Usulan Nyepi di Bumi --
Alam Penting Diberi Kesempatan Bernapas
Usulan agar Nyepi diangkat ke dunia internasional
dalam rangka mengurangi gas emisi disambut baik Parisada Hindu
Dharma Indonesia (PHDI) Propinsi Bali. Karena itu sehubungan
dengan konferensi UNCCC di Bali 3-14 Desember mendatang, konsep
Nyepi penting ditawarkan.
-----
KETUA
PHDI Bali IGN Sudiana mengatakan dalam menghadapi ancaman
pemanasan global, Nyepi penting ditawarkan dalam konferensi
tersebut. Hening (Nyepi) selama 24 jam pada Tahun Baru Saka memang
memiliki makna penting bagi keseimbangan Panca Mahabutha.
Kata Sudiana, konsep Nyepi sesungguhnya kedamaian
(santhi) atau keseimbangan. Kekurangseimbangan Panca Mahabutha
akan berdampak pada kehidupan manusia. Karena itu, unsur-unsur
Panca Mahabhuta seperti pertiwi, apah, teja, bayu dan akasa mesti
dijaga dengan baik. Manakala semua unsur itu dicemari oleh polusi,
emisi gas dan sebagainya, keseimbangannya akan terganggu. Itu yang
berpengaruh buruk terhadap kehidupan manusia. Pemanasan global
terjadi, salah satunya dipengaruhi oleh aktivitas manusia.
Kegiatan industri, kendaraan dan aktivitas yang lainnya,
mengeluarkan emisi gas yang mengganggu keseimbangan alam. Di
sinilah perlunya pengendalian diri dari umat manusia. Dalam ajaran
Agama Hindu, konsep pengendalian diri itu diejawantahkan dalam
Catur Bratha Penyepian saat pelaksanaan Nyepi.
Saat Nyepi umat Hindu tidak melakukan aktivitas
(amati karya), tidak menyalakan api (amati agni), tidak bepergian
(amati lelungan), tidak menikmati keindahan (amati lelanguan).
Ketika umat manusia sehari saja tanpa aktivitas (hening) dan tidak
memanfaatkan energi seperti listrik dan BBM, jagat ini akan
''sepi'' dari gangguan polusi dan eksploitasi. Itu artinya, dalam
konsep Nyepi terkandung makna bahwa alam penting diberi kesempatan
bernapas setelah selama setahun disesaki aktivitas manusia.
Direktur Eksekutif Walhi, Ni Nyoman Sri Widianti,
saat lokakarya yang bertemakan ''Mengangkat pesan kearifan lokal
pada konferensi perubahan iklim: Nyepi for the earth'', di Taman
Budaya, Rabu (28/11) lalu, mengatakan bumi menghadapi ancaman
pemanasan global. Konsep Nyepi akan ditawarkan dalam konferensi
UNCCC, karena dipandang strategis untuk mengurangi emisi gas rumah
kaca.
Pelaksanaan Nyepi di Bali bisa mengurangi emisi gas
rumah kaca. Setidaknya sekitar 13,5 ton2 CO2 dari sepeda motor dan
penerbangan, belum termasuk menghematan emsisi dari kendaraan lain
dan pengurangan penggunaan listrik, pada saat Nyepi. ''Konsep
Nyepi dikaitkan dengan pengurangan gas emisi ini akan kami bawa ke
konferensi tersebut. Bahkan, kami sudah berkirim surat ke Presiden
SBY agar konsep itu bisa dimasukkan dalam isi pidato pada
pembukaan UNCCC,'' katanya. Mudah-mudahan konsep ini bisa
diterima, sehingga ada gerakan sehari tanpa aktivitas di dunia
(hening sehari).
Komitmen yang digelindingkan dari Bali direspons
positif oleh Ketua DPR-RI Agung Laksono. Kita inginkan tidak hanya
berhenti pada tataran wacana semata, benar-benar menjelma nyata.
Dalam konteks ini, tokoh-tokoh nasional yang
dipercaya jadi delegasi Indonesia pada KTT Perubahan Iklim di Nusa
Dua, Bali mendatang diminta proaktif mengumandangkan nilai-nilai
luhur kearifan lokal Bali itu kepada delegasi-delegasi negara
lain. Para duta bangsa itu harus mampu membuka ruang kesadaran
delegasi-delegasi negara lain bahwa konsep Nyepi sejatinya sangat
layak diimplementasikan di negara mereka.
Ketika ruang kesadaran itu sudah terbentuk, pada
pengunjung KTT diharapkan tercetus sebentuk deklarasi yang intinya
mengajak segenap masyarakat dunia selama satu hari penuh
menghentikan segala aktivitas serta memanfaatkan momen itu untuk
merenung dan lebih mencintai bumi. Pada hari itu, segenap
masyarakat dunia membiarkan bumi benar-benar terbebas dari segala
jenis polusi dan aktivitas pencemaran.
Deklarasi
"Bali Day"
Dihubungi Sabtu (1/12) kemarin, Nayaka Majelis
Utama Desa Pakraman Bali yang juga pengamat masalah politik, hukum
dan sosial budaya Bali, IDG Ngurah Swastha, S.H., mengaku sangat
berharap deklarasi yang meneguhkan kesadaran masyarakat dunia
untuk lebih mencintai bumi lahir pada KTT Perubahan Iklim di Bali.
Nantinya, momen kelahiran deklarasi itu bisa dinamai "Bali Day"
selanjutnya dirayakan secara kontinu setiap tahun oleh masyarakat
dunia.
Wujudnya serupa dengan perayaan Nyepi yang
dilaksanakan oleh masyarakat Bali dari generasi ke generasi. Pada
hari itu, seluruh masyarakat dunia menghentikan segala aktivitas
rutinnya, pabrik-pabrik berhenti beroperasi, jalan raya bebas dari
lalu lalang kendaraan bermotor yang menyuplai emisi karbon dan
bumi dibiarkan bebas menghirup udara segar tanpa polusi. "Menurut
saya, momen pelaksanaan KTT di Bali ini harus dimanfaatkan
sebaik-baiknya oleh komponen bangsa ini untuk mengumandangkan
kearifan-kearifan lokal yang pro lingkungan," ujarnya. (lun/ian)