Penanganan BLBI Tarik-Ulur
Kejakgung harus Tegas
Jakarta
(Bali Post) -
Kasus-kasus korupsi dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI)
terkesan tarik-ulur dan menjadi komoditi politik. Perlu tindakan
kongkret oleh pemerintah termasuk Kejaksaan Agung harus lebih
tegas dalam menuntaskan penyelidikan dan penyidikan kasus
tersebut. Tidak ada waktu memainkan kasus ini untuk menarik
simpati masyarakat.
Demikian kata anggota DPR Drajat Wibowo dalam acara
diskusi di Hotel Cemara, Jakarta, Sabtu (1/12) kemarin.
Menurutnya, fokus pemeriksaan Kejakgung harus lebih mengarah
kepada potensi pelanggaran yang terjadi pada perjanjian
penyelesaian kewajiban para pemegang saham. Alasannya, kunci kasus
tersebut memang ada pada masalah tersebut. Kalau dibawa ke masalah
kebijakan, pasti agak sulit untuk mengadilinya. Lihat saja,
beberapa perkara yang menyangkut masalah tersebut selalu kandas di
pengadilan, kata anggota FPAN DPR ini.
Ditambahkan, untuk mengusut soal kebijakan
sebaiknya diarahkan kepada pembuat kebijakan yang menilai sejumlah
obligor layak mendapat surat keterangan lunas. Tetapi penyerahan
asetnya tidak sesuai dengan nilai utang yang harus dibayarkan
kepada negara. Pengusutan lainnya, lanjut Drajat, terhadap
kemungkinan aset-aset BPPN itu dibeli kembali oleh pemilik lama
dengan harga murah. Ini seperti yang terjadi dalam temuan KPK atas
pembelian aset PT Timor Putra Nasional (TPN) yang dilakukan
Humpuss Group dengan menggunakan perusahaan lain sebagai
perpanjangan tangannya. Temuan itu bisa dijadikan pintu masuk
untuk mengusut dan meminta PPATK menelusuri kemungkinan adanya
aliran dana dari obligor-obligor kepada perusahaan khusus untuk
membeli aset BPPN. ''Kalau KPK bisa menemukan, kalau Kejakgung
serius pasti juga bisa menemukan bukti lainnya,'' ujarnya.
Direktur Blora Center Yusuf Rizal meminta Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berhati-hati dalam membuat
pernyataan soal korupsi. Hal ini terkait dengan cuci piring yang
disampaikannya beberapa har lalu. Pasalnya, semua itu bisa menjadi
senjata makan tuan. Alih-alih untuk simpati, masyarakat bisa
berbalik menilainya gagal dalam menuntaskan kasus korupsi BLBI.
Kalimat itu sensitif. Masyarakat justru akan melihat komitmen SBY
dalam pemberantasan korupsi, yang ternyata jauh dari kenyataan.
''Nantinya masyarakat bakal menagih janji SBY dalam upaya
pemberantasan korupsi yang banyak terhenti di tengah jalan,''
jelasnya. (kmb3)