kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Pon, 21 Mei 2006 tarukan valas
 

POTRET


Prof Adnyana Manuaba

Tak Ada "Leadership", Itu Kelemahan Pembangunan Kita

 

Prof Ida Bagus Adnyana Manuaba, Hon.FErg.S., FIPS, SF, 8 Mei 2006 lalu memasuki usia 70 tahun. Awal Juni ini, ia akan pesiun sebagai dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (FK Unud). Pensiun secara formal tidaklah menjadi rintangan bagi Prof Manuaba untuk terus berkiprah di dunia keilmuan, di tingkat nasional maupun internasional. Bulan Juli 2006, misalnya, ia akan menjadi pembicara dalam konferensi internasional ergonomi di ITS Surabaya dan di Belanda, dengan mengajak lima staf dosen dan empat mahasiswa pascasarjana bimbingannya untuk menyampaikan makalah. Bulan Agustus, Prof Manuaba menjadi tuan rumah konferensi ergonomi internasional di Bali, dan Oktober 2006 akan ke Jepang bersama staf dosen untuk mempertahankan jaringan akademik ergonomi yang telah terbentuk. "Mudah-mudahan saya diberi umur panjang," ujar peraih "SEAES Lifetime Achievment Award 2003" dari asosiasi ergonomi Asia Tenggara ini. Atas keahlian dan pengalamannya, FK Unud sedang memproses agar Prof Manuaba tetap bisa aktif di kampus sebagai guru besar emiritus. Di sela-sela kesibukannya membimbing mahasiswa, mengajar, dan menulis makalah, Prof Manuaba memberikan wawancara berikut, antara lain tentang pembangunan Bali dan krisis kepemimpinan.

---------------------

 

BAGAIMANA komentar Anda tentang kondisi atau pembangunan Bali sekarang?

Banyak persoalan jelimet, kompleks, mulai dari mana ya?

 

Apakah Anda puas dengan pembangunan Bali sekarang?

Jelas tidak, tapi sulit mencari kambing hitam. Siapa yang mau dikambinghitamkan?

 

Apanya yang tidak memuaskan?

Harusnya kan bisa lebih bagus daripada sekarang, di segala hal. Baru kita keluar rumah saja, di luar sudah kotor, banyak sampah sampai spanduk. Saya punya cucu, anak SMA kelas I, pada saat pidato di sekolahnya, dia bilang Denpasar "lihat kiri-kanan kotor, semrawut". Itu isi pidato cucu saya. Saya kira tidak salah!

 

Mengapa kondisi kita bisa seperti ini? Apa masalahnya?

SDM (sumber daya manusia) kita yang sebetulnya payah. Seorang pejabat dipilih, dikasih gaji dan fasilitas banyak untuk bekerja, bukan untuk ngerjain orang lain. Artinya, antara menjadi pelayan dan dilayani, itu yang belum betul-betul dilaksanakan, belum dihayati.

 

Kalau SDM, apakah ini masalah Bali saja, atau Indonesia secara umum?

Di mana-mana di Indonesia, tapi di Bali serius. Harus ada pembinaan SDM. Belum lama ini saya diundang Kabupaten Bantul menyelenggarakan workshop, lokakarya. Dalam lokakarya, peserta menemukan antara 50-60 masalah yang perlu dipecahkan. Kami kaget. Kalau di Bali ngadain lokakarya, paling banyak muncul masalah 10-14. Kok lebih sedikit? Apakah tidak bisa melihat masalah sendiri?

 

Di mana letak sumber masalahnya? Apakah SDM kita atau faktor budaya?

Dua-duanya, sistemnya juga budayanya. Mahasiswa saya di pasca bilang, "Pak, saya tidak bisa maju, terhambat, banyak hambatan. Saya harus begini, di desa harus begini, urusan budaya, tradisi, upacara. Waktu yang dihabiskan berjam-jam. Bagaimana saya bisa maju?" Dalam hal ini, kita harus men-decide sendiri, ke mana kita pergi.

 

Apa dan bagaimana tradisi atau upacara itu harus ditentukan? Haruskah diubah?

Yang jelas, jangan sampai berubah, seperti kepercayaan kepada Tuhan. Tetapi, yang banyak ritual, yang katanya demi pariwisata, tetapi berjam-jam menghabiskan waktu, itu perlu dievaluasi kembali. Anak-anak muda bertanya kepada saya, "Apakah ndak bisa ritual begini disederhanakan?" Saya sering mendengar keluhan anak muda. Mereka bilang, "Saya kerja di hotel, istri saya di bank. Kalau permisi terus, kan dipecat saya?"

 

Anda punya tawaran solusi?

Saya pernah jadi penyanggah dalam seminar tentang ritual IHD (nama lama Universitas Hindu Indonesia, red). Waktu itu IHD dipimpin oleh Ida Bagus Suanda Wesnawa. Yang dibahas dalam seminar itu adalah jenis upacara, yaitu utama, madya, nista. Saya tidak setuju itu. Saya lebih condong, demi keadilan, kategori ritual itu diganti menjadi hanya ada minimum requirement, persyaratan minimum memadai. Orang miskin, kaya, apa pun, bisa melaksanakan minimum requirement, merasa sudah memenuhi tugas kepada Tuhan. Kalau dia mau puas secara sosial, silakan melaksanakan resepsi atau pesta pora. Mungkin dengan demikian orang tidak khawatir menjadi orang miskin, tidak khawatir akan kehabisan waktu untuk urusan ritual.

 

Bagaimana kelanjutannya gagasan Anda itu sekarang?

Saya dari dulu sudah minta kepada Prof IB Nala dan Prof Adiputra (keduanya dari Fakultas Kedokteran Unud) yang saya anggap menguasai untuk memikirkan hal seperti itu, mencari solusinya.

 

Masalah lain?

Soal busana. Mengapa mesti saya putih-putih, mengapa baju hitam, itu juga sudah lama saya protes. Kalau hanya hitam putih, dari dulu tak akan ada lukisan Ubud.

 

Menurut Anda, mengapa adat sulit diatur?

Banyak sekali yang mengurusi adat, cara mengurusnya juga tidak benar. Di beberapa desa di kota, orang dipaksakan untuk bayar ini-itu, padahal dia pendatang, sudah punya budaya, adat sendiri. Bayangkan, ada orang sampai kawin lagi supaya istrinya yang kedua ngurusin upacara. Ada PNS keluar sebagai PNS karena takut dibuang banjar. Ini sudah tidak benar. Tujuannya mau ketemu Tuhan, kok jadi seperti itu.

 

Mestinya ada korelasi antara kepatuhan akan tradisi dan prestasi profesi?

Harusnya demikian. Yang muncul kan jadinya kebencian. Untung ada orang seperti A.A. Gym, untung ada Ida Pedanda Gde Made Gunung yang membawa pembaruan, terlepas dari kekurangannya. Kalau tidak, lama-lama setiap agama akan bisa kehilangan umat, karena umatnya tidak bisa menerima tradisi. Zaman sudah berubah, kita harus berubah kalau kita mau survive, tanpa meninggalkan dasar-dasar kita percaya kepada Tuhan.

 

***

 

ANDA dikenal sebagai seorang visioner. Kira-kira 20 tahun lagi, bagaimana sosok Bali?

Saya kira Bali tetap akan menarik. Cuma yang kita pertontonkan harus berubah sesuai dengan need dan believe. Turis juga berubah value-nya. Kalau nanti kita tontonkan sesuatu seperti sekarang, jangan-jangan kita dianggap primitif.

 

Bagi Anda, apa contoh riil pembangunan yang holistik?

Perencanaan total, memperhatikan berbagai faktor, tidak separo-separo. Hotel dibangun agar memperhatikan tenaga kerja lokal, lingkungan lokal, kesucian lokal. Kalau tidak, jangan disalahkan masyarakat ribut, protes, demo. Pendekatannya harus total.

 

Apakah pembangunan di Bali sudah mengarah ke sana?

Kita sudah banyak melatih orang soal konsep dan penerapan holistik. Kadang-kadang orang menjadi pelacurnya orang yang punya uang. Yang jelas, sekarang ini orang sudah ngomong, ngomong holistik. Ini bagus. Setiap saya tulis di koran, respons orang bagus. Soal geothermal, kalau dari dulu yang memberi izin sudah berpikir holistik, tak mungkin ada masalah geothermal. Bangunan gedung sekolah tetap salah karena tidak berpikir holistik.

 

Bisa dirinci, apa kelemahan pembangunan kita?

Kelemahannya tidak ada leadership. Lihatlah di tingkat nasional, tiap menteri berpikir sendiri-sendiri. Sebetulnya leadership itu definisinya mudah, make things happen. Di keluarga, contohnya, buat rencana dan laksanakan. Kalau terjadi, itu berarti Anda sudah punya leadership.

 

Sejak reformasi, banyak rakyat suka protes, pejabat takut berbuat, takut salah, sehingga tidak terjadi apa-apa. Begitu?

Ya, karena takut salah dan sebagainya, makanya orang tak berani bekerja. Mungkin kita terlalu sopan mengatakan "takut salah". Mungkin tak mampu, walau tidak semuanya -- maksud saya ada juga yang mampu. Yang baik itu adalah mau, mampu,  berani. Maunya banyak, tapi tak mampu. Paling parah, tidak mampu, tapi mau dan berani, itu ngawur jadinya.

 

***

 

SOAL RUU APP. Menurut Anda, apakah RUU ini perlu?

Tak perlu. Saya sering keluar, melihat bagaimana wanita Iran sampai tidak ikut Olimpiade. Beberapa tahun tak ikut Olimpiade karena tak berani pakai celana pendek. Apa mau begitu? Di Bali, bayangkan di Kuta orang telanjang, yang nonton bukan orang Bali, tapi yang munafik-munafik itu, yang antipornografi itu.

 

Anda memperhatikan bagaimana cara Bali menolak RUU APP?

Saya tak begitu memperhatikan, tapi saya tahu mereka menolak. Di Tengerang ada peraturan, lalu wanita ditangkap. Ngapain bikin peraturan begitu? Yang menyusun itu tak pernah berpikir holistik. Jangan-jangan aturan itu disusun untuk mendapat uang sidang. Ha..ha..ha..

 

Apakah penentangan Bali terhadap RUU APP mencerminkan kedaerahan yang kental?

Saya kira, what you see depend where you stand. Orang Bali melihat RUU APP seperti itu. Sudah ada UU untuk itu, jangan dibuat lagi. Kurang kerjaan apa?

 

Dalam suasana Harkitnas 20 Mei, bagaimana Anda melihat nasionalisme?

Nasionalisme harus diterjemahkan dengan bahasa lain, agar bisa dimengerti oleh semua generasi. Jangan pakai ukuran-ukuran lama, tapi kita cari cara menjelaskan. Dulu nasi gudeg enak, kini mungkin diganti dengan yang diakrabi anak muda, tapi intinya sama.

 

Dengan adanya otonomi, suku-suku di Indonesia lebih mementingkan daerahnya. Pendapat Anda?

Itu salah kaprah. Otonomi dimaksudkan untuk memberikan uang dan kewenangan lebih dekat pada Anda, agar bisa mengurus diri Anda sendiri. Karena kita masih senang pamer, kita lebih senang menilai orang dengan pertanyaan "siapa kamu?", seharusnya "apa yang kamu kerjakan?"

 

Dalam konteks pariwisata, orang Bali dikenal ramah?

Tidak! Orang Thailand nomor satu paling ramah, bukan orang Bali. Bali nomor tujuh, atau nomor berapa, di lingkungan ASEAN. Sekarang lebih jelek lagi, keramahan sekarang pakai "KP" -- "kalau perlu", yang dikejar duitnya.

 

Terus, bagaimana Anda melihat pariwisata sekarang?

Susah. Waktu habis bom, banyak orang menelepon saya, minta saran dan masukan. Sekarang tak pernah menelepon. Mereka sangat individuliastis. Promosi bersama itu hanya ungkapan di bibir saja. Mereka mau jalan sendiri-sendiri. Organisasi diurus untuk kepentingan sendiri. Kalau susah, baru menelepon. Ya, begitulah. Leadership itu perlu pimpinan yang bisa one step ahead dari orang lain.

 

Artinya, perlu pemimpin yang kuat?

Jelas. Dalam satu seminar saya bilang Bali krisis leadership, dimuat Bali Post, ada foto saya. Itu sudah beberapa tahun yang lalu. Masih berlaku sampai sekarang, bahkan makin parah.

 

* pewawancara:
  darma putra
  gus martin

 

BIODATA

Nama                :  Prof Ida Bagus Adnyana Manuaba, Hon.FErg.S.,
                            FIPS, SF
Tempat/ttl        :  Yogyakarta, 8 May 1936

 

Pendidikan:

- Sarjana Fisiologi, Fak Kedokteran, Universitas Indonesia, 1961.
- Pascasarjana bidang Ergonomi (Industrial Hygiene, Occupational
  Health and Safety) University of Amsterdam,
  The Netherlands, 1967.
- Ergonomist/HonFErgS, Ergonomics Society, London, 1996.

 

Kursus:

- Tourism Planning and Development, Univ. Surrey, UK, 1987
- Environmental Assessment, Jakarta, 1970
- Sport Medicine, Jakarta, 1970

 

Jabatan:

- Ketua Jurusan Fisiologi, FK Unud, sejak 1962
- Ketua Pascasarjana Program Studi Ergonomi, FK Unud,
   sejak 1995
- Anggota MPR RI, 1999-2004

 

Penghargaan/Medali:

Consortium Medical/Health Sciences (1972)
Gold - Satya Lencana 25 years (1984)
SEAES Academic Mentors Award (1997)
PATA Bali "Excellence" Award (2000)
SEAES Lifetime Achievement Award (2000)
Karyakarana Pariwisata, Bidang Jasa (2003)
Widya Kusuma, Pendidikan (2004)

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com