kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Wage, 16 Juli 2006 tarukan valas
 

POTRET


Nyoman Erawan
Bela Seni Rupa Bali dengan Wacana yang Benar

DI barisan depan pelukis Bali kontemporer, ada I Nyoman Erawan. Pelukis asal Sukawati, Gianyar, ini seperti tak pernah letih bergerak. Ia tidak saja melukis di atas kanvas, tapi juga terus "melukis" di panggung pementasan dengan atraksi-atraksi spektakulernya. Lahir pada 27 Mei 1958 di Banjar Dlodtangluk Sukawati, Gianyar, Erawan secara sadar sejak usia remaja memilih dunia kesenian sebagai bagian terpenting dalam hidupnya. Ia sempat masuk Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Denpasar, lalu Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI) Yogyakarta. Di lingkungan pergaulan seni rupa, Erawan dikenal dan disorot sebagai salah seorang perupa muda Indonesia yang memiliki reputasi cukup menonjol. Reputasi tersebut mulai kentara melalui berbagai pameran dan pergelaran karya-karyanya dalam format yang dibangun dari hasil relasi antara dua lingkungan itu.

Karya-karya Erawan sejak awal 1980-an memperjelas bahwa "pencarian corak keindonesiaan"-nya telah sampai pada "penemuan napas segar"-nya dalam peta seni rupa modern di Indonesia. Kehadirannya menambah catatan panjang bagi proses pencarian dan penemuan yang ditempuh para perupa generasi sebelumnya, sejak 1930-an hingga 1970-an. Meski begitu, Erawan sempat pula mengalami saat-saat peralihan dari konvensi bentuk seni rupa modern yang masih percaya sepenuhnya kepada bahasa estetika rupa ke penjelajahan objek-objek materi yang lebih berbasis kepada kekuatan bahasa rupa kontemporer. Keduanya merupakan terminal keberangkatan yang dipahami Erawan di dalam kerangka menterjemahkan tantangan perubahan yang dikenali sebagai atmosfer wacana seni rupa kontemporer.

Tradisi kerja seorang Erawan seperti mengalir begitu saja. Puluhan kali ia menggelar pameran secara tunggal maupun bersama. Pertunjukan dan seni rupa pertunjukan juga ia garap sejak 1979. Bermula dari ikut bermain teater bersama Ikranegara, lalu dengan Wayan Dibia, serta Made Wianta. Lantas, mulai 1997 ia secara beruntun menggarap "Cak Seni Rupa Latta Mahosadi", "Ruwatan, Ritus Seni Rupa Nyoman Erawan", "Pralaya Matra", "Chaos Cosmos", "Kreasi Waktu", "Nyurya Sewana Bumi 2000", "Sikat Gigi", "Gong Gang, Swara Rupa Swara", "Cermin", "Ciwayakali", "Mahapralaya", hingga "Expresi Musikal, Ritus Bunyi Nyoman Erawan" belum lama ini di Museum Bali Denpasar.

--------------

 

MENURUT Anda, secara umum bagaimana perkembangan seni rupa Bali?

Jika dibandingkan dengan sejarah seni rupa Indonesia secara umum, kita harus bersyukur dulu karena histori seni rupa Bali itu sangat lengkap. Dari prasejarah sampai yang mutakhir, ada perjalanannya yang bisa dibaca. Untuk Indonesia, kita bisa melacak dari kemerdekaan, mulai dari Raden Saleh. Di Bali, kita malah melewati Raden Saleh. Persoalannya kini, bagaimana warisan itu bisa bergulir secara bagus sampai sekarang dan bagaimana harus membacanya. Pada saat digelarnya Bali Bienale, sudah ada keinginan untuk pembacaan ulang.

 

Dalam peta Indonesia sendiri, bagaimana keberadaan seni rupa Bali?

Pertama harus dipilah dulu. Dalam membicarakan seni rupa Indonesia, kadang-kadang orang berbicara seni rupa Bali modern saja. Padahal pada dekade 1980-an, sudah muncul seni rupa kontemporer. Seni tradisi yang kita sebut keturunan dari Pitamaha itu bisa masuk ke dalam seni kontemporer.

 

Bisa dijelaskan pengertian modern dan kontemporer?

Harus ada batasan antara seni lukisan Bali modern dan seni modern. Yang termasuk seni lukisan Bali modern itu seni lukis Bali baru atau seni lukis setelah klasik. Seni modern Bali itu adalah periode Pitamaha yang melahirkan kelompok Ubud, Batuan, dan di bawahnya ada Young Artist dan kelompok Pengosekan. Semua itu termasuk seni lukis Bali modern.

 

Kalau seni lukis Indonesia modern?

Itu berdasarkan wacana modernis. Artinya, ia berkiblat pada keturunan modernisme yang dikuatkan dari Eropa. Kita masuk ke wilayah ini sangat sulit. Maka ada istilah seni kontemporer, sebuah seni baru, kekinian, yang maksudnya seni yang mewakili zamannya. Di sinilah seni rupa Bali itu bisa masuk. Seni Batuan mengusung tema-tema kontemporer, melukiskan tentang kondisi sosial Bali atau tentang pariwisata Kuta. Walaupun dibuat dalam style tradisi modern, tradisi baru Bali itu sudah masuk dalam konteks kontemporer Indonesia.

 

Bagaimana sesungguhnya wacana seni kontemporer Indonesia itu?

Di Indonesia, seni kontempoerer menjadi wacana yang dipegang kuat oleh beberapa kalangan seni rupa. Ini dikarenakan seni modern kita terbelenggu pada wacana-wacana terbatas. Artinya, ketika kita keluar masuk di wilayah itu, kita sudah masuk modern tapi sering tidak dianggap. Modernisme adalah bagian dari pergulatan mereka.

 

Bisa diambil contoh kontekstual di negara lain misalnya?

Cina, misalnya, sebenarnya juga begitu. Cina punya sejarah seni rupa yang kuat dari awal. Namun dengan kekuatan politis yang begitu kuatnya, ia jadi terbelenggu, tak ada keleluasaan. Tetapi ketika muncul reformasi dengan adanya kekuatan-kekuatan baru, para perupa Cina berbuat lain daripada yang sudah ada di negerinya. Artinya, mereka sudah mulai mengangkat problem sosial masyarakat Cina yang sebenarnya, yang sebelumnya ditutup-tutupi.

 

Relevansi pada Bali apa?

Bali sebenarnya sudah berbuat begitu. Artinya di sini kita tidak selalu harus memakai baju tradisi sebagai kebutuhan fisik, tetapi kita bisa ambil rohnya. Jujur saja, dari dulu saya sudah berada di wilayah itu.

 

Tetapi, orang kan selalu melihat Bali dalam konteks tradisi?

Itu karena pencitraan yang muncul, akibat dari kepentingan-kepentingan pariwisata. Misalnya, kalau tidak ada ukiran, tidak disebut Bali. Dunia pariwisata kadang-kadang sangat ringan dan gampang dalam pengambilan ikon Bali.

 

Lantas, apa sesungguhnya harapan Anda terhadap seni rupa Bali kini?

Pada wacana bisnis, kita tak bisa berharap banyak, kecuali kita sendiri harus berani mewacanakan Bali dalam lembar yang baru. Artinya, Bali bicara tentang dirinya, bukan tentang Bali yang dibicarakan orang lain atau yang diinginkan orang. Kita bicara tentang diri kita secara jujur, bukan berdasarkan kemauan orang lain atau berdasarkan pencitraan yang sudah ada. Misalnya Bali disebut sebagai pulau sorga, lalu membuat lukisan Bali seperti sorga. Padahal, Bali itu mungkin sedang menyimpan konflik atau persoalan yang lain. Sementara ini, kita belum berani untuk itu, padahal sebetulnya harus berani.

 

Sebagai pelukis, Anda sendiri merasa berada di wilayah mana?

Selama ini saya sudah merasa masuk di wilayah itu. Saya bukan berbicara tentang keindahan Bali saja, bahkan sudah mulai masuk ke wilayah filosofis Bali yang cenderung berbicara perihal lahir, hidup dan mati. Di wilayah itu saya menemukan banyak masalah yang sangat fleksibel dan ada pada setiap zaman. Dengan konsep itu, saya bisa melukis tentang diri yang dilanda bencana. Atau ketika saya menghadapi lingkungan yang rusak. Saya memang memberi masukan seperti itu, sehingga karya saya sebagian besar disebut ritus. Saya menangkap sesuatu yang terjadi berulang-ulang tentang kekerasan, maka itu juga bisa disebut ritus. Saya sudah mengadakan ritus di luar formal ritual Bali itu sendiri. Sekarang ini kita juga sedang menghadapi ritus, tentang ekonomi yang tidak bagus. Kita makan, itu juga sebuah ritus, karena setiap hari kita nikmati dan hayati.

 

***

 

ORANG mengenal Anda bukan sebagai pelukis di kanvas saja, tetapi juga melukis dalam arti yang lebih luas seperti di dunia pertunjukan. Apa sebenarnya yang ingin Anda capai di situ?

Saya ingin membebaskan medium atau isi. Kalau kita berpatokan pada satu medium, rasanya kurang. Setiap medium punya keterbatasan sendiri-sendiri. Ketika melukis, saya tak bisa seliar berteater, maka saya membuat performance art. Di situ saya bisa berbuat lebih. Ketika saya tidak bisa berteriak dalam lukisan, saya lakukan dalam performance art itu. Jika dalam performance art terlalu ribet, saya akan berbuat di media video art.

 

Berarti Anda sering merasa tak puas dalam satu media ungkap seni?

Bukan tidak puas, tetapi ada suatu energi yang meluber. Saya sendiri kadang-kadang berpikir, mengapa saya harus berbuat begini. Mungkin karena adanya keinginan saya yang begitu keras. Dalam seni lukis, orang kan cenderung tidak mau bersusah-susah. Orang kadang-kadang tidak mau pusing-pusing melihat lukisan. Mereka senang yang manis-manis saja, tidak mau "sakit" kalau melihat lukisan.

 

Apakah karena itu Anda jarang menggelar pameran tunggal?

Ya, begitulah. Bagi saya, kalau keseringan berpameran, tidak akan ada sesuatu yang baru. Melihat hal ini, pengamat seni yang serius kadang-kadang membantai kita. Setiap saat sebenarnya saya bisa berpameran tunggal. Saya banyak punya lukisan, tinggal membuat proposal. Namun, kan ada wilayah-wilayah yang perlu disembunyikan. Malu kan kalau kita menunjukkan sesuatu yang itu-itu saja.

 

Sekarang di artshop-artshop banyak dijual lukisan seperti yang ada di pameran-pameran eksklusif. Bahkan, banyak lukisan yang mirip lukisan Anda. Apa komentar Anda tentang realita ini?

Saya rasa hal itu sah-sah saja. Positif, mereka (para pelukis artshop itu, red) bisa makan dari melakukan hal itu karena mereka bisa menjual lebih. Hal ini juga disebabkan adanya kecenderungan kolektor yang larinya ke bisnis, bukan mengoleksi karya seni yang sebenarnya.

 

Anda melihat penyebab lain?

Mungkin karena ekonomi yang macet atau memang trend untuk menguntungkan pihak pemodal dan pebisnis. Ekonomi juga sangat menentukan. Artinya, orang berbelanja untuk kesenangan saja, bukan untuk kepuasan batin.

 

Dalam konteks tersebut, berarti agak rancu pemahaman lukisan sebagai karya seni murni dengan karya dagang?

Bagi saya, pelukis harus yakin pada dirinya sendiri. Pelukis yang sebenarnya bukan sekadar menguasai teknik saja, tetapi harus punya intelegensi. Seniman yang tidak cerdas itu sama dengan tukang. Cerdas dalam artian mampu menyiasati zamannya, mewacanakan problem-problem kemasyarakatannya, juga budayanya.

 

Masih dalam konteks itu, dalam hal ini, siapa yang dirugikan, seniman atau budaya secara umum?

Sebagai seniman, saya merasa tidak dirugikan, karena saya yakin hidup saya tidak hanya melukis. Untuk bisa hidup, saya bisa berjualan tahu, bakso, atau lainnya. Namun, tetap perlu diingat, saya -- misalnya -- berkesenian untuk kepentingan kebudayaan.

 

* * *

 

ADA sinyalemen bahwa dunia seni rupa kita "dirusak" oleh sejumlah kepentingan yang justru datangnya dari luar kesenirupaan itu sendiri. Menurut Anda, siapa sebenarnya pihak yang disebut "merusak" itu?

Untuk menunjuk secara kelompok atau perorangan, susah. Sebenarnya, itu karena kebijakan dari pemerintah tentang kesenian kurang. Berbeda dengan Cina yang memang menggarap segalanya dengan baik secara wacana. Artinya, ketika wacana itu sudah dipahami oleh orang luar, sejelek apa pun lukisannya bisa masuk pasar. Kebijakan pemerintah kita juga tidak jelas. Pemerintah mestinya mewacanakan kesenian kita dengan baik dan benar ke luar negeri. Setiap kita datang berpameran di Eropa atau di negara lain, kita sering dikatakan dari negeri primitif. Bali misalnya, masih saja dipandang primitif. Bali dikagumi karena kebutuhan masa lalu mereka, karena mereka sudah kehilangan masa lalu seperti hal-hal mistik -- semua itu mereka dapatkan di Bali. Kalau terus-menerus begitu, lalu kapan kita maju.

 

Berarti seni kontemporer Bali belum bisa masuk ke wilayah itu?

Sebenarnya sudah, walau jumlahnya hanya beberapa. Tetapi, tetap saja tidak ada kesungguhan dari pihak yang memperjuangkan hidup matinya kita. Yang lebih terlihat adalah kepentingan bisnisnya. Kalau tidak laku, tidak dijual lagi.

 

Tetapi, Bali kan bisa diwacanakan lebih baik?

Ya, Bali memang hidup dari pewacanaan juga seperti kemagisan dan kereligiusannya. Awalnya begitu, tetapi lama-lama menjadi bentuk fisik juga. Itu karena kita tidak bisa menangkap rohnya, kemudian menjual fisiknya. Kalau wacana sebagai sebuah roh, itu bagus, seperti getarannya, taksu-nya. Misalnya, tanpa ukiran pun, Bali kita bisa bikin lebih bagus.

 

Apa pendapat Anda jika kini tiba-tiba banyak bermunculan pelukis abstrak?

Bagi saya, itu masalah teknis saja. Jujur saja, seorang pelukis abstrak mestinya sudah menguasai realis dulu karena di situ ia akan mempelajari tentang volume, jarak, dinamika, gelap dan terang. Orang yang memiliki dasar realis kuat, lukisan abstraknya akan kuat juga. Memang tak bisa disalahkan. Orang tanpa dasar pendidikan seni rupa pun bisa melukis abstrak. Yang penting sekarang, dia mau bicara apa, bisakah dia menuangkan gagasannya, cerdaskah dia. Tapi kalau mereka berkarya hanya untuk dijual, itu sama saja dengan bikin kerajinan. Intinya harus ada ide, maunya apa dan mau bikin apa.

 

* * *

 

APA sesungguhnya harapan mendasar Anda terhadap seni rupa Bali ke depan?

Saya ingin seni rupa kita itu berjalan secara sportif. Dalam artian, pihak-pihak yang bermodal janganlah cenderung kemaruk untuk mencari keuntungan dan kepentingan bisnis saja. Pertimbangkanlah tentang hal-hal yang bersifat kebudayaan dan kepentingan bersama. Pemerintah juga begitu. Bienale Bali itu kan tonggak sejarah untuk Bali. Di Indonesia, Bali sudah punya sejarah dalam seni rupa. Bali juga punya seniman dari yang ter-history sampai mutakhir. Pemerintah mestinya paham ini. Sering kali ketika ditanya kontribusi pemerintah, mereka hanya bilang ya, tetapi sesungguhnya tidak. Saya tidak mengharapkan lebih, tapi mbok mesti ada kepedulianlah. Orang-orang kaya, kolektor dan galeri-galeri juga harus paham, jangan berpikiran mau membantu kalau menguntungkan saja.

 

Tetapi, kan kita harus realistis bahwa hasil kesenian itu sah-sah saja dijual?

Kesenian sebagai hasil dan sebagai barang memang sah dijual. Tetapi, orang-orang justru mau menjual saja dan tidak mau memeliharanya. Orang mesti memberi pupuk dan menyiram. Itu yang saya maksud kepedulian. Sebenarnya kita juga terkontaminasi dengan pencitraan pariwisata, sehingga banyak orang yang mengatakan, "kamu pasti duitnya banyak karena lukisannya banyak laku". Bagi saya, apakah selesai sampai di situ? Kita harus membela keberadaan seni lukis khususnya dari yang klasik sampai yang sekarang menjadi sebuah wacana yang benar. Si pemodal mesti mempertimbangkan kepentingan-kepentingan kebudayaan.

 

Apa rencana Anda ke depan?

Saya akan menggelar pameran tunggal langsung disertai peluncuran buku tentang perjalanan saya. Setelah itu, saya berpameran di Cina.

 

* pewawancara:
 
budarsana
  gus martin

 

PENGHARGAAN YANG PERNAH DITERIMA
NYOMAN ERAWAN

* First Prize "The Philip Morris Group if Companies", Indonesian Art Award, 1994.

* Penghargaan dari Winsor and Newton, Inggris.

* Lempad Prize untuk Seni Lukis dari Sanggar Dewata Indonesia.

* Penghargaan Seni Lukis Terbaik 35 Tahun Akademi Seni Rupa Indonesia Yogyakarta.

* Penghargaan Seni Lukis Terbaik Dies Natalis III Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

* Piagam Penghargaan "Sepuluh Lukisan Terbaik" dari Yayasan Seni Rupa Indonesia dalam Lomba Lukis "The Philip Morris Group of Companies, Indonesian Art Award 1994".

* Peringkat 3 Perupa Terbaik 1996, jajak pendapat 11 pengamat Seni Rupa Indonesia.

* Peringkat 15 Pelukis Terbaik 1996, jajak pendapat 11 pengamat Seni Rupa Indonesia.

 

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

CUACA

www.bali-travelnews.com