Semoga Menjadi Haji Mabrur
HARI-HARI
ini adalah hari-hari jamaah haji mulai berdatangan dari tanah suci,
setelah menunaikan rukun Islam yang kelima. Luapan kegembiraan pun
terpancar dari raut muka sanak keluarga dan handai tolan yang
menyambut kedatangan para jamaah haji itu. Ucapan "Semoga menjadi
haji mabrur" berhamburan meluncur dari mulut mereka.
Ya, betapa indah akhlak seseorang yang telah meraih
predikat haji mabrur, yang menurut Rasulullah SAW, memiliki tiga
ciri. Pertama, lisannya selalu dihiasi dengan kalimat-kalimat
thoyyibah (kata-kata yang baik). Kedua, selalu menebar salam (keselamatan).
Ketiga, memberi makan orang miskin. Jika seseorang ibadah hajinya
ternyata mabrur (diterima), bisa dipahami kalau mereka mendapatkan
imbalan yang super istimewa (masih menurut Rasulullah SAW), yaitu
sorga!
Adalah pantas apabila mereka yang senantiasa
bertutur kata dengan kata-kata yang baik, mereka yang selalu
menebar kedamaian (keselamatan) dan mereka yang selalu memberi
makan orang-orang miskin, mendapatkan suatu imbalan yang
sedemikian tak ternilai, berupa sorga yang penuh kenikmatan itu.
Di tengah meningkatnya jumlah orang-orang miskin
yang menurut data pemerintah tahun-tahun lalu jumlahnya mencapai
37 juta jiwa di seluruh Indonesia. Sungguh, kita sangat merindukan
peran aktif mereka yang telah meraih predikat haji mabrur, baik
mereka yang pergi haji tahun ini maupun tahun-tahun sebelumnya
untuk menyantuni saudara-saudara kita yang hidup miskin. Di 2008
ini, bukan tidak mungkin jumlah keluarga miskin akan makin
meningkat, menyusul terjadinya berbagai bencana alam yang
memang memprihatinkan itu.
Di tengah berbagai konflik dan maraknya kekerasan
di sana sini, sungguh kita pun merindukan peran mereka yang telah
meraih predikat haji mabrur untuk senantiasa "mengibarkan"
kata-kata yang baik dan bijaksana, bukan kalimat-kalimat
provokatif yang mempertajam konflik. Kita pun memerlukan peran
mereka dalam menebar kedamaian di tengah-tengah masyarakat.
Jelas sudah, predikat haji mabrur, apabila ada pada
diri seorang haji atau hajah, bukanlah sesuatu yang abstrak.
Ciri-ciri kemabruran itu begitu nyata, begitu gamblang, bisa
dilihat oleh siapa saja. Bahkan juga bisa dirasakan oleh siapa
pun. Sebaliknya, mereka yang hajinya mardud (tertolak), tentu
tidak akan memiliki ciri-ciri akhlak mulia tadi.
Berhaji pada hakikatnya adalah mengikuti jejak Nabi
Ibrahim, maka ciri-ciri akhlak Ibrahim 'alaihissalam, sudah
semestinya ada pada seorang haji dan hajah, sebagaimana ditegaskan
oleh ayat yang dikutip di atas (artinya): "Sesungguhnya Ibrahim
adalah orang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun." (Q.S. at-Taubah
[9]: 114).
Memang, meraih dan memelihara kemabruran haji bukan
perkara gampang. Namun sesulit apa pun upaya-upaya ke arah itu
mestilah terus diperjuangkan guna mendapatkan keridhoan Allah SWT.
Ciri lainnya dari seseorang yang berhasil dalam
menunaikan ibadah hajinya adalah kegigihannya dalam memakmurkan
masjid. Maklum, saat di tanah suci, tepatnya di Madinah, mereka
dilatih untuk melaksanakan shalat wajib secara berjamaah (arba'in)
di masjid Nabawi. Tentu ironis setelah pulang dari berhaji justru
enggan ke masjid.
Mengingat begitu besarnya manfaat yang bisa diraih
dari seseorang yang berpredikat haji mabrur, baik bagi diri mereka
sendiri, keluarga, maupun lingkungannya, mari kita doakan
saudara-saudara kita yang baru pulang dari menunaikan ibadah haji,
"Semoga menjadi haji mabrur". Amin.