Memaknai
Tumpek
Landep--------------------
Mempertajam
Pikiran,
Mengasah
Kepekaan
Nurani
SANISCARA
Kliwon
Wuku Landep
atau
Sabtu (28/4) hari
ini,
umat Hindu merayakan
Tumpek
Landep.
Aktivitas yang
tampak
mencuat, umat Hindu
di
seluruh
Bali
mengeluarkan
segala
jenis senjata,
benda
pusaka maupun
peralatan
lainnya yang
mengandung
unsur
logam lantas
diupacarai.
Padahal,
hakikat
perayaan Tumpek
Landep
sejatinya tidak
sesederhana
itu.
Di
dalamnya
terkandung
beragam
kedalaman filosofi
dan
tuntunan hidup yang
menggerakkan
umat
manusia untuk
menapaki
kehidupannya
dengan
lebih baik
dibandingkan
hari-hari
sebelumnya.
======================================================
Ditemui
Jumat (27/4)
kemarin,
Dekan
Fakultas Ilmu Agama
Universitas Hindu Indonesia
(Unhi) Drs. I
Wayan
Suka Yasa,
M.Si.
dan
Kasubdin
Adat
dan Istiadat
Dinas
Kebudayaan Bali Drs. IDP
Beratha, M.Si.
tidak
menampik
bahwa
umat Hindu di Bali
seringkali
memaknai
perayaan
Tumpek
Landep ini
secara
dangkal.
Hanya
terfokus
mengupacarai
senjata
dan peralatan
hidup
lainnya seperti
kendaraan
bermotor,
peralatan
eklektronik
dan
sejenisnya.
"Seharusnya,
Tumpek
Landep ini
dimaknai
sebagai momentum
berharga
untuk
nyelisik bulu,
instrospeksi
dan
bersiap diri
menata
kehidupan yang lebih
baik.
Tidak
hanya
berhenti pada
upacara
semata," kata
Suka
Yasa yang dibenarkan
oleh
Beratha.
Dalam
perayaan
Tumpek
Landep, kata
kedua
sumber Bali Post ini,
Ista
Dewata yang dipuja
adalah
Batara Siwa
dalam
manifestasi-Nya sebagai
Sang Hyang
Pasupati (pasu
= binatang,
pati = raja
atau raja
binatang - red).
Muara
dari aktivitas
spiritual ini,
umat Hindu
diharapkan
mampu
mengatasi dan
mengendalikan
sifat-sifat
binatang
dalam
diri (sadripu)
yakni
kama
(nafsu
negatif), krodha (kemarahan),
mada (kemabukan),
lobha (kerakusan),
irsya (iri/dengki)
dan
moha (kegelapan
bathin).
"Dalam
konteks perayaan
Tumpek
Landep, sifat-sifat
binatang
itulah yang
mesti
dieliminasi," ujar
Beratha.
Kualitas
Diri
Mengutip
Lontar
Sunarigama, Suka
Yasa
mengatakan tujuan
pemujaan
dalam
Tumpek Landep
adalah
astawakena ring sarwa
sanjata
lelandeping prang.
Yakni,
memuja Sang
Hyang
Pasupati untuk
memohon agar
senjata/peralatan
hidup yang
dipakai
untuk berperang/berusaha
menjadi
bertuah atau
dapat
berfungsi sebagaimana
mestinya.
Tajam
dan
berguna.
Dalam
lontar
itu juga
disebutkan
ikang
wang apasupati
landeping
idep yang
menyiratkan
ajakan
kepada umat
untuk
memasupati pikirannya
agar tajam
dan
senantiasa sadar
diri.
"Jadi,
apasupati
di
samping berarti
memberi
tuah kepada
keris,
tombak
dan jenis-jenis
peralatan
lainnya agar
berdaya
guna dalam
mensejahterakan
kehidupan
manusia
juga berarti
mengusahakan agar
manusia
dapat mengatasi
sifat
binatang.
Senantiasa
meluhurkan
diri
dan meningkatkan
kualitas
diri,"
paparnya panjang
lebar.
Bagaimana
caranya?
Menjawab
pertanyaan
itu,
Suka Yasa
mengatakan
banyak
sekali sastra agama
yang memberikan
tuntunan
untuk
kepentingan itu.
Dalam
Prasna Upanisad,
misalnya,
mengajarkan
tiga
cara
yakni
brahmacari, tapa
dan
swadyaya.
Brahmacari
artinya
memiliki tekad yang
bulat
untuk memahami
Brahman yakni
satyam (kebenaran),
siwam (kebajikan,
moralitas)
dan
sundharam (keindahan).
Tapa
artinya
tahan uji
dan
berani berkorban.
Sedangkan
swadyaya
berarti
tekun belajar
sendiri
dan kreatif.
"Masih
banyak
lontar sejenis yang
mengajarkan
kepada
kita bagaimana
cara
meningkatkan
kualitas
diri
tersebut.
Dalam
konteks
kekinian, tuntunan
yang digariskan
dalam
sastra-sastra agama itu
tetap
sangat relevan
untuk
diimplementasikan dalam
kehidupan
sehari-hari,"
tegasnya.
Lantas,
apakah
kesuntukan umat
mengupacarai
berbagai
jenis
senjata, benda
pusaka
dan peralatan
lainnya
saat Tumpek
Landep
merupakan hal yang
keliru?
Sebab
realitanya, mayoritas
umat Hindu
di Bali
cenderung memusatkan
aktivitasnya
kepada
hal-hal yang bersifat
sekala
semata alias belum "menjamah"
hal-hal yang
lebih
esensial. Menurut
Suka
Yasa, aktivitas
mengupacarai
sarwa
landep (senjata-red)
pada
Tumpek Landep
itu
bukanlah suatu yang
keliru.
Alasannya,
senjata
itu merupakan
alat
untuk mensejahterakan
dan
mempermulia kehidupan
umat
manusia.
Panah
pada
zaman dahulu,
misalnya,
merupakan
alat
untuk berburu
di mana
hasil
perburuan itu
digunakan
untuk
memenuhi keperluan
konsumsi
anggota
keluarganya.
Di
masa
kini, "senjata"
itu
tidak lagi
sebatas
panah, tombak
dan
sejenisnya, tetapi
juga
mencakup kendaraan
bermotor
dan
perangkat elektronik
yang terbukti
memiliki
peran yang
sangat vital
bagi
manusia modern dalam
mengumpulkan
nafkah.
"Jadi,
bukan
sesuatu yang keliru
jika
kita mengupacarai
dan
mendoakan benda-benda
itu
saat Tumpek
Landep
dengan sarana
upakara
tertentu.
Mengapa
benda
itu didoakan?
Tentu
saja agar
bisa
membantu manusia
dalam
mensejahterakan hidupnya,"
kilahnya.
Kendati
begitu,
Suka Yasa
tetap
mengingatkan umat
Hindu agar tidak
lupa
mengasah dan
mempertajam "senjata"
yang ada
dalam
dirinya.
Yakni,
bagaimana
mengasah
pikiran
dan hati
nurani
untuk bisa
mendapatkan
pengetahuan,
kebijaksanaan
dan
bisa menimbang
mana yang
baik
dan benar yang
selanjutnya
memang
dapat memuliakan
kehidupan
manusia.
"Selain
mempertajam
senjata yang
digunakan
sehari-hari
untuk
mencari nafkah,
senjata yang
ada
dalam diri
juga
harus terus-menerus
diasah
dan dipertajam,"
tegasnya. *
w.
sumatika