Persoalan
Bawang Merah
Bawah Putih
Cinderella dan
Ibu Tiri
Satu
persoalan lagi
berkenaan dengan
dongeng ''Bawang
Merah Bawang
Putih'' adalah
mengenai
kedudukan Men Bawang
dalam keluarganya.
Adakah
Men Bawang istri
satu-satunya Pan
Bawang?
Apakah Men
Bawang ibu
kandung atau
ibu tiri I
Bawang, I Kesuna
dan I Cekuh?
-------------
STITH
Thompson, ahli
cerita rakyat
dari Amerika
Serikat dalam
bukunya ''The Types of the Folktale''
mengklasifikasikan
cerita rakyat
dari berbagai
kelompok
kebudayaan di
dunia.
Penggolongan
itu dilakukan
berdasarkan tipe
dan motif cerita,
yang memiliki
unsur persamaan
atau kemiripan.
Dongeng
''Bawang Merah
Bawang Putih''
cocok benar
dimasukkan dalam
satu ''keranjang''
(maaf, ini
istilah saya
sendiri) dengan
dongeng ''Cinderella'' yang
sangat populer
di Eropa.
Contoh lain
yang dapat
dimasukkan ke
dalam ''keranjang''
itu, dongeng
''Ande-ande Lumut''
dan 'Si
Melati dan
si Kecubung'
dari Jawa.
Dongeng-dongeng
serupa itu
memiliki persamaan
terutama yang
dialami protagonis
seperti misalnya
diberi pakaian
buruk,
diperlakukan tidak
adil, bertemu
tokoh penolong,
bertemu pangeran,
dan
menunjukkan
jatidiri.
Untuk
memperjelas
persmaan-persamaan itu,
sebaiknya ikuti
dulu dongeng
''Cinderella'' yang diringkas
dari cerita
''Cinderella'' versi
Perancis yang
ditulis Charles Perrault
sebagai berikut.
***
Sepeninggal
ayahnya, Cinderella
diasuh oleh
ibu tirinya
yang sudah
mempunyai dua
orang anak
perempuan.
Ibu
tiri itu
sangat tidak
adil
memperlakukan anak-anaknya.
Cinderella selalu
mendapat
perlakuan buruk
dari ibu
dan saudara
tirinya.
Layaknya
seorang pembantu,
Cinderella harus
menyelesaikan pekerjaan yang
berat seperti
mencuci piring,
membersihkan
kamar ibu
dan saudara-saudara
tirinya.
Tempat
tidurnya dari
jerami di
bawah atap,
sedangkan ibu
dan saudara
tirinya tidur
di kamar
yang berlantai
kayu, lengkap
dengan peralatan
yang mewah dan
indah.
Pembagian
pakaian pun
demikian.
Saudara
tirinya mendapat
pakaian yang
indah dan
perhiasan yang mahal,
tetapi Cinderella
mendapat pakaian yang
kumal dan
compang-camping.
Walaupun demikian
ia
kelihatan lebih
cantik dari
saudara tirinya.
Pada
suatu hari
tersebar berita
bahwa putra
raja akan
dinikahkan dengan
seorang putri
yang menjadi
pilihannya. Untuk
mendapatkan calon
istri, maka
di istana
diselenggarakan
pesta dansa yang
hanya boleh
diikuti oleh
putri-putri
berdarah biru.
Cinderella adalah
anak bangsawan,
demikian pula
saudara-saudara tirinya.
''Walaupun
kamu keturunan
bangsawan,
sebaiknya kamu
tidak ikut,''
demikian saran
saudara tirinya.
''Orang-orang
akan tertawa
melihat
penampilanmu yang memalukan!''
katanya lagi.
Seperti
biasanya, Cinderella
mengerjakan
pekerjaannya sehari-hari.
Setelah itu
ia
disuruh
menyetrika, mempersiapkan
pakian dansa
dan membantu
menghiasi saudara
tirinya yang akan
berangkat ke
istana.
Ketika
waktu yang
dinanti-nantikan itu
tiba, kedua
saudara tirinya
itu berangkat
dengan kereta
ke istana.
Cinderella hanya
mengikutinya
dengan pandangan
mata.
Ia menangis
mengenang
nasibnya yang
malang.
''Kau
pasti ingin
sekali ke
pesta dansa,
Anakku!''
Tiba-tiba
di depannya
berdiri seorang
peri.
''Berhentilah
menangis, kamu
pasti akan
mengikuti pesta
itu di
istana.''
Peri
itu menyuruh
Cinderella memetik
sebuah labu
manis
dari kebun.
Dengan sentuhan
tongkat
wasiat,
sang peri
mengubah labu
itu menjadi
sebuah kereta
kencana.
Kemudian
Cinderella disuruh
lagi menangkap
beberapa ekor
tikus dan
kadal.
Tikus dan
kadal itu pun
diubah peri
menjadi kuda,
sais
dan pelayan.
Terakhir,
peri itu
menyediakan
pakaian yang indah
dan gemerlapan
serta menyuruh
Cinderella mengenakan
sepasang sepatu
dari kaca.
Malam
itu Cinderella
tampak sebagai
seorang bidadari
dari kayangan.
''Berangkatlah
sekarang,
ikutilah pesta
dansa itu
bersungguh-sungguh!
Tapi
ingat, sebelum
tengah malam
kamu harus
sudah berada
di rumah!''
kata peri
itu.
* made taro