengambil tempat di
masa lalu atau di masa depan, tetapi di periode yang tidak bisa
ditetapkan secara jelas. Maka itu, karya Tonke juga bukan murni
roman sejarah atau fiksi ilmiah. Saat muda, Tonke banyak membaca
kisah legenda, mitos, dan sebangsanya, dan di dalam buku-bukunya
unsur-unsur ini sering bisa ditemukan kembali.
Saat Tonke mulai menulis buku, ia biasanya sudah
mempunyai bagian awal dan akhir, dan bagian tengah dari ceritanya
akan datang dengan sendirinya saat menulis. Tonke menulis dengan
spontan dan mengutak-atiknya di sana-sini setelah selesai menulis.
Ada kalanya cerita yang ia tulis berakhir lain sama sekali dari
yang ia semula rencanakan.
Tonke sering mengangkat tema pencarian si tokoh
utama akan jati dirinya, untuk menemukan takdir dia di dunia ini.
Tonke juga membuat tokoh utamanya melakukan sesuatu yang tidak
diperbolehkan oleh lingkungannya, namun yang mesti ia perbuat agar
bisa maju dalam hidupnya atau agar bisa belajar sesuatu tentang
diri sendiri.
Pada 1976, Tonke oleh Pemerintah Belanda
dianugerahkan Staatsprijs voor kinder-en jeugdliteratuur (Hadiah
Negara untuk Literatur Anak-anak dan Remaja, sekarang bernama
Hadiah Theo Thijssen yang diberikan sekali tiga tahun) sebagai
penghargaan atas kumpulan karyanya sejauh itu.
Pena Wormer merupakan penerbit yang mengkhususkan
diri pada literatur Belanda untuk memperkenalkan karya-karya dari
Negeri Belanda kepada pembaca di Indonesia, khususnya generasi
yang lebih muda. Sejak dibentuk pada 2006, Pen Wormer telah
menerbitkan dua buku yaitu "Surat untuk Raja" karangan Tonke Dragt
dan "Marco van Basten, Era AC Milan dan Orange" karangan Zeger van
Herwaarden. (tin)