kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Pon, 6 Januari 2008 tarukan valas
 

BERITA


KGP Haryo Hadiwinoto:
Panggilan Jiwa

ANUGERAH Pers K. Nadha Nugraha yang telah dianugerahkan Kelompok Media Bali Post (KMB) selama tujuh tahun berturut-turut direspons positif Kanjeng Gusti Pangeran (KGP) Haryo Hadiwinoto. Di menilai anugerah itu merupakan bentuk penghargaan dan penghormatan generasi penerus atas jasa dan pengabdian yang tulus dari para tokoh (baik tokoh yang sudah meninggal maupun yang masih hidup) terhadap bangsa dan negara ini.

Ia menegaskan pengabdian para tokoh terhadap bangsa dan negara sebetulnya murni merupakan panggilan jiwa dan sama sekali tidak bertujuan untuk mendapatkan penghargaan tertentu. Panggilan pengabdian yang tulus dalam rangka menjaga jati diri bangsa dan budaya di negara tercinta, Negara Kesatuan Republik Indonesia. "Dengan KMB memberikan penghargaan ini, saya berharap generasi penerus bangsa ini bisa lebih menghargai apa yang telah dilakukan oleh tokoh-tokoh kita," ujar KGP Haryo Hadiwinoto seusai menerima anugerah K. Nadha Nugraha untuk Ayahndanya, Sri Sultan Hamengkubuwono IX (alm.) di Wantilan Gedung Pers Bali K. Nadha, Sabtu (5/1) kemarin.

KGP Haryo Hadiwinoto yang saat menerima K. Nadha Nugraha didampingi saudaranya Gusti Bandoro Pangeran Haryo Prabukusomo itu mengharapkan kegiatan yang digelar KMB itu merupakan awal yang baik bagi perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara di tahun 2008 ini. Apalagi, penganugerahan K. Nadha Nugraha ini berlangsung dalam cuaca yang cerah. "Semoga, cuaca yang baik ini memberikan berkah bagi kita semua. Semoga tahun 2008 ini kita lewati dengan lebih baik dibandingkan tahun-tahun lalu," katanya penuh harap.

Lebih lanjut, KGP Haryo Hadiwinoto meminta generasi penerus bangsa secara konsisten mengamalkan nilai-nilai luhur yang sejatinya sudah menjadi jati diri bangsa ini. Seperti apa yang telah dilakoni Sri Sultan Hamengkubuwono IX di masa lalu dalam mempertahankan tetap tegak dan kokohnya NKRI ini. "Kita harus sadar bahwa nilai-nilai kita sebagai bangsa, nilai-nilai kita sebagai dasar dan falsafah negara kita yakni Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika telah lama kita lupakan. Saya berharap, tahun 2008 ini akan membangkitkan kesadaran segenap komponen anak bangsa untuk kembali mengamalkan nilai-nilai luhur bangsa itu secara konsisten. Kita harus kembali kepada Pancasila," tegasnya.

Menurut KGP Haryo Hadiwinoto, bangsa Indonesia ini disusun dari kebhinnekaan yang di dalamnya bergabung beragam suku bangsa, adat istiadat, dan sejumlah keragaman lainnya. Kondisi itu merupakan realita yang tidak terbantahkan.

Namun, kata dia, kebhinnekaan itu tak perlu diperdebatkan apalagi sampai membuat komponen bangsa ini tercerai berai. Justru, sebaliknya segala kebhinnekaan itu harus dijadikan motivator dan lem perekat untuk meneguhkan semangat untuk mempersatukan diri seperti apa yang tertuang di dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika. "Dalam kebhinnekaan terjadi tunggal ika, terjadi pertautan dan kebersamaan dalam rangka mempertahankan nilai-nilai budaya bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini," tegasnya.

KGP Haryo Hadiwinoto menambahkan, pihaknya memang merasakan nilai-nilai budaya bangsa saat ini mulai mengalami distorsi. Dihantam budaya instans yang cepat selesai termasuk budaya yang semuanya diukur dengan selembar kertas bergambar (uang-red). "Ini adalah perusak dari nilai-nilai budaya adiluhung kita. Dalam konteks ini, saya menilai KMB telah memelopori dan menggerakkan kesadaran komponen bangsa ini untuk kembali kepada nilai-nilai budaya bangsa adiluhung itu. Melalui Anugerah Pers K. Nadha Nugraha ini, komitmen ke arah itu sejatinya sudah digulirkan mengingat tokoh-tokoh yang dianugerahi penghargaan ini punya komitmen yang jelas untuk mempertahankan nilai-nilai budaya adiluhung itu," ujarnya. Bahkan, ia berharap penghargaan seperti K. Nadha Nugraha juga dikembangkan di propinsi-propinsi lainnya di Indonesia. (ian)

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com