kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 11 Juni 2006 tarukan valas
 

APRESIASI


Religiusitas (Jiwa Agama) sebelum Lembaga Agama Dibuat

Tokoh Agama Lahir tanpa Ibu...

 

TIDAK gampang menjadi tokoh agama di Bali. Karena konsep mengabdi dan mengatur hanya dibatasi kepintaran. Pembaca epos Mahabharata boleh berkata bahwa mengabdi kepada jagat dan umat adalah dengan cara mengatur jagat dan umat. Karena memang begitu dicontohkan oleh tokoh Dharmawangsa, saudara tertua Panca Pandawa, seorang maharaja yang mengabdikan hidup dan kepintarannya kepada jagat dan umat dengan cara mengatur jagat dan umat. Yang mengabdi menjadikan dirinya sebagai pusat, dari mana aturan datang. Yang dilayani menjadi objek yang harus mengikuti aturan.

Tafsir seperti itu tidak salah. Tafsir itu menunjukkan bahwa dalam mengabdi orang mengidentifikasikan dirinya sebagai pengatur. Identifikasi diri seperti itu juga tidak salah. Bahkan itu masih lebih bagus daripada mengidentifikasi diri sebagai provokator atau terminator. Hanya saja, dalam Mahabharata hanya ada satu Dharmawangsa. Selebihnya adalah para pendukung dan musuh. Jika seorang pengabdi agama mengidentifikasikan diri dengan Dharmawangsa, sangat bahaya bila memandang orang lainnya kalau tidak pendukung, pasti musuh.

Dharmawangsa dipandang punya hak mengatur jagat karena pada dirinya ada dharma. Apa yang diceritakan kepada kita, nampak kontroversial. Di bawah kekuasaannya jagat tetap saja kacau. Perang keji tidak terhindarkan. Sehabis perang, bencana datang sambung menyambung. Sampai akhirnya semua mati. Hanya tinggal Dharmawangsa bersama seekor anjing.

Betapa pun hebatnya seorang Dharmawangsa, ia tentu mengalami kesepian luar biasa. Karena hanya dirinya yang hidup di tengah-tengah kematian. Kesepian di puncak kemenangan. Ia rupanya tidak mau menerima kesepian itu sebagai hadiah. Lalu ia pindah ke alam lain: surga. Dengan meninggalkan dunia, konflik kesepian itu berhasil ia hindari. Perpindahan itu dilakukannya setelah tidak ada lagi yang perlu diatur di dunia. Karena semuanya telah mati, saudara, kerabat, maupun musuh. Setelah ke surga, narator Mahabharata tidak menceritakan bagaimana nasib jagat yang ditinggalkan. Pembaca bisa membayangkan jagat pasti tetap kacau. Bahkan sampai sekarang pun jagat masih kacau, walau telah muncul puluhan tiruan Dharmawangsa yang memaksakan pengabdiannya pada umat dengan menuntut hak mengatur.

Sebagai manusia yang hidup di jagat, maka jagatlah menjadi pusat perhatian kita. Kelak bila kita semua sudah hidup di surga, maka surgalah yang akan menjadi pusat perhatian kita. Narator Mahabharata tidak menceritakan bagaimana jagat setelah semuanya kacau, tetapi beralih menceritakan surga. Pembaca seakan diberitahu, bahwa jagat bukan hanya ditinggalkan oleh tokoh cerita, juga oleh pengarangnya. Kita jadi berpikir, seorang manusia mungkin mencapai kedamaian di dalam dirinya, tetapi jagat manusia pastilah tetap kacau. Menceritakan kehidupan roh di surga rupanya lebih menarik daripada menceritakan apa yang harus dilakukan manusia setelah semua pahlawannya mati. Sampai sekarang pun orang setuju surga lebih menarik daripada dunia.

Bagian akhir epos itu seorang memberitahu pembaca bahwa keseluruhan kisah sebelumnya adalah ajaran pembebasan roh individu. Pembebasan masyarakat kolektif dari kehancuran tidak mendapatkan jawaban di sana. Karena para tokoh cerita lebih sibuk memerangi musuh daripada membebaskan bumi dari permusuhan. Sampai sekarang pun ajaran ''menghentikan permusuhan dengan mematikan musuh'' masih dipraktikkan.

Di situlah sulitnya menjadi tokoh agama. Karena begitu berhasil menjadi tokoh, orang tidak bisa langsung berhadapan dengan umat yang hendak dilayani. Tetapi mesti menghadapi tokoh-tokoh lainnya terlebih dahulu. Ironis, kelahiran seorang tokoh selalu diikuti kelahiran musuh-musuh. Tokoh dan musuh sama-sama bersenjatakan pembenaran sebuah klaim. Dalam konflik antartokoh, sering terdengar mereka berubah wujud menjadi sosok preman. Dan mereka bangga dengan itu. Itulah masalahnya.

Akhirnya persis seperti cerita wayang. Cerita itu indah karena penuh dengan lukisan kebencian, peperangan, dendam, dan kesepian luar biasa. Dalam narasi, perang diubah menjadi kawasan yang indah luar biasa. Dalam Kakawin Bharatayuddha perang dinyatakan sebagai ritual seorang pemimpin. Untaian bunga di kepala musuh yang mati, dijadikan bunga persembahan. Permata manik hiasan kepala raja  yang mati adalah beras pemujaannya. Negara musuh yang terbakar adalah api pemujaannya. Isi persembahan adalah kepala musuh yang telah terpenggal beserta darahnya yang bercecean. Demikian pentingnya perang bagi seorang pemimpin menyebabkan pengarang kakawin Bharatayuddha menempatkan pernyataan perang itu sebagai bait pertama. Tradisi memaknai perang itu sebagai simbul ''perang melawan musuh dalam diri''. Tetapi tidak semua orang memaknai seperti itu. Banyak orang memahami apa adanya: hancurkan dan bunuh!

Dalam cerita ada garansi kebenaran pasti menang. Tetapi tidak ada garansi jagat akan berhenti kacau setelah kebenaran menang. Seperti kisah Dharmawangsa di atas. Ia menang setelah semuanya mati. Dan ketika ia masuk surga, dunia yang ditinggalkan tetap kacau.

Kebenaran melahirkan musuh dari dalam kandungannya sendiri, yaitu ketidakbenaran. Pada gilirannya, kebenaran itu ada karena sejumlah perlawanan dari ketidakbenaran.

Ada banyak kesulitan menjadi tokoh agama kalau dipikir-pikir. Barangkali jauh lebih banyak lagi kesulitannya kalau dialami langsung. Tetapi tetap saja posisi tertinggi di lembaga agama menjadi rebutan. Seperti kisah dewa dan raksasa memperebutkan tirta amerta atau ''air kehidupan'' yang akan membuat mereka tidak mati-mati. Alias abadi. Susah dipahami, kenapa mereka berebutan hak hidup selamanya. Mungkinkah dunia ini begitu menyenangkan untuk ditinggalkan pergi mati walau sementara. Karena, bukankah sudah dijanjikan bagi kebanyakan orang akan menjelma kembali ke tempat yang indah ini. Caranya pun tidak susah, asal punya dosa.

Sungguh tidak penting menunjuk siapa dewa dan siapa raksasa dalam perebutan tirtha amerta itu. Tidak penting mengetahui siapa yang bertahan dan siapa yang menyerang. Siapa yang dibenarkan dan siapa yang disalahkan. Siapa yang dianggap berhak dan siapa yang dianggap tidak. Yang jelas, sedang ada perebutan, pertengkaran, perang, dan sejumlah kebencian dan dendam.

Tidak gampang menjadi tokoh agama. Karena jiwa-agama, atau religiusitas, sudah ada jauh sebelum lembaga agama dibuat. Dengan logika paling sederhana kita tahu, lembaga agama tidak bisa dan tidak mampu mewadahi jiwa-agama yang sudah berabad-abad. Dalam lembaga tak berdaya seperti itulah tokoh-tokoh berlindung dan menyandarkan diri. Lembaga itu memerlukan umat, agar ada yang bisa diatur. Sementara umat tidak mempertanyakan apakah dirinya perlu lembaga atau tidak. Dari balik jendela lembaga, para tokoh hendak menunjukkan arah ke mana umat semestinya berjalan. Antara lembaga yang mengatasnamakan umat dan umat yang tidak terwakili oleh lembaga terdapat hubungan aneh yang entah apa namanya. Umat berjalan tanpa sadar menggendong lembaga di punggungnya.

Belakangan ini, hampir tiap hari lahir tokoh agama. Ada yang lahir lewat koran, radio, televisi, forum pemerhati, SLM, lembaga adat dan akademisi. Hebatnya, mereka melahirkan dirinya sendiri, dengan caranya sendiri, tanpa ''ibu-pengabdian''. Kejadiannya persis seperti kelahiran Dewa Kala yang tanpa ibu.

Pada suatu hari, Bhatara Siwa berjalan-jalan dengan istrinya, Dewi Uma. Tiba-tiba bangkit birahinya melihat kain Dewi Uma disingkapkan angin. Secara halus Dewi Uma menolak rayuan Siwa. Terlambat, sperma Siwa menetes dan jatuh ke laut. Benih itulah yang kemudian menjadi Kala yang saktinya luar biasa. Kala langsung ngamuk memporakporandakan apa saja yang dilihatnya. Ia kesepian dilahirkan tanpa identitas yang jelas. Tanpa ibu. Begitulah, para tokoh agama yang tiba-tiba lahir, tanpa dilahirkan oleh ibu-pengabdian, tak ubahnya Kala.

Seperti seorang selebritis lokal, begitulah tokoh agama belakangan ini. Muncul di media tiap hari. Berkotbah ke sana ke mari. Fasih membolak-balikkan kata berkorban, mengabdi, pengendalian diri, penyerahan total, bakti dan sebagainya. Entah apa arti istilah itu sekarang, penggunaannya sudah kacau seperti yel-yel demonstran yang maju tak gentar membela yang bayar.

Yang kemudian dicatat oleh sejarah adalah Tokoh bukan umat. Yang diberi penghargaan adalah pemenang, bukan yang kalah. Itulah sebabnya tokoh agama semenjak dahulu menjadi fenomena zaman. Jiwa sebuah zaman dalam sejarah manusia lebih sering ditandai oleh jiwa tokohnya, bukan jiwa pengikutnya. Zaman Kali, sebuah zaman yang belakangan ini sangat banyak dibicarakan, juga lebih ditandai oleh jiwa para tokoh bukan jiwa umat. Karena itu, sungguh penting dan pasti menarik, bila tokoh agama diteliti. Bukan untuk membuktikan benar tidaknya interpretasi zaman Kali, tetapi agar umat nantinya bisa mendongeng anak cucu tentang kisah-kisah tokoh agama dan konflik yang diciptakannya.

 

IBM Dharma Palguna

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com