Prof Adnyana Manuaba
Tak Ada "Leadership", Itu
Kelemahan Pembangunan Kita
Prof
Ida Bagus Adnyana Manuaba, Hon.FErg.S., FIPS, SF, 8 Mei 2006
lalu memasuki usia 70 tahun. Awal Juni ini, ia akan pesiun sebagai
dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (FK Unud).
Pensiun secara formal tidaklah menjadi rintangan bagi Prof Manuaba
untuk terus berkiprah di dunia keilmuan, di tingkat nasional
maupun internasional. Bulan Juli 2006, misalnya, ia akan menjadi
pembicara dalam konferensi internasional ergonomi di ITS Surabaya
dan di Belanda, dengan mengajak lima staf dosen dan empat
mahasiswa pascasarjana bimbingannya untuk menyampaikan makalah.
Bulan Agustus, Prof Manuaba menjadi tuan rumah konferensi ergonomi
internasional di Bali, dan Oktober 2006 akan ke Jepang bersama
staf dosen untuk mempertahankan jaringan akademik ergonomi yang
telah terbentuk. "Mudah-mudahan saya diberi umur panjang," ujar
peraih "SEAES Lifetime Achievment Award 2003" dari asosiasi
ergonomi Asia Tenggara ini. Atas keahlian dan pengalamannya, FK
Unud sedang memproses agar Prof Manuaba tetap bisa aktif di kampus
sebagai guru besar emiritus. Di sela-sela kesibukannya membimbing
mahasiswa, mengajar, dan menulis makalah, Prof Manuaba memberikan
wawancara berikut, antara lain tentang pembangunan Bali dan krisis
kepemimpinan.
---------------------
BAGAIMANA
komentar Anda tentang kondisi atau pembangunan Bali sekarang?
Banyak persoalan jelimet, kompleks, mulai dari mana
ya?
Apakah Anda puas dengan pembangunan Bali sekarang?
Jelas tidak, tapi sulit mencari kambing hitam.
Siapa yang mau dikambinghitamkan?
Apanya yang tidak memuaskan?
Harusnya kan bisa lebih bagus daripada sekarang, di
segala hal. Baru kita keluar rumah saja, di luar sudah kotor,
banyak sampah sampai spanduk. Saya punya cucu, anak SMA kelas I,
pada saat pidato di sekolahnya, dia bilang Denpasar "lihat
kiri-kanan kotor, semrawut". Itu isi pidato cucu saya. Saya kira
tidak salah!
Mengapa kondisi kita bisa seperti ini? Apa
masalahnya?
SDM (sumber daya manusia) kita yang sebetulnya
payah. Seorang pejabat dipilih, dikasih gaji dan fasilitas banyak
untuk bekerja, bukan untuk ngerjain orang lain. Artinya, antara
menjadi pelayan dan dilayani, itu yang belum betul-betul
dilaksanakan, belum dihayati.
Kalau SDM, apakah ini masalah Bali saja, atau
Indonesia secara umum?
Di mana-mana di Indonesia, tapi di Bali serius.
Harus ada pembinaan SDM. Belum lama ini saya diundang Kabupaten
Bantul menyelenggarakan workshop, lokakarya. Dalam lokakarya,
peserta menemukan antara 50-60 masalah yang perlu dipecahkan. Kami
kaget. Kalau di Bali ngadain lokakarya, paling banyak muncul
masalah 10-14. Kok lebih sedikit? Apakah tidak bisa melihat
masalah sendiri?
Di mana letak sumber masalahnya? Apakah SDM kita
atau faktor budaya?
Dua-duanya, sistemnya juga budayanya. Mahasiswa
saya di pasca bilang, "Pak, saya tidak bisa maju, terhambat,
banyak hambatan. Saya harus begini, di desa harus begini, urusan
budaya, tradisi, upacara. Waktu yang dihabiskan berjam-jam.
Bagaimana saya bisa maju?" Dalam hal ini, kita harus men-decide
sendiri, ke mana kita pergi.
Apa dan bagaimana tradisi atau upacara itu harus
ditentukan? Haruskah diubah?
Yang jelas, jangan sampai berubah, seperti
kepercayaan kepada Tuhan. Tetapi, yang banyak ritual, yang katanya
demi pariwisata, tetapi berjam-jam menghabiskan waktu, itu perlu
dievaluasi kembali. Anak-anak muda bertanya kepada saya, "Apakah
ndak bisa ritual begini disederhanakan?" Saya sering mendengar
keluhan anak muda. Mereka bilang, "Saya kerja di hotel, istri saya
di bank. Kalau permisi terus, kan dipecat saya?"
Anda punya tawaran solusi?
Saya pernah jadi penyanggah dalam seminar tentang
ritual IHD (nama lama Universitas Hindu Indonesia, red). Waktu itu
IHD dipimpin oleh Ida Bagus Suanda Wesnawa. Yang dibahas dalam
seminar itu adalah jenis upacara, yaitu utama, madya, nista. Saya
tidak setuju itu. Saya lebih condong, demi keadilan, kategori
ritual itu diganti menjadi hanya ada minimum requirement,
persyaratan minimum memadai. Orang miskin, kaya, apa pun, bisa
melaksanakan minimum requirement, merasa sudah memenuhi tugas
kepada Tuhan. Kalau dia mau puas secara sosial, silakan
melaksanakan resepsi atau pesta pora. Mungkin dengan demikian
orang tidak khawatir menjadi orang miskin, tidak khawatir akan
kehabisan waktu untuk urusan ritual.
Bagaimana kelanjutannya gagasan Anda itu sekarang?
Saya dari dulu sudah minta kepada Prof IB Nala dan
Prof Adiputra (keduanya dari Fakultas Kedokteran Unud) yang saya
anggap menguasai untuk memikirkan hal seperti itu, mencari
solusinya.
Masalah lain?
Soal busana. Mengapa mesti saya putih-putih,
mengapa baju hitam, itu juga sudah lama saya protes. Kalau hanya
hitam putih, dari dulu tak akan ada lukisan Ubud.
Menurut Anda, mengapa adat sulit diatur?
Banyak sekali yang mengurusi adat, cara mengurusnya
juga tidak benar. Di beberapa desa di kota, orang dipaksakan untuk
bayar ini-itu, padahal dia pendatang, sudah punya budaya, adat
sendiri. Bayangkan, ada orang sampai kawin lagi supaya istrinya
yang kedua ngurusin upacara. Ada PNS keluar sebagai PNS karena
takut dibuang banjar. Ini sudah tidak benar. Tujuannya mau ketemu
Tuhan, kok jadi seperti itu.
Mestinya ada korelasi antara kepatuhan akan tradisi
dan prestasi profesi?
Harusnya demikian. Yang muncul kan jadinya
kebencian. Untung ada orang seperti A.A. Gym, untung ada Ida
Pedanda Gde Made Gunung yang membawa pembaruan, terlepas dari
kekurangannya. Kalau tidak, lama-lama setiap agama akan bisa
kehilangan umat, karena umatnya tidak bisa menerima tradisi. Zaman
sudah berubah, kita harus berubah kalau kita mau survive, tanpa
meninggalkan dasar-dasar kita percaya kepada Tuhan.
***
ANDA
dikenal sebagai seorang visioner. Kira-kira 20 tahun lagi,
bagaimana sosok Bali?
Saya kira Bali tetap akan menarik. Cuma yang kita
pertontonkan harus berubah sesuai dengan need dan believe. Turis
juga berubah value-nya. Kalau nanti kita tontonkan sesuatu seperti
sekarang, jangan-jangan kita dianggap primitif.
Bagi Anda, apa contoh riil pembangunan yang
holistik?
Perencanaan total, memperhatikan berbagai faktor,
tidak separo-separo. Hotel dibangun agar memperhatikan tenaga
kerja lokal, lingkungan lokal, kesucian lokal. Kalau tidak, jangan
disalahkan masyarakat ribut, protes, demo. Pendekatannya harus
total.
Apakah pembangunan di Bali sudah mengarah ke sana?
Kita sudah banyak melatih orang soal konsep dan
penerapan holistik. Kadang-kadang orang menjadi pelacurnya orang
yang punya uang. Yang jelas, sekarang ini orang sudah ngomong,
ngomong holistik. Ini bagus. Setiap saya tulis di koran, respons
orang bagus. Soal geothermal, kalau dari dulu yang memberi izin
sudah berpikir holistik, tak mungkin ada masalah geothermal.
Bangunan gedung sekolah tetap salah karena tidak berpikir holistik.
Bisa dirinci, apa kelemahan pembangunan kita?
Kelemahannya tidak ada leadership. Lihatlah di
tingkat nasional, tiap menteri berpikir sendiri-sendiri.
Sebetulnya leadership itu definisinya mudah, make things happen.
Di keluarga, contohnya, buat rencana dan laksanakan. Kalau terjadi,
itu berarti Anda sudah punya leadership.
Sejak reformasi, banyak rakyat suka protes, pejabat
takut berbuat, takut salah, sehingga tidak terjadi apa-apa. Begitu?
Ya, karena takut salah dan sebagainya, makanya
orang tak berani bekerja. Mungkin kita terlalu sopan mengatakan "takut
salah". Mungkin tak mampu, walau tidak semuanya -- maksud saya ada
juga yang mampu. Yang baik itu adalah mau, mampu, berani.
Maunya banyak, tapi tak mampu. Paling parah, tidak mampu, tapi mau
dan berani, itu ngawur jadinya.
***
SOAL
RUU APP. Menurut Anda, apakah RUU ini perlu?
Tak perlu. Saya sering keluar, melihat bagaimana
wanita Iran sampai tidak ikut Olimpiade. Beberapa tahun tak ikut
Olimpiade karena tak berani pakai celana pendek. Apa mau begitu?
Di Bali, bayangkan di Kuta orang telanjang, yang nonton bukan
orang Bali, tapi yang munafik-munafik itu, yang antipornografi itu.
Anda memperhatikan bagaimana cara Bali menolak RUU
APP?
Saya tak begitu memperhatikan, tapi saya tahu
mereka menolak. Di Tengerang ada peraturan, lalu wanita ditangkap.
Ngapain bikin peraturan begitu? Yang menyusun itu tak pernah
berpikir holistik. Jangan-jangan aturan itu disusun untuk mendapat
uang sidang. Ha..ha..ha..
Apakah penentangan Bali terhadap RUU APP
mencerminkan kedaerahan yang kental?
Saya kira, what you see depend where you stand.
Orang Bali melihat RUU APP seperti itu. Sudah ada UU untuk itu,
jangan dibuat lagi. Kurang kerjaan apa?
Dalam suasana Harkitnas 20 Mei, bagaimana Anda
melihat nasionalisme?
Nasionalisme harus diterjemahkan dengan bahasa
lain, agar bisa dimengerti oleh semua generasi. Jangan pakai
ukuran-ukuran lama, tapi kita cari cara menjelaskan. Dulu nasi
gudeg enak, kini mungkin diganti dengan yang diakrabi anak muda,
tapi intinya sama.
Dengan adanya otonomi, suku-suku di Indonesia lebih
mementingkan daerahnya. Pendapat Anda?
Itu salah kaprah. Otonomi dimaksudkan untuk
memberikan uang dan kewenangan lebih dekat pada Anda, agar bisa
mengurus diri Anda sendiri. Karena kita masih senang pamer, kita
lebih senang menilai orang dengan pertanyaan "siapa kamu?",
seharusnya "apa yang kamu kerjakan?"
Dalam konteks pariwisata, orang Bali dikenal ramah?
Tidak! Orang Thailand nomor satu paling ramah,
bukan orang Bali. Bali nomor tujuh, atau nomor berapa, di
lingkungan ASEAN. Sekarang lebih jelek lagi, keramahan sekarang
pakai "KP" -- "kalau perlu", yang dikejar duitnya.
Terus, bagaimana Anda melihat pariwisata sekarang?
Susah. Waktu habis bom, banyak orang menelepon saya,
minta saran dan masukan. Sekarang tak pernah menelepon. Mereka
sangat individuliastis. Promosi bersama itu hanya ungkapan di
bibir saja. Mereka mau jalan sendiri-sendiri. Organisasi diurus
untuk kepentingan sendiri. Kalau susah, baru menelepon. Ya,
begitulah. Leadership itu perlu pimpinan yang bisa one step ahead
dari orang lain.
Artinya, perlu pemimpin yang kuat?
Jelas. Dalam satu seminar saya bilang Bali krisis
leadership, dimuat Bali Post, ada foto saya. Itu sudah beberapa
tahun yang lalu. Masih berlaku sampai sekarang, bahkan makin parah.
*
pewawancara:
darma putra
gus martin
BIODATA
Nama
: Prof Ida Bagus Adnyana Manuaba, Hon.FErg.S.,
FIPS, SF
Tempat/ttl :
Yogyakarta, 8 May 1936
Pendidikan:
- Sarjana Fisiologi, Fak Kedokteran, Universitas
Indonesia, 1961.
- Pascasarjana bidang Ergonomi (Industrial Hygiene, Occupational
Health and Safety) University of Amsterdam,
The Netherlands, 1967.
- Ergonomist/HonFErgS, Ergonomics Society, London, 1996.
Kursus:
- Tourism Planning and Development, Univ. Surrey,
UK, 1987
- Environmental Assessment, Jakarta, 1970
- Sport Medicine, Jakarta, 1970
Jabatan:
- Ketua Jurusan Fisiologi, FK Unud, sejak 1962
- Ketua Pascasarjana Program Studi Ergonomi, FK Unud,
sejak 1995
- Anggota MPR RI, 1999-2004
Penghargaan/Medali:
Consortium Medical/Health Sciences (1972)
Gold - Satya Lencana 25 years (1984)
SEAES Academic Mentors Award (1997)
PATA Bali "Excellence" Award (2000)
SEAES Lifetime Achievement Award (2000)
Karyakarana Pariwisata, Bidang Jasa (2003)
Widya Kusuma, Pendidikan (2004)