Menyadari Simpul Saraf Ruh di Dalam Diri
Jalan Sunyi Aksara Bali...
SANGATLAH beruntung Bali, karena tak cuma
memiliki tradisi bahasa lisan, melainkan juga memiliki tradisi
aksara. Sungguh tidak banyak bahasa-bahasa di dunia yang
memiliki tradisi aksara. Bahasa-bahasa di bagian timur
Indonesia misalnya, lebih banyak tidak memiliki tradisi
aksara.
Cukup panjang, memang, perjalanan, lebih banyak
tidak memiliki tradisi aksara.
Cukup panjang, memang, perjalanan sejarah
bahasa dan aksara Bali. Malah, perkembangan aksara Bali hingga
seperti sekarang telah melalui proses keterpengaruhan dari
bahasa lain khususnya bahasa Jawa Kuno.
Penelitian yang pernah dilakukan memberikan
dugaan kuat aksara Bali berkembang dari huruf Pallawa yang
dikenal dengan nama huruf Bali Kuno. Huruf ini berkembang pada
sekitar abad ke-9 sampai abad ke-10 dan terus mengalir sampai
kini. Sistem yang digunakan yakni sistem silabik. Artinya,
satu tanda mewakili satu suku kata yang diambil dari huruf
awal suku kata yang diambil dari huruf awal suku kata
dimaksud. Tiap suku kata dibentuk dari satu konsonan dan satu
vokal.
Dr. Rudolf Gorris menemukan bahwa bahasa Bali
Kuna dominan digunakan dalam prasasti-prasasti periode awal
zaman Bali Kuna. Sedikitnya ada 33 prasasti yang menggunakan
bahasa Bali Kuna. Setelah masa pemerintahan Raja Udayana
Gunapriyadharmapatni (989-1011) mulailah digunakan bahasa dan
aksara Jawa Kuna. Tatkala masuk pengaruh Majapahit, bahasa
Kawi-Bali pun mulai digunakan, terutama di naskah-naskah
lontar.
Karena itulah, perkembangan bahasa Bali sendiri
dibagi dalam tiga babakan. Pertama, bahasa Bali Kuno yang
sering juga disebut dengan nama bahasa Bali Mula, kedua,
bahasa Bali Tengahan atau sering disebut Kawi-Bali dan ketiga,
bahasa Bali Kapara atau bahasa Bali modern yang diwarisi
hingga saat ini.
Namun, saat ini aksara Bali seperti menempuh
perjalanan melelahkan di jalan sunyi. Bahasa dan aksara Bali
hanya bisa tumbuh di tengah komunitas terbatas seperti para
sulinggih, pemangku, undagi, balian, atau pun sastrawan.
Sementara di tengah-tengah komunitas besar masyarakat Bali,
aksara Bali terasa begitu asing.
Memang, terakhir muncul terobosan memasukkan
font (bentuk huruf) dalam aksara Bali ke dalam komputer.
Pencetusnya, I Made Suatjana, seorang yang suka menjelajahi
dunia komputer asal Ubung, Denpasar. Maka, mulailah penulisan
aksara Bali itu bisa dilakukan hanya dengan memencet tombol
komputer. Sistem yang digunakan yakni menemonik atau yang
lazim disebut dengan jembatan kuda.
Hanya memang, temuan Suatjana belum sepenuhnya
bisa dimanfaatkan semudah orang mengetik dengan model huruf
lain yang tinggal mengklik mouse sudah tampil model huruf
tersebut menggantikan model huruf latin yang sebelumnya
diketik. Untuk bisa mengetik dalam aksara Bali, seseorang
haruslah memahami pasang aksara (aturan penulisan aksara) Bali
terlebih dahulu. Sementara penguasaan masalah ini cenderung
menjadi momok yang justru membuat orang tidak berminat belajar
menulis aksara Bali.
Sepuluh tahun terakhir, orang Bali mengalami
pergulatan yang kian mengental mengenai identitas kebaliannya.
Di tengah pergulatan itu, kekhawatiran akan musnahnya bahasa
Bali sebagai salah satu identitas Bali juga menguat.
Kekhawatiran itu mengemukakan menyusul kian menyusutnya orang
Bali yang bisa menjadi penutur bahasa Bali dengan baik. Peran
Bahasa Bali sebagai bahasa keseharian perlahan mulai tergeser
oleh kehadiran bahasa Indonesia bahkan bahasa Inggris, tak
hanya dialami orang Bali yang tinggal di luar Bali bahkan juga
orang Bali yang tinggal di Bali. Karena itu, Biro Pusat
Statistik (BPS) memperkirakan, tahun 2041 Bahasa Bali yang
penuturnya hanya 2 persen dari seluruh penutur Bahasa
Indonesia bakal punah.
Semua ini tak pelak memperkuat kesadaran orang
Bali untuk menyelamatkan bahasa ibunya itu. Pemerintah Bali
pun menelorkan sejumlah kebijakan publik guna menjaga
kelestarian bahasa dan aksara Bali seperti mewajibkan
penulisan aksara Bali di papan-papan nama instansi pemerintah,
papan nama jalan sampai gerakan hari tertentu khusus berbahasa
Bali. Namun, kebijakan yang cenderung hanya menyentuh tataran
pragmatis itu terasa tak begitu efektif. Orang Bali, khususnya
para peneliti atau pun pecinta bahasa Bali tetap galau dengan
kehidupan bahasa Bali ke depan.
Mungkin, aksara Bali tidak akan sampai punah
seperti yang dikhawatirkan banyak kalangan. Aksara Bali tetap
akan hidup, karena para sulinggih, pemangku, pendeta, undagi,
balian dan sastrawan tradisional tetap bergerak dari landasan
aksara. Di tangah merekalah, ''penjaga kebudayaan'', aksara
Bali yang menjadi ''roh'' kebudayaan Bali akan tetap
terpelihara.
Hanya, kita akan senantiasa berhadapan dengan
kenyataan aksara Bali tetap tumbuh di jalan sunyi. Lantaran
aksara Bali masih saja tidak menarik bagi kebanyakan
orang Bali. Padahal, mereka, manusia Bali, lahir, hidup dan
akhirnya mati pun bersama aksara. Aksara di dalam diri. Hanya,
tidak banyak yang menyadarinya.
* i made sujaya