kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 16 Juli 2006 tarukan valas
 

BERITA


Paula Friar ---
Gesek Rebab dari London

BAGI masyarakat Bali yang rajin mengikuti jalannya Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-28 mungkin pernah tepergok dengan seorang wanita asal London, Inggris, sedang asyik memainkan rebab -- alat musik berdawai yang dibunyikan dengan cara menggesek. Pada pawai pembukaan PKB di depan Monumen Bajra Sandi, Renon, ia tampak mengelus instrumen itu menyertai sajian gending-gending semara pagulingan dari kelompok penabuh para ibu Dharma Wanita Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Siapakah wanita berkulit putih yang selalu menyunggingkan senyum itu?

Rambutnya disanggul apik. Kebaya yang dikenakannya tak sedikit pun membuatnya canggung. Duduk bersimpuh sembari mengayunkan alat penggesek dengan tangan kanan dan jemari tangan kirinya yang bergerak lincah, sering menyita perhatian penonton. Saat tampil bersama grupnya, para penabuh Lila Cita Inggris, belum lama ini di Wantilan Taman Budaya Denpasar, dengan kebaya merah hati ia tampak anggun, duduk di bagian depan mengalunkan desau melodi instrumennya. Tak sedikit para fotografer yang kepincut dengan penampilannya, dan jeprat-jepret pun sering mengarah padanya.

Paula Friar, nama wanita berusia 25 tahun ini. Ia adalah peserta program Dharma Siswa pemerintah Indonesia yang sejak September 2005 lalu menekuni bidang seni karawitan di ISI Denpasar. Arsitek yang sedang melanjutkan program pendidikan S2-nya di University College London ini mengaku sangat mengagumi kesenian Bali, gamelan khususnya. "Tapi saya segera berpisah dengan gamelan di Bali," katanya dalam bahasa Indonesia yang terpatah-patah. Lho, kenapa? Menurutnya, beasiswanya hanya berlangsung hingga akhir Juli ini. Namun, spesialis pemain violin (biola) ini, suatu hari nanti bertekad akan datang lagi memperdalam seni karawitan Bali.

Wanita kelahiran 15 November 1980 ini rupanya cukup berbakat, cerdas, dan luwes bergaul. Kualitas gesekan rebabnya terasa mantap. Sensitivitasnya terhadap beragam gending tampak tajam. Dengan kemampuan yang cukup baik itu ia banyak diminta oleh beberapa grup gamelan yang mengenalnya untuk bergabung memainkan alat musik rebab, spesialisasi yang jarang ditekuni para pengerawit Bali. Pra-PKB, April dan Mei lalu misalnya, Paula tampak hadir menggesek rebab dalam pementasan karya komposer wanita dan pergelaran seni klasik-tradisional se-Bali.

Ketika salah satu dosennya, I Nyoman Windha, menggelar konser musik kolaborasi di arena PKB, ia dipercaya memainkan biola. "Saya berterima kasih diberikan kesempatan," kata wanita yang mulai mengenal gamelan sejak empat tahun lalu, di negerinya, pada grup gamelan Lila Cita ini. Pengalaman main rebab dan biola di PKB, menurut Paula, adalah pengalaman yang berharga dan menyenangkan baginya. "Hari-hari indah dan menyenangkan yang sulit dilupakan," ujarnya dengan mata berbinar disertai senyum ramah menghias bibirnya yang tipis.

 * kadek suartaya

 

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com