Antisipasi Kesehatan di Musim Hujan
Cegah Infeksi Jamur dan Invasi Cacing
Oleh dr.
Rosita Sari Sutanto
KONDISI
Indonesia yang beriklim tropis menyebabkan
munculnya berbagai macam penyakit. Hal ini ditambah dengan kondisi
cuaca kurang menguntungkan yang akhir-akhir ini melanda sebagian
besar wilayah di Indonesia. Belakangan ini, hujan di mana-mana
menyebabkan timbulnya genangan air bahkan terjadi banjir. Di
samping sejumlah persoalan umum, cuaca yang kurang bersahabat ini
juga menimbulkan masalah kesehatan kulit seperti infeksi jamur.
----------------
Salah satu
masalah kulit yang sering timbul pada musim penghujan adalah
infeksi jamur pada kulit. Penyakit ini, terutama sering muncul
saat kondisi sedang lembab. Infeksi jamur ada yang menyerang
lapisan kulit atas dan lapisan kulit bawah.
Infeksi
yang menyerang lapisan kulit atas (mikosis superficialis) cukup
banyak di Indonesia dan menyerang masyarakat luas. Panu adalah
salah satu mikosis superficialis yang masih sering terjadi. Panu
(pitiriasis versikolor) adalah penyakit jamur yang mengenai
lapisan kulit bagian atas, bersifat ringan, menahun dan biasanya
tidak memberikan keluhan subjektif pada penderita.
Masih ada
anggapan masyarakat untuk menjauhi penderita panu supaya tidak
tertular. Perlu diketahui, bahwa penyakit ini tidak menular.
Sepintas, penyakit ini nampaknya sepele, namun ternyata sering
menimbulkan masalah kosmetik bagi penderita, terlebih bila
lokasinya di bagian wajah. Selain masalah kosmetik, pengobatan
pada panu ini membutuhkan waktu cukup lama.
Panu
disebabkan oleh spesies malassezia furfur. Pada kondisi kulit
normal, terdapat flora normal yang berhubungan dengan munculnya
panu ini yaitu Pityrosporom sp. Lalu, malassezia fufur merupakan
bentuk spora, dan merupakan bentuk yang dapat menimbulkan penyakit
bagi manusia.
Bagaimana
flora normal pada kulit bisa berubah menjadi patogen atau
menimbulkan penyakit pada manusia, faktor-faktornya adalah sbb.;
1. Faktor
eksogen atau yang berasal dari luar tubuh manusia seperti
kelembaban dan suhu yang tinggi, higiene perorangan kurang baik,
dan pakaian yang terlalu tertutup.
2. Faktor
endogen atau yang berasal dari tubuh manusia sendiri seperti kulit
berminyak, keadaan tubuh yang cenderung lebih banyak berkeringat,
faktor genetik juga berperan, dan kondisi daya tahan tubuh yang
sedang menurun seperti pada penderita yang mendapat pengobatan
steroid dalam jangka waktu lama.
Gambaran Klinis
Gambaran
klinis penyakit panu adalah bercak-bercak warna putih hingga
kecoklatan, dapat berbentuk teratur atau tidak teratur, dan kadang
disertai sisik halus di atasnya. Bercak itu akan tampak lebih
jelas dan berpendar warna khusus jika dilihat di bawah lampu wood.
Lokasi lesi
terutama pada badan yaitu dada dan punggung, dan dapat menyerang
ketiak, lipat paha dan lengan, tungkai atas, leher bahkan muka dan
kulit kepala yang berambut. Karena kelainan ini biasanya tidak
menimbulkan keluhan, maka seringkali penderita tidak menyadari
timbulnya panu. Pada beberapa penderita, dapat merasakan keluhan
gatal ringan terutama bila berkeringat pada lokasi lesi.
Tatalaksana terutama yang paling penting adalah meminimalkan
faktor-faktor predisposisi timbulnya panu sebagaimana yang sudah
dipaparkan di atas.
Pada saat
musim hujan saat ini, dimana kondisi lingkungan dan tubuh kita
cenderung lembab, yang perlu diingat adalah menjaga agar tubuh
tetap kering. Dianjurkan untuk tidak memakai pakaian yang masih
lembab misalnya belum kering benar, atau memakai pakaian pada saat
tubuh belum benar-benar kering sehabis mandi. Hal ini perlu
diperhatikan karena kesembuhan dari panu tidak lepas dari perilaku
sehat dari penderita itu sendiri.
Selain itu,
obat antijamur juga harus diberikan dan digunakan secara tekun dan
teratur. Obat jamur dapat berupa obat topikal maupun obat minum,
tergantung dari kasus. Angka kekambuhan panu cukup tinggi, yaitu
40%-70%, sehingga kadang dibutuhkan obat pemeliharaan untuk
mencegah kambuhnya kembali penyakit.
Cacing
Tambang
Selain
panu, penyakit infeksi maupun noninfeksi belakangan ini juga makin
banyak ragamnya. Salah satunya, penyakit yang ditimbulkan oleh
hewan parasit. Invasi oleh larva cacing tambang yang dikenal
dengan istilah creeping eruption merupakan salah satu penyakit
parasit hewan. Istilah creeping eruption (CE) dipergunakan karena
pada invasi larva cacing tambang ini akan timbul kelainan pada
kulit berupa erupsi peradangan berbentuk lurus atau berliku-liku
yang menonjol di atas permukaan kulit.
CE masih
sering dijumpai di Indonesia karena iklim tropisnya yang hangat
dan lembab. Selain itu, kenyataan bahwa sebagian besar masyarakat
kita bermata pencarian sebagai petani yang sering berhubungan
dengan tanah, menjadikan masyarakat kita potensial terkena CE.
Ditambah lagi dengan kondisi musim hujan yang hampir tiap hari
mengguyur.
CE juga
dikenal dengan istilah cutaneous larva migrans, dermatosis
linearis migrans ataupun sandworm disease. Dari namanya dapat
diketahui bahwa beberapa penderita terserang penyakit ini ketika
berhubungan dengan pasir. CE menyerang laki-laki dan perempuan
segala usia, terutama pada orang yang sering berjalan tanpa alas
kaki.
Penyebab
utama CE adalah larva yang berasal dari cacing tambang, anjing dan
kucing adalah Ancylostoma braziliense dan Ancylostoma caninum.
Cacing tambang hidup dalam hospes, kemudian sel telurnya terdapat
pada kotoran hospes, yang karena kondisi lembab telur akan berubah
jadi larva yang mampu mengadakan penetrasi ke dalam kulit. Setelah
mengadakan penetrasi ke dalam kulit, larva tinggal dan
berjalan-jalan dalam lapisan kulit epidermis, setelah beberapa jam
atau hari akan timbul gejala di kulit.
Masuknya
larva ke dalam kulit biasanya terasa gatal dan panas pada tempat
masuknya larva. Kemudian akan muncul tonjolan pada permukaan
kulit, beberapa saat akan muncul bentuk yang khas yaitu tonjolan
di atas permukaan kulit yang berkelok-kelok berwarna kemerahan.
Untuk selanjutnya, tonjolan kemerahan ini akan makin
berkelok-kelok membentuk terowongan sesuai dengan pergerakan
larva. Keluhan gatal pada penderita biasanya lebih hebat pada
malam hari.
Lokasi
predileksi lesi adalah daerah tungkai, telapak kaki, tangan,
bokong, dan paha. Namun tidak menutup kemungkinan terjadi lesi di
daerah lain, terutama di bagian tubuh yang paling sering kontak
dengan larva. Bentuk lesi itu khas, sehingga diagnosa biasanya
sudah dapat ditegakkan hanya dengan melalui pengamatan saja.
Obat dan
Pencegahan
Pengobatan
CE menggunakan obat anticacing berspektrum luas, diberikan selama
beberapa hari berturut-turut dalam dosis tertentu. Pengobatan
dapat diulang jika keluhan tidak berkurang atau membaik. Selain
dengan obat anticacing, pengobatan cara lain dengan menyemprotan
agen pembeku seperti misalnya chlorethyl atau dryce sepanjang lesi
dapat juga digunakan sebagai pengobatan penunjang.
Selama masa
pengobatan, kita harus memperhatikan pergerakan dari lesi. Jika
selama waktu pengamatan tertentu tidak tampak lagi pergerakan
lesi, maka larva biasanya telah mati. Terkadang untuk membantu
mengamati pergerakan itu, lokasi lesi diberi tanda tinta spidol
sehingga lebih mempermudah pengamatan.
Selain
memahami pengobatannya, harus diketahui juga cara pencegahannya.
Mengingat sekarang musim hujan, keadaan tanah pasti lebih lembab
dibanding biasanya. Bagi orangtua yang memiliki anak kecil,
hindarkan anak bermain terlalu lama di tanah maupun pasir, apalagi
bermain tanpa menggunakan alas kaki. Anjurkanlah selalu anak agar
menggunakan alas kaki. Untuk mereka yang pekerjaannya sering
berhubungan dengan tanah atau pasir, seperti petani atau pekerja
kebun, anjurkan juga untuk menggunakan alas kaki saat bekerja.
Kemudian
bagi mereka yang memiliki hewan peliharaan anjing ataupun kucing,
selalu ingatkan untuk membuang kotoran hewan di tempat pembuangan
tertentu. Hal-hal sederhana seperti di atas nampaknya sepele,
namun dari hal seperti itulah kita dapat mencegah terjadinya
invasi larva cacing tambang.