kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Umanis, 29 April 2007 tarukan valas
 

OPINI


Permainan Politik

RENCANA perombakan Kabinet Indonesia Bersatu jilid II agaknya tidak menarik perhatian masyarakat Bali. Sebab, reshuffle itu bagi mereka tak ubahnya seperti "hilang bojog teka lutung", sementara di Bali sendiri suasana politik kian menghangat. Tungku politik mulai membara di Buleleng menjelang Pilkada 2007. Rencana penyewaan 40 mobil Kijang Innova buat anggota DPRD Badung juga menyulut keresahan publik. Masyarakat Legian mengembalikan 1.222 SPPT ke KP PBB Badung, merupakan pembangkangan publik akibat keputusan politik. Bahkan kasus proyek Loloan Yeh Poh di Kuta Utara, yang sempat dihentikan karena tuntutan masyarakat, ternyata belum tuntas karena diduga ada permainan politik.

"Politik terbukti bersegi banyak. Politik, bukan hanya masalah pendirian parpol dan pemilu, tapi lebih banyak terkait dengan berbagai kebijakan setelah para pemimpin terpilih. Makanya ada yang berpendapat bahwa politik adalah masalah hubungan antara yang berkuasa dan yang dikuasai.  Celakanya, kita terlelap tidur selama 32 tahun karena dipaksa Orba minum pil tidur merek 'Politik, No!'. Saat sadar gelagapan, lalu tanpa berpikir panjang menelan placebo cap 'Citra', sehingga ke mana-mana berteriak 'perubahan' tanpa paham konsepnya," ujar Rubag.

"Ya, di Buleleng ada cerita lucu ketika empat pasangan calon Bupati-Wakil Bupati menerima nomor urut untuk Pilkada 2007.  Masing-masing memaknai angka yang mereka terima seperti dagang obat kaki lima. Yang nomor 1 berasumsi, tidak rasional bila nomor-nomor lain jadi juara, sebab dalam kompetisi pemenangnya pasti nomor1! Selanjutnya nomor 2 bicara soal rwa bhineda dan nomor 3 ngoceh masalah Tri Sakti. Tak mau kalah, nomor 4 menyuruh orang membalik angka itu, seperti pemasang togel membolak-balik kode. Angka 4, katanya, bila dibalik akan menyerupai kursi atau singgasana. Mereka lupa kalau sebelum pembagian nomor urut itu, Ketua KPUD Buleleng sempat ditengarai ngumpet, karena gelombang demo menyerbu kantornya," tutur Cekig.

"Sayang, tidak ada kandidat nomor 16, yang berkilah 'kepala nyut-nyut, gigi senut-senut, puyer 16-lah obatnya!' Padahal sekarang perut orang sering lapar dan pekerjaan sulit didapat, sehingga hawa panas dari perut yang kosong menyebabkan pusing dan sakit gigi kerap kambuh. Lucu, cuma di negeri ini pemilu, pilkada dan pilkades dianggap sebagai lapangan kerja, sehingga hajatan politik seperti itu diharapkan berlangsung sesering mungkin. Bag, apa itu placebo?" tanya Mangklung.

"Itu obat palsu, yang sebenarnya bukan obat! Terbuat dari tepung atau bahan lain, dibentuk jadi tablet atau kapsul warna-warni dan diberikan pada pasien yang karena pengaruh bujukan dan sugesti, sangat percaya bahwa itu obat mujarab.  Placebo politik mulai marak menjelang Pemilu 2004, karena sejak itu sistem pemilihan pejabat politik dilakukan secara langsung dan diatur sesuai mekanisme pasar. Makanya iklan-iklan politik marak tertayang di televisi, yang desain serta penyampaian pesannya tak beda dengan iklan minuman botol, kecap, sabun hingga kondom. Soal kualitas dagangan yang dijajakan, tidak dianggap penting, karena yang ditonjolkan adalah penampilan glamour dan propaganda yang nyaris tidak ada hubungannya dengan realitas. Dua kata yang masih melekat di benak masyarakat hingga saat ini adalah 'perubahan dan pembaruan'. Ternyata, sing ada apa De!" ulas Rubag.

"Jangan lupa, kalau cuma bujukan dan propaganda, tidak akan diperoleh jumlah suara yang diharapkan. Sejak Pemilu 2004 istilah 'money politic' dan 'serangan fajar' yang juga berarti 'uang' mulai mencuat di masyarakat. Logikanya, ketika suara mereka sudah dijual di kotak-kotak suara, seharusnya para konstituen tidak perlu mengeluh, bila suara mereka yang telah berubah jadi kekuasaan diselewengkan. Pedagang kain pun tidak akan marah karena kain yang mereka jual dijadikan baju, celana atau cawat oleh pembelinya. Pembeli suara paham, kalau kondisi lapar dan bingung masyarakat akibat krisis multidimensi, membuat mereka tidak peduli urusan lain, kecuali uang," komentar Lonjong.

"Wah, pantas politik didefinisikan sebagai permainan kesempatan yang bersifat problematis. Dunia politik hanya berkisar pada waktu sekarang dan paling jauh pemilu atau pilkada berikutnya. Politisi jarang menganggap janji dan komitmennya pada konstituen sebagai hal yang sakral, karenanya lebih sering tidak ditepati. Malah pada Tuhan pun dia sering tidak jujur. Cuma pada tim sukses yang jumlahnya segelintir, dia lebih berhati-hati untuk berbohong karena mereka diharapkan menjadi bemper kekuasaannya, baik saat menjabat maupun ketika menargetkan jabatan yang lebih tinggi kemudian. Tim sukses inilah yang menjadi agen propaganda, yang tanpa ragu mengklaim loyang sebagai emas pada masyarakat pemilih. Cuma, sulit menuntut kesetiaan apalagi ideologi pada agen-agen propaganda ini, sebab mereka cuma setia pada uang dan ideologi mereka pun duit. Makanya, ketika merasa kedudukan majikannya goyang, mereka segera pindah Tuan atau Bos," komentar Lempod.

"Herannya, mengapa ya di zaman informasi yang dibanjiri televisi, komputer, penerbitan koran dan buku ini, kok masih banyak orang terpengaruh propaganda? Ironisnya lagi, ada yang bertitel akademik mentereng ikut mengabdi jadi agen propaganda politik, memobilisasi dukungan buat orang yang membayarnya. Padahal dalam politik seorang intelektual dipaksa melonggarkan perspektif intelektualnya. Dengan intelektual yang longgar, dia bebas menggabungkan kebohongan, kemunafikan dan fantasi jadi skenario propaganda. Mudah-mudahan para pembaca koran dan pemirsa televisi bisa membedakan antara berita berdasarkan fakta dengan iklan politik yang sering muncul akhir-akhir ini," harap Tentrem.

"Seharusnya para intelektual bertindak sebagai politisi massa, yang memberikan pendidikan dan pencerahan politik pada masyarakat secara jujur dan ikhlas. Bukannya mengabdi pada politisi yang haus kekuasaan, lalu jadi manajer konflik, sehingga berita koran dan televisi dipenuhi masalah demo dan kontrademo. Aku khawatir alergi politik masyarakat akan kambuh," kilah Rubag.

"Ah, semoga tidak! Justru karena buta politiklah masyarakat jadi korban permainan politik para elit penguasa yang berkonspirasi dengan elit politik. Kasus pengembalian 1.222 SPPT oleh masyarakat Legian adalah peristiwa politik akibat permainan politik. Itu mungkin yang pertama dalam sejarah pembangkangan publik di Indonesia. Bila pajak tanah meningkat sampai ratusan persen, itu adalah pengusiran secara halus masyarakat dari tempat kelahirannya, karena mereka tidak mampu membayar pajak dan terpaksa harus menjual tanah mereka," tukas Jernat.

"Benar juga, ya? Tidak perlu lagi masyarakat diintimidasi untuk jual tanah seperti zaman Orba, kini cukup dengan meningkatkan pajak secara luar biasa," ujar Suja.

* aridus

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com