kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Pon, 6 Januari 2008 tarukan valas
 

KELUARGA


Bagaimana Cara Mendeteksi Anak Autis?
Oleh dr. Ni Made Adi Purnami

 AUTIS adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial. Jumlah anak yang terkena autis makin meningkat belakangan ini. Dengan adanya metode diagnosis yang kian berkembang, hampir dipastikan jumlah anak autis akan makin besar.

-------------

 

Penyebab autis belum dapat diketahui secara pasti. Para ahli berpendapat bahwa autis disebabkan banyak faktor. Berbagai hal yang dicurigai menyebabkan autis adalah (1) Genetik, autisme diturunkan dari orangtua ke anak-anaknya, (2) Televisi dan kesibukan orangtua yang meningkat menyebabkan kurangnya sosialisasi pada anak-anak, dan (3) Makanan, berbagai zat kimia yang ada pada makanan modern (pengawet hingga pewarna).

Juga disebabkan (4) Asam folat, biasa diberikan pada wanita hamil untuk mencegah cacat fisik pada anak, tapi dikonsumsi melebihi dosis normal, sebaiknya memperbanyak makan buah-buahan yang kaya asam folat karena alam dapat mencegah tanpa menimbulkan efek samping, dan (5) Menyekolahkan lebih awal, hal ini diperkirakan karena anak yang memiliki bakat autis sebenarnya bisa membaik dengan berada pada lingkungan orangtuanya, bukan dipindahkan pada lingkungan asing yang berbeda.

Sejumlah gejala autisme dapat dilihat pada hal-hal sbb.;

1. Gangguan dalam komunikasi verbal atau nonverbal, anak mengalami keterlambatan atau sama sekali tidak bisa bicara. Anak juga tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain karena kata-katanya tidak bisa dimengerti orang lain. Berkomunikasi dengan hanya menggunakan bahasa tubuh dan berkomunikasi hanya dalam waktu singkat.

2. Gangguan dalam bidang interaksi sosial, menolak atau menghindar untuk bertatap muka. Tidak menoleh bila dipanggil sehingga anak sering dianggap tuli. Menolak untuk dipeluk dan bila menginginkan sesuatu menarik tangan orang terdekatnya dan berharap orang itu melakukan sesuatu untuknya. Tidak berbagi kesenangan dengan orang lain, dan akan menjauh bila didekati saat bermain.

3. Gangguan dalam bermain, di antaranya bermain sangat monoton dan aneh, bila senang dengan satu mainan tidak mau mainan yang lain.

4. Gangguan perilaku dilihat dari gejala sering dianggap sebagai anak yang senang kerapian, harus menempatkan barang tertentu di tempatnya. Anak akan tampak hiperaktif, berjalan dan berlari kesana kemari tak tentu arah atau dapat menjadi sangat pasif dengan duduk terdiam dan pandangannya kosong.

5. Gangguan perasaan dan emosi dapat dilihat dari perilaku tertawa sendiri atau marah tanpa sebab, sering mengamuk tak terkendali terutama bila keinginannya tak dipenuhi.

 

Diagnosis dan Deteksi

Menegakkan diagnosis autisme tidaklah mudah karena membutuhkan kecermatan, pengalaman dan waktu yang tidak sebentar untuk pengamatan. Diagnosis yang paling baik adalah dengan cara seksama mengamati perilaku anak dalam berkomunikasi, bertingkah laku dan tingkat perkembangannya.

Oleh karena karakteristik penyandang autis ini banyak ragamnya, diagnosis yang paling ideal adalah memeriksakan anak ke beberapa tim yang terdiri dari ahli neorologis, penyakit anak, terapi bahasa, psikologi anak, dan ahli lainnya di bidang autis. Peranan orangtua sangat penting untuk membantu diagnosis karena orangtua akan memberi informasi mengenai kronologi perkembangan anak, sehingga orangtua harus dilibatkan dalam melakukan diagnosis.

Meskipun sulit, tanda dan gejala autisme sudah bisa diamati pada anak kategori usia sbb.;

Usia 0-6 bulan -- bayi akan tampak terlalu tenang (jarang menangis), terlalu sensitif, gerakan tangan dan kaki berlebihan terutama bila mandi, tidak ditemukan senyum sosial diatas 10 mg, tidak ada kontak mata di atas umur 3 bulan, perkembangan motorik halus/kasar sering tampak normal, sulit bila digendong, dan menggigit tangan dan kaki orang secara berlebihan.

Usia 6-12 bulan -- kaku bila digendong, tak mau bermain permainan sederhana semisal "ciluk-ba", "da-da", dll., tidak mengeluarkan kata, tidak tertarik pada boneka, memperhatikan tangannya sendiri, dan terdapat keterlambatan dalam perkembangan motor kasar/halus.

Usia 2-3 tahun -- tidak tertarik utnuk bersosialisasi dengan anak lain, melihat orang sebagai "benda", kontak mata terbatas, tertarik pada benda tertentu, dan kaku bila digendong.

Usia 4-5 tahun -- sering didapatkan membeo, mengeluarkan suara yang aneh (nada tinggi atau datar), marah bila rutinitas yang seharusnya berubah, menyakiti diri sendiri (membenturkan kepala), dan gampang marah bila kemauan tidak dituruti atau agresif.

Penegakan diagnosis autis adalah melalui diagnosis klinis atau berdasarkan pengamatan secara langsung dan tidak langsung (oleh orangtua). Tidak ada satupun pemeriksaan medis yang dapat memastikan suatu diagnosis autisme pada anak, namun terdapat beberapa pemeriksaan yang dapat menunjang diagnosis yang dapat digunakan sebagai dasar intervensi dan strategi pengobatan.

Peranan orangtua sangat penting dalam mendeteksi dini gejala autis. Orangtua harus peka terhadap perkembangan anak sejak lahir. Kepekaan ini tentunya harus ditunjang dengan peningkatan pengetahuan tentang perkembangan normal anak sejak dini. Bila dijumpai keterlambatan atau penyimpangan, harus dilakukan pemeriksaan atau menentukan apakah hal itu merupakan variasi normal atau suatu kelainan yang serius.

 

Upaya Pencegahan

Pencegahan yang dimaksud di sini adalah memperhatikan hal-hal yang dianggap sebagai faktor risiko terjadinya autisme, dan mencegah terjadinya faktor risiko tersebut.

1. Pencegahan sejak kehamilan : Lakukan pemeriksaan skrening secara lengkap terutama virus TORCH (toxoplasma, rubella, cytomegalovirus, herpes). Periksa secara rutin ke dokter ahli kebidanan, terutama kalau ada perdarahan pada awal kehamilan. Adanya gangguan transportasi oksigen ke otak janin akan menimbulkan gangguan otak. Selain itu, perdarahan pada awal kehamilan bisa menimbulkan kelahiran prematur atau bayi dengan berat badan lahir rendah yang juga berisiko tinggi terhadap terjadinya autisme dan kerusakan otak lainnya. Berhati-hati minum obat selama awal kehamilan dan hindari asap rokok dan stres.

2. Pencegahan saat persalinan : Berkonsultasilah dengan dokter ahli kandungan tentang rencana persalinan. Dapatkan informasi secara lengkap dan jelas tentang risiko yang bisa terjadi selama persalinan. Jika terdapat risiko dalam persalinan, harus diantisipasi. Jika terdapat faktor risiko persalinan seperti asfiksia pada bayi baru lahir (bayi tidak langsung menangis), komplikasi selama persalinan, persalinan lama, letek presentasi bayi saat lahir tidak normal, berat lahir <2.500 gr, maka sebaiknya dilakukan pemantauan sejak usia dini.

3. Pencegahan saat usia bayi : Cegah anak agar tidak mengalami gangguan pencernaan secara berkepanjangan (muntah, mencret, sering kembung, dll. Jika terdapat kelainan bawaan seperti penyakit jantung bawaan, kelainan genetik, metabolik, dll., maka anak harus dirawat oleh dokter ahli. Pada bayi prematur, bayi dengan riwayat kuning, infeksi berat saat baru lahir harus dilakukan pemanauan tumbuh kembangnya secara rutin dan cermat terutama gangguan perkembangan dan perilaku anak. Pada bayi dengan gangguan pencernaan yang disertai gejala alergi atau terdapat riwayat alergi pada orangtua, sebaiknya tunda pemberian makanan yang berisiko alergi hingga usia di atas 2 atau 3 tahun.

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com