Pekik Patung Pahlawan di Tengah Kebisingan
DI
tengah-tengah keramaian dan kebisingan lalu-lintas Kota Denpasar,
para pahlawan dalam wujud patung-patung itu tetap mememikkan
teriak sepanjang hari. Namun, adakah teriak itu didengar orang?
Terlepas dari itu, sang patung pahlawan tersebut sepertinya tak
peduli. Ia berdiri tegap, menatap angkasa, di setiap persimpangan
jalan.
Di samping untuk menghormati jasa para pejuang, patung-patung itu
sekaligus menjadi identitas Denpasar sebagai ibukota Propinsi
Bali. Masuk Denpasar dari utara, di persimpangan Jalan Gatot
Subroto dan Cokroaminoto, berdiri patung Mayor I Gusti Bagus
Sugianyar. Patung ini dibangun pada 4 Agustus 1994 ini. Lalu, ada
patung Kapten Cokorda Agung Tresna di persimpangan Jalan Gatot
Subroto dan Nangka, dibangun pada 31 Desember 1993. Sementara
patung Letnan Ida Bagus Putu Djapa, dibangun 20 November 1996,
terletak di persimpangan Jalan Raya Puputan dan Hayam Wuruk.
Di jantung Kota Denpasar, berdiri patung Perang Puputan Badung,
dengan visualisasi pejuang laki-perempuan Bali yang menghunus
keris dan membawa tombak. Patung ini dibangun pada 20 September
1979, bertepatan dengan perayaan peringatan ke-73 tahun Perang
Puputan Badung. Sedangkan untuk mengenang jasa prajurit gagah
berani I Gusti Ngurah Rai, dibuatkan patung di daerah Tuban, dekat
Bandara Ngurah Rai.
Idealnya, di samping memperindah perwajahan kota, patung-patung
para pahlawan itu diperuntukkan sebagai media sejarah bagi
generasi muda. Lewat patung-patung itu, diharapkan spirit
kepahlawanan dan nasionalisme generasi muda bisa dibangkitkan.
Untuk patung Ngurah Rai di Tuban, salah seorang warga masyarakat
yang tinggal di seputaran patung itu mengatakan, patung itu
mendapat perhatian khusus dari masyarakat terutama anak-anak.
Sekitar areal bangunan patung itu sering dijadikan sebagai tempat
untuk berfoto-foto. Banyak pula yang memanfaaatkan sebagai tempat
bersantai, bersenda gurau bersama keluarga, menyaksikan pesawat
mendarat di bandara, sampai sekadar menonton kerlap-kerlip lampu
di sepanjang penglihatan serta kendaraan bermotor di malam hari.
Tak hanya masyarakat setempat yang tertarik duduk-duduk di sana,
banyak juga siswa yang bertamasya, terlebih pada liburan,
menyempatkan diri untuk mampir ke sana.
Dua Fungsi
I Made Adi Smita, mahasiswa Fakultas Seni Rupa Murni jurusan
patung ISI Denpasar, mengatakan patung yang berdiri di jalan-jalan
itu memiliki dua fungsi yaitu sebagai monumen untuk penghormatan
bagi para pahlawan dan sebagai "pengatur" lalu lintas. "Kalau
patung itu berfungsi untuk monumen saja, berarti salah mendirikan
di tengah jalan. Patung itu juga sebagai pengatur lalu lintas,"
katanya seraya menambahkan, patung-patung itu memang mampu
membangkitkan rasa nasionalisme anak muda sekarang.
Ni Made Dhianari, mahasiswi jurusan Sastra Inggris Unud
mengatakan, patung-patung pahlawan di tempat-tempat umum itu tidak
hanya memperindah kota, juga sebagai media pembelajaran bagi siswa
dan mahasiswa. "Patung pahlawan perlu diletakkan di tempat
strategis. Selain untuk mengenang peristiwa, juga dapat membangun
semangat," ujarnya. Ditambahkannya, hanya saja perlu dibuatkan
penataan yang lebih rapi, lengkapi dengan katalog, sehingga orang
paham.
Sementara Drs. Ketut Murdana, M.Sn., Pembantu I Rektor ISI
Denpasar mengatakan, patung pahlawan itu untuk membangun spirit
bahwa masyarakat Bali memiliki semangat heroik yang cukup tinggi
di dalam mempertahankan wilayahnya. "Kalau bisa difokuskan di
masing-masing kota, konsep ini akan dapat memberikan suatu
kepercayaan pada generasi muda berikutnya. Perlu ditata dan
ditegaskan di situ, yang mana pahlawan, yang mana bersifat simbol,
agar pemahamannya tidak kacau," katanya.
Murdana juga mengatakan, perlu dilakukan penataan yang lebih rapi
dengan membuatkan katalog, sehingga masyarakat betul-betul diajar
secara konseptual. "Patung-patung itu juga bisa sebagai
pengembangan city tour atau pariwisata budaya. Jadi di situ,
katalog itu perlu. Sekarang tidak ada yang menjelaskan, patungnya
hanya dipajang begitu saja, sehingga terjadi persepsi yang
berbeda-beda," tuntasnya.
Namun yang jelas, di tengah kebisingan dan keseharian kota, di
bawah terik dan hujan, patung-patung itu tetap meneriakkan yel-yel
spirit kemerdekaan dan nasionalisme dengan gagahnya. Semoga ada
yang mau mendengar. (ana)