kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 11 Juni 2006 tarukan valas
 

BERITA


Kadek Winda Wulantari

Tertantang Berperan Lembut

SAMA sekali tak pernah terlintas dalam pikiran Kadek Winda Wulantari, jika peran Dewi Candrawati, tokoh putri dalam Pragmentari Sutasoma produksi Kabupaten Badung serangkaian pentas di Pesta Kesenian Bali (PKB) 2006 mendatang, dipercayakan kepadanya. Karena, dara kelahiran Denpasar, 19 Februari 1990 ini sebelumnya tak pernah melakoni tokoh "putri halus". Ia lebih sering membawakan tari berkarakter bebancihan, baik dalam tari kreasi baru ataupun tari-tarian lepas. "Senang banget saya dipercaya memerankan putri. Dulu, setiap festival gong kebyar saya lebih sering mendukung sekaa gong anak-anak. Kini, saya bisa ikut di kelompok dewasa," kata Winda, panggilan akrabnya.

Siswi kelas I SMA Negeri 5 Denpasar ini mengaku, kali ini tugas yang dibebankan kepadanya begitu berat. Karena, ia harus mampu mengubah karakter gagah dan keras menjadi karakter lembut. Selain itu, setahu Winda, peran putri biasanya dibawakan oleh orang yang memiliki karakter halus, berkulit putih, lembut, dan cantik. Winda merasa semua kriteria itu tidak ada padanya, sehingga ia merasa tertantang untuk terus memacu diri menjadi lebih baik.

Dara penyuka warna hijau lumut dan suka jalan-jalan ke pegunungan ini mengatakan tampil di ajang PKB tidak boleh main-main, harus mempersiapkan diri dengan serius. Untuk itu, Winda terus memacu diri dengan terus berlatih, melenggak-lenggok dibarengi senyum-senyum di depan cermin. "Benar, saya sering dibilang gila oleh teman-teman. Tapi, saya cuek," ujar penari langganan hotel yang setelah pariwisata ambruk kini mengaku jarang menari di kawasan wisata dan lebih banyak untuk resepsi atau acara lainnya.

Memang, untuk pergelaran tari, Winda yang beralamat di Jalan Tukad Yeh Ho VI No.1 Denpasar ini tidak pernah pilih-pilih. Disuruh menari apa pun akan dilakukannya. "Kalau diberikan kesempatan memilih, saya lebih suka menari Oleg Tamulilingan. Tapi sayang, saya belum mampu menjiwai tari ciptaan Mario itu. Soalnya saya memiliki kebiasaan cerewet, keras dan terkadang berkelakuan kayak laki-laki," kata penari langganan duta Kabupaten Badung di PKB sejak 2002 ini.

Winda yang bercita-cita menjadi guru kimia ini mengatakan tidak menyangka akan bisa menjadi penari Bali. Karena, ketika masih kanak-kanak, ia tak mau berlatih tari, walaupun terkadang dipaksa mamanya. Tapi, setelah dicoba ikut latihan, ternyata ia senang bahkan ketagihan. Walaupun sering grogi dan memiliki kebiasaan tampil tak percaya diri, ternyata Winda sangat kreatif. "Berbagai lomba saya ikuti. Dari lomba tari, model, Paskibraka, hingga melukis," ujar peraih juara I Legong Kraton yang digelar Mc Donal's Sanur bekerja sama dengan Sanggar Tari Kipas Kuta serta Juara II Oleg Tamulilingan se-Bali pada 2005 ini.

Diam-diam, anak kedua tiga bersaudara putri pasangan I Wayan Suastika dan Ni Ketut Nik Mertawati ini ternyata gadis yang berbakat di dunia model. Beberapa waktu lalu, ia terpilih masuk lima besar pada pemilihan Teruna-teruni Denpasar. Menurut Winda, dalam ajang ini ia bisa menambah wawasan juga banyak mendapat pengalaman, seperti terjun langsung ke masyarakat, berkenalan dengan putri-putri daerah lain, berbincang-bincang dengan wisatawan mancanegara, serta sering menyambut tamu pemerintahan dengan tampil sebagai pagar ayu. (ana)

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com