kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Pon, 6 Januari 2008 tarukan valas
 

KELUARGA


Antisipasi Kesehatan di Musim Hujan
Cegah Infeksi Jamur dan Invasi Cacing

Oleh dr. Rosita Sari Sutanto

KONDISI Indonesia yang beriklim tropis menyebabkan munculnya berbagai macam penyakit. Hal ini ditambah dengan kondisi cuaca kurang menguntungkan yang akhir-akhir ini melanda sebagian besar wilayah di Indonesia. Belakangan ini, hujan di mana-mana menyebabkan timbulnya genangan air bahkan terjadi banjir. Di samping sejumlah persoalan umum, cuaca yang kurang bersahabat ini juga menimbulkan masalah kesehatan kulit seperti infeksi jamur.

----------------

 

Salah satu masalah kulit yang sering timbul pada musim penghujan adalah infeksi jamur pada kulit. Penyakit ini, terutama sering muncul saat kondisi sedang lembab. Infeksi jamur ada yang menyerang lapisan kulit atas dan lapisan kulit bawah.

Infeksi yang menyerang lapisan kulit atas (mikosis superficialis) cukup banyak di Indonesia dan menyerang masyarakat luas. Panu adalah salah satu mikosis superficialis yang masih sering terjadi. Panu (pitiriasis versikolor) adalah penyakit jamur yang mengenai lapisan kulit bagian atas, bersifat ringan, menahun dan biasanya tidak memberikan keluhan subjektif pada penderita.

Masih ada anggapan masyarakat untuk menjauhi penderita panu supaya tidak tertular. Perlu diketahui, bahwa penyakit ini tidak menular. Sepintas, penyakit ini nampaknya sepele, namun ternyata sering menimbulkan masalah kosmetik bagi penderita, terlebih bila lokasinya di bagian wajah. Selain masalah kosmetik, pengobatan pada panu ini membutuhkan waktu cukup lama.

Panu disebabkan oleh spesies malassezia furfur. Pada kondisi kulit normal, terdapat flora normal yang berhubungan dengan munculnya panu ini yaitu Pityrosporom sp. Lalu, malassezia fufur merupakan bentuk spora, dan merupakan bentuk yang dapat menimbulkan penyakit bagi manusia.

Bagaimana flora normal pada kulit bisa berubah menjadi patogen atau menimbulkan penyakit pada manusia, faktor-faktornya adalah sbb.;

1. Faktor eksogen atau yang berasal dari luar tubuh manusia seperti kelembaban dan suhu yang tinggi, higiene perorangan kurang baik, dan pakaian yang terlalu tertutup.

2. Faktor endogen atau yang berasal dari tubuh manusia sendiri seperti kulit berminyak, keadaan tubuh yang cenderung lebih banyak berkeringat, faktor genetik juga berperan, dan kondisi daya tahan tubuh yang sedang menurun seperti pada penderita yang mendapat pengobatan steroid dalam jangka waktu lama.

 

Gambaran Klinis

Gambaran klinis penyakit panu adalah bercak-bercak warna putih hingga kecoklatan, dapat berbentuk teratur atau tidak teratur, dan kadang disertai sisik halus di atasnya. Bercak itu akan tampak lebih jelas dan berpendar warna khusus jika dilihat di bawah lampu wood.

Lokasi lesi terutama pada badan yaitu dada dan punggung, dan dapat menyerang ketiak, lipat paha dan lengan, tungkai atas, leher bahkan muka dan kulit kepala yang berambut. Karena kelainan ini biasanya tidak menimbulkan keluhan, maka seringkali penderita tidak menyadari timbulnya panu. Pada beberapa penderita, dapat merasakan keluhan gatal ringan terutama bila berkeringat pada lokasi lesi. Tatalaksana terutama yang paling penting adalah meminimalkan faktor-faktor predisposisi timbulnya panu sebagaimana yang sudah dipaparkan di atas.

Pada saat musim hujan saat ini, dimana kondisi lingkungan dan tubuh kita cenderung lembab, yang perlu diingat adalah menjaga agar tubuh tetap kering. Dianjurkan untuk tidak memakai pakaian yang masih lembab misalnya belum kering benar, atau memakai pakaian pada saat tubuh belum benar-benar kering sehabis mandi. Hal ini perlu diperhatikan karena kesembuhan dari panu tidak lepas dari perilaku sehat dari penderita itu sendiri.

Selain itu, obat antijamur juga harus diberikan dan digunakan secara tekun dan teratur. Obat jamur dapat berupa obat topikal maupun obat minum, tergantung dari kasus. Angka kekambuhan panu cukup tinggi, yaitu 40%-70%, sehingga kadang dibutuhkan obat pemeliharaan untuk mencegah kambuhnya kembali penyakit.

 

Cacing Tambang

Selain panu, penyakit infeksi maupun noninfeksi belakangan ini juga makin banyak ragamnya. Salah satunya, penyakit yang ditimbulkan oleh hewan parasit. Invasi oleh larva cacing tambang yang dikenal dengan istilah creeping eruption merupakan salah satu penyakit parasit hewan. Istilah creeping eruption (CE) dipergunakan karena pada invasi larva cacing tambang ini akan timbul kelainan pada kulit berupa erupsi peradangan berbentuk lurus atau berliku-liku yang menonjol di atas permukaan kulit.

CE masih sering dijumpai di Indonesia karena iklim tropisnya yang hangat dan lembab. Selain itu, kenyataan bahwa sebagian besar masyarakat kita bermata pencarian sebagai petani yang sering berhubungan dengan tanah, menjadikan masyarakat kita potensial terkena CE. Ditambah lagi dengan kondisi musim hujan yang hampir tiap hari mengguyur.

CE juga dikenal dengan istilah cutaneous larva migrans, dermatosis linearis migrans ataupun sandworm disease. Dari namanya dapat diketahui bahwa beberapa penderita terserang penyakit ini ketika berhubungan dengan pasir. CE menyerang laki-laki dan perempuan segala usia, terutama pada orang yang sering berjalan tanpa alas kaki.

Penyebab utama CE adalah larva yang berasal dari cacing tambang, anjing dan kucing adalah Ancylostoma braziliense dan Ancylostoma caninum. Cacing tambang hidup dalam hospes, kemudian sel telurnya terdapat pada kotoran hospes, yang karena kondisi lembab telur akan berubah jadi larva yang mampu mengadakan penetrasi ke dalam kulit. Setelah mengadakan penetrasi ke dalam kulit, larva tinggal dan berjalan-jalan dalam lapisan kulit epidermis, setelah beberapa jam atau hari akan timbul gejala di kulit.

Masuknya larva ke dalam kulit biasanya terasa gatal dan panas pada tempat masuknya larva. Kemudian akan muncul tonjolan pada permukaan kulit, beberapa saat akan muncul bentuk yang khas yaitu tonjolan di atas permukaan kulit yang berkelok-kelok berwarna kemerahan. Untuk selanjutnya, tonjolan kemerahan ini akan makin berkelok-kelok membentuk terowongan sesuai dengan pergerakan larva. Keluhan gatal pada penderita biasanya lebih hebat pada malam hari.

Lokasi predileksi lesi adalah daerah tungkai, telapak kaki, tangan, bokong, dan paha. Namun tidak menutup kemungkinan terjadi lesi di daerah lain, terutama di bagian tubuh yang paling sering kontak dengan larva. Bentuk lesi itu khas, sehingga diagnosa biasanya sudah dapat ditegakkan hanya dengan melalui pengamatan saja.

 

Obat dan Pencegahan

Pengobatan CE menggunakan obat anticacing berspektrum luas, diberikan selama beberapa hari berturut-turut dalam dosis tertentu. Pengobatan dapat diulang jika keluhan tidak berkurang atau membaik. Selain dengan obat anticacing, pengobatan cara lain dengan menyemprotan agen pembeku seperti misalnya chlorethyl atau dryce sepanjang lesi dapat juga digunakan sebagai pengobatan penunjang.

Selama masa pengobatan, kita harus memperhatikan pergerakan dari lesi. Jika selama waktu pengamatan tertentu tidak tampak lagi pergerakan lesi, maka larva biasanya telah mati. Terkadang untuk membantu mengamati pergerakan itu, lokasi lesi diberi tanda tinta spidol sehingga lebih mempermudah pengamatan.

Selain memahami pengobatannya, harus diketahui juga cara pencegahannya. Mengingat sekarang musim hujan, keadaan tanah pasti lebih lembab dibanding biasanya. Bagi orangtua yang memiliki anak kecil, hindarkan anak bermain terlalu lama di tanah maupun pasir, apalagi bermain tanpa menggunakan alas kaki. Anjurkanlah selalu anak agar menggunakan alas kaki. Untuk mereka yang pekerjaannya sering berhubungan dengan tanah atau pasir, seperti petani atau pekerja kebun, anjurkan juga untuk menggunakan alas kaki saat bekerja.

Kemudian bagi mereka yang memiliki hewan peliharaan anjing ataupun kucing, selalu ingatkan untuk membuang kotoran hewan di tempat pembuangan tertentu. Hal-hal sederhana seperti di atas nampaknya sepele, namun dari hal seperti itulah kita dapat mencegah terjadinya invasi larva cacing tambang.

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com