Mbah Marijan dan Mbah Kakung
Bila Baghdad di zaman lampau diberi julukan "Negeri 1001 Malam",
kini giliran Indonesia pantas disebut "Negeri 1001 Keanehan".
Belum pernah terdengar kisah di dunia, kecuali di negeri ini,
kereta api (KA) dijalankan secara mundur sepanjang ratusan
kilometer. Bermuatan berton-ton BBM dengan kecepatan 70-80 km per
jam, KA itu melintasi beberapa stasiun perhentian dan pintu
persimpangan, dari Surabaya-Bangil, Jawa Timur.
-----------------
KA itu baru berhenti saat relnya anjlok dan tangki-tangki BBM
tumpah dari gerbong. Keanehan menjadi superaneh, saat diketahui
kalau masinis KA itu seorang wanita sakit ingatan. Konon wanita
itu nyelusup masuk ke ruang masinis ketika para awak KA istirahat.
Rubag tak habis pikir membayangkan potensi kecelakaan fatal
akibat perbuatan orang gila itu, kendati parit dan pematang sawah
tergenang ribuan liter tumpahan minyak di tengah-tengah kelangkaan
BBM di beberapa wilayah negeri.
Beberapa hari sebelum peristiwa aneh itu terjadi, masyarakat
Indonesia dikejutkan berita tentang raibnya seorang narapidana
(napi) dengan vonis mati, Gunawan Santosa, dari LP Cipinang,
Jakarta. Karena dianggap keanehan, para pencinta cerita wayang
membayangkan napi itu punya ajian atau kesaktian setaraf Antareja,
saudaranya Gatotkaca, yang mampu melesak ke bumi tanpa
meninggalkan jejak. Sebab, untuk bisa lolos, Gunawan harus
melewati beberapa pintu dan jeruji besi yang terbuat dari baja
tulen dengan gembok-gembok yang konon dipesan khusus dari Italia
untuk keperluan penjara. Namun, jeruji maupun gembok tidak
menampakkan tanda-tanda pernah dirusak dan dibengkokkan.
Belakangan baru diketahui kalau pembunuh Direktur PT Asaba yang
telah dua kali gagal dalam upaya melarikan diri itu tidak
menggunakan ajian brajamusti atau rawa rontek, tapi "aji mumpung".
Untuk memfungsikan ajian itu, konon satu milyar rupiah menjadi
mantranya, tanpa dupa dan kemenyan. Keanehan jadi sirna, sebab
suap-menyuap, korupsi dan kolusi, bukan barang aneh lagi di
republik ini, malah nyaris jadi way of life.
"Apakah kalau saudara salah membuat berita, penanggung jawab dan
redaksi media Anda harus mengundurkan diri?" tangkis seorang
menteri dalam menjawab pertanyaan wartawan berkaitan dengan
menghilangnya Gunawan dari selnya. Jawaban itu membuat kasus
Cipinang yang bagi Rubag sudah dianggap "wajar" kembali jadi aneh
dan menggelikan. Pertanyaan wartawan itu dilontarkan karena di
beberapa negara yang sering dijadikan objek studi banding oleh
para pejabat Indonesia, sering terberitakan pejabat tinggi mereka
mengundurkan diri setiap terjadi masalah serius, sebagai
pertanggungjawaban moral.
Baru-baru ini, seorang menteri di Korea Selatan meletakkan jabatan
karena ketika terjadi masalah besar di negeri Ginseng itu yang
menjadi tanggung jawabnya, dia asyik main golf. Jepang pun dikenal
sebagai negeri yang punya pejabat berkultur "Samurai" dan
bersemangat "Yamato Damashi". Kegagalan dalam menunaikan tugas,
dulu dibayar dengan harakiri, sekarang ditebus dengan mundur dari
jabatan.
Mereka tak pernah menyamakan tanggung jawab negara dengan
perusahaan media massa, sebagai dalih untuk mempertahankan
jabatannya. Sebab, media yang sering mewartakan berita yang tak
bermutu akan ditinggalkan para pelanggannya, sehingga tak perlu
menuntut pemred atau penanggung jawabnya mundur. Berbeda dengan
negara, dimana warganegara yang tidak puas dengan kinerja para
menterinya tak berhak meninggalkan negaranya, seperti kasus
beberapa warga Papua yang minta suaka politik ke Australia,
sehingga hubungan diplomatik kedua negara memanas.
***
MBAH Marijan (83) pun fenomena aneh mendekati ajaib. Ketika
Gunung Merapi mulai memuntahkan lavanya yang konon jarak luncurnya
mencapai 3,5 km ke lereng gunung yang berketinggian 2.965 meter di
atas permukaan laut itu, juru kunci yang konon bergelar Raden
Ngabehi itu justru mendaki untuk melakukan ritual guna memohon
keselamatan masyarakat di sekitar Merapi dan Keraton
Ngayogyakarta.
Bahkan sejak menjelang dan setelah letusan gunung yang paling
aktif di Indonesia itu, masyarakat malah lebih percaya pada petuah
dan arahan Mbah Marijan daripada para petugas resmi pemerintah
yang piawai melontarkan kajian ilmiah berdasarkan angka dan grafik
getaran magma dan bumi. Bila pakar vulkanologi berbicara
berdasarkan mesin, Mbah Marijan memakai tikus tanah sebagai
parameter. Karena tikus-tikus tanah belum keluar dari lubang untuk
melarikan diri, berarti kondisi masih aman dan terkendali.
Namun keanehan ini belum bisa dikomentari lebih jauh karena Merapi
masih terus bergolak dan Mbah Marijan beserta orang-orang yang
mempercayainya masih tetap bertahan tidak mau mengungsi. Bahkan
ribuan orang yang sebelumnya sempat mengungsi pun membolos dari
tempat pengungsian untuk balik ke kampung halamannya.
Mbah Marijan, menurut para pengikutnya, enggan meninggalkan
gunung yang telah puluhan tahun "dijaganya". Ketika letusan kian
hebat dan di televisi komentar tentang awan panas terus menggema,
ia malah mendaki ke posisi yang berjarak kurang dari satu
kilometer dari puncak.
Rubag tidak serta merta menuduh Mbah Marijan irasional.
Pengalaman kakek, seperti yang dituturkannya, bertugas menjaga
Merapi selama puluhan tahun sehingga berjabatan "juru kunci",
memungkinkannya mengerti bahasa alam. Kalau saja dia pernah
mereguk bangku universitas, mungkin dia mampu membahasakan
hubungannya dengan alam sefasih Darwin mengulas Teori Evolusi.
Penampilan wajah Mbah Marijan di layar kaca sama sekali tidak
menunjukkan seorang yang frustrasi dan ingin mengajak orang-orang
lain yang mempercayai petuahnya ikut menyambut maut. Namun
demikian, di usianya yang renta dengan sorot mata tajam, dia siap
menerima risiko. Apalagi yang dilakukannya saat ini, menurut
pengakuannya, berdasarkan keyakinan agama yang dianutnya dan
ajaran Jawa (Kejawen). Mudah-mudahan saja Mbah Marijan tidak
diberi label "anarkhis".
***
BERBEDA dengan Mbah Marijan, ada kakek lain
yang seusia menjadi sorotan publik di bulan Mei ini. Bila Mbah
Marijan memilih jalan hidup jadi penjaga gunung, kakek yang satu
ini, sebut saja namanya Mbah Kakung, menghabiskan nyaris separuh
usianya jadi penjaga ladang-ladang kekuasaan secara otoriter untuk
mengumpulkan harta benda.
Postulat Lord Acton bahwa "power tends to corrupt, absolute power
corrupts absolutely" menempatkan Mbah Kakung di urutan pertama
dari sepuluh koruptor dunia dalam laporan Transparency
International (TI), 25 Maret 2004. Negeri yang dipimpinnya selama
32 tahun juga berpredikat sebagai pelanggar HAM terberat. Tepat
hari ini (21 Mei), sewindu yang lalu, atas desakan mahasiswa dan
rakyat, Mbah Kakung lengser dari singgasana kekuasaannya dengan
meninggalkan longsoran besar utang luar negeri yang menghimpit
bangsanya. Jejak-jejak kekuasaannya menjadi virus krisis
multidimensi yang tak berkesudahan. Bahkan, desakan untuk
mengadilinya pun kandas oleh SKPP Kejaksaan Agung.
Albert Camus benar, bahwa "setiap kejahatan atas kemanusiaan
memiliki tidak hanya pemimpin dan pengikut, tapi juga filsuf
dengan filsafatnya, cendekiawan dan barisan pengacaranya".
Itulah beda Mbah Marijan dan Mbah Kakung, seperti bumi dan
langit!
* aridus