Surga dan 72 Bidadari
"Saya sempat menawarkan diri menjadi pelaku bom bunuh diri. Waktu
itu, Ustad saya (maksudnya Subur, tahanan Polda Metro Jaya)
mengatakan, dengan menjadi pelaku bom bunuh diri, saya akan masuk
surga. Saat meledak dan darah saya mengalir, saat itu dosa saya
akan dihapuskan. Kemudian saya akan dijemput 72 bidadari yang akan
mengantar saya ke surga," ungkap terdakwa Bom Bali II, Anif
Solchanudin alias Pendek bin Suyadi di Pengadilan Negeri (PN)
Denpasar.
(DenPost, Rabu 7 Juni 2006)
-----------------
PENGAKUAN Anif itu, konon kontan membuat para
pengunjung sidang, tak terkecuali para hakim dan jaksa, tertawa
sembari geleng-geleng kepala. Rubag yang hanya membaca koran, juga
geli dan prihatin. Ternyata di tengah-tengah kemajuan sains dan
teknologi, yang juga disertai kemajuan perangkat komunikasi yang
mampu mengakses seluruh pelosok Tanah Air, masih ada orang-orang
seperti Anif yang senantiasa dibuai khayal dan mimpi. Ironisnya,
khayalan serta mimpi tentang surga dan bidadari diindoktrinasi
orang yang seharusnya mengajarkannya tentang kesolehan dan
kebaikan, justru menjerumuskannya untuk jadi pembunuh massal.
"Apakah tidak lantaran banyak terjadi pembunuhan yang
mengatasnamakan Tuhan membuat Karl Marx melontarkan aphorisme,
agama adalah candu masyarakat? Mungkin karena perilaku beberapa
orang yang menganggap dirinya setara dengan Tuhan, kemudian
memerintahkan para pengikutnya melakukan tindakan yang
bertentangan dengan ajaran Tuhan, membuat Nietzsche mengatakan
bahwa Tuhan sudah mati. Selanjutnya, 'tuhan-tuhan kecil'
atau manusia yang berlagak seperti Tuhan itu memicu
konflik-konflik berlatar agama yang meletus sejak abad pertengahan
dan menelan jutaan korban manusia serta harta benda, termasuk
peninggalan sejarah," renung Rubag.
Rubag berusaha membayangkan kisah Perang Salib yang pecah tahun
1099 dan berlangsung selama beberapa abad, sehingga runtuhnya WTC
New York 11 September 2001 pun dianggap Rahul Mahajan sebagai
"Perang Salib Baru".
Sebagai orang Bali beragama Hindu, Rubag sebenarnya tak punya
urusan dengan Perang Salib yang terjadi di sebuah kawasan yang
tidak pernah dikunjunginya, bahkan tak ada kaitannya dengan
Hinduisme dan Bali(isme). Perang Salib semata-mata masalah
perebutan pengaruh dan kawasan suci Yerusalem di kalangan rumpun
agama Oksidental yang meliputi Ibrani, Kristen dan Islam.
Sedangkan Hindu, Budha dan Kong Hu Cu termasuk rumpun Oriental,
sama sekali tidak terkait dengan urusan itu.
Namun, lantaran bom bunuh diri meledak dua kali di tempat
kelahiran Rubag tahun 2002 dan 2005, yang menelan ratusan jiwa dan
merobek citra Bali sebagai daerah tujuan wisata dunia paling
nyaman, terbetik pertanyaan di benak Rubag, apakah skenario
"Perang Salib Baru" memperluas wilayahnya hingga ke Bali? Syukur,
orang-orang Bali yang selalu berpedoman pada kepercayaan "Karma
Phala" tidak terpancing sehingga terhindar dari perang saudara
seperti yang dialami masyarakat Ambon, Poso dan Palu. Di benak
orang Bali selalu terpateri ujaran "ala tinindak ala tinemu, ayu
tinindak ayu tinemu" sehingga dua kali ledakan bom hanya disikapi
dengan upacara dan doa atau yadnya.
"Saya tidak tahu wajah bidadari, saya juga tidak tahu surga itu
seperti apa. Pokoknya, pikiran saya terus dinasihati agar membenci
orang Amerika. Katanya orang-orang muslim di Amerika disiksa,
membuat saya benci Amerika dan pikiran saya terus dikontaminasi
nasihat-nasihat seperti itu. Dan saya baru tahu kalau itu semua
tidak benar, saya bersyukur tidak jadi menjadi pelaku bom bunuh
diri," tutur Anif, seperti dikutip DenPost, menjawab pertanyaan
hakim, apakah Anif tahu wajah bidadari dan pernah melihat surga.
***
MEMBACA pengakuan Anif itu, Rubag teringat
tentang somnambulisme yang ditulis Djorghi. Sebuah praktik
kebatinan yang dilakukan seorang ahli hipnotis terhadap seseorang,
di mana otak orang yang dijadikan objek atau somnambulis,
dikosongkan dan panca inderanya dinonaktifkan. Segala doktrin yang
didengarnya dari pihak yang menghipnotis menjadi dasar pijakannya
selama dalam kondisi somnambul. Dia mengalami amnesia dan
penuh halusinasi. Karena terputusnya hubungan panca indera dengan
otak, dia tidak mampu menganalisis apa pun kecuali doktrin yang
didengarnya dari penghipnotis.
Dalam kasus Anif, yang didengar cuma tentang kebencian terhadap
Amerika, instruksi membunuh lewat bom bunuh diri, penghapusan
dosa, janji masuk surga dan disambut 72 bidadari. Dalam keadaan
somnambul (somnus = tidur, ambulare = jalan) atau tidur sambil
jalan, somnambulis bisa melakukan tugasnya lebih cekatan dibanding
orang-orang normal karena tidak terpengaruh situasi lingkungan
akibat tidak berfungsinya panca indera.
"Pada saat pelaku bom bunuh diri melakukan misinya, semua sistem
pertahanan menjadi telanjang dan tidak relevan. Kecerdikan bom
bunuh diri jauh melampaui smart bomb yang senantiasa dibanggakan
Amerika Serikat," komentar pakar antiteroris Israel, Boaz Ganor.
Pendapat Boaz Ganor itu tidak perlu diragukan. Paling tidak, ada
dua kali bom bunuh diri yang terjadi di kota kebanggaan AS, New
York dengan sasaran yang sama, World Trade Center (WTC). Pertama,
sebuah truk sewaan penuh bahan peledak mengguncang lapangan parkir
gedung yang menjadi lambang kapitalisme global itu pada 26
Februari 1993, meski hanya menimbulkan kerusakan tidak berarti.
Mahmud Abouhalima, pria keturunan Mesir yang menetap di New York
City ditangkap dan dituduh sebagai otak pelaku pengeboman.
Di pengadilan, Abouhalima yang beristrikan wanita Jerman karena
sebelumnya pernah tinggal di Munich mengatakan bahwa dia tidak
tersangkut paut dalam pengeboman itu, namun menyetujui tindakan
itu bila dikaitkan dengan tindakan serupa yang dilakukan AS
terhadap Nagasaki dan Hiroshima pada Perang Dunia II. Dia kecewa
karena kerusakan tak seberapa. Selanjutnya dia berkomentar bahwa
Amerika adalah musuh dunia.
Guru spiritual Abouhalima, Syekh Omar Abdul Rahman menambahkan,
"Pembalasan Tuhan akan mencoret Amerika dari muka bumi!"
Kebencian serupa juga dinyatakan Osama bin Laden, sebelum dua
pesawat komersial bajakan menghujam WTC, 11 September 2001.
Alasannya, AS telah menduduki tanah-tanah Islam di tempat-tempat
yang paling suci, semenanjung Arabia, menguras kekayaannya,
mendikte para penguasanya, merendahkan orang-orangnya dan mengadu
domba negara-negara muslim yang bertetangga.
Karena itu, Osama menyerukan agar semua umat muslim bergabung
dengannya dalam sebuah perang demi kebajikan untuk membunuh
orang-orang Amerika dan merampas uang mereka di mana pun dan kapan
pun. "Hal ini sesuai dengan firman Tuhan Yang Mahakuasa dan setiap
muslim yang beriman pada Tuhan dan ingin mendapatkan pahala harus
menuruti perintah Tuhan," seru Osama seperti ditulis Mark
Juergensmeyer dalam buku "Teror Atas Nama Tuhan, Kebangkitan
Global Kekerasan Agama".
Agaknya, pikir Rubag, doktrin serupa yang diserukan Osama-lah
mungkin didengar Anif secara berulang-ulang sehingga dia membenci
Amerika seperti musuh bebuyutan. Karena saking terbius ingin
menginjak surga dan disambut 72 bidadari, pria kelahiran Semarang
itu nyaris ikut membunuh orang-orang yang bahkan tidak pernah
dikenalnya dan bukan musuh pribadinya. Mungkin karena di bawah
somnambul, tidak pernah dipikirkannya kalau banyak di antara
mereka yang tewas dan terluka dalam tragedi bom 1 Oktober 2005 di
Kuta dan Jimbaran itu, pernah menyanyikan "Satu Nusa Satu Bangsa"
dan "Indonesia Raya" semasa hidupnya.
* aridus