Bondres
Mengasah
Hati
Nurani
Hari
raya
umat Hindu seringkali
berhenti
dengan
melakukan upacara
ritual keagamaan yang
berwujud
memberikan
sesajen.
Jarang
sekali datangnya
hari
raya itu
dipakai
untuk mengupas
simbol-simbol yang
ingin
disampaikan oleh
leluhur
kita di
masa
lalu, untuk
kita
hayati inti
sarinya.
Padahal
lewat simbol-simbol
itulah
akan terungkap
ajaran yang
penuh
dengan makna
kehidupan
dan
tetap relevan
untuk
menghadapi segala
peralihan
zaman.
Misalnya
hari
ini, disebut
Tumpek
Landep. Pengertian
yang umum
dikenal
oleh kebanyakan
orang
adalah mengaturkan
sesajen
untuk semua
alat yang
terbuat
dari besi.
Pengertian
ini
terus-menerus diwariskan
kepada
generasi muda.
Maka yang
terjadi
adalah memberikan
sesajen
di mobil,
sepeda motor,
televisi,
kulkas.
Mungkin sudah
ada pula yang
memberikan
sesajen
di komputer, laptop,
kompor gas,
handphone,
mesin
faksimile, entah
apa
lagi. Padahal
orang-orang Bali
di masa
lalu
hanya memberikan
sesajen
itu pada
jenis-jenis
pisau,
pahat, tombak,
keris
dan sebagainya.
Bukan
karena terbuat
dari
logam besi,
tetapi
ada unsur ''tajam''.
Tumpek
Landep adalah ritual
untuk
mengasah ''ketajaman'',
bukan
untuk ''otonan
motor'' sebagaimana yang
lazim
disebut sekarang
ini.
Jika
dirunut
ke belakang,
Tumpek
Landep berkaitan
dengan ritual
sejak
hari Saraswati.
Pada
hari itu
kita
memuja Dewa Brahma
agar ''shakti
Beliau''
yakni
Dewi Saraswati
menurunkan
ilmu
pengetahuan. Setelah
memohon
pada Dewi
Saraswati,
esok
harinya kita
melakukan
pembersihan
rohani (ritual
banyu
pinaruh). Esoknya,
soma ribek,
dimulai
proses pembelajaran.
Esoknya
lagi, sabuhmas,
menabung
segala
ilmu pengetahuan yang
sudah
dipelajari. Ilmu
pengetahuan yang
terkumpul
itu
kemudian dijadikan
benteng
kehidupan dan
dirayakan
sebagai
Pagerwesi. Ilmu
itulah yang
terus
kita asah
dalam
rentang waktu
sepuluh
hari sehingga
pada
Tumpek Landep
kita
rayakan dengan
pawintenan, yang
intinya
memohon kepada
Hyang
Pasupati agar kita
tetap
punya ketajaman
pikiran.
Itu
sebabnya,
pada
hari Tumpek
Landep,
di gria
para
sulinggih banyak
dilakukan
pawintenan,
kalau
dalam bahasa modern
bisa
disebut ''hari
wisuda''. Nah,
karena
di masa
lalu
kehidupan masyarakat
Bali murni
agraris,
sarana
kerja pun ikut ''diasah''
dan
diberikan sesajen
seperti
pisau, cangkul,
pahat,
tumbak, keris
dan
sebagainya.
Kini,
ketika
kehidupan berubah
dari
agraris ke
industri,
sarana yang
perlu
dipertajam bisa
saja
berganti. Komputer
dan laptop,
ya...
bisa diberikan
sesajen,
mobil
dan motor, juga
tak
salah. Tetapi yang
inti
bukan itu,
kitalah
sebagai ''manusia
yang berpikir''
harus
diberi upacara
lebih
dahulu. Janganlah
mobil
dicuci mengkilat
lalu
diberi sesajen,
sementara
pemilik
mobil mandi pun
tidak,
apalagi melakukan
persembahyangan. Kita
sebagai ''manusia
yang berpikir''
harus
terus mengasah
pikiran
kita, karena
itu
inti dari
Tumpek
Landep.
Di
era Kali Yuga (zaman
edan)
ini, pikiran yang
mana
perlu kita
asah?
Jika kita
menyadari
bahwa
zaman ini
penuh
kegelapan, maka
kita
jangan ikut
larut
dalam kegelapan
itu,
kita perlu
mengasah
hati
nurani kita agar
peka
terhadap berbagai
persoalan yang
diakibatkan
oleh
vibrasi Kali Yuga. Kita tak
bisa
mengasah hati
nurani
dengan membelenggu
diri
kita dalam
lingkungan
kecil,
apalagi jika
kita
tak pernah
keluar
dari komunitas
kita
sendiri. Kita harus
melebarkan
pandangan
dan
melihat jauh
ke luar
dari
lingkungan kita.
Kalau
kita
menjadi anggota DPRD,
misalnya,
janganlah
kita
hanya berkutat
di
gedung DPRD atau
kantor
bupati saja,
bergaul
dengan sesama
anggota
legislatif atau
eksekutif
melulu.
Jika terbatas
seperti
itu, maka yang
dipikirkan
hanyalah
bagaimana
menambah
gaji
dari mempermainkan
anggaran,
bagaimana agar
bisa
mendapatkan Kijang
Innova.
Coba tengok
rakyat
di pedesaan,
bagaimana
sulitnya
mendapat
pupuk
murah, bagaimana
mahalnya
kebutuhan
hidup
sehari-hari. Kalau
penderitaan
rakyat
itu kita
hayati
dengan hati
nurani paling
dalam,
maka Kijang
Innova
betul-betul merupakan
barang yang
harus
ditolak.
Sebagai
manusia yang
diberikan
kesempatan
untuk
memperoleh ilmu
pengetahuan yang
lebih,
gunakanlah ilmu
pengetahuan
itu di
jalan dharma. Yang
pertama
kita lakukan
adalah
mensyukuri hal
itu,
bahwa ternyata
kitalah yang
diberi
kesempatan untuk
mendapatkan
ilmu yang
lebih
itu, orang lain
tidak.
Orang lain punya
keterbatasan,
entah
ekonominya tidak
mampu,
entah otaknya
tidak
memadai, misalnya,
ada
kelainan atau
sakit.
Ilmu itu
harus
kita kembalikan
ke
masyarakat dengan
mengangkat
harkat
kehidupan masyarakat.
Mungkin
kita
membuat sesuatu
untuk
menambah lapangan
kerja,
berbuat sesuatu
untuk
meningkatkan pendidikan
masyarakat.
Sambil
melakukan itu
kita
mengasah kepekaan
nurani
kita, bahwa
betapa
banyaknya kehidupan
yang di
bawah standar
masih
ada di
masyarakat,
sementara
kita di
atas
melakukan perbuatan
hura-hura. Kita
di atas
ribut
dengan pembagian
Kijang
Innova, sementara
di
bawah ribut
dengan
beras murah yang
penuh
kutu.
Jika
nurani
kita peka,
kita
tak mungkin
membiarkan
petani
kecil menjual
tanahnya
hanya
untuk upacara ritual
yang besar. Hal
itu
akan menambah
penderitaan sang
petani
dengan keturunannya.
Dengan
ilmu yang kita
peroleh,
kita
sadarkan petani
miskin
itu bahwa ritual yang
sederhana pun
bisa
diakukan. Lalu
dengan
ilmu itu pula
kita
mencari terobosan
bagaimana
mengangkat
kehidupan sang
petani.
Zaman ini
memang
penuh godaan,
namanya
saja Zaman Kali.
Tetapi
manusia-manusia yang punya
kepekaan
nurani,
akan selamat
dari
godaan ini.
Karena
itu asahlah
nurani
Anda, mumpung
hari
ini Tumpek
Landep.
* Putu
Setia