kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Kliwon, 28 April 2007

 Kultur


Memaknai
Tumpek Landep--------------------
Mempertajam
Pikiran, Mengasah Kepekaan Nurani

SANISCARA Kliwon Wuku Landep atau Sabtu (28/4) hari ini, umat Hindu merayakan Tumpek Landep. Aktivitas yang tampak mencuat, umat Hindu di seluruh Bali mengeluarkan segala jenis senjata, benda pusaka maupun peralatan lainnya yang mengandung unsur logam lantas diupacarai. Padahal, hakikat perayaan Tumpek Landep sejatinya tidak sesederhana itu. Di dalamnya terkandung beragam kedalaman filosofi dan tuntunan hidup yang menggerakkan umat manusia untuk menapaki kehidupannya dengan lebih baik dibandingkan hari-hari sebelumnya.

====================================================== 

Ditemui Jumat (27/4) kemarin, Dekan Fakultas Ilmu Agama Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Drs. I Wayan Suka Yasa, M.Si. dan Kasubdin Adat dan Istiadat Dinas Kebudayaan Bali Drs. IDP Beratha, M.Si. tidak menampik bahwa umat Hindu di Bali seringkali memaknai perayaan Tumpek Landep ini secara dangkal. Hanya terfokus mengupacarai senjata dan peralatan hidup lainnya seperti kendaraan bermotor, peralatan eklektronik dan sejenisnya.

"Seharusnya, Tumpek Landep ini dimaknai sebagai momentum berharga untuk nyelisik bulu, instrospeksi dan bersiap diri menata kehidupan yang lebih baik. Tidak hanya berhenti pada upacara semata," kata Suka Yasa yang dibenarkan oleh Beratha.

Dalam perayaan Tumpek Landep, kata kedua sumber Bali Post ini, Ista Dewata yang dipuja adalah Batara Siwa dalam manifestasi-Nya sebagai Sang Hyang Pasupati (pasu = binatang, pati = raja atau raja binatang - red). Muara dari aktivitas spiritual ini, umat Hindu diharapkan mampu mengatasi dan mengendalikan sifat-sifat binatang dalam diri (sadripu) yakni kama (nafsu negatif), krodha (kemarahan), mada (kemabukan), lobha (kerakusan), irsya (iri/dengki) dan moha (kegelapan bathin). "Dalam konteks perayaan Tumpek Landep, sifat-sifat binatang itulah yang mesti dieliminasi," ujar Beratha.  

Kualitas Diri

Mengutip Lontar Sunarigama, Suka Yasa mengatakan tujuan pemujaan dalam Tumpek Landep adalah astawakena ring sarwa sanjata lelandeping prang. Yakni, memuja Sang Hyang Pasupati untuk memohon agar senjata/peralatan hidup yang dipakai untuk berperang/berusaha menjadi bertuah atau dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Tajam dan berguna. Dalam lontar itu juga disebutkan ikang wang apasupati landeping idep yang menyiratkan ajakan kepada umat untuk memasupati pikirannya agar tajam dan senantiasa sadar diri.

"Jadi, apasupati di samping berarti memberi tuah kepada keris, tombak dan jenis-jenis peralatan lainnya agar berdaya guna dalam mensejahterakan kehidupan manusia juga berarti mengusahakan agar manusia dapat mengatasi sifat binatang. Senantiasa meluhurkan diri dan meningkatkan kualitas diri," paparnya panjang lebar.

Bagaimana caranya? Menjawab pertanyaan itu, Suka Yasa mengatakan banyak sekali sastra agama yang memberikan tuntunan untuk kepentingan itu. Dalam Prasna Upanisad, misalnya, mengajarkan tiga cara yakni brahmacari, tapa dan swadyaya. Brahmacari artinya memiliki tekad yang bulat untuk memahami Brahman yakni satyam (kebenaran), siwam (kebajikan, moralitas) dan sundharam (keindahan). Tapa artinya tahan uji dan berani berkorban. Sedangkan swadyaya berarti tekun belajar sendiri dan kreatif.

"Masih banyak lontar sejenis yang mengajarkan kepada kita bagaimana cara meningkatkan kualitas diri tersebut. Dalam konteks kekinian, tuntunan yang digariskan dalam sastra-sastra agama itu tetap sangat relevan untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari," tegasnya.

Lantas, apakah kesuntukan umat mengupacarai berbagai jenis senjata, benda pusaka dan peralatan lainnya saat Tumpek Landep merupakan hal yang keliru? Sebab realitanya, mayoritas umat Hindu di Bali cenderung memusatkan aktivitasnya kepada hal-hal yang bersifat sekala semata alias belum "menjamah" hal-hal yang lebih esensial. Menurut Suka Yasa, aktivitas mengupacarai sarwa landep (senjata-red) pada Tumpek Landep itu bukanlah suatu yang keliru. Alasannya, senjata itu merupakan alat untuk mensejahterakan dan mempermulia kehidupan umat manusia.

Panah pada zaman dahulu, misalnya, merupakan alat untuk berburu di mana hasil perburuan itu digunakan untuk memenuhi keperluan konsumsi anggota keluarganya. Di masa kini, "senjata" itu tidak lagi sebatas panah, tombak dan sejenisnya, tetapi juga mencakup kendaraan bermotor dan perangkat elektronik yang terbukti memiliki peran yang sangat vital bagi manusia modern dalam mengumpulkan nafkah.

"Jadi, bukan sesuatu yang keliru jika kita mengupacarai dan mendoakan benda-benda itu saat Tumpek Landep dengan sarana upakara tertentu. Mengapa benda itu didoakan? Tentu saja agar bisa membantu manusia dalam mensejahterakan hidupnya," kilahnya.

Kendati begitu, Suka Yasa tetap mengingatkan umat Hindu agar tidak lupa mengasah dan mempertajam "senjata" yang ada dalam dirinya. Yakni, bagaimana mengasah pikiran dan hati nurani untuk bisa mendapatkan pengetahuan, kebijaksanaan dan bisa menimbang mana yang baik dan benar yang selanjutnya memang dapat memuliakan kehidupan manusia. "Selain mempertajam senjata yang digunakan sehari-hari untuk mencari nafkah, senjata yang ada dalam diri juga harus terus-menerus diasah dan dipertajam," tegasnya. * w. sumatika

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)