kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 11 Juni 2006 tarukan valas
 

POTRET


Ida Bagus Sidharta Putra

Perkembangan Pariwisata Sanur Lambat, Ada Untungnya

 

"Membangun Desa Sanur dengan karakter yang sudah ada." Inilah sepotong kalimat yang digariskan tegas oleh Ida Bagus Sidharta Putra, MBA, tokoh muda yang kini menjabat sebagai Ketua Umum Yayasan Pembangunan Sanur. Di tengah kesibukannya juga sebagai General Manager (GM) Griya Santrian Resort, Sanur, pria yang akrab dipanggil Gustra ini hampir tidak pernah melepaskan benaknya sekejap pun untuk selalu berpikir tentang pengembangan Sanur ke depan. Desa Sanur, suatu tipikal desa pantai yang khas, bagi Gustra adalah desa yang -- dalam pengelolaannya -- mesti ditangani secara hati-hati. Jika banyak pengamat pariwisata dulu pernah menyebut Sanur sebagai desa yang "lambat" dalam perkembangan pariwisata, dibanding Kuta atau Ubud misalnya, Gustra malah menyebut, "Justru ada keuntungan di balik keterlambatan itu." Apa maksudnya? Berikut wawancara Bali Post dengan sosok pria low profile, suami Sutrisnawati, ayah tiga anak, dan sosok yang ikut membidani terbentuknya Himpunan Pelukis Sanur ini.

----------------

 

ANDA kini menjadi salah satu orang muda yang "penting" di Sanur, terlebih setelah menjabat sebagai Ketua Yayasan Pembangunan Sanur. Apa yang pertama Anda pikirkan tentang Sanur?

Sebagai putra daerah, secara moral saya merasa memiliki tanggung jawab. Di samping itu, saya melihat adanya perjalanan dan peranan leluhur saya terhadap Desa Sanur. Intinya, sebagai orang lokal saya ingin berbuat sesuatu untuk Sanur. Apalagi Sanur sebagai daerah pariwisata yang sudah tentunya akan mencakup sisi ekonomi, maka melalui pengalaman dan pendidikan yang saya miliki, setidaknya saya ikut memberikan kontribusi positif.

 

Menurut Anda, potensi apa saja yang dimiliki daerah serta masyarakat Sanur untuk bisa digerakkan?

Secara sosial, budaya dan agama, dulu Sanur sangat berperan penting. Jadi, apa pun perkembangan Sanur seperti sekarang -- menjadi daerah pariwisata yang dikenal di tingkat nasional atau internasional, tidak terlepas dari budayanya. Katakanlah, datangnya para seniman asing yang menjadi patron-patron di Sanur. Nah, dari perjalanan pelukisnya itu saya ambil nilai lebih. Artinya, karakter Sanur harus tetap dipertahankan, kebetulan potensi itu ada.

 

Bisa dirinci seperti apa sesungguhnya karakter Sanur itu?

Pertama, saya harus mengklaim dulu itu sebagai sebuah karakter, baru kemudian secara konsisten mewujudkannya. Saya melihat Sanur sebagai salah satu desa tradisional terbesar di Bali, sebuah desa yang bernapaskan tradisi. Itu sebagai salah satu karakter. Kehidupan struktur sosialnya masih sangat kental mempertahankan ciri yang lama. Kalau dibandingkan dengan Kuta, walaupun memiliki karakter tradisional, tetapi perkembangannya luar biasa dari kapitalis pariwisata. Sebetulnya Kuta harus mengklaim sesuatu yang lain, misalnya night live-nya. Memang yang menjadi "pasar" Sanur adalah Eropa. Pangsa Eropa ini secara makro sangat apresiatif terhadap tradisi. Akhirnya, kami menemukan perencanaan ke arah karakter itu sendiri.

 

Banyak orang mengatakan perkembangan pariwisata Sanur lambat. Komentar Anda?

Saya setuju pendapat itu, malah sering dipelesetkan Sanur itu snore -- artinya ngorok. Namun, perlu diingat, suatu percepatan tentunya berisiko lebih banyak pula. Banyak teman di Kuta yang mengeluh, beh Kuta suba kelangan ke-Bali-ane. Nah, jika membanding ke sana, bersyukur juga Sanur agak lambat. Jadi, ada untungnya juga lambat. Setidaknya Sanur belum banyak kehilangan ke-Bali-annya. Di sisi lain, saya akui dari segi regenerasi Sanur memang agak lambat. Namun harus diingat, dari segi tourism, Sanur termasuk yang pertama karena di situ pertama kali dibangun Hotel Bali Beach, baru kemudian di tempat-tempat lain. Sanur juga banyak punya local player seperti Hotel Santrian atau Segara yang merupakan hotel-hotel kelas bintang kedua atau bungalo-bungalo. Kebetulan para owner lokal ini, termasuk saya, memang agak lambat menyambutnya.

 

Keuntungan apa yang secara prinsip Anda temukan di balik keterlambatan itu?

Kami beruntung bisa memikirkan sesuatu, perihal apa yang sebetulnya dibutuhkan lagi. Misalnya, dalam membuat corak-corak, kelebihan warna hitam atau warna lainnya akan cepat bisa terlihat dan akan bisa segera diperbaiki. Misalnya, sekarang banyak orang membuat vila, apakah saya harus masuk ke sana atau tidak. Nah, seperti itulah yang saya dorong agar teman-teman melakukannya. Yayasan yang saya pimpin tetap sebagai fasilitator dan juga tetap mencari kekurangan-kekurangan lewat instansi yang ada. Sekali lagi, being slow itu ada untungnya juga.

 

Sekarang, apa yang sedang Anda pikirkan untuk membangun Sanur ke depan?

Sebelumnya saya tetap menggali dasar pijakan untuk membangun kemudian. Dalam hal ini saya juga menjalankan permintaan masyarakat, seperti bidang seni rupa di Sanur yang memang perlu wadah. Lalu saya pikir, kami memiliki sejarah yang mendasar, kenapa tidak kami lanjutkan. Jadi saya selalu melihat need dulu dari masyarakat karena trend itu berubah-ubah. Di bidang seni gamelan juga begitu. Hampir semua banjar (di Sanur ada 27 banjar, red) di Sanur punya sanggar dan gamelan. Maka, secara otomatis mereka pasti punya dasar. Sanur punya banyak tarian khusus seperti Baris Cina, Baris Tumbak, sampai Gambuh. Di Sanur ada orang magambel, mencari ikan, melukis, sampai memahat. Nah, dari dulu memang itulah kehidupan di Sanur.

 

Apa pertimbangan Anda ketika memberi prioritas fasilitas?

Yang saya fasilitasi berangkat dari pondasi yang ada, kemudian saya pertimbangkan ke mana masyarakat menginginkan. Di bidang seni lukis misalnya, syukur saja wadah itu berfungsi dan malah sudah bisa ekshibisi ke luar negeri -- tidak hanya di kandang sendiri. Awalnya dari pelukis Sanur, selanjutnya berkembang sampai pada pelukis lain. Saya memang mengangkat misi, selain masyarakat Sanur, juga akan memberikan kesempatan masyarakat Bali secara umum dan juga anak-anak yang berpotensi.

 

* * *

 

SEJAUH mana dampak peristiwa bom Bali terhadap perkembangan kepariwisataan di Sanur?

Pertama kita harus sadar bahwa pariwisata itu sangat berisiko karena merupakan suatu bisnis -- bisnis jual beli. Di situ ada transaksi ekonomi. Maka, tentu saja itu sangat berisiko karena pengaruh peristiwa bom, SAR, flu burung, ekonomi, politik dan lainnya. Pariwisata itu kan menangani orang yang hendak berlibur atau mencari senang. Kalau suatu daerah tidak menyenangkan lagi, itu berarti akan turun bargaining power-nya. Jadi, peristiwa bom sangat berpengaruh sekali terhadap kepariwisataan di Sanur.

 

Di Griya Santrian Resort yang Anda manajeri, bagaimana?

Syukur kami tidak sampai melakukan PHK di sini. Itu mungkin salah satu prestasi kami sehingga tiga kali berturut-turut kami mendapat penghargaan THK Award. Mungkin karena saya unggul di bidang pawongan, saya mempekerjakan 85 persen orang Sanur, dengan suatu konsep bahwa mereka harus menikmati pembangunan di daerahnya. Saya ingin agar mereka tidak menjadi penonton di daerahnya sendiri.

 

Apa pendapat khusus Anda terhadap peristiwa bom Bali I maupun II?

Dampak bom Bali I sangat berat dan panjang, sedangkan bom Bali II lebih parah bahkan bisa diibaratkan sebagai suntik mati. Begitu bom Bali II terjadi, kita tidak bisa mendambakan kepercayaan sebatas ngomong saja. Harus ada realisasinya, misalnya bagaimana mesti menangani persoalan security yang serius. Beberapa kali saya sempat menjual hotel dan vila yang bagus-bagus, tetapi tamu tetap mempertanyakan hal mendasar menyangkut pengamanannya.

 

Upaya apa yang Anda lakukan untuk pengamanan khususnya di Sanur?

Saya sangat yakin pengamanan hotel-hotel di Sanur sudah baik. Di luar itu, melalui komitmen Pemkot Denpasar, langkah-langkah pengamanan pariwisata sudah kami lakukan bersama. Di Sanur, sebenarnya saya menitikberatkan pada community base security, sebuah pengamanan yang pelakunya adalah masyarakat itu sendiri. Kamling saya gabungkan dengan Bankamdes, berkoordinasi dengan pecalang, Polsek Sanur, sekaa jukung, sampai sopir taksi. Ini perlu dilakukan sebab merekalah nantinya secara langsung, misalnya, akan melihat orang aneh yang melintas di daerahnya.

 

Apakah di Sanur pernah terjadi konflik dan bagaimana Anda mengelola atau menangani konflik itu sendiri?

Di Sanur pernah terjadi konflik, itu pasti. Umumnya itu berasal dari individual. Pertama dari pribadi, terus ke keluarga, ke banjar, kemudian ke desa adat. Di sini tokoh masyarakat Sanur sebagai elite politik sangat berperan. Jujur saja, keberadaan geria atau puri serta tokoh-tokohnya di Sanur masih disegani masyarakat, meskipun beberapa di antaranya sudah mulai merosot. Jadi, saya menitikberatkan pada tokoh-tokoh masyarakat. Di samping itu, tentu saja peranan unsur kelembagaan yang sudah ada seperti desa adat yang mempunyai andil meredam konflik lewat awig-awignya. Di Sanur, konflik antarbanjar tidak ada, tetapi pecahan dari banjar untuk membentuk banjar baru itu ada.

 

Apakah Yayasan Pembangunan Sanur (YPS) yang Anda pimpin sekarang memang memberi kontribusi positif bagi pembangunan Sanur?

Kalau dilihat dari ARD/ART-nya, jelas YPS ini sebagai lembaga yang memiliki tujuan mulia. Saya dipilih sebagai pengurus baru setahun. Dulu, ketika terbentuk, yayasan ini ada dalam nuansa politik yang cenderung memecah persaudaraan, teman, atau kerabat. Awalnya, para tetua di Sanur berkehendak membentuk suatu badan bantuan desa yang bertujuan menyatukan Sanur. Baru setelah 1966, badan itu berubah jadi yayasan. Dalam perjalanannya kemudian, YPS selalu memberi kontribusi positif seiring berkembangnya Sanur menjadi daerah pariwisata. Tugas YPS secara umum adalah meningkatkan kegiatan sosial, budaya, agama, ekonomi, sampai pendidikan bagi masyarakat Sanur. Kami juga sudah memiliki SMP Wisata, D1 untuk perhotelan, mewujudkan pembangunan nasional, memberikan lapangan pekerjaan yang berhubungan dengan biro sumber daya manusia. Saya melakukan kerja sama dengan para GM hotel di Sanur melalui sekolah LPS, seperti melakukan training dan bekerja. Melalui YPS, kami juga bertugas untuk pertahanan dan ketertiban masyarakat.

 

Banyak kritik, pantai buat publik di Sanur kian sedikit saja, lebih banyak dikuasai hotel. Menurut Anda?

Itulah kenyataannya di Sanur. Hal itu disebabkan perkembangan pariwisata awal di Sanur, tidak ada tata ruang yang jelas. Tidak terpikirkan untuk menata ruang, yang penting tamu datang. Hal itulah yang menyebabkan hampir semua bangunan dibangun langsung ke pantai. Kuta mungkin belakangan, sehingga di situ bisa dibangun jalan pantai. Memang pantai itu milik publik, tetapi tanahnya kan hak milik. Persoalan ini juga kami angkat dalam program kami ke depan. Semua program yang kami lakukan harus menyentuh masyarakat. Makanya kami tetap cadangkan bahwa pantai Matahari Terbit dan pantai Mertasari sebagai daerah publik. Intinya, semua kepentingan di Sanur dijaga. Saya ingin Sanur tetap eksis dengan karakternya.

 

Bagaimana kondisi kunjungan wisatawan di Sanur belakangan ini?

Masih didominasi wisatawan Jepang. Yang sangat merosot adalah wisatawan dari Australia. Pada musim liburan seperti sekarang, yang naik malah wisatawan Belanda dan Jerman.

 

Bagaimana dengan atraksi wisatanya sendiri?

Ini yang sebenarnya merupakan kekurangan Bali pada umumnya. Semua orang membikin kamar, vila, hotel, sedangkan objek-objek wisata sebenarnya bisa ditambah. Objek-objek wisata yang dimanfaatkan, semuanya ada sejak dulu. Mengapa misalnya tidak memperbanyak atraksi air, kita ini kan negeri bahari. Sebagai daerah tujuan wisata, saya melihat inovasi development Bali agak lambat. Pesta Kesenian Bali (PKB) bagus sebagai lokomotif untuk mendorong Bali recovery pariwisata, tetapi banyak juga yang melenceng.

 

Kabarnya Sanur juga akan menggelar festival seni?

Ya, namanya Sanur Festival, akan digelar Agustus 2006 mendatang. Ini yang pertama kali, kami sudah melakukan berbagai persiapan. Tema festival ini adalah fun and culture. Kami akan menampilkan sejumlah atraksi seperti selancar angin, layangan, dan pentas seni.

 

* * *

 

TENTANG Anda, bagaimana Anda bisa menerjuni usaha kepariwisataan (menjadi GM Griya Santrian Resort) sampai organisasi sosial kemasyarakatan (ketua Yayasan Pembangunan Sanur) seperti sekarang?

Terus terang saja, tiang niki nak Bali kui. Ketika saya lahir, usaha hotel (Griya Santrian Resort, red) ini sudah ada. Mungkin karena sejak kecil saya sudah biasa membicarakan turis, maka secara genetik dan biologis hal itu sudah tertanam pada diri saya. Setelah berkesempatan mengenyam pendidikan di Amerika, akhirnya di sana saya banyak belajar. Jujur saja, dulu saya tidak ingin terjun di pariwisata. Saya ingin jadi pegawai bank seperti umumnya anak muda lain. Saya pikir, jika pariwisata kolaps, kita tidak akan bisa berbuat apa-apa. Namun karena semuanya mengarah ke pariwisata, akhirnya saya jatuh di sini juga. Saya kembali dari Amerika setelah perekonomian keluarga jatuh. Saya merasa kuntinuitas perusahaan perlu dibantu, di samping juga saya bisa mengabdikan diri di geria -- secara purusa saya memiliki tanggung jawab.

 

Apakah langkah Anda itu semata-mata karena didasari persoalan materi atau uang?

Pola pikir saya kemudian menjadi berubah bahwa di Bali itu uang bukan segalanya, meski itu sebagai motivator. Saya pernah dipesankan para tetua, "Seliun-liune atu madue jinah, maan atu nenten taen tedun ke masyarakat, ten ada artine." Kata-kata itulah yang selalu mengiang di telinga saya. Makanya, kalau sudah ada karya di lingkungan saya, bisnis menjadi nomor sekian. Namun begitu, di satu sisi, bisnis haruslah dikelola secara profesional, tidak boleh secara sosial. Hasil dari bisnis, silakan untuk sosial. Saya dapat mengabdi di masyarakat dan saya harus mengeluarkan uang untuk menyewa orang yang top-top untuk dipekerjakan. Saya punya motivasi, karena saya lahir di tempat yang sulit, maka saya harus ngelah, dueg, dan bijaksana. Bagi saya, itu hal yang saya anggap sebagai pertahanan Bali terakhir. Saya memang tidak tahu semua pekerjaan, tetapi saya tahu yang mana pekerjaan yang seharusnya diambil.

 

* pewawancara:
  budarsana
  gus martin

 

BIODATA 

Nama                :  Ida Bagus Sidharta Putra, MBA
Tempat/lahir     :  Denpasar, 21 Mei 1970
Istri                  :  Sutrisnawati, S.E.
Anak                 :  IA Indira Putri
                            IB Agung Maha Gotama
                            IB Agung Mahesa Putra

Orangtua:         :  IB Tjethana Putra & AA Roosiawathi
Pendidikan        :  Maryville University, St. Louis AS

Jabatan             :  GM Griya Santrian Resort
                            Ketua Yayasan Pembangunan Sanur

 

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com