kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Paing, 11 Nopember 2007 tarukan valas
 

OPINI


''Mimetic Immune Defiency Syndrome''

HUJAN kata-kata, khususnya di Bali, lebih lebat dari cucuran air dari langit di musim hujan ini. Mulai dari isu politik uang menjelang Pilgub Bali 2008, disambung soal keamanan menyambut KTT Perubahan Cuaca di Nusa Dua, menyusul rencana perpanjangan runway Bandara Ngurah Rai yang pendapatannya semua lari ke Jakarta. Sebelum masyarakat memahami segala isu, terlontar lagi gagasan lokalisasi PSK di Bali, diramaikan ide kasino.

"Kebebasan mengeluarkan pendapat, bebas dari rasa takut dan bebas berserikat, dianggap inti demokrasi. Konsekuensi dari semua itu adalah kebisingan, kengerian dan kebingunganBising karena semua orang bicara, sementara di antaranya ada yang tak paham apa yang diucapkan. Ngeri karena saat kata-kata habis, kekerasan dan anarkhi menjadi penggantinyaBingung, disebabkan lenyapnya kepercayaan terhadap siapa pun. Sebab, kebohongan dan kemunafikan telah jadi iklim, sehingga kejujuran dan keterusterangan dianggap tidak lazim Janji dan sumpah disamakan dengan berludah. Memang lidah tak bertulang, tak terbatas kata-kata. Tinggi gunung seribu janji, lain di mulut lain di hati..," senandung Rubag di akhir argumennya.

"Kujadi gubernur tak kan lama, hanya lima tahun saja. Lima tahun tak lama, hanya sekejap saja, kita kan berjumpa lagi...," sambung Kudil.

"Ya, setelah lima tahun, berjumpa lagi dengan para pendukung yang pernah dibayar agar bisa nambah lima tahun lagi. Mendengar modifikasi lagu lama tadi, kalian berdua, bagikuikut menyebar virus akal budi yang disebut 'meme' oleh Richard Brodie. 'Meme' berasal dari memetika yakni tindakan meniru yang cuma talenta khas manusia. Akal budi jadi kendaraan meme, setelah otak mencapai tingkat perkembangan tertentu, sehingga bukan hanya meniru, juga menggandakan dan memperbarui apa yang diterima dan diserapnya. Kebisingan akibat berseliwernya lalu-lintas kata-kata, baik berupa teori, gosip, kebohongan, fakta, fiksi dan misteri tak bisa dilepaskan dari hasil kerja meme itu," papar Lonjong.

"Baiklah, namun bila virus akal budi itu menyerang manusia-manusia kritis, meme tidak akan mampu memperbudak akal budinya. Mereka akan menunda untuk percaya, apa yang didengar dan dilihat, selanjutnya mendekonstruksi, seperti lagu yang aku modifikasi setelah mendengar lirik asli yang didendangkan Rubag. Mereka tidak melahap begitu saja isu dan janji dalam kampanye politik, seperti ikan-ikan kelaparan di kolam. Bisa jadi, bagi mereka, itu portas yang dibalut lemper. Mereka harus curiga terhadap orang-orang yang menunjukkan keramahan dan kedermawanan. Kata-kata manis yang ditebar dan dana punia yang dibagikan, bisa jadi merupakan kesengsaraan yang harus mereka tanggung selama lima tahun berikutnya. Begitu pula untuk menyukseskan gagasan semisal prostitusi dan kasino, diikutsertakannya para pakar untuk mewacanakan teologi pembenaran, mereka sangsikan validitasnya."

"Mendengar ulasan Lonjong tentang meme, aku teringat singkatan MIDS dari Thomas L. Friedman. Untuk menundukkan dunia, kaum globalis menyusupkan virus anti-nasionalisme, amnesia sejarah dan perusak tradisi lewat microchips. Mirip seperti AIDS yang menggerogoti kekebalan tubuh, Microchips Immune Deficiency Syndrome (MIDS) menyerang otak atau pikiran. Televisi, radio, internet dan telepon seluler yang disebut kelompok elektronika adalah sarana yang digunakan untuk menyebar virus itu. Meme, juga disebarkan lewat saluran elektronika, di samping melalui komunikasi langsung dengan komprador globalisasi, sehingga MIDS juga bisa dibaca Mimetic Immune Deficiency Syndrome. Akibatnya, nyaris semua hal yang terjadi di Barat ditiru dan dipraktikkan di sini," ujar Rubag.

"Persis! Bila di Barat, Greg Palast mengomentari kemenangan Walker Bush atas Al Gore pada Pemilu 2000 sebagai 'The Best Democracy Money Can Buy', di sini politik uang dalam Pilkada pun bukan rahasia lagi. Demokrasi bukan lagi masalah pilihan tapi bayaran, sehingga Pemilu diplesetkan jadi Pemilihan Uang! Ada kasus, seorang gubernur menolak disuruh membalas budi untuk mendukung pasangan Cabup dan Cawabup Pilkada 2008, yang didukung parpol yang juga pernah mendukungnya ke singgasana. Lalu, di koran terpapar, dia telah membagikan Rp 50 juta per orang bagi anggota DPRD yang mendukung dirinya pada Pilkada 2003. Ini pelajaran buat masyarakat yang terlibat money politic dalam pemilihan langsung, bahwa mereka tidak berhak lagi menuntut apa pun dari orang yang pernah didukungnya, karena suara mereka sudah dibeli," kilah Kudil.

"RUU dan Ranperda pun sering dicurigai sebagai ladang uang bagi yang berhak meloloskannya. Ini juga contoh yang ditiru dari Barat. Biasanya, RUU atau Ranperda yang 'basah' diusulkan pihak-pihak yang berkepentingan dalam bisnis tertentu di suatu daerah. Buat menyusun legal draftnya, disewalah pakar hukum yang piawai ikhwal kebijakan publik dan agar draft itu lolos jadi aturan resmi, maka perlu 'dikawal'. Tentu pengawalnya bukan pasukan khusus, tapi beberapa koper uang. Nah, masyarakat Bali harus waspada terhadap isu prostitusi dan kasino!"

"Meme tidak selalu bersifat negatif! Budaya, tradisi bahkan agama bisa bertahan hingga ribuan tahun, berkat meme yang analog dengan gen, yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Meme adalah unsur dasar peniruan atau penyebaran budaya, bahkan juga cerminan pengetahuan yang tersimpan di akal budi kita. Meme, tak terlepas dari rwa bhineda, di samping segi bagusnya ada juga unsur jeleknyaMisalnya, rating tinggi untuk tayangan mistik, kekerasan dan gosip di TV, juga maraknya perkembangan fundamentalisme, karena pengaruh meme berunsur negatif. Tapi untuk waspada terhadap cukong yang mendompleng isu prostitusi dan kasino, agaknya dicurigai bahkan dituduh terjangkit virus akal budi pun, tidak masalah!" tandas Lonjong.

"Ya, Bali ini sudah digerogoti dari berbagai sektor. Di samping geologinya yang strategis dikuasai para investor, teologi dan kosmogoninya kini terancam sekularisme kapitalis. Orang boleh berteriak 'no!' atau 'harga mati!' pada prostitusi dan kasino, namun kalau investor masih didewa-dewakan, apalagi pemerintah masih terikat pada Program Penyesuaian Struktural (Structural Adjusment Programme/SAP) IMF, teriakan akan mubazir karena diterima telinga-telinga tuli. Sebab, SAP yang disetujui setiap ngamprah utang luar negeri, mengharuskan pemerintah membuka pasar dan menerima segala jenis investasi. Terlebih neoliberalme mengharuskan tradisi, budaya, bahkan agama minggir bila buldozer kapitalisme menerobos," kilah Rubag.

"Di swalayan pun semua barang dijual dengan harga mati alias tak boleh ditawar. Tapi ada kalanya, ketika barang-barang lama tidak laku, harga merosot dan dijual dengan 70% off.  Aku khawatir Bali akan mengalami kemerosotan seperti itu, melihat tanda-tanda yang muncul belakangan ini. Itu lho, gagasan kasino dan lokalisasi PSK dilontarkan orang Bali sendiri, yang mungkin terjangkit MIDS," cetus Kudil.

* aridus

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com