Mengabdi dan "Ngayah" untuk Bali
Suksesi kepemimpinan Bali beberapa tahun lagi akan
kembali bergulir dan krama Bali pun untuk pertama kalinya akan
memilih gubernurnya sendiri secara langsung pada pilkada
mendatang.
-------------
Besar harapan kita bersama sebagai krama Bali akan
mendapatkan seorang figur pemimpin yang benar-benar bijak, tangguh
dan tegas dalam mengabdi kepada Bali. Tentunya pemimpin ini
nantinya harus mampu mengamalkan dan menyeimbangkan aspek Tri Hita
Karana (pawongan, palemahan dan parahyangan) yang sekarang kian
hari makin tergerus oleh modernisasi yang diperparah dengan
terjadinya degradasi nilai-nilai sosial dan budaya di mana-mana.
Beberapa contoh yang memprihatinkan seperti
banyaknya pertikaian tapal batas desa yang mengarah pada tindak
anarkis di antara sesama krama Bali. Berubahnya fungsi jalur hijau
menjadi tidak jelas dengan penataan tata kota dan lingkungan yang
carut-marut. Upaya pembenaran bentuk judi tajen oleh oknum-oknum
DPRD. Tidak adanya kebijakan Pemda dalam mengontrol populasi
pedagang kaki lima dan swalayan yang dapat mengancam keberadaan
pasar tradisional dan pasar senggol.
Segala komoditi untuk keperluan upacara dan banten
malah berasal dari luar Bali. Wajah Bali yang kian berubah dengan
arsitektural modern tanpa memadukan ciri khas Bali, diperparah
lagi dengan kecenderungan "menerima dan mengakomodasi" bentuk
pemaksaan kebijakan-kebijakan pusat sebagai refleksi mencari
"aman" terhadap jabatan. Seperti contoh dipaksakannya pelaksanaan
proyek geothermal yang masih panas belakangan ini.
Tentunya masih banyak lagi hal lainnya dan
merupakan "PR" bagi pemimpin Bali mendatang. Pemimpin Bali nanti
hendaknya mampu mengabdi dengan segala keikhlasan yang didasari
dengan jiwa ngayah dan menyadari apa yang mampu
diberikan/diabdikan kepada Bali.
A.A. Gede
Angga Diputra, S.T.
Jln. WR Supratman No. 13
Kedaton, Kesiman
Denpasar