kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Pon, 6 Januari 2008 tarukan valas
 

BERITA


Sempat Kritis, Akhirnya Tersenyum

Jakarta (Bali Post) -
Kondisi kesehatan mantan Presiden Soeharto yang dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) sejak Jumat (4/1) lalu, belum membaik. Bahkan, menurut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kondisi mantan penguasa Orde Baru itu sudah dalam keadaan kritis.

"Setelah menjenguk kondisi Pak Harto, saya mendapatkan laporan dari tim dokter bahwa beliau dalam kondisi yang kritis," kata Yudhoyono dalam konferensi pers mendadak bersama dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla di kantor Kepresidenan Jakarta, Sabtu (5/1) kemarin.

Sebelum menjelaskan kondisi terakhir Soeharto, siang harinya, secara terpisah, Yudhoyono dan Kalla telah menjenguk Pak Harto yang dirawat di President Suite VVIP kamar 536 RSPP. Dalam kesempatan itu, kedua pemimpin nasional itu turut memanjatkan doa untuk kesembuhan Pak Harto.

Lebih lanjut dikatakan Yudhoyono, dirinya telah memerintahkan kepada Tim Dokter Kepresidenan dan Tm Dokter RSPP untuk berbuat yang terbaik untuk kesembuhan Pak Harto. Langkah yang sama, sambung Kepala Negara, juga selalu dilakukan terhadap mantan-mantan presiden yang menderita sakit.

Sekarang meskipun keadaannya kritis upaya medis masih terus dilakukan. ''Kita lakukan apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi keadaan kesehatan mantan Presiden Soeharto," ujar Presiden sambil meminta seluruh rakyat Indonesia untuk berdoa bagi kesembuhan mantan presiden berusia 86 tahun itu.

 

Upayakan Stabil

Sebelumnya dalam konferensi pers di RSPP, Ketua Tim Dokter Kepresidenan, dr. Mardjo Soebiandono, mengatakan meski sudah mendapatkan perawatan intensif, kondisi kesehatan Soeharto tetap belum membaik. Kondisi itulah yang membuat tim dokter akan berupaya keras dengan berbagai jalan untuk setidaknya membuat kondisi kesehatan Pak Harto tidak kian memburuk.

Secara umum, kondisi kesehatan beliau masih lemah, dengan tekanan darah 80/50 ml/Hg dengan kadar haemoglobin (Hb) yang makin menurun yaitu 8,3 gram persen, jelas Mardjo.

Kondisi jantung dan paru-paru sang jenderal berbintang lima itu pun, menurut Mardjo, masih belum membaik, meski sudah diberikan pengobatan. ''Penumpukan cairan di seluruh tubuh juga makin bertambah terutama di paru-paru," katanya.

Secara terpisah, anggota Tim Dokter Kepresidenan Djoko Rahardjo mengungkapkan tim dokter masih terus berupaya membuat kondisi tubuh mantan presiden itu tetap stabil. Salah satu caranya adalah dengan membuat kondisi Pak Harto tertidur agar metabolisme tubuhnya tidak terlalu bekerja keras. ''Setelah kondisinya stabil, jika memungkinkan nantinya dapat dipasang alat pacu jantung,'' ujar Djoko sambil menambahkan penyakit yang diderita Pak Harto sudah sangat kompleks.

 

Dijenguk Puluhan Tokoh

Sejak pagi hingga malam hari, sejumlah tokoh terus berdatangan ke RSPP untuk menjenguk Pak Harto. Selain para mantan anak buahnya semasa memerintah, tokoh-tkoh nasional yang kini masih mejabat pun tak ketinggalan untuk berkunjung.

Selain Presiden Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla, sejumlah menteri terlihat juga mendatangi ruang perawatan Soeharto. Di antara menteri yang terlihat berkunjung adalah Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari dan Menteri Agama M. Maftuch Basyuni.

Sementara dari kalangan mantan pejabat dan tokoh nasional lainnya yang terlihat berkunjung di antaranya mantan Wapres Try Sutrisno, mantan panglima ABRI yang juga Ketua Umum Partai Hanura Wiranto, mantan Kepala BKKBN Haryono Suyono mantan Menteri Koperasi Subiyakto Tjakrawerdaya, mantan Menkeu Fuad Bawazier dan pluhan tokoh lainnya.

 

Sorotan Media Australia

Sementara itu, media Australia ikut menyoroti soal kondisi kesehatan Soeharto. The Australian dan jaringan pemberitaan Australian Broadcasting Corporation (ABC), misalnya, Sabtu, menyoroti kondisi kesehatan Soeharto yang terus menurun sembari menyinggung kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke RSPP.

Soeharto yang disebut ABC sebagai "mantan diktator" itu kembali menghuni ruang president suite Nomor 536. Dalam sejarah hubungan bilateral Indonesia dan Australia yang sering mengalami pasang surut, mantan perdana menteri Paul Keating (1991-1996) justru pernah memiliki hubungan pribadi yang baik dan hangat dengan mantan Presiden Soeharto.

Keating menempatkan Indonesia secara khusus dalam kebijakan luar negeri Australia sebagaimana ia sampaikan sendiri dalam sebuah pertemuan di Sydney tahun 1994. Dalam pertemuan tersebut, Keating menegaskan bahwa tidak ada satu negara pun yang lebih penting bagi Australia daripada Indonesia. ''Jika kami gagal menempatkan hubungan ini pada jalur yang benar, memelihara dan mengembangkannya, maka seluruh jejaring hubungan luar negeri kami tidaklah lengkap". (kmb5/afp)

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com