''Mimetic Immune
Defiency Syndrome''
HUJAN kata-kata,
khususnya di
Bali, lebih
lebat dari
cucuran air dari
langit di
musim hujan
ini. Mulai
dari isu
politik uang
menjelang Pilgub
Bali 2008, disambung
soal keamanan
menyambut KTT
Perubahan Cuaca
di Nusa
Dua, menyusul
rencana
perpanjangan runway Bandara
Ngurah Rai
yang pendapatannya
semua lari
ke Jakarta.
Sebelum masyarakat
memahami segala
isu, terlontar
lagi gagasan
lokalisasi PSK di
Bali, diramaikan
ide kasino.
"Kebebasan
mengeluarkan pendapat,
bebas dari
rasa takut
dan bebas
berserikat,
dianggap inti
demokrasi.
Konsekuensi dari
semua itu
adalah kebisingan,
kengerian dan
kebingungan.
Bising karena
semua orang
bicara, sementara
di antaranya
ada yang tak
paham apa
yang diucapkan.
Ngeri karena
saat kata-kata
habis, kekerasan
dan anarkhi
menjadi
penggantinya. Bingung,
disebabkan
lenyapnya kepercayaan
terhadap siapa
pun. Sebab,
kebohongan dan
kemunafikan telah
jadi iklim,
sehingga
kejujuran dan
keterusterangan
dianggap tidak
lazim.
Janji dan
sumpah disamakan
dengan berludah.
Memang lidah
tak bertulang,
tak terbatas
kata-kata. Tinggi
gunung seribu
janji, lain di
mulut lain di
hati..,"
senandung Rubag
di akhir
argumennya.
"Kujadi gubernur
tak kan
lama, hanya lima
tahun saja. Lima
tahun tak
lama, hanya
sekejap saja,
kita kan
berjumpa lagi...,"
sambung Kudil.
"Ya, setelah
lima tahun,
berjumpa lagi
dengan para
pendukung yang
pernah dibayar agar
bisa nambah
lima tahun lagi.
Mendengar
modifikasi lagu lama
tadi, kalian
berdua, bagiku,
ikut menyebar
virus akal budi
yang disebut 'meme'
oleh Richard
Brodie. 'Meme' berasal
dari memetika
yakni tindakan
meniru yang cuma
talenta khas
manusia. Akal
budi jadi
kendaraan meme,
setelah otak
mencapai tingkat
perkembangan
tertentu, sehingga
bukan hanya
meniru, juga
menggandakan dan
memperbarui apa
yang diterima dan
diserapnya.
Kebisingan akibat
berseliwernya
lalu-lintas kata-kata,
baik berupa
teori, gosip,
kebohongan, fakta,
fiksi dan
misteri tak
bisa dilepaskan
dari hasil
kerja meme itu,"
papar Lonjong.
"Baiklah, namun
bila virus akal
budi itu
menyerang
manusia-manusia kritis, meme
tidak akan
mampu memperbudak
akal budinya.
Mereka akan
menunda untuk
percaya, apa
yang didengar dan
dilihat,
selanjutnya mendekonstruksi,
seperti lagu
yang aku
modifikasi setelah
mendengar lirik
asli yang
didendangkan Rubag.
Mereka tidak
melahap begitu
saja isu
dan janji
dalam kampanye
politik, seperti
ikan-ikan
kelaparan di
kolam. Bisa
jadi, bagi
mereka, itu
portas yang
dibalut lemper.
Mereka harus
curiga terhadap
orang-orang yang
menunjukkan keramahan
dan kedermawanan.
Kata-kata manis
yang ditebar dan
dana punia
yang dibagikan,
bisa jadi
merupakan kesengsaraan yang
harus mereka
tanggung selama
lima tahun
berikutnya. Begitu pula
untuk
menyukseskan gagasan
semisal
prostitusi dan
kasino,
diikutsertakannya para
pakar untuk
mewacanakan
teologi pembenaran,
mereka sangsikan
validitasnya."
"Mendengar ulasan
Lonjong tentang
meme, aku
teringat singkatan MIDS
dari Thomas L. Friedman.
Untuk menundukkan
dunia, kaum
globalis
menyusupkan virus anti-nasionalisme,
amnesia sejarah
dan perusak
tradisi lewat
microchips. Mirip
seperti AIDS yang menggerogoti
kekebalan tubuh,
Microchips Immune Deficiency Syndrome (MIDS)
menyerang otak
atau pikiran.
Televisi, radio, internet
dan telepon
seluler yang
disebut kelompok
elektronika
adalah sarana yang
digunakan untuk
menyebar virus
itu. Meme, juga
disebarkan lewat
saluran
elektronika, di
samping melalui
komunikasi
langsung dengan
komprador
globalisasi, sehingga MIDS
juga bisa
dibaca Mimetic Immune Deficiency
Syndrome. Akibatnya,
nyaris semua
hal yang terjadi
di Barat
ditiru dan
dipraktikkan di
sini," ujar
Rubag.
"Persis! Bila
di Barat,
Greg Palast
mengomentari kemenangan Walker
Bush atas Al Gore
pada Pemilu 2000
sebagai 'The Best Democracy Money Can
Buy', di sini
politik uang
dalam Pilkada
pun bukan rahasia
lagi. Demokrasi
bukan lagi
masalah pilihan
tapi bayaran,
sehingga Pemilu
diplesetkan jadi
Pemilihan Uang!
Ada kasus,
seorang gubernur
menolak disuruh
membalas budi
untuk mendukung
pasangan Cabup
dan Cawabup
Pilkada 2008, yang
didukung parpol
yang juga pernah
mendukungnya ke
singgasana. Lalu,
di koran
terpapar, dia
telah membagikan
Rp 50 juta
per orang bagi
anggota DPRD yang
mendukung dirinya
pada Pilkada
2003. Ini
pelajaran buat
masyarakat yang
terlibat money politic dalam
pemilihan
langsung, bahwa
mereka tidak
berhak lagi
menuntut apa
pun dari orang
yang pernah
didukungnya, karena
suara mereka
sudah dibeli,"
kilah Kudil.
"RUU dan Ranperda
pun sering
dicurigai sebagai
ladang uang
bagi yang berhak
meloloskannya.
Ini juga
contoh yang ditiru
dari Barat.
Biasanya, RUU
atau Ranperda yang 'basah'
diusulkan
pihak-pihak yang berkepentingan
dalam bisnis
tertentu di
suatu daerah.
Buat menyusun
legal draftnya,
disewalah pakar
hukum yang piawai
ikhwal kebijakan
publik dan
agar draft itu
lolos jadi
aturan resmi,
maka perlu
'dikawal'. Tentu
pengawalnya bukan
pasukan khusus,
tapi beberapa
koper uang.
Nah, masyarakat Bali
harus waspada
terhadap isu
prostitusi dan
kasino!"
"Meme tidak
selalu bersifat
negatif! Budaya,
tradisi bahkan
agama bisa
bertahan hingga
ribuan tahun,
berkat meme yang analog
dengan gen,
yang diwariskan
secara turun
temurun dari
generasi ke
generasi. Meme
adalah unsur
dasar peniruan
atau penyebaran
budaya, bahkan
juga cerminan
pengetahuan yang
tersimpan di
akal budi
kita. Meme, tak
terlepas dari
rwa bhineda,
di samping
segi bagusnya
ada juga
unsur jeleknya.
Misalnya, rating
tinggi untuk
tayangan mistik,
kekerasan dan
gosip di
TV, juga maraknya
perkembangan
fundamentalisme, karena
pengaruh meme
berunsur negatif.
Tapi untuk
waspada terhadap
cukong yang
mendompleng isu
prostitusi dan
kasino, agaknya
dicurigai bahkan
dituduh
terjangkit virus akal
budi pun, tidak
masalah!" tandas
Lonjong.
"Ya, Bali ini
sudah digerogoti
dari berbagai
sektor. Di
samping
geologinya yang strategis
dikuasai para
investor, teologi
dan kosmogoninya
kini terancam
sekularisme
kapitalis. Orang
boleh berteriak
'no!' atau 'harga
mati!' pada
prostitusi dan
kasino, namun
kalau investor
masih didewa-dewakan,
apalagi
pemerintah masih
terikat pada
Program Penyesuaian
Struktural (Structural
Adjusment
Programme/SAP) IMF, teriakan
akan mubazir
karena diterima
telinga-telinga
tuli. Sebab, SAP yang
disetujui setiap
ngamprah utang
luar negeri,
mengharuskan
pemerintah membuka
pasar dan
menerima segala
jenis investasi.
Terlebih
neoliberalme mengharuskan
tradisi, budaya,
bahkan agama
minggir bila
buldozer
kapitalisme menerobos,"
kilah Rubag.
"Di swalayan
pun semua barang
dijual dengan
harga mati
alias tak boleh
ditawar. Tapi
ada kalanya,
ketika
barang-barang lama tidak
laku, harga
merosot dan
dijual dengan
70% off. Aku
khawatir Bali
akan mengalami
kemerosotan
seperti itu,
melihat
tanda-tanda yang muncul
belakangan ini.
Itu lho,
gagasan kasino
dan lokalisasi
PSK dilontarkan
orang Bali sendiri, yang
mungkin
terjangkit MIDS," cetus
Kudil.
* aridus