Eka Pranita Dewi
Malam, Kcemasan dan Jembatan Putus
IA BERNAMA MALAM.
Ia bernama kegelisahan-kegelisahan dari waktu yang tak
tertunda, jalan-jalan penuh layang-layang yang nyangkut
seperti kehilangan kenangan dua orng bocah yang meraba jalan
di jembatan yang putus sesubuh ini. Sedingin cuaca.
Satu dua jalanan, ia menamakannya malam seperti
hari yang tumbuh dan bercelah menuju pintu masuk yang
menunggumu itu. Kau yang melangkah pergi, ia yang tak bisa
mengelak lagi. Sebuah riuh, tampak seperti puluhan teka teki
di bibirmu. Malam yang begitu-begitu saja, malam yang tampak
sama ketika dua orang lelaki hilang di simpang jalan, tak
ingin berbagi dengan lengang, tak ingin sendirian. Cemara
itupun bergegas ketika lelaki tua merasa masa muda tak lagi
hinggap di jarinya, seperti potret prajurit-prajurit tua yang
malang, yang diam-diam menunggu datangnya musuh di balik semak
yang ragu-ragu menimbulkan bayanganmu itu. Di hamparan waktu
yang lain, ada yang terlihat, seperti kisah kura-kura dari
negeri seberang, ia tak tahu entah mencari apa. Ia mengakhiri
segalanya, kecuali cemas yang rambatkan diri menjadi
pelita-pelita asing yang menunggumu dalam gelap itu. Kita tak
tahu, kita kehilangan apa-apa. Lalu timbul duka, lalu timbul
air mata, timbul gelisah yang itu-itu juga, matamu menyimpan
duka, hidupmu hanya tanda tanya, di jendela kita kehilangan
arah, kita tak tahu juga siapa kita.
SESUBUH INI, di jembatan yang putus ini,
kubayangkan hidupku yang putus terbang serupa layang-layang
lalu nyangkut di jendela pintu rumahmu. Kau yang tak terbuka,
kau yang dalam gelap menyaksikan aku seperti duka ke seribu,
langit yang penuh cemas, waktu yang tak sempat berpetualang.
Diam-diam ia datang, prajurit-prajurit itu datang seperti
mengalirkan lagi kepada setiap yang tertidur di mata ibu.
Semua yang tak tampak, adalah seberkas jaring kaca yang tak
terlihat lagi, bisikan demi bisikan mengakhiri kita dengan
penuh nyanyian-nyanyian luka, yang menghidari segalanya, yang
jauh, yang tak terlihat itu.
Kura-kura itu mengira dirinya tak ada, padahal
ia ada, padahal ia ingin memberikan satu-satu mutiara di sudut
jendela tua kita yang ragu-ragu seperti menyimpan berbagai
kecemasan dari mata ibu. Langit yang senantiasa murung, awam
yang kelabu mengakhiri kisah kita yang ungu jadi tarian waktu
yang rambat di kaca jendela, yang tak juga mengakhiri apa.
KITA tiba di kecemasan demi kecemasan, matahari
yang tak sepenuhnya menyisakan tangis lagi bagi kehilangan
kita, kita muncul begitu rupa dalam wajahnya yang kelabu
membayangkan angan-angan di belakang kita yang masih tampak
ragu, masih tampak ragu-ragu. Di jembatan yang putus ini
-sesubuh ini- kurindukan duniaku, ku lepas hidupku, kutemukan
Ia, sebuah malam-malam di jembatan putus, penuh cemas.