Kadek Winda Wulantari
Tertantang Berperan Lembut
SAMA sekali tak pernah terlintas dalam pikiran
Kadek Winda Wulantari, jika peran Dewi Candrawati, tokoh putri
dalam Pragmentari Sutasoma produksi Kabupaten Badung serangkaian
pentas di Pesta Kesenian Bali (PKB) 2006 mendatang, dipercayakan
kepadanya. Karena, dara kelahiran Denpasar, 19 Februari 1990 ini
sebelumnya tak pernah melakoni tokoh "putri halus". Ia lebih
sering membawakan tari berkarakter bebancihan,
baik
dalam tari kreasi baru ataupun tari-tarian lepas. "Senang banget
saya dipercaya memerankan putri. Dulu, setiap festival gong kebyar
saya lebih sering mendukung sekaa gong anak-anak. Kini, saya bisa
ikut di kelompok dewasa," kata Winda, panggilan akrabnya.
Siswi kelas I SMA Negeri 5 Denpasar ini mengaku,
kali ini tugas yang dibebankan kepadanya begitu berat. Karena, ia
harus mampu mengubah karakter gagah dan keras menjadi karakter
lembut. Selain itu, setahu Winda, peran putri biasanya dibawakan
oleh orang yang memiliki karakter halus, berkulit putih, lembut,
dan cantik. Winda merasa semua kriteria itu tidak ada padanya,
sehingga ia merasa tertantang untuk terus memacu diri menjadi
lebih baik.
Dara penyuka warna hijau lumut dan suka jalan-jalan
ke pegunungan ini mengatakan tampil di ajang PKB tidak boleh
main-main, harus mempersiapkan diri dengan serius. Untuk itu,
Winda terus memacu diri dengan terus berlatih, melenggak-lenggok
dibarengi senyum-senyum di depan cermin. "Benar, saya sering
dibilang gila oleh teman-teman. Tapi, saya cuek," ujar penari
langganan hotel yang setelah pariwisata ambruk kini mengaku jarang
menari di kawasan wisata dan lebih banyak untuk resepsi atau acara
lainnya.
Memang, untuk pergelaran tari, Winda yang beralamat
di Jalan Tukad Yeh Ho VI No.1 Denpasar ini tidak pernah
pilih-pilih. Disuruh menari apa pun akan dilakukannya. "Kalau
diberikan kesempatan memilih, saya lebih suka menari Oleg
Tamulilingan. Tapi sayang, saya belum mampu menjiwai tari ciptaan
Mario itu. Soalnya saya memiliki kebiasaan cerewet, keras dan
terkadang berkelakuan kayak laki-laki," kata penari langganan duta
Kabupaten Badung di PKB sejak 2002 ini.
Winda yang bercita-cita menjadi guru kimia ini
mengatakan tidak menyangka akan bisa menjadi penari Bali. Karena,
ketika masih kanak-kanak, ia tak mau berlatih tari, walaupun
terkadang dipaksa mamanya. Tapi, setelah dicoba ikut latihan,
ternyata ia senang bahkan ketagihan. Walaupun sering grogi dan
memiliki kebiasaan tampil tak percaya diri, ternyata Winda sangat
kreatif. "Berbagai lomba saya ikuti. Dari lomba tari, model,
Paskibraka, hingga melukis," ujar peraih juara I Legong Kraton
yang digelar Mc Donal's Sanur bekerja sama dengan Sanggar Tari
Kipas Kuta serta Juara II Oleg Tamulilingan se-Bali pada 2005 ini.
Diam-diam, anak kedua tiga bersaudara putri
pasangan I Wayan Suastika dan Ni Ketut Nik Mertawati ini ternyata
gadis yang berbakat di dunia model. Beberapa waktu lalu, ia
terpilih masuk lima besar pada pemilihan Teruna-teruni Denpasar.
Menurut Winda, dalam ajang ini ia bisa menambah wawasan juga
banyak mendapat pengalaman, seperti terjun langsung ke masyarakat,
berkenalan dengan putri-putri daerah lain, berbincang-bincang
dengan wisatawan mancanegara, serta sering menyambut tamu
pemerintahan dengan tampil sebagai pagar ayu.
(ana)