kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Kliwon, 4 Nopember 2007 tarukan valas
 

OPINI


Kebiasaan Mencatut

SEBENTAR lagi Bali akan bertambah julukan sebagai "Pulau 1001 Malam". Pasalnya, sebuah diskusi di gedung Wiswa Sabha, Kantor Gubernur Bali, Selasa (30/10) lalu, menurut berita sebuah koran, menyetujui lokalisasi PSK di Bali. Rembug yang diprakarsai Wagub Bali, Alit Kusuma Kelakan, itu tidak saja diikuti para tokoh dan pakar, juga anggota DPRD beberapa kabupaten, Majelis Desa Pekraman (MDP), Sabha Walaka PHDI dan spiritualis Ashram Gandhi.

"Aku tidak tahu, ini kekaguman atau sinisme? Wacana lokalisasi PSK mendapat sokongan dari banyak elemen! Luar biasa, wacana lokalisasi seakan-akan sudah menjadi etos perjuangan yang melahirkan seorang pahlawan. Lazimnya perjuangan, apakah mereka yang menyokong disebut para patriot dan yang menentang disebut musuh atau pengkhianat?" ujar Rubag.

"Ternyata benar, kita telah melewati masa modern, kini sedang melangkah ke postmodernisme. Undang-undang, hukum, peraturan, norma dan etika agama yang mapan diterabas pragmatisme dengan dalih kesetaraan, kebebasan, demokrasi dan antikemunafikan. Dengan argumen bahwa sesuatu yang tidak terelakkan sebaiknya dibiarkan terjadi, meski harus melupakan sejarah dan tradisi. Bahkan kaum postmodernis radikal menganggap diri mereka tidak punya sejarah maupun tradisi, malah sedang membikin sejarah dan tradisinya sendiri. Masa lalu dan masa depan, bagi mereka, tidak ada, yang ada justru masa sekarang yang abadi," ujar Kudil.

"Wah, pantas di antara penyokong lokalisasi ada yang berkomentar, Bali jangan seperti kapal Titanic yang dianggap kokoh, tapi nyatanya tenggelam dengan mudah dan tinggal kenangan. Analogi itu dikaitkan dengan paparan seorang akademisi bergelar profesor yang juga pakar HIV-AIDS, bahwa ada 4.000 orang yang positif terjangkit AIDS di Bali. Di antara 7.500 PSK yang menjajakan kenikmatan seksual di pulau ini, 20 persen mengidap positif penyakit yang belum ada obatnya itu. Kondisi real ini, bagi mereka yang berdiskusi di Wiswa Sabha, dianggap tidak bisa dihindarkan, lalu opsi lokalisasi disetujui sebagai pamungkas. Gampang benar!"

"Kondisi real di zaman dulu yakni penjajahan Belanda dan Jepang, kenapa kok bisa dilawan para pendahulu kita, ya? Senapan otomatis, tank dan pesawat tempur dihadapi bambu runcing, ternyata bisa merdeka. Begitu tutur para orangtua dan dibuktikan film-film dokumenter yang dulu sering diputar di bioskop-bioskop sebagai film ekstra sebelum film utama diputar, namun kini jarang disuguhkan kembali. Mungkin karena pengaruh postmo seperti dituturkan Kudil. Sejarah lampau dilupakan, mereka bikin sejarah dan tradisi sendiri  dipandu hedonisme dan konsumerisme. Bahkan kini, ketika kemiskinan dan pengangguran beranak-pinak, prostitusi diprioritaskan," papar Lonjong.

"Mungkin itu hikmah sebuah sebutan! Ketika masih disebut lonte, sundal, pelacur, wanita nakal hingga Wanita Tuna Susila (WTS), para pelaku promiskuitas atau hubungan seksual tanpa ikatan ini, masih diuber 'sial' karena sering diburu petugas. Nah, terakhir saat disebut Penjaja Seks Komersial (PSK), yang kedengaran mirip-mirip wiraswasta, gagasan lokalisasi justru terlontar di Bali. Umpama telor, yang ketika bernama telor goreng atau telor rebus masih dianggap makanan buruh, namun saat disebut omellete dan disajikan di hotel-hotel berbintang, jadi makanan borju. Padahal, disebut apa pun, telor tetap telor!" sahut Kacong.

"Itulah pencitraan yang jadi ciri khas postmo! Permukaan lebih dipentingkan daripada kedalaman, bentuk lebih diutamakan dibanding isi. Kini orang tak perlu memikirkan masa lalu, apalagi memahami masa depan, karena hasil nyata untuk masa sekarang jauh lebih penting. Seperti pernah didendangkan Gito Rollies, 'hari ini untuk hari ini, hari esok, itu soal nanti...' Pragmatisme menerabas seluruh sektor kehidupan, sehingga salah satu penyakit sosial yang bernama prostitusi direduksi hingga pemaparan bahaya HIV-AIDS dan dianggap bisa diatasi dengan lokalisasi. Soal efek moralitas yang diakibatkan lokalisasi terhadap lingkungan masyarakatnya, dianggap terlalu ribet untuk dipikirkan," komentar Kudil.

"Dengan lokalisasi, kegiatan para penjaja lendir, kata Alit Kelakan, tak seperti sekarang, dimana keberadaan PSK tidak diakui, namun banyak 'pegawai berbaju dinas' minta uang. Tidak dijelaskan, apakah yang dimaksud pegawai berbaju dinas itu, oknum petugas yang sering mengompas para PSK, sehingga sulit diberantas? Kita semua paham, apa pun yang dilarang, pelanggarnya bukan makin berkurang, justru tambah banyak. Makanya kini tidak aneh lagi kalau peredaran narkoba, kita dengar, dikendalikan dari balik dinding penjara," tutur Rubag.

"Ya, kira-kira semua penyakit sosial yang sulit dipecahkan masalahnya, akan menunggu antrean untuk direduksi seperti lokalisasi dalam prostitusi. Misalnya, judi dilarang, tapi kenyataannya tetap ada dan malah marak. Kasino diusulkan, seperti terlontar beberapa tahun silam, akan dicarikan jalan keluar dengan alasan-alasan yang terdengar masuk akal.  Daripada mereka sembunyi-sembunyi, dalihnya, lebih baik diizinkan saja agar agar PAD menggelembung. Atau kalau mereka berjudi ke Makao, Genting Highland dan Las Vegas, akan menguras devisa, sebaiknya dibuka saja kasino di Bali. Pun striptease, sex orgy, bahkan kampung nudis. Tidak tertutup kemungkinan, Beirut yang pernah kesohor disebut Kota 1001 Malam, namun kini dilanda perang saudara, akan pindah nuansanya ke Bali. Mungkin ada pula yang tidak keberatan bila nama Bali diganti dengan Balirut," tambah Kacong.

"Kalau khayalanmu yang ekstrem itu jadi kenyataan, analogi kapal Titanic justru tidak relevan. Dia justru tenggelam sebelum sempat berlayar, karena para ABK-nya melubangi dek-dek dasar kapal dengan prostitusi, kasino, narkoba, HIV- AIDS, korupsi, dll, yang kau sebut 'jalan keluar' itu. Jika usul tentang lokalisasi yang diklaim sebagai aspirasi banyak elemen itu benar-benar dibawa ke DPRD Bali dan lolos, aku khawatir akan terjadi goncangan sosial. Mungkin lebih hebat dari Bom Bali 1 dan 2. Berapa sih jumlah mereka yang berkumpul di Wiswa Sabha itu? Apakah mereka berhak mengatasnamakan aspirasi mayoritas rakyat Bali?" tanya Lonjong.

"Ah, Dewa Ngurah Swastha yang anggota MDP Bali saja seperti marah besar ketika kukirimi SMS tentang persetujuan atas lokalisasi PSK itu. Dia yang mengaku berada di Jakarta saat rembug di Wiswa Sabha dilaksanakan, berkomentar, 'Mereka yang setuju itu pasti bukan berdarah Bali. MDP sebagai lembaga jelas tidak setuju, mungkin ada oknum congek yang setuju. Harus dilawan, apa pun pertimbangannya!" Malah rekannya di lembaga yang sama, A.A. Ngurah Arnawa, mengatakan tak tahu menahu masalah lokalisasi itu. Inilah kebiasaan mencatut yang sudah mendarah daging, bukan hanya uang, nama rakyat pun dicatut. Capeekkk deh!" sela Rubag.* aridus

 

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com