Bali Fashion Week VII
Mengupas Dunia Fashion Indonesia
Bali Fashion Week, memang bukan ajang baru di
kancah dunia fashion Indonesia. Berkali-kali event ini mengusung
beragam topik. Tujuannya hanya satu, ingin mencari bibit-bibit
desainer yang mampu mendongkrak publik mode dunia bahwa fashion di
Indonesia memang ada dan berkembang.
==========
Dari awal Mardia Ika, sang penggagas sudah sangat
menyadari. Membangun sebuah event besar memang memerlukan
pemikiran, kesabaran, dan mau berbagi untuk meningkatkan kualitas
sebuah hajatan sebesar Bali Fashion Week. Makanya, tahun ini event
besar itu kembali digelar dengan tema yang diusung ''Fashion Meet
Art''.
Memang tidak mudah menampung beragam pikiran,
saran, kritik, dan tentu saja merangkul semua orang khususnya para
kreator busana untuk duduk bersama. Sebagai kreator tentu mereka
memiliki beragam pertimbangan, penilaian, dan pemikiran yang bisa
jadi berseberangan dengan garis yang telah ditancapkan event Bali
Fashion Week.
Tetapi, bagaimana pun juga event ini memang patut
dipertanyakan kembali. Masihkah harus ada? Kalau masih harus ada,
bagaimana merangkul para perancang? Instansi terkait? Atau hal-hal
yang berkolaborasi dengan dunia fashion. Mungkinkah para kreator
busana bisa duduk bersama, berpikir, dan memberi saran? Mau ke
mana event sebesar ini dibawa? Bagaimana caranya memikat orang,
terutama buyer untuk datang ke Indonesia hanya untuk melihat
fashion?
Pemikiran-pemikiran besar mungkin terus berkecamuk.
Tentunya ini tugas dari para pelaku fashion untuk memikirkannya,
lalu mengajak instansi terkait untuk bersama membaca dunia fashion
Indonesia.
Sekalipun banyak kritik, toh pada akhirnya Bali
Fashion Week VII tetap bisa terselenggara 22-25 November. Minggu
ini Anda bisa saksikan hasil rancangan 7 desainer, pada penutup
acara Bali Fashion Week VII. Mereka adalah, Dwi Iskandar, Oka
Diputra, Lenny agustin, Ali Charisma, Selpie Bong, Huang shu (Muji
Ananta) dan Rajo Laurel. (osi/edi)