Bagaimana Cara Mendeteksi Anak Autis?
Oleh dr. Ni Made Adi Purnami
AUTIS
adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak
yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam
bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi
sosial. Jumlah anak yang terkena autis makin meningkat belakangan
ini. Dengan adanya metode diagnosis yang kian berkembang, hampir
dipastikan jumlah anak autis akan makin besar.
-------------
Penyebab autis belum dapat diketahui secara pasti.
Para
ahli berpendapat bahwa autis disebabkan banyak faktor. Berbagai
hal yang dicurigai menyebabkan autis adalah (1) Genetik, autisme
diturunkan dari orangtua ke anak-anaknya, (2) Televisi dan
kesibukan orangtua yang meningkat menyebabkan kurangnya
sosialisasi pada anak-anak, dan (3) Makanan, berbagai zat kimia
yang ada pada makanan modern (pengawet hingga pewarna).
Juga disebabkan (4) Asam folat, biasa diberikan
pada wanita hamil untuk mencegah cacat fisik pada anak, tapi
dikonsumsi melebihi dosis normal, sebaiknya memperbanyak makan
buah-buahan yang kaya asam folat karena alam dapat mencegah tanpa
menimbulkan efek samping, dan (5) Menyekolahkan lebih awal, hal
ini diperkirakan karena anak yang memiliki bakat autis sebenarnya
bisa membaik dengan berada pada lingkungan orangtuanya, bukan
dipindahkan pada lingkungan asing yang berbeda.
Sejumlah gejala autisme dapat dilihat pada hal-hal
sbb.;
1. Gangguan dalam komunikasi verbal atau nonverbal,
anak mengalami keterlambatan atau sama sekali tidak bisa bicara.
Anak juga tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain karena
kata-katanya tidak bisa dimengerti orang lain. Berkomunikasi
dengan hanya menggunakan bahasa tubuh dan berkomunikasi hanya
dalam waktu singkat.
2. Gangguan dalam bidang interaksi sosial, menolak
atau menghindar untuk bertatap muka. Tidak menoleh bila dipanggil
sehingga anak sering dianggap tuli. Menolak untuk dipeluk dan bila
menginginkan sesuatu menarik tangan orang terdekatnya dan berharap
orang itu melakukan sesuatu untuknya. Tidak berbagi kesenangan
dengan orang lain, dan akan menjauh bila didekati saat bermain.
3. Gangguan dalam bermain, di antaranya bermain
sangat monoton dan aneh, bila senang dengan satu mainan tidak mau
mainan yang lain.
4. Gangguan perilaku dilihat dari gejala sering
dianggap sebagai anak yang senang kerapian, harus menempatkan
barang tertentu di tempatnya. Anak akan tampak hiperaktif,
berjalan dan berlari kesana kemari tak tentu arah atau dapat
menjadi sangat pasif dengan duduk terdiam dan pandangannya kosong.
5. Gangguan perasaan dan emosi dapat dilihat dari
perilaku tertawa sendiri atau marah tanpa sebab, sering mengamuk
tak terkendali terutama bila keinginannya tak dipenuhi.
Diagnosis dan Deteksi
Menegakkan diagnosis autisme tidaklah mudah karena
membutuhkan kecermatan, pengalaman dan waktu yang tidak sebentar
untuk pengamatan. Diagnosis yang paling baik adalah dengan cara
seksama mengamati perilaku anak dalam berkomunikasi, bertingkah
laku dan tingkat perkembangannya.
Oleh karena karakteristik penyandang autis ini
banyak ragamnya, diagnosis yang paling ideal adalah memeriksakan
anak ke beberapa tim yang terdiri dari ahli neorologis, penyakit
anak, terapi bahasa, psikologi anak, dan ahli lainnya di bidang
autis. Peranan orangtua sangat penting untuk membantu diagnosis
karena orangtua akan memberi informasi mengenai kronologi
perkembangan anak, sehingga orangtua harus dilibatkan dalam
melakukan diagnosis.
Meskipun sulit, tanda dan gejala autisme sudah bisa
diamati pada anak kategori usia sbb.;
Usia 0-6 bulan -- bayi akan tampak terlalu tenang
(jarang menangis), terlalu sensitif, gerakan tangan dan kaki
berlebihan terutama bila mandi, tidak ditemukan senyum sosial
diatas 10 mg, tidak ada kontak mata di atas umur 3 bulan,
perkembangan motorik halus/kasar sering tampak normal, sulit bila
digendong, dan menggigit tangan dan kaki orang secara berlebihan.
Usia 6-12 bulan -- kaku bila digendong, tak mau
bermain permainan sederhana semisal "ciluk-ba", "da-da", dll.,
tidak mengeluarkan kata, tidak tertarik pada boneka, memperhatikan
tangannya sendiri, dan terdapat keterlambatan dalam perkembangan
motor kasar/halus.
Usia 2-3 tahun -- tidak tertarik utnuk
bersosialisasi dengan anak lain, melihat orang sebagai "benda",
kontak mata terbatas, tertarik pada benda tertentu, dan kaku bila
digendong.
Usia 4-5 tahun -- sering didapatkan membeo,
mengeluarkan suara yang aneh (nada tinggi atau datar), marah bila
rutinitas yang seharusnya berubah, menyakiti diri sendiri
(membenturkan kepala), dan gampang marah bila kemauan tidak
dituruti atau agresif.
Penegakan diagnosis autis adalah melalui diagnosis
klinis atau berdasarkan pengamatan secara langsung dan tidak
langsung (oleh orangtua). Tidak ada satupun pemeriksaan medis yang
dapat memastikan suatu diagnosis autisme pada anak, namun terdapat
beberapa pemeriksaan yang dapat menunjang diagnosis yang dapat
digunakan sebagai dasar intervensi dan strategi pengobatan.
Peranan orangtua sangat penting dalam mendeteksi
dini gejala autis. Orangtua harus peka terhadap perkembangan anak
sejak lahir. Kepekaan ini tentunya harus ditunjang dengan
peningkatan pengetahuan tentang perkembangan normal anak sejak
dini. Bila dijumpai keterlambatan atau penyimpangan, harus
dilakukan pemeriksaan atau menentukan apakah hal itu merupakan
variasi normal atau suatu kelainan yang serius.
Upaya Pencegahan
Pencegahan yang dimaksud di sini adalah
memperhatikan hal-hal yang dianggap sebagai faktor risiko
terjadinya autisme, dan mencegah terjadinya faktor risiko
tersebut.
1. Pencegahan sejak kehamilan : Lakukan pemeriksaan
skrening secara lengkap terutama virus TORCH (toxoplasma, rubella,
cytomegalovirus, herpes). Periksa secara rutin ke dokter ahli
kebidanan, terutama kalau ada perdarahan pada awal kehamilan.
Adanya gangguan transportasi oksigen ke otak janin akan
menimbulkan gangguan otak. Selain itu, perdarahan pada awal
kehamilan bisa menimbulkan kelahiran prematur atau bayi dengan
berat badan lahir rendah yang juga berisiko tinggi terhadap
terjadinya autisme dan kerusakan otak lainnya. Berhati-hati minum
obat selama awal kehamilan dan hindari asap rokok dan stres.
2. Pencegahan saat persalinan : Berkonsultasilah
dengan dokter ahli kandungan tentang rencana persalinan. Dapatkan
informasi secara lengkap dan jelas tentang risiko yang bisa
terjadi selama persalinan. Jika terdapat risiko dalam persalinan,
harus diantisipasi. Jika terdapat faktor risiko persalinan seperti
asfiksia pada bayi baru lahir (bayi tidak langsung menangis),
komplikasi selama persalinan, persalinan lama, letek presentasi
bayi saat lahir tidak normal, berat lahir <2.500 gr, maka
sebaiknya dilakukan pemantauan sejak usia dini.
3. Pencegahan saat usia bayi : Cegah anak agar
tidak mengalami gangguan pencernaan secara berkepanjangan (muntah,
mencret, sering kembung, dll. Jika terdapat kelainan bawaan
seperti penyakit jantung bawaan, kelainan genetik, metabolik,
dll., maka anak harus dirawat oleh dokter ahli. Pada bayi
prematur, bayi dengan riwayat kuning, infeksi berat saat baru
lahir harus dilakukan pemanauan tumbuh kembangnya secara rutin dan
cermat terutama gangguan perkembangan dan perilaku anak. Pada bayi
dengan gangguan pencernaan yang disertai gejala alergi atau
terdapat riwayat alergi pada orangtua, sebaiknya tunda pemberian
makanan yang berisiko alergi hingga usia di atas 2 atau 3 tahun.