kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Paing, 11 Nopember 2007 tarukan valas
 

SOROT


Pekik Patung Pahlawan di Tengah Kebisingan

DI tengah-tengah keramaian dan kebisingan lalu-lintas Kota Denpasar, para pahlawan dalam wujud patung-patung itu tetap mememikkan teriak sepanjang hari. Namun, adakah teriak itu didengar orang? Terlepas dari itu, sang patung pahlawan tersebut sepertinya tak peduli. Ia berdiri tegap, menatap angkasa, di setiap persimpangan jalan.

Di samping untuk menghormati jasa para pejuang, patung-patung itu sekaligus menjadi identitas Denpasar sebagai ibukota Propinsi Bali. Masuk Denpasar dari utara, di persimpangan Jalan Gatot Subroto dan Cokroaminoto, berdiri patung Mayor I Gusti Bagus Sugianyar. Patung ini dibangun pada 4 Agustus 1994 ini. Lalu, ada patung Kapten Cokorda Agung Tresna di persimpangan Jalan Gatot Subroto dan Nangka, dibangun pada 31 Desember 1993. Sementara patung Letnan Ida Bagus Putu Djapa, dibangun 20 November 1996, terletak di persimpangan Jalan Raya Puputan dan Hayam Wuruk.

Di jantung Kota Denpasar, berdiri patung Perang Puputan Badung, dengan visualisasi pejuang laki-perempuan Bali yang menghunus keris dan membawa tombak. Patung ini dibangun pada 20 September 1979, bertepatan dengan perayaan peringatan ke-73 tahun Perang Puputan Badung. Sedangkan untuk mengenang jasa prajurit gagah berani I Gusti Ngurah Rai, dibuatkan patung di daerah Tuban, dekat Bandara Ngurah Rai.

Idealnya, di samping memperindah perwajahan kota, patung-patung para pahlawan itu diperuntukkan sebagai media sejarah bagi generasi muda. Lewat patung-patung itu, diharapkan spirit kepahlawanan dan nasionalisme generasi muda bisa dibangkitkan.

Untuk patung Ngurah Rai di Tuban, salah seorang warga masyarakat yang tinggal di seputaran patung itu mengatakan, patung itu mendapat perhatian khusus dari masyarakat terutama anak-anak. Sekitar areal bangunan patung itu sering dijadikan sebagai tempat untuk berfoto-foto. Banyak pula yang memanfaaatkan sebagai tempat bersantai, bersenda gurau bersama keluarga, menyaksikan pesawat mendarat di bandara, sampai sekadar menonton kerlap-kerlip lampu di sepanjang penglihatan serta kendaraan bermotor di malam hari. Tak hanya masyarakat setempat yang tertarik duduk-duduk di sana, banyak juga siswa yang bertamasya, terlebih pada liburan, menyempatkan diri untuk mampir ke sana.

 

Dua Fungsi

I Made Adi Smita, mahasiswa Fakultas Seni Rupa Murni jurusan patung ISI Denpasar, mengatakan patung yang berdiri di jalan-jalan itu memiliki dua fungsi yaitu sebagai monumen untuk penghormatan bagi para pahlawan dan sebagai "pengatur" lalu lintas. "Kalau patung itu berfungsi untuk monumen saja, berarti salah mendirikan di tengah jalan. Patung itu juga sebagai pengatur lalu lintas," katanya seraya menambahkan, patung-patung itu memang mampu membangkitkan rasa nasionalisme anak muda sekarang.

Ni Made Dhianari, mahasiswi jurusan Sastra Inggris Unud mengatakan, patung-patung pahlawan di tempat-tempat umum itu tidak hanya memperindah kota, juga sebagai media pembelajaran bagi siswa dan mahasiswa. "Patung pahlawan perlu diletakkan di tempat strategis. Selain untuk mengenang peristiwa, juga dapat membangun semangat," ujarnya. Ditambahkannya, hanya saja perlu dibuatkan penataan yang lebih rapi, lengkapi dengan katalog, sehingga orang paham.

Sementara Drs. Ketut Murdana, M.Sn., Pembantu I Rektor ISI Denpasar mengatakan, patung pahlawan itu untuk membangun spirit bahwa masyarakat Bali memiliki semangat heroik yang cukup tinggi di dalam mempertahankan wilayahnya. "Kalau bisa difokuskan di masing-masing kota, konsep ini akan dapat memberikan suatu kepercayaan pada generasi muda berikutnya. Perlu ditata dan ditegaskan di situ, yang mana pahlawan, yang mana bersifat simbol, agar pemahamannya tidak kacau," katanya.

Murdana juga mengatakan, perlu dilakukan penataan yang lebih rapi dengan membuatkan katalog, sehingga masyarakat betul-betul diajar secara konseptual. "Patung-patung itu juga bisa sebagai pengembangan city tour atau pariwisata budaya. Jadi di situ, katalog itu perlu. Sekarang tidak ada yang menjelaskan, patungnya hanya dipajang begitu saja, sehingga terjadi persepsi yang berbeda-beda," tuntasnya.

Namun yang jelas, di tengah kebisingan dan keseharian kota, di bawah terik dan hujan, patung-patung itu tetap meneriakkan yel-yel spirit kemerdekaan dan nasionalisme dengan gagahnya. Semoga ada yang mau mendengar. (ana)

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

CUACA

www.bali-travelnews.com