kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Pon, 21 Mei 2006 tarukan valas
 

OPINI


Mbah Marijan dan Mbah Kakung

Bila Baghdad di zaman lampau diberi julukan "Negeri 1001 Malam", kini giliran Indonesia pantas disebut "Negeri 1001 Keanehan". Belum pernah terdengar kisah di dunia, kecuali di negeri ini, kereta api (KA) dijalankan secara mundur sepanjang ratusan kilometer. Bermuatan berton-ton BBM dengan kecepatan 70-80 km per jam, KA itu melintasi beberapa stasiun perhentian dan pintu persimpangan, dari Surabaya-Bangil, Jawa Timur.

-----------------

 

KA itu baru berhenti saat relnya anjlok dan tangki-tangki BBM tumpah dari gerbong. Keanehan menjadi superaneh, saat diketahui kalau masinis KA itu seorang wanita sakit ingatan. Konon wanita itu nyelusup masuk ke ruang masinis ketika para awak KA istirahat.

 Rubag tak habis pikir membayangkan potensi kecelakaan fatal akibat perbuatan orang gila itu, kendati parit dan pematang sawah tergenang ribuan liter tumpahan minyak di tengah-tengah kelangkaan BBM di beberapa wilayah negeri.

Beberapa hari sebelum peristiwa aneh itu terjadi, masyarakat Indonesia dikejutkan berita tentang raibnya seorang narapidana (napi) dengan vonis mati, Gunawan Santosa, dari LP Cipinang, Jakarta. Karena dianggap keanehan, para pencinta cerita wayang membayangkan napi itu punya ajian atau kesaktian setaraf Antareja, saudaranya Gatotkaca, yang mampu melesak ke bumi tanpa meninggalkan jejak. Sebab, untuk bisa lolos, Gunawan harus melewati beberapa pintu dan jeruji besi yang terbuat dari baja tulen dengan gembok-gembok yang konon dipesan khusus dari Italia untuk keperluan penjara. Namun, jeruji maupun gembok tidak menampakkan tanda-tanda pernah dirusak dan dibengkokkan.

Belakangan baru diketahui kalau pembunuh Direktur PT Asaba yang telah dua kali gagal dalam upaya melarikan diri itu tidak menggunakan ajian brajamusti atau rawa rontek, tapi "aji mumpung". Untuk memfungsikan ajian itu, konon satu milyar rupiah menjadi mantranya, tanpa dupa dan kemenyan. Keanehan jadi sirna, sebab suap-menyuap, korupsi dan kolusi,  bukan barang aneh lagi di republik ini, malah nyaris jadi way of life.

"Apakah kalau saudara salah membuat berita, penanggung jawab dan redaksi media Anda harus mengundurkan diri?" tangkis seorang menteri dalam menjawab pertanyaan wartawan berkaitan dengan menghilangnya Gunawan dari selnya. Jawaban itu membuat kasus Cipinang yang bagi Rubag sudah dianggap "wajar" kembali jadi aneh dan menggelikan. Pertanyaan wartawan itu dilontarkan karena di beberapa negara yang sering dijadikan objek studi banding oleh para pejabat Indonesia, sering terberitakan pejabat tinggi mereka mengundurkan diri setiap terjadi masalah serius, sebagai pertanggungjawaban moral.

Baru-baru ini, seorang menteri di Korea Selatan meletakkan jabatan karena ketika terjadi masalah besar di negeri Ginseng itu yang menjadi tanggung jawabnya, dia asyik main golf. Jepang pun dikenal sebagai negeri yang punya pejabat berkultur "Samurai" dan bersemangat "Yamato Damashi". Kegagalan dalam menunaikan tugas, dulu dibayar dengan harakiri, sekarang ditebus dengan mundur dari jabatan.

Mereka tak pernah menyamakan tanggung jawab negara dengan  perusahaan media massa, sebagai dalih untuk mempertahankan jabatannya. Sebab, media yang sering mewartakan berita yang tak bermutu akan ditinggalkan para pelanggannya, sehingga tak perlu menuntut pemred atau penanggung jawabnya mundur. Berbeda dengan negara, dimana warganegara yang tidak puas dengan kinerja para menterinya tak berhak meninggalkan negaranya, seperti kasus beberapa warga Papua yang minta suaka politik ke Australia, sehingga hubungan diplomatik kedua negara memanas.

***

 

MBAH Marijan (83) pun fenomena aneh mendekati ajaib. Ketika Gunung Merapi mulai memuntahkan lavanya yang konon jarak luncurnya mencapai 3,5 km ke lereng gunung yang berketinggian 2.965 meter di atas permukaan laut itu, juru kunci yang konon bergelar Raden Ngabehi itu justru mendaki untuk melakukan ritual guna memohon keselamatan masyarakat di sekitar Merapi dan Keraton Ngayogyakarta.

Bahkan sejak menjelang dan setelah letusan gunung yang paling aktif di Indonesia itu, masyarakat malah lebih percaya pada petuah dan arahan Mbah Marijan daripada para petugas resmi pemerintah yang piawai melontarkan kajian ilmiah berdasarkan angka dan grafik getaran magma dan bumi. Bila pakar vulkanologi berbicara berdasarkan mesin, Mbah Marijan memakai tikus tanah sebagai parameter. Karena tikus-tikus tanah belum keluar dari lubang untuk melarikan diri, berarti kondisi masih aman dan terkendali.

Namun keanehan ini belum bisa dikomentari lebih jauh karena Merapi masih terus bergolak dan Mbah Marijan beserta orang-orang yang mempercayainya masih tetap bertahan tidak mau mengungsi. Bahkan ribuan orang yang sebelumnya sempat mengungsi pun membolos dari tempat pengungsian untuk balik ke kampung halamannya.

 Mbah Marijan, menurut para pengikutnya, enggan meninggalkan gunung yang telah puluhan tahun "dijaganya". Ketika letusan kian hebat dan di televisi komentar tentang awan panas terus menggema, ia malah mendaki  ke posisi yang berjarak kurang dari satu kilometer dari puncak.

Rubag tidak serta merta menuduh Mbah Marijan irasional.   Pengalaman kakek, seperti yang dituturkannya, bertugas menjaga Merapi selama puluhan tahun sehingga berjabatan "juru kunci", memungkinkannya mengerti bahasa alam. Kalau saja dia pernah mereguk bangku universitas, mungkin dia mampu membahasakan hubungannya dengan alam sefasih Darwin mengulas Teori Evolusi.

Penampilan wajah Mbah Marijan di layar kaca sama sekali tidak menunjukkan seorang yang frustrasi dan ingin mengajak orang-orang lain yang mempercayai petuahnya ikut menyambut maut. Namun demikian, di usianya yang renta dengan sorot mata tajam, dia siap menerima risiko. Apalagi yang dilakukannya saat ini, menurut pengakuannya, berdasarkan keyakinan agama yang dianutnya dan ajaran Jawa (Kejawen). Mudah-mudahan saja Mbah Marijan tidak diberi label "anarkhis".

***

 

BERBEDA dengan Mbah Marijan, ada kakek lain yang seusia menjadi sorotan publik di bulan Mei ini. Bila Mbah Marijan memilih jalan hidup jadi penjaga gunung, kakek yang satu ini, sebut saja namanya Mbah Kakung, menghabiskan nyaris separuh usianya jadi penjaga ladang-ladang kekuasaan secara otoriter untuk mengumpulkan harta benda.

Postulat Lord Acton bahwa "power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely" menempatkan Mbah Kakung di urutan pertama dari sepuluh koruptor dunia dalam laporan Transparency International (TI), 25 Maret 2004. Negeri yang dipimpinnya selama 32 tahun juga berpredikat sebagai pelanggar HAM terberat. Tepat hari ini (21 Mei), sewindu yang lalu, atas desakan mahasiswa dan rakyat, Mbah Kakung lengser dari singgasana kekuasaannya dengan meninggalkan longsoran besar utang luar negeri yang menghimpit bangsanya. Jejak-jejak kekuasaannya menjadi virus krisis multidimensi yang tak berkesudahan. Bahkan, desakan untuk mengadilinya pun kandas oleh SKPP Kejaksaan Agung.

Albert Camus benar, bahwa "setiap kejahatan atas kemanusiaan memiliki tidak hanya pemimpin dan pengikut, tapi juga filsuf dengan filsafatnya, cendekiawan dan barisan pengacaranya".   Itulah beda Mbah Marijan dan Mbah Kakung, seperti bumi dan langit! 

* aridus

 

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com