Ida Bagus Sidharta Putra
Perkembangan Pariwisata Sanur
Lambat, Ada Untungnya
"Membangun Desa Sanur dengan karakter yang sudah
ada." Inilah sepotong kalimat yang digariskan tegas oleh Ida Bagus
Sidharta Putra, MBA, tokoh muda yang kini menjabat sebagai Ketua
Umum Yayasan Pembangunan Sanur. Di tengah kesibukannya juga
sebagai General Manager (GM) Griya Santrian Resort, Sanur, pria
yang akrab dipanggil Gustra ini hampir tidak pernah melepaskan
benaknya sekejap pun untuk selalu berpikir tentang pengembangan
Sanur ke depan. Desa Sanur, suatu tipikal desa pantai yang khas,
bagi Gustra adalah desa yang -- dalam pengelolaannya -- mesti
ditangani secara hati-hati. Jika banyak pengamat pariwisata dulu
pernah menyebut Sanur sebagai desa yang "lambat" dalam
perkembangan pariwisata, dibanding Kuta atau Ubud misalnya, Gustra
malah menyebut, "Justru ada keuntungan di balik keterlambatan itu."
Apa maksudnya? Berikut wawancara Bali Post dengan sosok pria low
profile, suami Sutrisnawati, ayah tiga anak, dan sosok yang ikut
membidani terbentuknya Himpunan Pelukis Sanur ini.
----------------
ANDA
kini menjadi salah satu orang muda yang "penting" di Sanur,
terlebih setelah menjabat sebagai Ketua Yayasan Pembangunan Sanur.
Apa yang pertama Anda pikirkan tentang Sanur?
Sebagai putra daerah, secara moral saya merasa
memiliki tanggung jawab. Di samping itu, saya melihat adanya
perjalanan dan peranan leluhur saya terhadap Desa Sanur. Intinya,
sebagai orang lokal saya ingin berbuat sesuatu untuk Sanur.
Apalagi Sanur sebagai daerah pariwisata yang sudah tentunya akan
mencakup sisi ekonomi, maka melalui pengalaman dan pendidikan yang
saya miliki, setidaknya saya ikut memberikan kontribusi positif.
Menurut Anda, potensi apa saja yang dimiliki daerah
serta masyarakat Sanur untuk bisa digerakkan?
Secara sosial, budaya dan agama, dulu Sanur sangat
berperan penting. Jadi, apa pun perkembangan Sanur seperti
sekarang -- menjadi daerah pariwisata yang dikenal di tingkat
nasional atau internasional, tidak terlepas dari budayanya.
Katakanlah, datangnya para seniman asing yang menjadi
patron-patron di Sanur. Nah, dari perjalanan pelukisnya itu saya
ambil nilai lebih. Artinya, karakter Sanur harus tetap
dipertahankan, kebetulan potensi itu ada.
Bisa dirinci seperti apa sesungguhnya karakter
Sanur itu?
Pertama, saya harus mengklaim dulu itu sebagai
sebuah karakter, baru kemudian secara konsisten mewujudkannya.
Saya melihat Sanur sebagai salah satu desa tradisional terbesar di
Bali, sebuah desa yang bernapaskan tradisi. Itu sebagai salah satu
karakter. Kehidupan struktur sosialnya masih sangat kental
mempertahankan ciri yang lama. Kalau dibandingkan dengan Kuta,
walaupun memiliki karakter tradisional, tetapi perkembangannya
luar biasa dari kapitalis pariwisata. Sebetulnya Kuta harus
mengklaim sesuatu yang lain, misalnya night live-nya. Memang yang
menjadi "pasar" Sanur adalah Eropa. Pangsa Eropa ini secara makro
sangat apresiatif terhadap tradisi. Akhirnya, kami menemukan
perencanaan ke arah karakter itu sendiri.
Banyak orang mengatakan perkembangan pariwisata
Sanur lambat. Komentar Anda?
Saya setuju pendapat itu, malah sering dipelesetkan
Sanur itu snore -- artinya ngorok. Namun, perlu diingat, suatu
percepatan tentunya berisiko lebih banyak pula. Banyak teman di
Kuta yang mengeluh, beh Kuta suba kelangan ke-Bali-ane. Nah, jika
membanding ke sana, bersyukur juga Sanur agak lambat. Jadi, ada
untungnya juga lambat. Setidaknya Sanur belum banyak kehilangan
ke-Bali-annya. Di sisi lain, saya akui dari segi regenerasi Sanur
memang agak lambat. Namun harus diingat, dari segi tourism, Sanur
termasuk yang pertama karena di situ pertama kali dibangun Hotel
Bali Beach, baru kemudian di tempat-tempat lain. Sanur juga banyak
punya local player seperti Hotel Santrian atau Segara yang
merupakan hotel-hotel kelas bintang kedua atau bungalo-bungalo.
Kebetulan para owner lokal ini, termasuk saya, memang agak lambat
menyambutnya.
Keuntungan apa yang secara prinsip Anda temukan di
balik keterlambatan itu?
Kami beruntung bisa memikirkan sesuatu, perihal apa
yang sebetulnya dibutuhkan lagi. Misalnya, dalam membuat
corak-corak, kelebihan warna hitam atau warna lainnya akan cepat
bisa terlihat dan akan bisa segera diperbaiki. Misalnya, sekarang
banyak orang membuat vila, apakah saya harus masuk ke sana atau
tidak. Nah, seperti itulah yang saya dorong agar teman-teman
melakukannya. Yayasan yang saya pimpin tetap sebagai fasilitator
dan juga tetap mencari kekurangan-kekurangan lewat instansi yang
ada. Sekali lagi, being slow itu ada untungnya juga.
Sekarang, apa yang sedang Anda pikirkan untuk
membangun Sanur ke depan?
Sebelumnya saya tetap menggali dasar pijakan untuk
membangun kemudian. Dalam hal ini saya juga menjalankan permintaan
masyarakat, seperti bidang seni rupa di Sanur yang memang perlu
wadah. Lalu saya pikir, kami memiliki sejarah yang mendasar,
kenapa tidak kami lanjutkan. Jadi saya selalu melihat need dulu
dari masyarakat karena trend itu berubah-ubah. Di bidang seni
gamelan juga begitu. Hampir semua banjar (di Sanur ada 27 banjar,
red) di Sanur punya sanggar dan gamelan. Maka, secara otomatis
mereka pasti punya dasar. Sanur punya banyak tarian khusus seperti
Baris Cina, Baris Tumbak, sampai Gambuh. Di Sanur ada orang
magambel, mencari ikan, melukis, sampai memahat. Nah, dari dulu
memang itulah kehidupan di Sanur.
Apa pertimbangan Anda ketika memberi prioritas
fasilitas?
Yang saya fasilitasi berangkat dari pondasi yang
ada, kemudian saya pertimbangkan ke mana masyarakat menginginkan.
Di bidang seni lukis misalnya, syukur saja wadah itu berfungsi dan
malah sudah bisa ekshibisi ke luar negeri -- tidak hanya di
kandang sendiri. Awalnya dari pelukis Sanur, selanjutnya
berkembang sampai pada pelukis lain. Saya memang mengangkat misi,
selain masyarakat Sanur, juga akan memberikan kesempatan
masyarakat Bali secara umum dan juga anak-anak yang berpotensi.
* * *
SEJAUH
mana dampak peristiwa bom Bali terhadap perkembangan
kepariwisataan di Sanur?
Pertama kita harus sadar bahwa pariwisata itu
sangat berisiko karena merupakan suatu bisnis -- bisnis jual beli.
Di situ ada transaksi ekonomi. Maka, tentu saja itu sangat
berisiko karena pengaruh peristiwa bom, SAR, flu burung, ekonomi,
politik dan lainnya. Pariwisata itu kan menangani orang yang
hendak berlibur atau mencari senang. Kalau suatu daerah tidak
menyenangkan lagi, itu berarti akan turun bargaining power-nya.
Jadi, peristiwa bom sangat berpengaruh sekali terhadap
kepariwisataan di Sanur.
Di Griya Santrian Resort yang Anda manajeri,
bagaimana?
Syukur kami tidak sampai melakukan PHK di sini. Itu
mungkin salah satu prestasi kami sehingga tiga kali berturut-turut
kami mendapat penghargaan THK Award. Mungkin karena saya unggul di
bidang pawongan, saya mempekerjakan 85 persen orang Sanur, dengan
suatu konsep bahwa mereka harus menikmati pembangunan di daerahnya.
Saya ingin agar mereka tidak menjadi penonton di daerahnya sendiri.
Apa pendapat khusus Anda terhadap peristiwa bom
Bali I maupun II?
Dampak bom Bali I sangat berat dan panjang,
sedangkan bom Bali II lebih parah bahkan bisa diibaratkan sebagai
suntik mati. Begitu bom Bali II terjadi, kita tidak bisa
mendambakan kepercayaan sebatas ngomong saja. Harus ada
realisasinya, misalnya bagaimana mesti menangani persoalan
security yang serius. Beberapa kali saya sempat menjual hotel dan
vila yang bagus-bagus, tetapi tamu tetap mempertanyakan hal
mendasar menyangkut pengamanannya.
Upaya apa yang Anda lakukan untuk pengamanan
khususnya di Sanur?
Saya sangat yakin pengamanan hotel-hotel di Sanur
sudah baik. Di luar itu, melalui komitmen Pemkot Denpasar,
langkah-langkah pengamanan pariwisata sudah kami lakukan bersama.
Di Sanur, sebenarnya saya menitikberatkan pada community base
security, sebuah pengamanan yang pelakunya adalah masyarakat itu
sendiri. Kamling saya gabungkan dengan Bankamdes, berkoordinasi
dengan pecalang, Polsek Sanur, sekaa jukung, sampai sopir taksi.
Ini perlu dilakukan sebab merekalah nantinya secara langsung,
misalnya, akan melihat orang aneh yang melintas di daerahnya.
Apakah di Sanur pernah terjadi konflik dan
bagaimana Anda mengelola atau menangani konflik itu sendiri?
Di Sanur pernah terjadi konflik, itu pasti. Umumnya
itu berasal dari individual. Pertama dari pribadi, terus ke
keluarga, ke banjar, kemudian ke desa adat. Di sini tokoh
masyarakat Sanur sebagai elite politik sangat berperan. Jujur saja,
keberadaan geria atau puri serta tokoh-tokohnya di Sanur masih
disegani masyarakat, meskipun beberapa di antaranya sudah mulai
merosot. Jadi, saya menitikberatkan pada tokoh-tokoh masyarakat.
Di samping itu, tentu saja peranan unsur kelembagaan yang sudah
ada seperti desa adat yang mempunyai andil meredam konflik lewat
awig-awignya. Di Sanur, konflik antarbanjar tidak ada, tetapi
pecahan dari banjar untuk membentuk banjar baru itu ada.
Apakah Yayasan Pembangunan Sanur (YPS) yang Anda
pimpin sekarang memang memberi kontribusi positif bagi pembangunan
Sanur?
Kalau dilihat dari ARD/ART-nya, jelas YPS ini
sebagai lembaga yang memiliki tujuan mulia. Saya dipilih sebagai
pengurus baru setahun. Dulu, ketika terbentuk, yayasan ini ada
dalam nuansa politik yang cenderung memecah persaudaraan, teman,
atau kerabat. Awalnya, para tetua di Sanur berkehendak membentuk
suatu badan bantuan desa yang bertujuan menyatukan Sanur. Baru
setelah 1966, badan itu berubah jadi yayasan. Dalam perjalanannya
kemudian, YPS selalu memberi kontribusi positif seiring
berkembangnya Sanur menjadi daerah pariwisata. Tugas YPS secara
umum adalah meningkatkan kegiatan sosial, budaya, agama, ekonomi,
sampai pendidikan bagi masyarakat Sanur. Kami juga sudah memiliki
SMP Wisata, D1 untuk perhotelan, mewujudkan pembangunan nasional,
memberikan lapangan pekerjaan yang berhubungan dengan biro sumber
daya manusia. Saya melakukan kerja sama dengan para GM hotel di
Sanur melalui sekolah LPS, seperti melakukan training dan bekerja.
Melalui YPS, kami juga bertugas untuk pertahanan dan ketertiban
masyarakat.
Banyak kritik, pantai buat publik di Sanur kian
sedikit saja, lebih banyak dikuasai hotel. Menurut Anda?
Itulah kenyataannya di Sanur. Hal itu disebabkan
perkembangan pariwisata awal di Sanur, tidak ada tata ruang yang
jelas. Tidak terpikirkan untuk menata ruang, yang penting tamu
datang. Hal itulah yang menyebabkan hampir semua bangunan dibangun
langsung ke pantai. Kuta mungkin belakangan, sehingga di situ bisa
dibangun jalan pantai. Memang pantai itu milik publik, tetapi
tanahnya kan hak milik. Persoalan ini juga kami angkat dalam
program kami ke depan. Semua program yang kami lakukan harus
menyentuh masyarakat. Makanya kami tetap cadangkan bahwa pantai
Matahari Terbit dan pantai Mertasari sebagai daerah publik.
Intinya, semua kepentingan di Sanur dijaga. Saya ingin Sanur tetap
eksis dengan karakternya.
Bagaimana kondisi kunjungan wisatawan di Sanur
belakangan ini?
Masih didominasi wisatawan Jepang. Yang sangat
merosot adalah wisatawan dari Australia. Pada musim liburan
seperti sekarang, yang naik malah wisatawan Belanda dan Jerman.
Bagaimana dengan atraksi wisatanya sendiri?
Ini yang sebenarnya merupakan kekurangan Bali pada
umumnya. Semua orang membikin kamar, vila, hotel, sedangkan
objek-objek wisata sebenarnya bisa ditambah. Objek-objek wisata
yang dimanfaatkan, semuanya ada sejak dulu. Mengapa misalnya tidak
memperbanyak atraksi air, kita ini kan negeri bahari. Sebagai
daerah tujuan wisata, saya melihat inovasi development Bali agak
lambat. Pesta Kesenian Bali (PKB) bagus sebagai lokomotif untuk
mendorong Bali recovery pariwisata, tetapi banyak juga yang
melenceng.
Kabarnya Sanur juga akan menggelar festival seni?
Ya, namanya Sanur Festival, akan digelar Agustus
2006 mendatang. Ini yang pertama kali, kami sudah melakukan
berbagai persiapan. Tema festival ini adalah fun and culture. Kami
akan menampilkan sejumlah atraksi seperti selancar angin, layangan,
dan pentas seni.
* * *
TENTANG
Anda, bagaimana Anda bisa menerjuni usaha kepariwisataan (menjadi
GM Griya Santrian Resort) sampai organisasi sosial kemasyarakatan
(ketua Yayasan Pembangunan Sanur) seperti sekarang?
Terus terang saja, tiang niki nak Bali kui. Ketika
saya lahir, usaha hotel (Griya Santrian Resort, red) ini sudah ada.
Mungkin karena sejak kecil saya sudah biasa membicarakan turis,
maka secara genetik dan biologis hal itu sudah tertanam pada diri
saya. Setelah berkesempatan mengenyam pendidikan di Amerika,
akhirnya di sana saya banyak belajar. Jujur saja, dulu saya tidak
ingin terjun di pariwisata. Saya ingin jadi pegawai bank seperti
umumnya anak muda lain. Saya pikir, jika pariwisata kolaps, kita
tidak akan bisa berbuat apa-apa. Namun karena semuanya mengarah ke
pariwisata, akhirnya saya jatuh di sini juga. Saya kembali dari
Amerika setelah perekonomian keluarga jatuh. Saya merasa
kuntinuitas perusahaan perlu dibantu, di samping juga saya bisa
mengabdikan diri di geria -- secara purusa saya memiliki tanggung
jawab.
Apakah langkah Anda itu semata-mata karena didasari
persoalan materi atau uang?
Pola pikir saya kemudian menjadi berubah bahwa di
Bali itu uang bukan segalanya, meski itu sebagai motivator. Saya
pernah dipesankan para tetua, "Seliun-liune atu madue jinah, maan
atu nenten taen tedun ke masyarakat, ten ada artine." Kata-kata
itulah yang selalu mengiang di telinga saya. Makanya, kalau sudah
ada karya di lingkungan saya, bisnis menjadi nomor sekian. Namun
begitu, di satu sisi, bisnis haruslah dikelola secara profesional,
tidak boleh secara sosial. Hasil dari bisnis, silakan untuk sosial.
Saya dapat mengabdi di masyarakat dan saya harus mengeluarkan uang
untuk menyewa orang yang top-top untuk dipekerjakan. Saya punya
motivasi, karena saya lahir di tempat yang sulit, maka saya harus
ngelah, dueg, dan bijaksana. Bagi saya, itu hal yang saya anggap
sebagai pertahanan Bali terakhir. Saya memang tidak tahu semua
pekerjaan, tetapi saya tahu yang mana pekerjaan yang seharusnya
diambil.
*
pewawancara:
budarsana
gus martin
BIODATA
Nama
: Ida Bagus Sidharta Putra, MBA
Tempat/lahir : Denpasar, 21 Mei 1970
Istri
: Sutrisnawati, S.E.
Anak
: IA Indira Putri
IB Agung Maha Gotama
IB Agung Mahesa Putra
Orangtua:
: IB Tjethana Putra & AA Roosiawathi
Pendidikan :
Maryville University, St. Louis AS
Jabatan
: GM Griya Santrian Resort
Ketua Yayasan Pembangunan Sanur