Ken Arok
Carilah sebuah tempat dalam sistem di mana kamu berada dalam
posisi mengelola orang-orang lain. Menemukan tempat seperti itu,
bila kamu tidak berbekalkan warisan kekayaan, kamu harus lebih
cerdik, lebih ambisius dan lebih tegar dibanding para pesaingmu.
Yang terpenting, kamu harus bernasib baik dan tidak kenal ampun,
niscaya kamu bisa mengaum di antara serigala-serigala.
("V", seorang capo La Cosa Nostra)
-----------
RUBAG menerima hadiah sebuah buku dari
seorang sobat yang enggan disebut namanya berjudul "Mafia Manager.
Bimbingan Machiavellis Bagi Bisnis Modern". Buku yang ditulis
seorang mentor, patron atau rabbi Mafia, yang juga merahasiakan
nama aslinya namun berinisial "V" ini mengulas jelas kiat-kiat
kotor yang membikin sukses para mafioso dan kelompok- kelompoknya.
Tentunya juga membesarkan nama Capo di Capi atau God Father
mereka, seperti Al Capone dan Johnny "Fox" Torrio.
The Syndicate, The Mob, The Outfit adalah nama-nama kelompok yang
dimaksud dan Mr V adalah mentor atau capo dari kelompok terbesar
dan paling berpengaruh di Amerika Serikat, La Cosa Nostra yang
kalau diterjemahkan berarti "urusan kami".
"Jika satu-satunya alat yang kamu miliki adalah sebuah palu, maka
semua masalah harus kau pandang sebagai paku. Jika kamu menjadi
alas tempa, bersabarlah; bila kamu menjadi palunya ketok
teruslah!" merupakan salah satu dari sejumlah kiat Mr V, yang
menganggap moralitas sebagai hal mustahil dalam pergulatan merebut
kekuasaan, juga mempersetankan logika dan nalar untuk mengatur
masalah manusia.
Bahkan dalam pertarungan, disarankan murid-muridnya berpedoman
pada dalil Machiavelli bahwa ada dua cara memenangkan suatu
pertarungan, yakni lewat hukum dan kekuatan. Tapi, mengingat cara
pertama lebih sering tidak memadai hasilnya, dianjurkan
menggunakan cara kedua, yakni kekuatan. Sebab kekeliruan yang
berasal dari kebaikan hati dan rasa kasihan berakibat buruk bagi
organisasi, maka kekerasan yang meskipun berlumur darah harus
dijalankan.
Meskipun Mafia disebut sebagai akronim dari "Mothers and Fathers
Italian Association", ternyata organisasi kejahatan itu berkembang
sejak 1930 di AS dengan diboyongnya Al Capone ke Chicago oleh
Johnny Torrio. Bahkan dengan tumbangnya Uni Soviet pada 1989,
Mafia Rusia mulai menunjukkan taringnya bersaing dengan Triad
China, Yakuza Jepang dan Mafia Vietnam.
***
RUBAG bersyukur, Indonesia yang penduduknya lebih dari 200 juta
orang, belum punya kelompok yang ikut meramaikan bursa kejahatan
internasional, apalagi menggunakan nama Mafia Indonesia. Meski
demikian, praktik-praktik kejahatan yang terjadi di negeri ini
tidak steril dari pengaruh Mafia atau Mafiaisme. Bahkan korupsi,
sogok dan suap yang ditengarai sebagai ngengat pengeropos negara
dan bangsa pun makin berkembang biak, meski UU dan institusi
antikorupsi dibentuk.
Dalil Mafia yang berbunyi "uang disambut hangat bahkan sekalipun
ia datang dengan bungkus kotor" diterapkan di segala sektor di
negeri ini. Malah tidak tanggung-tanggung, pengadilan yang
dipercaya sebagai gudang keadilan pun digerogoti Mafia Peradilan
dengan kalkulasi Laswell, "Who get what, how much and how?". Belum
lagi peredaran narkoba, penimbunan senjata, pencucian uang dan
ekspor serta impor PSK, terus menjadi masalah krusial di negeri
ini.
"Izinkanlah pemerintahan mayoritas hanya dalam kelompok-kelompok
yang terdiri dari satu orang, yaitu kamu sendiri", itu dalil lain
Mr V yang awalnya membuat Rubag bingung, namun akhirnya nyengir
karena paham. Seperti itulah demokrasi dimengerti segelintir
orang, khususnya pemegang kekuasaan di Indonesia yang terbiasa
dengan istilah "mayoritas tunggal".
"Suara rakyat adalah suara Tuhan!" demikian seruan gegap gempita
yang sering terdengar ketika gelombang reformasi mulai menggema
pada 1998, namun sebelum genap sewindu berubah menjadi "suara
rakyat adalah suara hantu". Pendapat yang dianggap benar adalah
pendapat yang didukung suara lebih banyak, meskipun perolehan
suara berbeda tipis dengan yang diperoleh pihak yang kalah. Agar
kemenangan dianggap demokratis, si "mayoritas tunggal" berusaha
mengumpulkan suara berjumlah 50+1 dengan berbagai cara, dari
menggunakan uang hingga kekerasan, seperti ajaran Mr.V.
Kemenangan seperti inilah berkesan seperti "suara hantu", karena
kebijakan yang dihasilkan selalu menimbulkan keributan dan
bentrokan fisik massal yang lebih sering terjadi di akar rumput.
Di sini, kelompok yang memegang prinsip dan idealisme dihadapkan
dengan gerombolan orang berwajah sangar yang teriakannya
melengking karena "bayaran" yang mereka terima mengalahkan kata
hati mereka.
***
TANPA disadari, ajaran Mr.V yang mempersetankan logika dan nalar
untuk mengatur masalah manusia dipraktikkan di Indonesia, bahkan
dengan akibat lebih menyeramkan.
Taktik dan strategi untuk mengalahkan musuh atau pesaing, bagi
Rubag, sebenarnya tak perlu dipelajari dari bangsa asing, apalagi
dari Mafia. Ambil contoh, Ken Arok yang kemudian bergelar Sri
Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi setelah berhasil menjadi raja
Tumapel tahun 1222-1227, juga melakukan trik dan langkah yang
lebih keji daripada Don Corleon dan Al Capone.
Pemuda miskin yang tak jelas bapaknya itu mengawali hidupnya
sebagai maling yang berguru pada bromocorah bernama Lembong.
Dia tega membunuh Empu Gandring yang membuatkannya keris, bahkan
menikam sobat kentalnya Kebo Ijo, yang difitnahnya telah membunuh
Akuwu Tumapel, Tunggul Ametung. Malah ketika hendak memperluas
kekuasaannya ke Daha yang diperintah Kertajaya alias Dandang
Gendis, Ken Arok lagi menambah namanya menjadi Bhatara Guru karena
raja Kediri itu mengaku hanya bisa dikalahkan Bhatara Guru, tidak
oleh Amurwabhumi.
Dengan mitos, intimidasi dan kekerasan, termasuk merampas istri
orang, Ken Arok bisa menguasai Jawa. Prinsip hidup Mafioso sejati,
yang lebih mementingkan kepentingan sendiri dibanding teman, telah
diterapkan Ken Arok, yang juga dianggap sebagai leluhur Singasari
dan Majapahit itu.
"Tanpa berbekalkan kekayaan, tapi ambisi, ketegaran, keberanian
dan kebengisan yang tidak kenal ampun, seperti dalil Mr.V, Ken
Arok telah menerapkan ajaran Machiavelli sekaligus Mafia, bahkan
ratusan tahun sebelum pengarang buku Il Principe dan penasihat
keluarga Medici itu lahir," renung Rubag.
Menyimak fenomena kejahatan akhir-akhir ini di Indonesia, Rubag
berpendapat bahwa arwah Ken Arok kembali turun ke bumi,
berkolaborasi dengan arwah Don Corleon dan Al Capone. Sebab Ken
Arok hanya tahu keris, tidak kenal mata uang, apalagi teknik
mencuci uang dan bermain saham. Dari kedua rekannya yang sempat
menyecap era modern, dia harap bisa belajar modernitas dan
cara-cara mengatasi tes-tes kebohongan, agar bila ditangkap saat
bereinkarnasi menjadi koruptor, tidak gagap seperti menghafal
dalam menuturkan kebohongan. Segala jenis dosa sepertinya boleh
menua, namun keserakahan harus tetap awet muda.
* aridus