Sempat Kritis, Akhirnya Tersenyum
Jakarta (Bali Post) -
Kondisi kesehatan mantan Presiden Soeharto yang dirawat di Rumah
Sakit Pusat Pertamina (RSPP) sejak Jumat (4/1) lalu, belum
membaik. Bahkan, menurut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono,
kondisi mantan penguasa Orde Baru itu sudah dalam keadaan kritis.
"Setelah menjenguk kondisi Pak Harto, saya mendapatkan laporan
dari tim dokter bahwa beliau dalam kondisi yang kritis," kata
Yudhoyono dalam konferensi pers mendadak bersama dengan Wakil
Presiden Jusuf Kalla di kantor Kepresidenan Jakarta, Sabtu (5/1)
kemarin.
Sebelum menjelaskan kondisi terakhir Soeharto, siang harinya,
secara terpisah, Yudhoyono dan Kalla telah menjenguk Pak Harto
yang dirawat di President Suite VVIP kamar 536 RSPP. Dalam
kesempatan itu, kedua pemimpin nasional itu turut memanjatkan doa
untuk kesembuhan Pak Harto.
Lebih lanjut dikatakan Yudhoyono, dirinya telah memerintahkan
kepada Tim Dokter Kepresidenan dan Tm Dokter RSPP untuk berbuat
yang terbaik untuk kesembuhan Pak Harto. Langkah yang sama,
sambung Kepala Negara, juga selalu dilakukan terhadap
mantan-mantan presiden yang menderita sakit.
Sekarang meskipun keadaannya kritis upaya medis masih terus
dilakukan. ''Kita lakukan apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi
keadaan kesehatan mantan Presiden Soeharto," ujar Presiden sambil
meminta seluruh rakyat Indonesia untuk berdoa bagi kesembuhan
mantan presiden berusia 86 tahun itu.
Upayakan Stabil
Sebelumnya dalam konferensi pers di RSPP, Ketua Tim Dokter
Kepresidenan, dr. Mardjo Soebiandono, mengatakan meski sudah
mendapatkan perawatan intensif, kondisi kesehatan Soeharto tetap
belum membaik. Kondisi itulah yang membuat tim dokter akan
berupaya keras dengan berbagai jalan untuk setidaknya membuat
kondisi kesehatan Pak Harto tidak kian memburuk.
Secara umum, kondisi kesehatan beliau masih lemah, dengan tekanan
darah 80/50 ml/Hg dengan kadar haemoglobin (Hb) yang makin menurun
yaitu 8,3 gram persen, jelas Mardjo.
Kondisi jantung dan paru-paru sang jenderal berbintang lima itu
pun, menurut Mardjo, masih belum membaik, meski sudah diberikan
pengobatan. ''Penumpukan cairan di seluruh tubuh juga makin
bertambah terutama di paru-paru," katanya.
Secara terpisah, anggota Tim Dokter Kepresidenan Djoko Rahardjo
mengungkapkan tim dokter masih terus berupaya membuat kondisi
tubuh mantan presiden itu tetap stabil. Salah satu caranya adalah
dengan membuat kondisi Pak Harto tertidur agar metabolisme
tubuhnya tidak terlalu bekerja keras. ''Setelah kondisinya stabil,
jika memungkinkan nantinya dapat dipasang alat pacu jantung,''
ujar Djoko sambil menambahkan penyakit yang diderita Pak Harto
sudah sangat kompleks.
Dijenguk Puluhan Tokoh
Sejak pagi hingga malam hari, sejumlah tokoh terus berdatangan ke
RSPP untuk menjenguk Pak Harto. Selain para mantan anak buahnya
semasa memerintah, tokoh-tkoh nasional yang kini masih mejabat pun
tak ketinggalan untuk berkunjung.
Selain Presiden Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla, sejumlah menteri
terlihat juga mendatangi ruang perawatan Soeharto. Di antara
menteri yang terlihat berkunjung adalah Menteri Kesehatan Siti
Fadillah Supari dan Menteri Agama M. Maftuch Basyuni.
Sementara dari kalangan mantan pejabat dan tokoh nasional lainnya
yang terlihat berkunjung di antaranya mantan Wapres Try Sutrisno,
mantan panglima ABRI yang juga Ketua Umum Partai Hanura Wiranto,
mantan Kepala BKKBN Haryono Suyono mantan Menteri Koperasi
Subiyakto Tjakrawerdaya, mantan Menkeu Fuad Bawazier dan pluhan
tokoh lainnya.
Sorotan Media Australia
Sementara itu, media Australia ikut menyoroti soal kondisi
kesehatan Soeharto. The Australian dan jaringan pemberitaan
Australian Broadcasting Corporation (ABC), misalnya, Sabtu,
menyoroti kondisi kesehatan Soeharto yang terus menurun sembari
menyinggung kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke RSPP.
Soeharto yang disebut ABC sebagai "mantan diktator" itu kembali
menghuni ruang president suite Nomor 536. Dalam sejarah hubungan
bilateral Indonesia dan Australia yang sering mengalami pasang
surut, mantan perdana menteri Paul Keating (1991-1996) justru
pernah memiliki hubungan pribadi yang baik dan hangat dengan
mantan Presiden Soeharto.
Keating menempatkan Indonesia secara khusus dalam kebijakan luar
negeri Australia sebagaimana ia sampaikan sendiri dalam sebuah
pertemuan di Sydney tahun 1994. Dalam pertemuan tersebut, Keating
menegaskan bahwa tidak ada satu negara pun yang lebih penting bagi
Australia daripada Indonesia. ''Jika kami gagal menempatkan
hubungan ini pada jalur yang benar, memelihara dan
mengembangkannya, maka seluruh jejaring hubungan luar negeri kami
tidaklah lengkap". (kmb5/afp)