Paula Friar ---
Gesek Rebab dari London
BAGI
masyarakat Bali yang rajin mengikuti jalannya Pesta Kesenian Bali
(PKB) ke-28 mungkin pernah tepergok dengan seorang wanita asal
London, Inggris, sedang asyik memainkan rebab -- alat musik
berdawai yang dibunyikan dengan cara
menggesek.
Pada pawai pembukaan PKB di depan Monumen Bajra Sandi, Renon, ia
tampak mengelus instrumen itu menyertai sajian gending-gending
semara pagulingan dari kelompok penabuh para ibu Dharma Wanita
Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Siapakah wanita berkulit
putih yang selalu menyunggingkan senyum itu?
Rambutnya disanggul apik. Kebaya yang dikenakannya
tak sedikit pun membuatnya canggung. Duduk bersimpuh sembari
mengayunkan alat penggesek dengan tangan kanan dan jemari tangan
kirinya yang bergerak lincah, sering menyita perhatian penonton.
Saat tampil bersama grupnya, para penabuh Lila Cita Inggris, belum
lama ini di Wantilan Taman Budaya Denpasar, dengan kebaya merah
hati ia tampak anggun, duduk di bagian depan mengalunkan desau
melodi instrumennya. Tak sedikit para fotografer yang kepincut
dengan penampilannya, dan jeprat-jepret pun sering mengarah
padanya.
Paula Friar, nama wanita berusia 25 tahun ini. Ia
adalah peserta program Dharma Siswa pemerintah Indonesia yang
sejak September 2005 lalu menekuni bidang seni karawitan di ISI
Denpasar. Arsitek yang sedang melanjutkan program pendidikan
S2-nya di University College London ini mengaku sangat mengagumi
kesenian Bali, gamelan khususnya. "Tapi saya segera berpisah
dengan gamelan di Bali," katanya dalam bahasa Indonesia yang
terpatah-patah. Lho, kenapa? Menurutnya, beasiswanya hanya
berlangsung hingga akhir Juli ini. Namun, spesialis pemain violin
(biola) ini, suatu hari nanti bertekad akan datang lagi
memperdalam seni karawitan Bali.
Wanita kelahiran 15 November 1980 ini rupanya cukup
berbakat, cerdas, dan luwes bergaul. Kualitas gesekan rebabnya
terasa mantap. Sensitivitasnya terhadap beragam gending tampak
tajam. Dengan kemampuan yang cukup baik itu ia banyak diminta oleh
beberapa grup gamelan yang mengenalnya untuk bergabung memainkan
alat musik rebab, spesialisasi yang jarang ditekuni para
pengerawit Bali. Pra-PKB, April dan Mei lalu misalnya, Paula
tampak hadir menggesek rebab dalam pementasan karya komposer
wanita dan pergelaran seni klasik-tradisional se-Bali.
Ketika salah satu dosennya, I Nyoman Windha,
menggelar konser musik kolaborasi di arena PKB, ia dipercaya
memainkan biola. "Saya berterima kasih diberikan kesempatan," kata
wanita yang mulai mengenal gamelan sejak empat tahun lalu, di
negerinya, pada grup gamelan Lila Cita ini. Pengalaman main rebab
dan biola di PKB, menurut Paula, adalah pengalaman yang berharga
dan menyenangkan baginya. "Hari-hari indah dan menyenangkan yang
sulit dilupakan," ujarnya dengan mata berbinar disertai senyum
ramah menghias bibirnya yang tipis.
* kadek suartaya