kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Pon, 6 Januari 2008 tarukan valas
 

Mimbar Agama Islam


Semoga Menjadi Haji Mabrur

HARI-HARI ini adalah hari-hari jamaah haji mulai berdatangan dari tanah suci, setelah menunaikan rukun Islam yang kelima. Luapan kegembiraan pun terpancar dari raut muka sanak keluarga dan handai tolan yang menyambut kedatangan para jamaah haji itu. Ucapan "Semoga menjadi haji mabrur" berhamburan meluncur dari mulut mereka.

Ya, betapa indah akhlak seseorang yang telah meraih predikat haji mabrur, yang menurut Rasulullah SAW, memiliki tiga ciri. Pertama, lisannya selalu dihiasi dengan kalimat-kalimat thoyyibah (kata-kata yang baik). Kedua, selalu menebar salam (keselamatan). Ketiga, memberi makan orang miskin. Jika seseorang ibadah hajinya ternyata mabrur (diterima), bisa dipahami kalau mereka mendapatkan imbalan yang super istimewa (masih menurut Rasulullah SAW), yaitu sorga!

Adalah pantas apabila mereka yang senantiasa bertutur kata dengan kata-kata yang baik, mereka yang selalu menebar kedamaian (keselamatan) dan mereka yang selalu memberi makan orang-orang miskin, mendapatkan suatu imbalan yang sedemikian tak ternilai, berupa sorga yang penuh kenikmatan itu.

Di tengah meningkatnya jumlah orang-orang miskin yang menurut data pemerintah tahun-tahun lalu jumlahnya mencapai 37 juta jiwa di seluruh Indonesia. Sungguh, kita sangat merindukan peran aktif mereka yang telah meraih predikat haji mabrur, baik mereka yang pergi haji tahun ini maupun tahun-tahun sebelumnya untuk menyantuni saudara-saudara kita yang hidup miskin. Di 2008 ini, bukan tidak mungkin jumlah keluarga miskin akan makin meningkat, menyusul terjadinya  berbagai bencana alam yang memang memprihatinkan itu.

Di tengah berbagai konflik dan maraknya kekerasan di sana sini, sungguh kita pun merindukan peran mereka yang telah meraih predikat haji mabrur untuk senantiasa "mengibarkan" kata-kata yang baik dan bijaksana, bukan kalimat-kalimat provokatif yang mempertajam konflik. Kita pun memerlukan peran mereka dalam menebar kedamaian di tengah-tengah masyarakat.

Jelas sudah, predikat haji mabrur, apabila ada pada diri seorang haji atau hajah, bukanlah sesuatu yang abstrak. Ciri-ciri kemabruran itu begitu nyata, begitu gamblang, bisa dilihat oleh siapa saja. Bahkan juga bisa dirasakan oleh siapa pun. Sebaliknya, mereka yang hajinya mardud (tertolak), tentu tidak akan memiliki ciri-ciri akhlak mulia tadi.

Berhaji pada hakikatnya adalah mengikuti jejak Nabi Ibrahim, maka ciri-ciri akhlak Ibrahim 'alaihissalam, sudah semestinya ada pada seorang haji dan hajah, sebagaimana ditegaskan oleh ayat yang dikutip di atas (artinya): "Sesungguhnya Ibrahim adalah orang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun." (Q.S. at-Taubah [9]: 114).

Memang, meraih dan memelihara kemabruran haji bukan perkara gampang. Namun sesulit apa pun upaya-upaya ke arah itu mestilah terus diperjuangkan guna mendapatkan keridhoan Allah SWT.

Ciri lainnya dari seseorang yang berhasil dalam menunaikan ibadah hajinya adalah kegigihannya dalam memakmurkan masjid. Maklum, saat di tanah suci, tepatnya di Madinah, mereka dilatih untuk melaksanakan shalat wajib secara berjamaah (arba'in) di masjid Nabawi. Tentu ironis setelah pulang dari berhaji justru enggan ke masjid.

Mengingat begitu besarnya manfaat yang bisa diraih dari seseorang yang berpredikat haji mabrur, baik bagi diri mereka sendiri, keluarga, maupun lingkungannya, mari kita doakan saudara-saudara kita yang baru pulang dari menunaikan ibadah haji, "Semoga menjadi haji mabrur". Amin.

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com