Nyoman Erawan
Bela Seni Rupa Bali dengan Wacana
yang Benar
DI
barisan depan pelukis Bali kontemporer, ada I Nyoman Erawan.
Pelukis asal Sukawati, Gianyar, ini
seperti tak pernah letih bergerak.
Ia tidak saja melukis di atas kanvas, tapi juga terus
"melukis" di panggung pementasan dengan atraksi-atraksi
spektakulernya. Lahir pada 27 Mei 1958 di Banjar Dlodtangluk
Sukawati, Gianyar, Erawan secara sadar sejak
usia remaja memilih dunia kesenian
sebagai bagian terpenting dalam hidupnya.
Ia sempat masuk Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR)
Denpasar, lalu Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI)
Yogyakarta. Di lingkungan pergaulan seni
rupa, Erawan dikenal dan disorot sebagai salah seorang perupa
muda
Indonesia
yang memiliki reputasi cukup menonjol.
Reputasi tersebut
mulai kentara melalui berbagai pameran dan pergelaran
karya-karyanya dalam format yang dibangun dari hasil relasi
antara dua lingkungan itu.
Karya-karya Erawan sejak awal 1980-an
memperjelas bahwa "pencarian corak keindonesiaan"-nya telah
sampai pada "penemuan napas segar"-nya dalam peta seni rupa
modern di Indonesia. Kehadirannya menambah catatan panjang
bagi proses pencarian dan penemuan yang ditempuh para perupa
generasi sebelumnya, sejak 1930-an
hingga 1970-an. Meski begitu, Erawan sempat pula mengalami
saat-saat peralihan dari konvensi bentuk seni rupa modern yang
masih percaya sepenuhnya kepada bahasa estetika rupa ke
penjelajahan objek-objek materi yang lebih berbasis kepada
kekuatan bahasa rupa kontemporer.
Keduanya merupakan terminal keberangkatan yang
dipahami Erawan di dalam kerangka menterjemahkan tantangan
perubahan yang dikenali sebagai atmosfer wacana seni rupa
kontemporer.
Tradisi kerja seorang Erawan seperti mengalir
begitu saja.
Puluhan kali ia menggelar pameran
secara tunggal maupun bersama. Pertunjukan dan seni rupa
pertunjukan juga ia garap sejak
1979. Bermula dari ikut bermain teater
bersama Ikranegara, lalu dengan Wayan Dibia, serta Made
Wianta. Lantas, mulai 1997 ia secara beruntun menggarap
"Cak Seni Rupa Latta Mahosadi", "Ruwatan, Ritus Seni Rupa
Nyoman Erawan", "Pralaya Matra", "Chaos Cosmos", "Kreasi
Waktu", "Nyurya Sewana Bumi 2000", "Sikat Gigi", "Gong Gang,
Swara Rupa Swara", "Cermin", "Ciwayakali", "Mahapralaya",
hingga "Expresi Musikal, Ritus Bunyi Nyoman Erawan" belum lama
ini di Museum Bali Denpasar.
--------------
MENURUT Anda, secara umum bagaimana perkembangan seni rupa
Bali?
Jika dibandingkan dengan sejarah seni rupa
Indonesia secara umum, kita harus bersyukur dulu karena
histori seni rupa Bali itu sangat lengkap.
Dari prasejarah sampai yang mutakhir, ada
perjalanannya yang bisa dibaca.
Untuk
Indonesia,
kita bisa melacak dari kemerdekaan, mulai dari Raden Saleh. Di Bali, kita malah melewati Raden
Saleh. Persoalannya kini, bagaimana
warisan itu bisa bergulir secara bagus sampai sekarang dan
bagaimana harus membacanya.
Pada saat digelarnya Bali Bienale, sudah ada
keinginan untuk pembacaan ulang.
Dalam peta Indonesia sendiri, bagaimana
keberadaan seni rupa Bali?
Pertama harus dipilah dulu.
Dalam membicarakan seni rupa
Indonesia,
kadang-kadang orang berbicara seni rupa Bali modern saja.
Padahal pada dekade 1980-an, sudah muncul
seni rupa kontemporer.
Seni tradisi yang kita sebut keturunan dari
Pitamaha itu bisa masuk ke dalam seni kontemporer.
Bisa dijelaskan pengertian modern dan
kontemporer?
Harus ada batasan antara seni lukisan Bali
modern dan seni modern.
Yang termasuk seni lukisan
Bali
modern itu seni lukis Bali baru atau seni lukis setelah
klasik.
Seni modern
Bali itu
adalah periode Pitamaha yang melahirkan kelompok Ubud, Batuan,
dan di bawahnya ada Young Artist dan kelompok Pengosekan.
Semua itu termasuk seni lukis
Bali modern.
Kalau seni lukis Indonesia modern?
Itu berdasarkan wacana modernis.
Artinya, ia berkiblat pada
keturunan modernisme yang dikuatkan dari Eropa.
Kita masuk ke wilayah ini sangat sulit.
Maka ada istilah seni kontemporer, sebuah
seni baru, kekinian, yang maksudnya seni yang mewakili
zamannya. Di sinilah seni rupa
Bali
itu bisa masuk.
Seni Batuan mengusung tema-tema
kontemporer, melukiskan tentang kondisi sosial
Bali atau
tentang pariwisata Kuta.
Walaupun dibuat dalam style tradisi
modern, tradisi baru
Bali itu sudah masuk dalam konteks kontemporer
Indonesia.
Bagaimana sesungguhnya wacana seni kontemporer
Indonesia itu?
Di Indonesia, seni kontempoerer menjadi wacana
yang dipegang kuat oleh beberapa kalangan seni rupa.
Ini dikarenakan seni modern kita
terbelenggu pada wacana-wacana terbatas.
Artinya, ketika kita keluar masuk di
wilayah itu, kita sudah masuk modern tapi sering tidak
dianggap.
Modernisme adalah bagian dari pergulatan mereka.
Bisa diambil contoh kontekstual di negara
lain misalnya?
Cina, misalnya, sebenarnya juga begitu.
Cina punya sejarah seni rupa yang kuat
dari awal. Namun dengan kekuatan politis yang begitu
kuatnya, ia jadi terbelenggu, tak
ada keleluasaan. Tetapi ketika muncul reformasi dengan adanya
kekuatan-kekuatan baru, para perupa Cina berbuat
lain daripada yang sudah ada di
negerinya. Artinya,
mereka sudah mulai mengangkat problem sosial masyarakat Cina
yang sebenarnya, yang sebelumnya ditutup-tutupi.
Relevansi pada Bali apa?
Bali
sebenarnya sudah berbuat begitu.
Artinya di sini kita tidak selalu harus
memakai baju tradisi sebagai kebutuhan fisik, tetapi kita bisa
ambil rohnya.
Jujur saja, dari dulu saya sudah berada di
wilayah itu.
Tetapi, orang
kan
selalu melihat Bali dalam konteks tradisi?
Itu karena pencitraan yang muncul, akibat dari
kepentingan-kepentingan pariwisata.
Misalnya, kalau tidak ada ukiran, tidak
disebut
Bali.
Dunia pariwisata kadang-kadang sangat
ringan dan gampang dalam pengambilan ikon
Bali.
Lantas, apa
sesungguhnya harapan Anda terhadap seni rupa Bali kini?
Pada wacana bisnis, kita tak bisa berharap
banyak, kecuali kita sendiri harus berani mewacanakan
Bali
dalam lembar yang baru.
Artinya, Bali bicara tentang dirinya, bukan tentang Bali yang
dibicarakan orang lain atau yang
diinginkan orang. Kita bicara tentang diri kita secara jujur,
bukan berdasarkan kemauan orang lain atau berdasarkan
pencitraan yang sudah ada. Misalnya Bali
disebut sebagai pulau sorga, lalu membuat lukisan
Bali
seperti sorga.
Padahal, Bali itu mungkin sedang menyimpan konflik atau
persoalan yang lain.
Sementara ini, kita belum berani untuk itu,
padahal sebetulnya harus berani.
Sebagai pelukis, Anda sendiri merasa berada di
wilayah mana?
Selama ini saya sudah merasa masuk di wilayah
itu.
Saya bukan berbicara tentang keindahan
Bali saja,
bahkan sudah mulai masuk ke wilayah filosofis Bali yang
cenderung berbicara perihal lahir, hidup dan mati.
Di wilayah itu saya menemukan banyak
masalah yang sangat fleksibel dan ada pada setiap zaman.
Dengan konsep itu, saya bisa melukis
tentang diri yang dilanda bencana.
Atau ketika saya menghadapi lingkungan yang rusak.
Saya memang memberi masukan seperti itu,
sehingga karya saya sebagian besar disebut ritus.
Saya menangkap sesuatu yang terjadi
berulang-ulang tentang kekerasan, maka itu juga bisa disebut
ritus. Saya sudah mengadakan ritus
di luar formal ritual
Bali
itu sendiri.
Sekarang ini kita juga sedang menghadapi
ritus, tentang ekonomi yang tidak bagus.
Kita makan, itu juga sebuah
ritus, karena setiap hari kita nikmati dan hayati.
***
ORANG mengenal Anda bukan sebagai pelukis di kanvas saja,
tetapi juga melukis dalam arti yang lebih luas seperti di
dunia pertunjukan.
Apa sebenarnya yang ingin Anda
capai di situ?
Saya ingin membebaskan medium atau isi.
Kalau kita berpatokan pada satu medium,
rasanya kurang. Setiap medium punya
keterbatasan sendiri-sendiri.
Ketika melukis, saya tak bisa seliar berteater, maka saya
membuat performance art. Di situ
saya bisa berbuat lebih. Ketika
saya tidak bisa berteriak dalam lukisan, saya lakukan dalam
performance art itu. Jika dalam performance art terlalu
ribet, saya akan berbuat di media
video art.
Berarti Anda sering merasa tak puas dalam satu
media ungkap seni?
Bukan tidak puas, tetapi ada suatu energi yang
meluber.
Saya sendiri kadang-kadang berpikir,
mengapa saya harus berbuat begini.
Mungkin karena adanya keinginan saya yang begitu keras.
Dalam seni lukis, orang
kan
cenderung tidak mau bersusah-susah. Orang
kadang-kadang tidak mau pusing-pusing melihat lukisan.
Mereka senang yang
manis-manis saja, tidak mau "sakit" kalau melihat lukisan.
Apakah karena itu Anda jarang menggelar pameran
tunggal?
Ya, begitulah.
Bagi saya, kalau keseringan berpameran, tidak
akan ada sesuatu yang baru.
Melihat hal ini, pengamat seni yang serius
kadang-kadang membantai kita.
Setiap saat sebenarnya saya bisa berpameran tunggal.
Saya banyak punya lukisan, tinggal membuat
proposal. Namun,
kan
ada wilayah-wilayah yang perlu disembunyikan. Malu
kan
kalau kita menunjukkan sesuatu yang itu-itu saja.
Sekarang di artshop-artshop banyak dijual
lukisan seperti yang ada di pameran-pameran eksklusif.
Bahkan, banyak lukisan yang mirip lukisan
Anda. Apa komentar Anda
tentang realita ini?
Saya rasa hal itu sah-sah saja.
Positif, mereka (para pelukis artshop itu,
red) bisa makan dari melakukan hal itu karena mereka bisa
menjual lebih.
Hal ini juga disebabkan adanya kecenderungan
kolektor yang larinya ke bisnis, bukan mengoleksi karya seni
yang sebenarnya.
Anda melihat penyebab lain?
Mungkin karena ekonomi yang macet atau memang
trend untuk menguntungkan pihak pemodal dan pebisnis.
Ekonomi juga sangat menentukan.
Artinya, orang berbelanja untuk kesenangan saja, bukan untuk
kepuasan batin.
Dalam konteks tersebut, berarti agak rancu
pemahaman lukisan sebagai karya seni murni dengan karya
dagang?
Bagi saya, pelukis harus yakin pada dirinya
sendiri.
Pelukis yang sebenarnya bukan sekadar
menguasai teknik saja, tetapi harus punya intelegensi.
Seniman yang tidak cerdas itu sama
dengan tukang.
Cerdas dalam artian mampu menyiasati zamannya, mewacanakan
problem-problem kemasyarakatannya, juga budayanya.
Masih dalam konteks itu, dalam hal ini, siapa
yang dirugikan, seniman atau budaya secara umum?
Sebagai seniman, saya merasa tidak dirugikan,
karena saya yakin hidup saya tidak hanya melukis.
Untuk bisa hidup, saya bisa berjualan
tahu, bakso, atau lainnya.
Namun, tetap perlu diingat, saya -- misalnya --
berkesenian untuk kepentingan kebudayaan.
* * *
ADA
sinyalemen bahwa dunia seni rupa kita "dirusak" oleh sejumlah
kepentingan yang justru datangnya dari luar kesenirupaan itu
sendiri.
Menurut Anda, siapa sebenarnya pihak yang disebut "merusak"
itu?
Untuk menunjuk secara kelompok atau perorangan,
susah.
Sebenarnya, itu karena kebijakan dari pemerintah tentang
kesenian kurang. Berbeda dengan
Cina yang memang menggarap segalanya dengan baik secara
wacana. Artinya, ketika wacana itu sudah dipahami oleh
orang luar, sejelek apa pun
lukisannya bisa masuk pasar. Kebijakan
pemerintah kita juga tidak jelas.
Pemerintah mestinya mewacanakan kesenian kita dengan baik dan
benar ke luar negeri. Setiap kita datang berpameran di
Eropa atau di negara lain, kita
sering dikatakan dari negeri primitif.
Bali
misalnya, masih saja dipandang primitif.
Bali
dikagumi karena kebutuhan masa lalu mereka, karena mereka
sudah kehilangan masa lalu seperti hal-hal mistik -- semua itu
mereka dapatkan di Bali.
Kalau terus-menerus
begitu, lalu kapan kita maju.
Berarti seni kontemporer Bali belum bisa masuk
ke wilayah itu?
Sebenarnya sudah, walau jumlahnya hanya
beberapa. Tetapi, tetap saja
tidak ada kesungguhan dari pihak yang memperjuangkan hidup
matinya kita. Yang lebih terlihat
adalah kepentingan bisnisnya.
Kalau tidak laku, tidak
dijual lagi.
Tetapi, Bali
kan
bisa diwacanakan lebih baik?
Ya, Bali memang hidup dari pewacanaan juga
seperti kemagisan dan kereligiusannya.
Awalnya begitu, tetapi lama-lama menjadi
bentuk fisik juga. Itu karena kita
tidak bisa menangkap rohnya, kemudian menjual fisiknya.
Kalau wacana sebagai sebuah roh, itu
bagus, seperti getarannya, taksu-nya.
Misalnya, tanpa ukiran pun,
Bali kita bisa bikin lebih bagus.
Apa
pendapat Anda jika kini tiba-tiba banyak bermunculan pelukis
abstrak?
Bagi saya, itu masalah teknis saja.
Jujur saja, seorang pelukis abstrak mestinya sudah menguasai
realis dulu karena di situ ia akan
mempelajari tentang volume, jarak, dinamika, gelap dan terang.
Orang yang memiliki dasar realis kuat, lukisan abstraknya
akan kuat juga.
Memang tak bisa disalahkan. Orang
tanpa dasar pendidikan seni rupa pun bisa melukis abstrak.
Yang penting sekarang, dia mau bicara apa,
bisakah dia menuangkan gagasannya, cerdaskah dia. Tapi kalau
mereka berkarya hanya untuk dijual, itu sama saja dengan bikin
kerajinan. Intinya harus ada ide, maunya
apa dan mau bikin apa.
* * *
APA
sesungguhnya harapan mendasar Anda terhadap seni rupa Bali ke
depan?
Saya ingin seni rupa kita itu berjalan secara
sportif.
Dalam artian, pihak-pihak yang bermodal
janganlah cenderung kemaruk untuk mencari keuntungan dan
kepentingan bisnis saja.
Pertimbangkanlah tentang hal-hal yang bersifat kebudayaan dan
kepentingan bersama. Pemerintah
juga begitu. Bienale Bali itu
kan
tonggak sejarah untuk Bali. Di Indonesia, Bali sudah punya
sejarah dalam seni rupa.
Bali juga
punya seniman dari yang ter-history sampai mutakhir.
Pemerintah mestinya paham ini.
Sering kali ketika ditanya kontribusi
pemerintah, mereka hanya bilang ya, tetapi sesungguhnya tidak.
Saya tidak mengharapkan lebih, tapi mbok
mesti ada kepedulianlah.
Orang-orang kaya, kolektor dan galeri-galeri
juga harus paham, jangan berpikiran mau membantu kalau
menguntungkan saja.
Tetapi,
kan
kita harus realistis bahwa hasil kesenian itu sah-sah saja
dijual?
Kesenian sebagai hasil dan sebagai barang
memang sah dijual.
Tetapi, orang-orang justru mau menjual
saja dan tidak mau memeliharanya.
Orang mesti memberi pupuk dan menyiram.
Itu yang saya maksud kepedulian.
Sebenarnya kita juga terkontaminasi dengan
pencitraan pariwisata, sehingga banyak orang yang mengatakan,
"kamu pasti duitnya banyak karena lukisannya banyak laku".
Bagi saya, apakah selesai sampai di situ?
Kita harus membela keberadaan seni lukis
khususnya dari yang klasik sampai yang sekarang menjadi sebuah
wacana yang benar.
Si pemodal mesti mempertimbangkan
kepentingan-kepentingan kebudayaan.
Apa
rencana Anda ke depan?
Saya akan menggelar
pameran tunggal langsung disertai peluncuran buku tentang
perjalanan saya.
Setelah itu, saya berpameran di Cina.
* pewawancara:
budarsana
gus martin
PENGHARGAAN YANG PERNAH DITERIMA
NYOMAN ERAWAN
* First Prize "The Philip Morris Group if
Companies", Indonesian Art Award, 1994.
* Penghargaan dari Winsor and Newton, Inggris.
* Lempad Prize untuk Seni Lukis dari Sanggar
Dewata Indonesia.
* Penghargaan Seni Lukis Terbaik 35 Tahun
Akademi Seni Rupa Indonesia Yogyakarta.
* Penghargaan Seni Lukis Terbaik Dies Natalis
III Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
* Piagam Penghargaan "Sepuluh Lukisan Terbaik"
dari Yayasan Seni Rupa Indonesia dalam Lomba Lukis "The Philip
Morris Group of Companies, Indonesian Art Award 1994".
* Peringkat 3 Perupa Terbaik 1996, jajak
pendapat 11 pengamat Seni Rupa Indonesia.
* Peringkat 15 Pelukis Terbaik 1996, jajak
pendapat 11 pengamat Seni Rupa Indonesia.