kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Wage, 16 Juli 2006 tarukan valas
 

OPINI


Ken Arok

Carilah sebuah tempat dalam sistem di mana kamu berada dalam posisi mengelola orang-orang lain. Menemukan tempat seperti itu, bila kamu tidak berbekalkan warisan kekayaan, kamu harus lebih cerdik, lebih ambisius dan lebih tegar dibanding para pesaingmu. Yang terpenting, kamu harus bernasib baik dan tidak kenal ampun, niscaya kamu bisa mengaum di antara serigala-serigala.

 ("V", seorang capo La Cosa Nostra)

-----------

 

RUBAG menerima hadiah sebuah buku dari seorang sobat yang enggan disebut namanya berjudul "Mafia Manager. Bimbingan Machiavellis Bagi Bisnis Modern". Buku yang ditulis seorang mentor, patron atau rabbi Mafia, yang juga merahasiakan nama aslinya namun berinisial "V" ini mengulas jelas kiat-kiat kotor yang membikin sukses para mafioso dan kelompok- kelompoknya. Tentunya juga membesarkan nama Capo di Capi atau God Father mereka, seperti Al Capone dan Johnny "Fox" Torrio.

The Syndicate, The Mob, The Outfit adalah nama-nama kelompok yang dimaksud dan Mr V adalah mentor atau capo dari kelompok terbesar dan paling berpengaruh di Amerika Serikat, La Cosa Nostra yang kalau diterjemahkan berarti "urusan kami".

  "Jika satu-satunya alat yang kamu miliki adalah sebuah palu, maka semua masalah harus kau pandang sebagai paku. Jika kamu menjadi alas tempa, bersabarlah; bila kamu menjadi palunya ketok teruslah!" merupakan salah satu dari sejumlah kiat Mr V, yang menganggap moralitas sebagai hal mustahil dalam pergulatan merebut kekuasaan, juga mempersetankan logika dan nalar untuk mengatur masalah manusia.

Bahkan dalam pertarungan, disarankan murid-muridnya berpedoman pada dalil Machiavelli bahwa ada dua cara memenangkan suatu pertarungan, yakni lewat hukum dan kekuatan. Tapi, mengingat cara pertama lebih sering tidak memadai hasilnya, dianjurkan menggunakan cara kedua, yakni kekuatan. Sebab kekeliruan yang berasal dari kebaikan hati dan rasa kasihan berakibat buruk bagi organisasi, maka kekerasan yang meskipun berlumur darah harus dijalankan.
Meskipun Mafia disebut sebagai akronim dari "Mothers and Fathers Italian Association", ternyata organisasi kejahatan itu berkembang sejak 1930 di AS dengan diboyongnya Al Capone ke Chicago oleh Johnny Torrio. Bahkan dengan tumbangnya Uni Soviet pada 1989, Mafia Rusia mulai menunjukkan taringnya bersaing dengan Triad China, Yakuza Jepang dan Mafia Vietnam.

***

 

RUBAG bersyukur, Indonesia yang penduduknya lebih dari 200 juta orang, belum punya kelompok yang ikut meramaikan bursa kejahatan internasional, apalagi menggunakan nama Mafia Indonesia. Meski demikian, praktik-praktik kejahatan yang terjadi di negeri ini tidak steril dari pengaruh Mafia atau Mafiaisme. Bahkan korupsi, sogok dan suap yang ditengarai sebagai ngengat pengeropos negara dan bangsa pun makin berkembang biak, meski UU dan institusi antikorupsi dibentuk.

Dalil Mafia yang berbunyi "uang disambut hangat bahkan sekalipun ia datang dengan bungkus kotor" diterapkan di segala sektor di negeri ini. Malah tidak tanggung-tanggung, pengadilan yang dipercaya sebagai gudang keadilan pun digerogoti Mafia Peradilan dengan kalkulasi Laswell, "Who get what, how much and how?". Belum lagi peredaran narkoba, penimbunan senjata, pencucian uang dan ekspor serta impor PSK, terus menjadi masalah krusial di negeri ini.

"Izinkanlah pemerintahan mayoritas hanya dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari satu orang, yaitu kamu sendiri", itu dalil lain Mr V yang awalnya membuat Rubag bingung, namun akhirnya nyengir karena paham. Seperti itulah demokrasi dimengerti segelintir orang, khususnya pemegang kekuasaan di Indonesia yang terbiasa dengan istilah "mayoritas tunggal".

"Suara rakyat adalah suara Tuhan!" demikian seruan gegap gempita yang sering terdengar ketika gelombang reformasi mulai menggema pada 1998, namun sebelum genap sewindu berubah menjadi "suara rakyat adalah suara hantu". Pendapat yang dianggap benar adalah pendapat yang didukung suara lebih banyak, meskipun perolehan suara berbeda tipis dengan yang diperoleh pihak yang kalah. Agar kemenangan dianggap demokratis, si "mayoritas tunggal" berusaha mengumpulkan suara berjumlah 50+1 dengan berbagai cara, dari menggunakan uang hingga kekerasan, seperti ajaran Mr.V.

Kemenangan seperti inilah berkesan seperti "suara hantu", karena kebijakan yang dihasilkan selalu menimbulkan keributan dan bentrokan fisik massal yang lebih sering terjadi di akar rumput. Di sini, kelompok yang memegang prinsip dan idealisme dihadapkan dengan gerombolan orang berwajah sangar yang teriakannya melengking karena "bayaran" yang mereka terima mengalahkan kata hati mereka.

***

 

TANPA disadari, ajaran Mr.V yang mempersetankan logika dan nalar untuk mengatur masalah manusia dipraktikkan di Indonesia, bahkan dengan akibat lebih menyeramkan.

 Taktik dan strategi untuk mengalahkan musuh atau pesaing, bagi Rubag, sebenarnya tak perlu dipelajari dari bangsa asing, apalagi dari Mafia. Ambil contoh, Ken Arok yang kemudian bergelar Sri Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi setelah berhasil menjadi raja Tumapel tahun 1222-1227, juga melakukan trik dan langkah yang lebih keji daripada Don Corleon dan Al Capone.

Pemuda miskin yang tak jelas bapaknya itu mengawali hidupnya sebagai maling yang berguru pada bromocorah bernama Lembong.  Dia tega membunuh Empu Gandring yang membuatkannya keris, bahkan menikam sobat kentalnya Kebo Ijo, yang difitnahnya telah membunuh Akuwu Tumapel, Tunggul Ametung. Malah ketika hendak memperluas kekuasaannya ke Daha yang diperintah Kertajaya alias Dandang Gendis, Ken Arok lagi menambah namanya menjadi Bhatara Guru karena raja Kediri itu mengaku hanya bisa dikalahkan Bhatara Guru, tidak oleh Amurwabhumi.

Dengan mitos, intimidasi dan kekerasan, termasuk merampas istri orang, Ken Arok bisa menguasai Jawa. Prinsip hidup Mafioso sejati, yang lebih mementingkan kepentingan sendiri dibanding teman, telah diterapkan Ken Arok, yang juga dianggap sebagai leluhur Singasari dan Majapahit itu.

 "Tanpa berbekalkan kekayaan, tapi ambisi, ketegaran, keberanian dan kebengisan yang tidak kenal ampun, seperti dalil Mr.V, Ken Arok telah menerapkan ajaran Machiavelli sekaligus Mafia, bahkan ratusan tahun sebelum pengarang buku Il Principe dan penasihat keluarga Medici itu lahir," renung Rubag.

Menyimak fenomena kejahatan akhir-akhir ini di Indonesia, Rubag berpendapat bahwa arwah Ken Arok kembali turun ke bumi, berkolaborasi dengan arwah Don Corleon dan Al Capone. Sebab Ken Arok hanya tahu keris, tidak kenal mata uang, apalagi teknik mencuci uang dan bermain saham. Dari kedua rekannya yang sempat menyecap era modern, dia harap bisa belajar modernitas dan cara-cara mengatasi tes-tes kebohongan, agar bila ditangkap saat bereinkarnasi menjadi koruptor, tidak gagap seperti menghafal dalam menuturkan kebohongan. Segala jenis dosa sepertinya boleh menua, namun keserakahan harus tetap awet muda.

* aridus

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com