Pengantar Redaksi
Pengasuh mimbar agama Islam mulai
penerbitan ini adalah H. Kusnadi Musthofa, menggantikan almarhum
KH Wasil Abu Ali. Dalam kurun waktu hampir lima tahun terakhir,
Kusnadi bertindak sebagai asisten almarhum dalam mempersiapkan
tulisan-tulisannya di koran ini. Sebagaimana pendahulunya, Kusnadi
juga aktif di Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Ikatan
Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI).
Bekal dan
Misi Haji
''Watazauw waduu fa inna khairaz zaadit taqwaa, wat
taquuni yaa ulil albaab''
HARI-HARI ini sedemikian sibuk bagi lebih dari
tujuh kota besar di Indonesia yang dijadikan sebagai embarkasi
pemberangkatan jemaah haji ke tanah suci. Juga merupakan hari-hari
yang sangat sibuk bagi bandara internasional King Abdul Aziz,
Jeddah, Saudi Arabia, karena jutaan orang dari berbagai penjuru
berdatangan untuk menunaikan ibadah haji, rukun Islam kelima itu.
Usia manusia memang merupakan rahasia Allah SWT.
Tak sedikit calon jamaah haji kita yang tidak jadi berangkat
lantaran keburu wafat atau sakit. Yang memprihatinkan, ada 6.500
orang calon jamaah haji yang dipersiapkan oleh swasta (KBIH
Khusus), justru gagal berangkat karena kekeliruan pengelolaan
administrasi pemerintah.
Tentu saja bagi yang tertunda keberangkatannya,
kita pun berharap semoga pada kesempatan musim haji berikutnya,
dapat berangkat dengan membawa bekal yang lebih baik. Sebagaimana
dikutip dalam ayat di atas, sebaik-baik bekal adalah takwa.
"Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa, dan
bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal," (al-Baqarah
[2]: 197).
Memang ayat tersebut berbicara dalam konteks
pelaksanaan ibadah haji, namun mengingat begitu luasnya makna yang
terkandung dalam suatu ayat Alquran, maka bisa dipahami bahwa
dalam suatu kegiatan apa pun, tetap saja sebaik-baik bekal bagi
kita adalah bekal takwa.
Kini, betapa mudahnya komunikasi antara jamaah haji
yang berada di tanah suci dengan sanak saudaranya di Tanah Air,
misalnya melalui telepon seluler. Karena itu, sangat bagus jika
kita memanfaatkan jaringan telekomunikasi itu untuk menyampaikan
pesan-pesan takwa bagi jamaah haji, bukan malah hanya disibukkan
dengan "pesan" minta oleh-oleh.
Sungguh suatu kebiasaan yang baik selama ini,
manakala seseorang berangkat menunaikan ibadah haji, maka antara
yang pergi dan yang ditinggalkan saling berpesan untuk saling
mendoakan. Doa adalah salah satu wujud ketakwaan kita kepada Allah
SWT yang memang memerintahkan kita agar bermohon (berdoa)
kepada-Nya (Q.S. 60: 40).
Bukan hal aneh apabila seorang jamaah haji membawa
daftar nama-nama orang yang akan mereka doakan. Maklum, di tanah
suci, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah SAW terdapat
sejumlah tempat di mana doa yang dimohonkan makbul, seperti di
depan pintu Ka'bah, di Raudah (masjid Nabawi) dan yang
lainnya. Sedangkan bagi kita yang berada di rumah pun, layak
optimistis bahwa doa kita untuk mereka yang berhaji niscaya
dikabulkan, karena sesama mukmin yang gaib (berjauhan, tidak
saling melihat), doanya menurut Rasulullah SAW, juga makbul.
Mudah-mudahan, mereka yang berangkat ke tanah suci
bekal takwanya memadai, sehingga mampu menangkap pesan dan misi
haji yang telah ditetapkan oleh Allah SWT, yakni agar mampu
mengikuti jejak Nabi Ibrahim a.s. dan meraih predikat haji mabrur.
Betapapun Ibrahim a.s. adalah figur teladan yang mesti kita ikuti,
teladan yang berkepribadian cerdas, penyantun, berhati lembut,
ikhlas, dan sangat mencintai Khaliqnya, Allah SWT.
Meraih kepribadian yang berakhlak mulia seperti
Ibrahim a.s. dan Rasulullah SAW itulah hakikat misi haji, yang
mudah-mudahan dapat diraih oleh calon jamaah haji kita yang
memenuhi panggilan Allah SWT ke tanah suci tahun ini. Semoga pula
mereka pun dapat memanfaatkan event akbar itu untuk menjalin
silaturahmi yang lebih luas, baik terhadap saudara sebangsa maupun
sesama muslim dari berbagai negara. Bahkan, diharapkan makin
memperluas pula tali persaudaraan sesama manusia dari berbagai
bangsa dan agama, mengingat yang terlibat pada pelaksanaan
perjalanan haji juga saudara-saudara kita dari berbagai bangsa dan
agama.