Religiusitas (Jiwa Agama) sebelum Lembaga Agama Dibuat
Tokoh Agama Lahir tanpa Ibu...
TIDAK
gampang menjadi tokoh agama di Bali. Karena konsep mengabdi dan
mengatur hanya dibatasi kepintaran. Pembaca epos Mahabharata boleh
berkata bahwa mengabdi kepada jagat dan umat adalah dengan cara
mengatur jagat dan umat. Karena memang begitu dicontohkan oleh
tokoh Dharmawangsa, saudara tertua Panca Pandawa, seorang maharaja
yang mengabdikan hidup dan kepintarannya kepada jagat dan umat
dengan cara mengatur jagat dan umat. Yang mengabdi menjadikan
dirinya sebagai pusat, dari mana aturan datang. Yang dilayani
menjadi objek yang harus mengikuti aturan.
Tafsir seperti itu tidak salah. Tafsir itu
menunjukkan bahwa dalam mengabdi orang mengidentifikasikan dirinya
sebagai pengatur. Identifikasi diri seperti itu juga tidak salah.
Bahkan itu masih lebih bagus daripada mengidentifikasi diri
sebagai provokator atau terminator. Hanya saja, dalam Mahabharata
hanya ada satu Dharmawangsa. Selebihnya adalah para pendukung dan
musuh. Jika seorang pengabdi agama mengidentifikasikan diri dengan
Dharmawangsa, sangat bahaya bila memandang orang lainnya kalau
tidak pendukung, pasti musuh.
Dharmawangsa dipandang punya hak mengatur jagat
karena pada dirinya ada dharma. Apa yang diceritakan kepada kita,
nampak kontroversial. Di bawah kekuasaannya jagat tetap saja
kacau. Perang keji tidak terhindarkan. Sehabis perang, bencana
datang sambung menyambung. Sampai akhirnya semua mati. Hanya
tinggal Dharmawangsa bersama seekor anjing.
Betapa pun hebatnya seorang Dharmawangsa, ia tentu
mengalami kesepian luar biasa. Karena hanya dirinya yang hidup di
tengah-tengah kematian. Kesepian di puncak kemenangan. Ia rupanya
tidak mau menerima kesepian itu sebagai hadiah. Lalu ia pindah ke
alam lain: surga. Dengan meninggalkan dunia, konflik kesepian itu
berhasil ia hindari. Perpindahan itu dilakukannya setelah tidak
ada lagi yang perlu diatur di dunia. Karena semuanya telah mati,
saudara, kerabat, maupun musuh. Setelah ke surga, narator
Mahabharata tidak menceritakan bagaimana nasib jagat yang
ditinggalkan. Pembaca bisa membayangkan jagat pasti tetap kacau.
Bahkan sampai sekarang pun jagat masih kacau, walau telah muncul
puluhan tiruan Dharmawangsa yang memaksakan pengabdiannya pada
umat dengan menuntut hak mengatur.
Sebagai manusia yang hidup di jagat, maka jagatlah
menjadi pusat perhatian kita. Kelak bila kita semua sudah hidup di
surga, maka surgalah yang akan menjadi pusat perhatian kita.
Narator Mahabharata tidak menceritakan bagaimana jagat setelah
semuanya kacau, tetapi beralih menceritakan surga. Pembaca seakan
diberitahu, bahwa jagat bukan hanya ditinggalkan oleh tokoh
cerita, juga oleh pengarangnya. Kita jadi berpikir, seorang
manusia mungkin mencapai kedamaian di dalam dirinya, tetapi jagat
manusia pastilah tetap kacau. Menceritakan kehidupan roh di surga
rupanya lebih menarik daripada menceritakan apa yang harus
dilakukan manusia setelah semua pahlawannya mati. Sampai sekarang
pun orang setuju surga lebih menarik daripada dunia.
Bagian akhir epos itu seorang memberitahu pembaca
bahwa keseluruhan kisah sebelumnya adalah ajaran pembebasan roh
individu. Pembebasan masyarakat kolektif dari kehancuran tidak
mendapatkan jawaban di sana. Karena para tokoh cerita lebih sibuk
memerangi musuh daripada membebaskan bumi dari permusuhan. Sampai
sekarang pun ajaran ''menghentikan permusuhan dengan mematikan
musuh'' masih dipraktikkan.
Di situlah sulitnya menjadi tokoh agama. Karena
begitu berhasil menjadi tokoh, orang tidak bisa langsung
berhadapan dengan umat yang hendak dilayani. Tetapi mesti
menghadapi tokoh-tokoh lainnya terlebih dahulu. Ironis, kelahiran
seorang tokoh selalu diikuti kelahiran musuh-musuh. Tokoh dan
musuh sama-sama bersenjatakan pembenaran sebuah klaim. Dalam
konflik antartokoh, sering terdengar mereka berubah wujud menjadi
sosok preman. Dan mereka bangga dengan itu. Itulah masalahnya.
Akhirnya persis seperti cerita wayang. Cerita itu
indah karena penuh dengan lukisan kebencian, peperangan, dendam,
dan kesepian luar biasa. Dalam narasi, perang diubah menjadi
kawasan yang indah luar biasa. Dalam Kakawin Bharatayuddha perang
dinyatakan sebagai ritual seorang pemimpin. Untaian bunga di
kepala musuh yang mati, dijadikan bunga persembahan. Permata manik
hiasan kepala raja yang mati adalah beras pemujaannya.
Negara musuh yang terbakar adalah api pemujaannya. Isi persembahan
adalah kepala musuh yang telah terpenggal beserta darahnya yang
bercecean. Demikian pentingnya perang bagi seorang pemimpin
menyebabkan pengarang kakawin Bharatayuddha menempatkan pernyataan
perang itu sebagai bait pertama. Tradisi memaknai perang itu
sebagai simbul ''perang melawan musuh dalam diri''. Tetapi tidak
semua orang memaknai seperti itu. Banyak orang memahami apa
adanya: hancurkan dan bunuh!
Dalam cerita ada garansi kebenaran pasti menang.
Tetapi tidak ada garansi jagat akan berhenti kacau setelah
kebenaran menang. Seperti kisah Dharmawangsa di atas. Ia menang
setelah semuanya mati. Dan ketika ia masuk surga, dunia yang
ditinggalkan tetap kacau.
Kebenaran melahirkan musuh dari dalam kandungannya
sendiri, yaitu ketidakbenaran. Pada gilirannya, kebenaran itu ada
karena sejumlah perlawanan dari ketidakbenaran.
Ada banyak kesulitan menjadi tokoh agama kalau
dipikir-pikir. Barangkali jauh lebih banyak lagi kesulitannya
kalau dialami langsung. Tetapi tetap saja posisi tertinggi di
lembaga agama menjadi rebutan. Seperti kisah dewa dan raksasa
memperebutkan tirta amerta atau ''air kehidupan'' yang akan
membuat mereka tidak mati-mati. Alias abadi. Susah dipahami,
kenapa mereka berebutan hak hidup selamanya. Mungkinkah dunia ini
begitu menyenangkan untuk ditinggalkan pergi mati walau sementara.
Karena, bukankah sudah dijanjikan bagi kebanyakan orang akan
menjelma kembali ke tempat yang indah ini. Caranya pun tidak
susah, asal punya dosa.
Sungguh tidak penting menunjuk siapa dewa dan siapa
raksasa dalam perebutan tirtha amerta itu. Tidak penting
mengetahui siapa yang bertahan dan siapa yang menyerang. Siapa
yang dibenarkan dan siapa yang disalahkan. Siapa yang dianggap
berhak dan siapa yang dianggap tidak. Yang jelas, sedang ada
perebutan, pertengkaran, perang, dan sejumlah kebencian dan
dendam.
Tidak gampang menjadi tokoh agama. Karena
jiwa-agama, atau religiusitas, sudah ada jauh sebelum lembaga
agama dibuat. Dengan logika paling sederhana kita tahu, lembaga
agama tidak bisa dan tidak mampu mewadahi jiwa-agama yang sudah
berabad-abad. Dalam lembaga tak berdaya seperti itulah tokoh-tokoh
berlindung dan menyandarkan diri. Lembaga itu memerlukan umat,
agar ada yang bisa diatur. Sementara umat tidak mempertanyakan
apakah dirinya perlu lembaga atau tidak. Dari balik jendela
lembaga, para tokoh hendak menunjukkan arah ke mana umat
semestinya berjalan. Antara lembaga yang mengatasnamakan umat dan
umat yang tidak terwakili oleh lembaga terdapat hubungan aneh yang
entah apa namanya. Umat berjalan tanpa sadar menggendong lembaga
di punggungnya.
Belakangan ini, hampir tiap hari lahir tokoh agama.
Ada yang lahir lewat koran, radio, televisi, forum pemerhati, SLM,
lembaga adat dan akademisi. Hebatnya, mereka melahirkan dirinya
sendiri, dengan caranya sendiri, tanpa ''ibu-pengabdian''.
Kejadiannya persis seperti kelahiran Dewa Kala yang tanpa ibu.
Pada suatu hari, Bhatara Siwa berjalan-jalan dengan
istrinya, Dewi Uma. Tiba-tiba bangkit birahinya melihat kain Dewi
Uma disingkapkan angin. Secara halus Dewi Uma menolak rayuan Siwa.
Terlambat, sperma Siwa menetes dan jatuh ke laut. Benih itulah
yang kemudian menjadi Kala yang saktinya luar biasa. Kala langsung
ngamuk memporakporandakan apa saja yang dilihatnya. Ia kesepian
dilahirkan tanpa identitas yang jelas. Tanpa ibu. Begitulah, para
tokoh agama yang tiba-tiba lahir, tanpa dilahirkan oleh
ibu-pengabdian, tak ubahnya Kala.
Seperti seorang selebritis lokal, begitulah tokoh
agama belakangan ini. Muncul di media tiap hari. Berkotbah ke sana
ke mari. Fasih membolak-balikkan kata berkorban, mengabdi,
pengendalian diri, penyerahan total, bakti dan sebagainya. Entah
apa arti istilah itu sekarang, penggunaannya sudah kacau seperti
yel-yel demonstran yang maju tak gentar membela yang bayar.
Yang kemudian dicatat oleh sejarah adalah Tokoh
bukan umat. Yang diberi penghargaan adalah pemenang, bukan yang
kalah. Itulah sebabnya tokoh agama semenjak dahulu menjadi
fenomena zaman. Jiwa sebuah zaman dalam sejarah manusia lebih
sering ditandai oleh jiwa tokohnya, bukan jiwa pengikutnya. Zaman
Kali, sebuah zaman yang belakangan ini sangat banyak dibicarakan,
juga lebih ditandai oleh jiwa para tokoh bukan jiwa umat. Karena
itu, sungguh penting dan pasti menarik, bila tokoh agama diteliti.
Bukan untuk membuktikan benar tidaknya interpretasi zaman Kali,
tetapi agar umat nantinya bisa mendongeng anak cucu tentang
kisah-kisah tokoh agama dan konflik yang diciptakannya.
IBM Dharma
Palguna