KGP Haryo Hadiwinoto:
Panggilan Jiwa
ANUGERAH
Pers K. Nadha Nugraha yang telah dianugerahkan Kelompok Media Bali
Post (KMB) selama tujuh tahun berturut-turut direspons positif
Kanjeng Gusti Pangeran (KGP) Haryo Hadiwinoto. Di menilai anugerah
itu merupakan bentuk penghargaan dan penghormatan generasi penerus
atas jasa dan pengabdian yang tulus dari para tokoh (baik tokoh
yang sudah meninggal maupun yang masih hidup) terhadap bangsa dan
negara ini.
Ia menegaskan pengabdian para tokoh terhadap bangsa
dan negara sebetulnya murni merupakan panggilan jiwa dan sama
sekali tidak bertujuan untuk mendapatkan penghargaan tertentu.
Panggilan pengabdian yang tulus dalam rangka menjaga jati diri
bangsa dan budaya di negara tercinta, Negara Kesatuan Republik
Indonesia. "Dengan KMB memberikan penghargaan ini, saya berharap
generasi penerus bangsa ini bisa lebih menghargai apa yang telah
dilakukan oleh tokoh-tokoh kita," ujar KGP Haryo Hadiwinoto seusai
menerima anugerah K. Nadha Nugraha untuk Ayahndanya, Sri Sultan
Hamengkubuwono IX (alm.) di Wantilan Gedung Pers Bali K. Nadha,
Sabtu (5/1) kemarin.
KGP Haryo Hadiwinoto yang saat menerima K. Nadha
Nugraha didampingi saudaranya Gusti Bandoro Pangeran Haryo
Prabukusomo itu mengharapkan kegiatan yang digelar KMB itu
merupakan awal yang baik bagi perjalanan kehidupan berbangsa dan
bernegara di tahun 2008 ini. Apalagi, penganugerahan K. Nadha
Nugraha ini berlangsung dalam cuaca yang cerah. "Semoga, cuaca
yang baik ini memberikan berkah bagi kita semua. Semoga tahun 2008
ini kita lewati dengan lebih baik dibandingkan tahun-tahun lalu,"
katanya penuh harap.
Lebih lanjut, KGP Haryo Hadiwinoto meminta generasi
penerus bangsa secara konsisten mengamalkan nilai-nilai luhur yang
sejatinya sudah menjadi jati diri bangsa ini. Seperti apa yang
telah dilakoni Sri Sultan Hamengkubuwono IX di masa lalu dalam
mempertahankan tetap tegak dan kokohnya NKRI ini. "Kita harus
sadar bahwa nilai-nilai kita sebagai bangsa, nilai-nilai kita
sebagai dasar dan falsafah negara kita yakni Pancasila dan
Bhinneka Tunggal Ika telah lama kita lupakan. Saya berharap, tahun
2008 ini akan membangkitkan kesadaran segenap komponen anak bangsa
untuk kembali mengamalkan nilai-nilai luhur bangsa itu secara
konsisten. Kita harus kembali kepada Pancasila," tegasnya.
Menurut KGP Haryo Hadiwinoto, bangsa Indonesia ini
disusun dari kebhinnekaan yang di dalamnya bergabung beragam suku
bangsa, adat istiadat, dan sejumlah keragaman lainnya. Kondisi itu
merupakan realita yang tidak terbantahkan.
Namun, kata dia, kebhinnekaan itu tak perlu
diperdebatkan apalagi sampai membuat komponen bangsa ini tercerai
berai. Justru, sebaliknya segala kebhinnekaan itu harus dijadikan
motivator dan lem perekat untuk meneguhkan semangat untuk
mempersatukan diri seperti apa yang tertuang di dalam semboyan
Bhinneka Tunggal Ika. "Dalam kebhinnekaan terjadi tunggal ika,
terjadi pertautan dan kebersamaan dalam rangka mempertahankan
nilai-nilai budaya bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia
ini," tegasnya.
KGP Haryo Hadiwinoto menambahkan, pihaknya memang
merasakan nilai-nilai budaya bangsa saat ini mulai mengalami
distorsi. Dihantam budaya instans yang cepat selesai termasuk
budaya yang semuanya diukur dengan selembar kertas bergambar
(uang-red). "Ini adalah perusak dari nilai-nilai budaya adiluhung
kita. Dalam konteks ini, saya menilai KMB telah memelopori dan
menggerakkan kesadaran komponen bangsa ini untuk kembali kepada
nilai-nilai budaya bangsa adiluhung itu. Melalui Anugerah Pers K.
Nadha Nugraha ini, komitmen ke arah itu sejatinya sudah digulirkan
mengingat tokoh-tokoh yang dianugerahi penghargaan ini punya
komitmen yang jelas untuk mempertahankan nilai-nilai budaya
adiluhung itu," ujarnya. Bahkan, ia berharap penghargaan seperti
K. Nadha Nugraha juga dikembangkan di propinsi-propinsi lainnya di
Indonesia. (ian)