Indonesia Jaga Jarak dengan Timor Leste
Denpasar
(Bali Post) -
Hubungan Indonesia dengan Timor Leste tak akan lagi mengulangi
konflik masa lalu. Berdasarkan pengalaman sejarah, Indonesia tak
ingin membuat masalah lagi dengan Timor Leste. ''Kita akan selalu
berupaya menjaga jarak dengan Timor Leste,'' ujar Koordinator Staf
Ahli Menteri Pertahanan dan Keamanan Prof. Dr. Bambang Pranowo
usai berbicara pada sarasehan nasional 100 tahun Puputan Badung di
Nusa Dua, Sabtu (10/6) kemarin.
Ditegaskan, pemerintah Indonesia tak akan lagi
melakukan pendekatan militer seperti masa lalu. Indonesia sadar
dengan pendekatan seperti itu akan membawa kesengsaraan kepada
warga negara. Dengan demikian, pendekatan yang dilakukan lebih
bersifat defensif daripada refresif.
Kata dia, bagaimanapun gawatnya situasi akan selalu
diupayakan dengan jalan damai. ''Kita sangat hati-hati kalau
membicarakan persoalan Timor Leste, apalagi teringat sejarah masa
lalu,'' tegasnya.
Sejarah hubungan Indonesia-Timor Leste yang kelam
masa lalu, diakui berdampak pada embargo senjata AS kepada
Indonesia. Embargo itu kini sudah tidak dilakukan lagi oleh
pemerintah Amerika Serikat. Menanggapi masih adanya kelompok di
Indonesia yang berbuat anarkis, Bambang Pranowo mengatakan
Indonesia masih berada dalam transisi demokrasi. Masih ada
pihak-pihak yang belum paham melaksanakan demokrasi secara baik
dan benar. Manakala cara seperti itu dilakukan pemerintah tak
segan-segan bertindak tegas. ''Asal ada bukti kuat secara hukum
kita pasti akan menindak tegas,'' katanya seraya menunjukkan bukti
kelompok tertentu di Jakarta ditindak atas perbuatan anarkisnya.
Sementara itu, sekapur sirih semangat 100 tahun
Puputan Badung dalam Bali recovery disampaikan Raja Denpasar IX
Ida Tjokorde Ngurah Jambe Pemecutan. Menurutnya, perang puputan
adalah tonggak pertama peristiwa sejarah perjuangan terbesar di
Bali. Sebagai peristiwa sejarah, sudah selayaknya mendapat tempat
di setiap hati pewarisnya dan harus dijunjung sebagaimana
penghormatan terhadap para pahlawan dan pejuang kemerdekaan
bangsa.
Selama tahun 2005, Puri Agung Satria bersama puri
lain telah mengadakan ritual Maligya Jangkep, Tawur Agung Lebur
Sanga sampai Mabhiseka Ratu Ida Tjokorde Denpasar. Acara ritual
tersebut dimaksudkan untuk mengantarkan para kesatrya yang telah
digugur di medan perang menuju surga loka serta membersihkan jagat
Bali dari peristiwa berdarah Puputan Badung 1906. Sementara pada
tahun 2006, akan dilanjutkan dengan berbagai acara bertema
semangat Puputan Badung dalam rangka pemulihan Bali. Hasil
sarasehan ini menurut Raja Denpasar IX akan dituangkan dalam
maklumat Pemahayu Jagat. Hasilnya dikirim kepada tokoh nasional
termasuk Presiden SBY. (029)