kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Paing, 11 Nopember 2007 tarukan valas
 

APRESIASI


Eka Pranita Dewi
Malam, Kcemasan dan Jembatan Putus

IA BERNAMA MALAM. Ia bernama kegelisahan-kegelisahan dari waktu yang tak tertunda, jalan-jalan penuh layang-layang yang nyangkut seperti kehilangan kenangan dua orng bocah yang meraba jalan di jembatan yang putus sesubuh ini. Sedingin cuaca.

Satu dua jalanan, ia menamakannya malam seperti hari yang tumbuh dan bercelah menuju pintu masuk yang menunggumu itu. Kau yang melangkah pergi, ia yang tak bisa mengelak lagi. Sebuah riuh, tampak seperti puluhan teka teki di bibirmu. Malam yang begitu-begitu saja, malam yang tampak sama ketika dua orang lelaki hilang di simpang jalan, tak ingin berbagi dengan lengang, tak ingin sendirian. Cemara itupun bergegas ketika lelaki tua merasa masa muda tak lagi hinggap di jarinya, seperti potret prajurit-prajurit tua yang malang, yang diam-diam menunggu datangnya musuh di balik semak yang ragu-ragu menimbulkan bayanganmu itu. Di hamparan waktu yang lain, ada yang terlihat, seperti kisah kura-kura dari negeri seberang, ia tak tahu entah mencari apa. Ia mengakhiri segalanya, kecuali cemas yang rambatkan diri menjadi pelita-pelita asing yang menunggumu dalam gelap itu. Kita tak tahu, kita kehilangan apa-apa. Lalu timbul duka, lalu timbul air mata, timbul gelisah yang itu-itu juga, matamu menyimpan duka, hidupmu hanya tanda tanya, di jendela kita kehilangan arah, kita tak tahu juga siapa kita.

SESUBUH INI, di jembatan yang putus ini, kubayangkan hidupku yang putus terbang serupa layang-layang lalu nyangkut di jendela pintu rumahmu. Kau yang tak terbuka, kau yang dalam gelap menyaksikan aku seperti duka ke seribu, langit yang penuh cemas, waktu yang tak sempat berpetualang. Diam-diam ia datang, prajurit-prajurit itu datang seperti mengalirkan lagi kepada setiap yang tertidur di mata ibu. Semua yang tak tampak, adalah seberkas jaring kaca yang tak terlihat lagi, bisikan demi bisikan mengakhiri kita dengan penuh nyanyian-nyanyian luka, yang menghidari segalanya, yang jauh, yang tak terlihat itu.

Kura-kura itu mengira dirinya tak ada, padahal ia ada, padahal ia ingin memberikan satu-satu mutiara di sudut jendela tua kita yang ragu-ragu seperti menyimpan berbagai kecemasan dari mata ibu. Langit yang senantiasa murung, awam yang kelabu mengakhiri kisah kita yang ungu jadi tarian waktu yang rambat di kaca jendela, yang tak juga mengakhiri apa.

KITA tiba di kecemasan demi kecemasan, matahari yang tak sepenuhnya menyisakan tangis lagi bagi kehilangan kita, kita muncul begitu rupa dalam wajahnya yang kelabu membayangkan angan-angan di belakang kita yang masih tampak ragu, masih tampak ragu-ragu. Di jembatan yang putus ini -sesubuh ini- kurindukan duniaku, ku lepas hidupku, kutemukan Ia, sebuah malam-malam di jembatan putus, penuh cemas.

 

 
 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

CUACA

www.bali-travelnews.com