kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Pon, 2 Desember 2007 tarukan valas
 

BERITA


Usulan Nyepi di Bumi --
Alam Penting Diberi Kesempatan Bernapas

Usulan agar Nyepi diangkat ke dunia internasional dalam rangka mengurangi gas emisi disambut baik Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Propinsi Bali. Karena itu sehubungan dengan konferensi UNCCC di Bali 3-14 Desember mendatang, konsep Nyepi penting ditawarkan.

-----

KETUA PHDI Bali IGN Sudiana mengatakan dalam menghadapi ancaman pemanasan global, Nyepi penting ditawarkan dalam konferensi tersebut. Hening (Nyepi) selama 24 jam pada Tahun Baru Saka memang memiliki makna penting bagi keseimbangan Panca Mahabutha.

Kata Sudiana, konsep Nyepi sesungguhnya kedamaian (santhi) atau keseimbangan. Kekurangseimbangan Panca Mahabutha akan berdampak pada kehidupan manusia. Karena itu, unsur-unsur Panca Mahabhuta seperti pertiwi, apah, teja, bayu dan akasa mesti dijaga dengan baik. Manakala semua unsur itu dicemari oleh polusi, emisi gas dan sebagainya, keseimbangannya akan terganggu. Itu yang berpengaruh buruk terhadap kehidupan manusia. Pemanasan global terjadi, salah satunya  dipengaruhi oleh aktivitas manusia. Kegiatan industri, kendaraan dan aktivitas yang lainnya, mengeluarkan emisi gas yang mengganggu keseimbangan alam. Di sinilah perlunya pengendalian diri dari umat manusia. Dalam ajaran Agama Hindu, konsep pengendalian diri itu diejawantahkan dalam Catur Bratha Penyepian saat pelaksanaan Nyepi.

Saat Nyepi umat Hindu tidak melakukan aktivitas (amati karya), tidak menyalakan api (amati agni), tidak bepergian (amati lelungan), tidak menikmati keindahan (amati lelanguan). Ketika umat manusia sehari saja tanpa aktivitas (hening) dan tidak memanfaatkan energi seperti listrik dan BBM, jagat ini akan ''sepi'' dari gangguan polusi dan eksploitasi. Itu artinya, dalam konsep Nyepi terkandung makna bahwa alam penting diberi kesempatan bernapas setelah selama setahun disesaki aktivitas manusia.

Direktur Eksekutif Walhi, Ni Nyoman Sri Widianti, saat lokakarya yang bertemakan ''Mengangkat pesan kearifan lokal pada konferensi perubahan iklim: Nyepi for the earth'', di Taman Budaya, Rabu (28/11) lalu, mengatakan bumi menghadapi ancaman pemanasan global. Konsep Nyepi akan ditawarkan dalam konferensi UNCCC, karena dipandang strategis untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

Pelaksanaan Nyepi di Bali bisa mengurangi emisi gas rumah kaca. Setidaknya sekitar 13,5 ton2 CO2 dari sepeda motor dan penerbangan, belum termasuk menghematan emsisi dari kendaraan lain dan pengurangan penggunaan listrik, pada saat Nyepi. ''Konsep Nyepi dikaitkan dengan pengurangan gas emisi ini akan kami bawa ke konferensi tersebut. Bahkan, kami sudah berkirim surat ke Presiden SBY agar konsep itu bisa dimasukkan dalam isi pidato pada pembukaan UNCCC,'' katanya. Mudah-mudahan konsep ini bisa diterima, sehingga ada gerakan sehari tanpa aktivitas di dunia (hening sehari).

Komitmen yang digelindingkan dari Bali direspons positif oleh Ketua DPR-RI Agung Laksono. Kita inginkan tidak hanya berhenti pada tataran wacana semata, benar-benar menjelma nyata.

Dalam konteks ini, tokoh-tokoh nasional yang dipercaya jadi delegasi Indonesia pada KTT Perubahan Iklim di Nusa Dua, Bali mendatang diminta proaktif mengumandangkan nilai-nilai luhur kearifan lokal Bali itu kepada delegasi-delegasi negara lain. Para duta bangsa itu harus mampu membuka ruang kesadaran delegasi-delegasi negara lain bahwa konsep Nyepi sejatinya sangat layak diimplementasikan di negara mereka.

Ketika ruang kesadaran itu sudah terbentuk, pada pengunjung KTT diharapkan tercetus sebentuk deklarasi yang intinya mengajak segenap masyarakat dunia selama satu hari penuh menghentikan segala aktivitas serta memanfaatkan momen itu untuk merenung dan lebih mencintai bumi. Pada hari itu, segenap masyarakat dunia membiarkan bumi benar-benar terbebas dari segala jenis polusi dan aktivitas pencemaran.

 

Deklarasi "Bali Day"

Dihubungi Sabtu (1/12) kemarin, Nayaka Majelis Utama Desa Pakraman Bali yang juga pengamat masalah politik, hukum dan sosial budaya Bali, IDG Ngurah Swastha, S.H., mengaku sangat berharap deklarasi yang meneguhkan kesadaran masyarakat dunia untuk lebih mencintai bumi lahir pada KTT Perubahan Iklim di Bali. Nantinya, momen kelahiran deklarasi itu bisa dinamai "Bali Day" selanjutnya dirayakan secara kontinu setiap tahun oleh masyarakat dunia.

Wujudnya serupa dengan perayaan Nyepi yang dilaksanakan oleh masyarakat Bali dari generasi ke generasi. Pada hari itu, seluruh masyarakat dunia menghentikan segala aktivitas rutinnya, pabrik-pabrik berhenti beroperasi, jalan raya bebas dari lalu lalang kendaraan bermotor yang menyuplai emisi karbon dan bumi dibiarkan bebas menghirup udara segar tanpa polusi. "Menurut saya, momen pelaksanaan KTT di Bali ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh komponen bangsa ini untuk mengumandangkan kearifan-kearifan lokal yang pro lingkungan," ujarnya. (lun/ian)

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com