Tak harus Bersamaan dengan Nyepi
GUNA
pengimplementasian kearifan lokal Nyepi di tataran global menurut
Nayaka Majelis Utama Desa Pakraman Bali, IDG Swastha, S.H., tidak
harus saklek dilaksanakan bersamaan dengan hari raya Nyepi di
Bali. Pasalnya, perayaan Nyepi itu mengikuti sistem penanggalan
Caka, sedangkan masyarakat dunia cenderung menggunakan sistem
Masehi.
Swastha lebih sreg jika momen perayaan Nyepi Bumi
itu dirangkaikan dengan acara penutupan KTT Perubahan Iklim di
Bali di mana saat itu diharapkan lahir sebentuk deklarasi yang
meneguhkan komitmen masyarakat dunia untuk bersama-sama merayakan
Nyepi Bumi.
Perayaan Nyepi ini mengikat seluruh masyarakat
dunia. Dengan begitu, perayaan Nyepi Bumi yang dinamai "Bali Day"
itu akan berlangsung setiap tahun sekali sama halnya dengan
perayaan Hari Bumi, Hari Bebas Tembakau dan perayaan hari-hari
penting tingkat dunia lainnya.
Ia mengingatkan agar penyebarluasan nilai-nilai
luhur Nyepi itu tidak melalui koridor pendekatan keagamaan. Tapi,
murni melalui pendekatan fakta-fakta empiris yang menguatkan
keyakinan bahwa perayaan Nyepi itu benar-benar sebuah aktivitas
yang sangat ramah lingkungan.
Pada KTT itu, Swastha juga mengharapkan delegasi
Indonesia mau memaparkan kearifan-kearifan lokal Bali lainnya yang
nyata-nyata pro lingkungan. Kearifan lokal itu di antaranya
filosofi Tri Hita Karana yang menuntun kesadaran masyarakat Bali
senantiasa menjaga harmonisasi antara manusia dengan Tuhan,
harmonisasi antara manusia dengan sesama manusia dan harmonisasi
antara manusia dengan lingkungan. Di luar itu, juga ada perayaan
Tumpek Bubuh dan Tumpek Kandang yang merefleksikan rasa cinta
manusia Bali terhadap tumbuh-tumbuhan dan binatang yang merupakan
komponen utama penyusun alam lingkungan ini. "Sejatinya, banyak
sekali kearifan-kearifan lokal manusia Bali yang pro-lingkungan
bisa diangkat di forum internasional tersebut," tegasnya.
(ian)