Kulit Gatal, Awas Serangan Skabies
Oleh Pande Made Wisnu Tirtayasa, S.Ked
APAKAH
Anda sering terbangun di malam hari karena merasakan gatal pada
bagian tubuh? Apakah Anda menemukan benjolan kecil pada sela-sela
jari, pinggang, belakang siku, lutut, atau pantat? Bila ya,
kemungkinan Anda terkena penyakit skabies yang disebabkan oleh
sejenis kutu pada kulit. Awas, bisa jadi si kutu kulit ini sedang
asyik menggali terowongan di bawah kulit Anda dan menimbun
telurnya di sana.
------------
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh
sejenis kutu (mite). Ukuran kutu sangat kecil, tidak dapat dilihat
dengan mata telanjang dan hanya dapat dilihat dengan bantuan
mikroskop. Penyakit ini sering disebut kutu badan dan dapat
menular dari manusia ke manusia secara langsung ataupun tidak.
Skabies disebabkan oleh kutu Sarcoptes scabiei
varian hominis dan dapat melewati seluruh siklus hidupnya pada
tubuh manusia. Kutu ini berbentuk bundar dan memiliki empat pasang
kaki. Dua pasang kaki di bagian depan menonjol ke depan melewati
batas badan dan dua pasang kaki di bagian belakang tidak melewati
batas badan.
Kutu betina berukuran kira-kira 350 mikron (0,35
mm), sedangkan kutu jantan berukuran lebih kecil yaitu setengah
dari ukuran kutu betina. Kutu jantan membuahi kutu betina pada
kulit manusia dan kemudian kutu jantan ini akan mati. Kutu betina
yang berada di lapisan kulit bagian stratum corneum dan stratum
lucidum (lapisan kulit epidermis terluar) membuat terowongan ke
dalam lapisan kulit dengan menggunakan enzim proteolylic yaitu
enzim yang dapat menghancurkan lapisan luar kulit.
Di dalam terowongan inilah kutu betina bertelur
sampai mencapai jumlah 40-50 dan dalam waktu kira-kira 3-5 hari.
Telur itu menetas menjadi hypopi yaitu kutu muda dengan tiga
pasang kaki. Setelah telur menetas, sekitar 90% kutu akan mati,
tetapi yang hidup akan terus melewati berbagai macam fase
kehidupan dan akan menjadi dewasa dalam waktu kira-kira dua
minggu. Kutu betina dewasa yang tidak pernah meninggalkan
terowongannya akan mati setelah 1-2 bulan.
Kontak Kulit
Varian yang lain dari kutu ini dapat menyerang
binatang peliharaan seperti anjing dan dapat pula menyerang
manusia. Namun, kutu ini tidak dapat bereproduksi di tubuh manusia
dan hanya akan menyebabkan peradangan kulit sementara.
Skabies dapat ditularkan melalui kontak kulit
langsung yang terus menerus dengan penderita skabies. Bersalaman
dan berpelukan secara cepat biasanya tidak menularkan skabies.
Penularan sangat mudah terjadi pada partner seksual dan anggota
keluarga. Penularan juga dapat terjadi dengan cara pemakaian
pakaian, handuk, atau tempat tidur yang bersama-sama.
Skabies menyerang semua usia, semua etnis, semua
tingkatan sosial ekonomi, dan pada segala jenis kelamin. Penyakit
ini sangat berhubungan langsung dengan faktor kepadatan dan
keramaian sehingga sering disebut penyakit "anak pondok" karena
seluruh penghuni rumah atau pondok biasanya kena. Penyakit ini
juga berhubungan secara tak langsung dengan faktor kebersihan.
Gejala Penyakit
Gejala penyakit skabies pada kulit adalah warna
merah, iritasi, gelembung berair, dan gatal, khususnya pada malam
hari. Juga ditemukan garis halus berwarna kemerahan yang umumnya
muncul di bagian kulit yang tipis seperti sela-sela jari tangan
dan kaki, siku, selangkangan dan sekitar kelamin, lipatan paha,
perut bagian bawah, pantat, dan pinggang.
Kutu yang menginfeksi kulit biasanya sekitar 5-15
kutu. Pada bulan pertama gejala jarang terlihat. Gelaja baru
terlihat sebulan setelah infeksi berupa reaksi hipersensitivitas
(suatu reaksi alergi) terhadap kutu, telur, dan scybala (kotoran
dari kutu) yang akan menyebabkan rasa gatal dan kemerahan pada
kulit. Hal ini dapat menyebabkan seseorang tidak merasa menderita
skabies pada bulan pertama dan bisa jadi dalam jangka waktu itu ia
sudah menularkannya kepada orang lain yang selalu kontak secara
dekat dengannya.
Seseorang dengan sistem imun yang rendah dan pada
orang tua dapat berisiko tinggi untuk terkena penyakit skabies
yang lebih parah yang disebut dengan Crusted Scabies. Penderita
dengan sistem imun yang rendah tidak akan menghasilkan antibodi
terhadap kutu skabies sehingga kulit penderita akan terlihat
berwarna sangat merah khususnya pada orang tua dimana akan
terlihat kerak (seperti kerak bekas luka) berwarna putih atau
keabuan dengan sedikit rasa gatal dan populasi kutu akan meningkat
menjadi ratuan bahkan ribuan.
Cara
Pengobatan
Pengobatan penyakit ini dapat dilakukan lewat
shower dengan air yang telah dilarutkan bubuk DDT (Dichloro
Diphenyl Trichloroetan). Alternatif lain adalah dengan mengoleskan
salep yang punya daya miticid (pembunuh kutu) pada bagian kulit
yang terasa gatal dan kemerahan lalu didiamkan selama sekitar 10
jam sebelum dibilas.
Pengobatan lainnya, mandi dengan sabun belerang
(sulfur) karena kandungannya dapat bersifat antiparasit, tetapi
pemakaiannya tidak boleh berlebihan karena dapat membuat kulit
jadi kering. Seluruh keluarga dan yang kontak dekat dengan
penderita sebaiknya diobati dalam jangka waktu yang sama, walaupun
tidak menunjukkan gejala-gejala.
Peralatan sehari-hari sebaiknya dibersihkan setelah
penderita mendapatkan pengobatan karena seseorang dapat dengan
mudah terserang skabies kembali setelah sebelumnya pernah
terserang. Tanpa kulit manusia, kutu skabies dapat hidup kira-kira
48-72 jam. Pada crusted scabies, kutu dapat hidup sampai 7 hari di
luar kulit manusia. Sehingga, direkomendasikan untuk membersihkan
seluruh material (pakaian, handuk, tempat tidur, karpet) yang
kontak dengan penderita selama 3 hari terakhir.
Seelebihnya, berkonsultasi ke dokter jika Anda
menemukan dan merasakan gejala-gejala seperti yang sudah
disebutkan itu.