Langkah Berayun
para Tukang
"Suwun"
"SUWUN
bu, suwun
pak!"
Itulah
celoteh para
tukang suwun
di pasar.
Hanya
bermodal sebuah
keranjang, para
wanita berbagai
umur itu
mendatangi para
saudagar,
pedagang, ataupun
pembeli untuk
menawarkan "jasa
angkutan"-nya.
Tak
kenal lelah,
mereka terus
berjalan di
antara kerumunan
orang dan
di sela-sela
deretan pedagang
hanya untuk
mendapatkan
pelanggan.
Dapat atau
tidak rezeki,
mereka selalu
ceria dan ramah.
Bila
suasana jual
beli sedang
sepi, para
wanita itu
duduk santai
di tangga
pasar atau
bercengkerama di
pagar beton
pembatas tanaman.
Ada
juga yang
duduk-duduk di
bawah pohon
yang gersang.
Ketika
terlihat ada
panggilan pemesan
dengan bahasa
isyarat lambaian
tangan, salah
satu di
antara mereka
bangun menanggapi.
Sementara yang
lain, melanjutkan
cengkerama di
antara mereka.
Toleransi
dan sikap
saling menghargai
tampak di
antara mereka.
Selama
pasar tradisional
itu dibuka,
para wanita
yang tergolong
pekerja kasar
itu tidak
pernah melewatkan
kesempatan.
Dari pagi hingga
sore, dari sore
hingga malam,
dan dari
malam hingga
pagi lagi,
suasana pasar
selalu saja
diwarnai dengan
kegigihan tukang
suwun itu.
Rapi,
tertib dan
damai.
Meski
tak ada
organisasi yang
mengkoordinir, secara
tidak sengaja
mereka mengatur
dirinya
masing-masing sehingga
setiap waktu
para saudagar
tak pernah
kesulitan
mendapatkan tukang
suwun.
Pasar
Badung, Denpasar,
adalah salah
satu ladang
pencarian nafkah
para tukang
suwun -- dari
yang berusia
anak-anak hingga
dewasa.
Untuk
menjadi tukang
suwun, mereka
tidak memerlukan
pendidikan yang
serius.
Cukup
dengan memiliki
kekuatan kepala
dan leher,
mereka sudah
bisa mengadu
nasib di
pasar yang ramai
itu.
Berdasarkan
pengakuan di
antara mereka,
jadi tukang
suwun memang
bukan cita-cita
mereka sejak
kecil.
Profesi
ini dilakoni
semata-mata untuk
menyelamatkan
kehidupan keluarganya.
Di tengah
krisis ekonomi
berkepanjangan,
mereka sepertinya
siap melakukan
pekerjaan seberat
apa pun.
Tukang
suwun ini
bisa jadi
sebagai cerminan
bahwa wanita
Bali itu kuat,
gigih dan
tak pernah
mengenal lelah.
Sebut saja
I Luh, wanita
tukang suwun
asal Angantelu,
Karangasem.
Oleh karena
tidak memiliki
pekerjaan tetap,
ia
akhirnya menjadi
tukang suwun.
"Mangkin
zaman sukeh.
Sukeh ngalih
gae
lan sukeh
ngalih pipis
(sekarang zaman
susah.
Sulit
cari kerja
dan sulit
cari uang
- red)," ujar I
Luh, ibu
dua putra
ini. Diakuinya,
dari hasil
jadi tukang
suwun,
ia harus
mampu menanggung
kebutuhan kedua
anaknya, pun
membantu suami yang
sopir angkot.
Soal
penghasilan dalam
sehari, I Luh
tidak bisa
pasang target.
Sekali nyuun
ia
hanya bisa
mendapat upah
berkisar Rp
2.000 sampai Rp
5.000. "Itu
tergantung dari
orangnya.
Kalau
orangnya pelit,
saya bisa
diberikan dua
ribu saja.
Kalau
orangnya lagi
baik, bisa
dapat lima ribu
bahkan sepuluh
ribu," jelasnya.
Narti,
teman "seperjuangan" I
Luh, juga
mengaku sudah
menjadi tukang
suwun sejak
empat tahun
lalu.
Dalam
sehari, ibu
satu anak
ini bisa
mendapatkan Rp
10.000. Akan
berbeda jika
musim ramai,
ia
bisa mendapatkan
Rp 30.000 sampai
Rp 40.000. "Hasilnya,
tergantung nasib.
Bahkan
pernah tidak
dapat penghasilan
sama sekali,"
terang Narti.
Lain
lagi cerita
Ni Wayan Suratni,
tukang suwun
yang masih
berstatus siswi.
Diakuinya, dari
bekerja sebagai
tukang suwun
ini, ia
mampu membiayai
sekolahnya
sendiri hingga
ke
kelas II SMP
Paket B sekarang.
Pekerjaan
tukang suwun
sudah dilakoninya
sejak kelas
II SD bersama
ibunya.
Datang dari
sekolah, anak
asal Bangli
ini sudah
membawa keranjang
dan selempot
-- berfungsi
sebagai sanan yang
dikalungkan di
lehernya.
Sementara
ayahnya bertugas
mengurus kedua
adiknya di
rumah.
Wayan
Murni,
beda lagi.
Bocah
asal Munti,
Karangasem ini
mulanya sebagai
gepeng yang
meminta-minta di
seputaran Pasar
Badung.
Setelah beberapa kali
kena razia,
kini
ia
ikut-ikutan sebagai
tukang suwun.
Ternyata
pekerjaan barunya
itu mampu
membuatnya
bahagia dan
tak perlu
merasa waswas
lagi. "Sekarang
saya sudah
punya pekerjaan
tetap," katanya
malu-malu seraya
mengatakan
hasilnya cukup
untuk biaya
hidup.
Walau
bekerja di
seputaran debu
nan
kumuh, para
wanita itu
selalu tampil
rapi dan
bersih.
Bahkan
di antara
mereka ada
yang mengenakan
celana jeans dan
baju yang necis,
sehingga sukar
membedakan mana
saudagar dan
tukang suwun.
I Luh
misalnya, selalu
berpenampilan
rapi meski
nantinya bekerja
penuh dengan
peluh dan
debu. "Penampilan
harus dijaga
agar tidak kumal
dan kotor.
Kalau
sudah bersih,
orang tidak
akan merasa
jijik barangnya
diangkut,"
ucapnya.
Untuk bisa
tetap tampil
prima, para
wanita itu
mengaku tidak
mengonsumsi
makanan yang spesial.
Yang penting
ada nasi
dan sayur,
mereka sudah
bersyukur.
"Kalau membeli
makanan yang
mewah, mana
duitnya?" seloroh
I Luh.
Benar
juga ya?
Namun
yang jelas,
langkah para
tukang suwun
mesti tetap
berayun, bukan?
(ana)